11

1303 Words
"Twiggy, Rhum kangen" Rhum menangis di punggung Nino, sedari tadi ia hanya menatap punggung Nino yang berbaring menyamping di sampingnya. Rhum tak mengerti kenapa akhir-akhir ini abangnya tak lagi bicara padanya dan ke semua orang dan itu membuatnya sedih. "Kalau Iggy ngga mau ngomong sama Rhum lagi, ntar Rhum kena diare" Rhum mencoba tertawa di antara isaknya, namu Nino tetap bergeming, laki-laki itu tak bergerak dari posisinya. "Sakit Rhum" suara Nino serak seperti orang yang lagi sakit. "Sakit dimana?" Rhum bangkit dan menyebrang kebalik tubuh abangnya, wajahnya semakin cemas. Nino menatap Rhum dengan sendu "disini" ia meletakkan tangannya didada. "Twiggy jantungan?" gadis cilik itu melekatkan telinganya ke jantung Nino "bunyinya kenceng yah" ia semakin khawatir, air matanya kembali turun. "Nino mau dibawa ke rumah sakit?" abangnya menggeleng, wajahnya semakin pucat karena tak lagi terkena sinar matahari. Sudah beberapa hari ini yang ia kerjakan hanya menatap telfon selulernya, berharap Ara membalas setiap SMS yang dikirim dan kalau gadis itu berbaik hati mungkin saja mengangkat telfonnya. Ara hilang bak ditelan bumi, Troi bilang gadis itu tak berada di Jakarta, sehabis pulang dari Aceh ia langsung pergi bertugas ke Semarang, hanya itu informasi yang diberikan Troi setelah itu ia tak mau bilang apa-apa lagi karena Troi tak mau ikut campur urusan adiknya dan Ara. Nino meradang, ia marah karena tak satupun orang-orang mau membantu mempertemukannya dengan Ara, ketika mencoba mencarinya ke mess Kowad, ia malah di usir petugas piket, sikap ini menjelaskan bahwa seluruh dunia kompak menyembunyikan Ara darinya. Ia tak mengerti dengan sikap gadis itu, setelah berbagi peristiwa ajaib di apartemen Sky, Ara dengan seenaknya pergi meninggalkan Nino yang masih dimabuk gairah, pergi tanpa kata-kata ataupun kecupan selamat tidur. Sungguh ia tak tahu alasan kenapa Ara menyakitinya seperti itu. "You know Twiggy, mom selalu bilang kalau kau merasa dunia tak adil padamu kau boleh menangis tapi kau tak boleh berteriak kepada Tuhan, jadi kalau Nino mau nangis Rhum mau nemenin" Rhum mengerjapkan matanya yang basah, bibirnya bertekuk memandang Nino yang seakan mati rasa. "Nino sayang Rhum" laki-laki itu meraih kepala adiknya dan mendekapnya erat, mendengar Rhum yang masih terisak, ia juga ikut-ikutan menangis. "Ara where are you?" ************ Setelah mendapat cuti, Ara sengaja tinggal dan belum kembali ke Jakarta, karena ia mesti ke Cilacap, tepatnya ke NusaKambangan karena ada hal penting yang harus ia selesaikan. Dari pelabuhan Wijaya Pura Di Cilacap Ara menumpang kapal Fery yang mengantarnya ke salah satu pulau terluar di Indonesia itu. Kapal milik Kementrian Hukum dan HAM RI ini bernama "Pengayoman II" khusus mengangkut petugas Lapas dan keluarganya dan juga keluarga para tahanan yang membesuk. Ara menatap gapura besar yang terpampang ketika ia pertama kali menginjakkan kaki di pelabuhan Sodong NusaKambangan, tulisannya berwarna merah "Pemasyarakatan Nusa Kambangan". Semua penumpang telah turun, termasuk Ara yang kemudian menaiki bus "Transpas" milik Kementrian hukum dan HAM dan bergerak menuju Lapas Pasir Putih yang merupakan Lapas terjauh di pulau itu, kira-kira 14 Km dari Pelabuhan. Sesampai di Lapas Pasir Putih, Ara di periksa oleh penjaga dengan teliti, selain meminta surat bukti izin membesuk dan KTP Ara juga harus melewati pemeriksaan metal detector dan x-rays, bukan apa-apa, Lapas Pasir Putih adalah penjara dengan pengamanan paling maksimum dibanding Lapas lainnya di NusaKambangan, karena disini berkumpul tahanan kelas berat dengan masa hukumun lebih dari 5 tahun penjara. Semua tahanan yang dihukum seumur hidup dan hukuman mati juga disini ditempatkan dan rata-rata dari mereka adalah tahanan dengan kasus pembunuhan, narkoba, pelaku makar dan terorisme. Setelah menitipkan handphonenya dan melewati semua prosedur berkunjung di setiap 5 pos penjagaan, Ara di bawa keruangan untuk membesuk yang telah ramai oleh napi yang sedang bercengkrama dengan keluarganya yang datang. Tak lama, datang petugas Lapas yang membawa seorang pria tua. Ara tak pernah melihat orang ini seumur hidupnya tapi ia yakin pria inilah alasan kenapa Ara ada disini. Pria itu duduk di depannya, wajahnya tampak keras dan tegar dimakan usia, sorot matanya kaku dan tajam, mengisyaratkan ia terbiasa menakuti orang-orang seumur hidupnya. Ara menebak pria ini pasti tampan dimasa mudanya, terlihat ada jejak itu di usianya yang kini mungkin beranjak ke angka 70. "Kau laki atau wanita?" suaranya terdengar santai tapi ada kewaspadaan disana. Ara mencoba menahan semua amarah dihatinya, dengan kekuatan yang terus dikumpulkan, Ara balik menatap mata tua itu. "Kau Salam?" Laki-laki itu menyeringit "kau siapa" seumur hidup ia tak pernah dipandang rendah oleh seseorang karena semua orang takut padanya. "Kau tak kenal aku, tapi kau kenal ibuku" Ara merasakan paru-parunya menyempit ketika menyebut ibunya di hadapan laki-laki ini. "Tunggu! wajahmu kurasa mirip seseorang" ia terdiam sembari memperhatikan wajah Ara sembari mencari sebuah jawaban "kalau ibu yang kau maksud itu bernama Camelia, apa aku pantas mendapat hadiah? hahahaha.." bau tak sedap menguar dari mulutnya yang menganga karena tertawa, Ara mengepalkan kedua tinjunya di bawah meja, wajahnya menegang, matanya menyiratkan kebencian mendalam. "Kau putri Camelia? wah wah tak kusangka kau sudah sebesar ini, walaupun kau terlihat aneh dengan kepalamu yang plontos, tapi karena kau mengaku anak Camelia yang gila orang-orang tak perlu berpikir dua kali untuk percaya kau anaknya, bagaimana kabar Mel-ku yang malang nak? lagi-lagi ia menyeringai, raut wajahnya tampak senang sekaligus mengejek Ara terang-terangan. "Ia mati, istrimu juga" hati Ara berdarah. "Naima? ah..perempuan j*****m yang melarikan uangku? ia pantas mati" setiap kata yang keluar dari mulut lelaki ini diucapkan dengan nada rendah tapi membuat siapapun jadi merinding. "Kau tahu, dulu pernah rasanya menyesal menikah dengan perempuan sial itu, berharap mendapat istri patuh, ia malah menusukku dari belakang dan menjadikanku buronan polisi nomor satu, tapi setelah kaubilang dia mati, aku cukup puas, kuharap ia membusuk terlebih dulu dimakan belatung sebelum orang-orang menguburnya, siksaan dua kali yang manis" Ia tertawa, Ara hampir hilang kendali, kalau ia tadi tak sempat menunjukkan Kartu Tanda Anggotanya ke petugas mungkin sekarang ia sudah membanting pria ini ke lantai dan meremukkan kepalanya, tapi karena ia tak mau diadukan ke kesatuannya, ia menahan diri dan itu sulit sekali. Salam duduk tegak dan mencondongkan badannya sedikit kedepan, ia menatap Ara dengan kedua matanya yang menakutkan "kau mau apa datang kesini bocah? mau meminta pengakuanku sebagai ayahmu?" "Tidak, aku hanya ingin melihat anjing kurap yang sudah menghancurkan hidup ibuku untuk terakhir kali sebelum jantungnya di paku peluru, asal kau tahu pak tua, memang ada darahmu yang mengalir di sini" Ara menunjuk nadinya " jika ada alat yang bisa menyedot darahmu pasti sudah kubersihkan sedari dahulu, tapi karena itu tak mungkin aku berharap darah ibuku bisa menghapus bagianmu yang busuk, kini tak ada lagi yang bisa kulakukan begitupun Camelia, hanya berharap kau segera mati dan membusuk di dasar neraka, bahkan akupun berdoa, agar Tuhanpun enggan menerimamu disana karena dosa yang kau tanam" susah payah Ara menyelesaikan kata-katanya "Terimalah hukuman Tuhan, dan aku berharap kau menyesal pernah dilahirkan dari wanita pendosa yang kau anggap ibu!" "Hahahahahahaha.....aku tak mempermasalahkan apapun lagi bocah, waktuku tak banyak, kau yang seharusnya cemas memikirkan apakah ada pemuda bodoh diluar sana yang mau menerima anak hasil perkosaan dan incest sepertimu? kau cari saja laki-laki gila, hahahaha..." Ara menutup mata, wajah Nino memenuhi benaknya, bisikan cinta laki-laki itu masih terngiang-ngiang, hati Ara pedih luar biasa. "Pergilah ke sudut dunia nak, aku yakin kau takkan diterima siapapun di muka bumi dengan membawa darah tak lazim di tubuhmu itu". Brak! Ara bangkit dan menggebrak meja, seluruh mata diruangan memandang kearahnya. "MATILAH KAU PAK TUA! MATI SAJA KAU!" Cengiran di wajah kusutnya layu, Salam kaget dengan kemarahan Ara, laki-laki itu tak menyangka jika perempuan itu berani membentaknya. Ara tak melihat reaksi apa-apa lagi dari pria itu, ia sudah melangkah pergi keluar dari ruangan. Sepanjang pemeriksaan menuju keluar dari Lapas, gadis itu seperti robot, tegang dan sorot mata yang kosong, karena ia sekarang memang tak mempunyai kemampuan untuk berpikir. Sesampai di kapal Fery yang akan kembali membawanya ke Cilacap, Ara menangis sesunggukkan, ia menyesal datang kesini, lebih baik ia tak menemui laki-laki itu karena pada akhirnya pertemuan mereka hanya membawa kepedihan baru dalam hidupnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD