14

1893 Words

Ia memandang lukisan di hadapannya dengan bingung, sungguh ia tak tahu apa-apa tentang dunia lukis, dulu sewaktu bertugas di pos trauma center anak-anak korban bencana alam di Halmahera, ia sempat kewalahan disuruh menggambar di depan ratusan anak-anak yang tertawa mengejeknya yang tak paham seni. Lukisan dihadapannya sekarang seperti hasil karya anak imbisil yang tak peka dengan jari-jarinya sendiri, jadi kuas ditangan asal ditempel di kanvas dan digerak-gerakkan sesuka hati, menurut kurator galeri, inilah yang disebut lukisan abstrak, dan ia hanya manggut-manggut saja seperti tupai disko. "Kenapa?" laki-laki disampingnya bertanya, ia mengangkat bahu "bahkan jabang bayi dalam kandungan bisa melukis lebih baik dari ini" ia menjawab acuh tak acuh, laki-laki itu tertawa. "Menyesal aku men

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD