10

1622 Words
Di dalam Lift yang bergerak lamban, ketegangan muncul diantara mereka, Ara merasa nafasnya memburu dan tubuhnya panas, sesekali ia melirik Nino yang berdiri kaku di sampingnya. Ara merasa sedang di bawa seorang psikopat ke tempat pembantaian, namun sialnya Ara pasrah begitu saja. Nino tiba-tiba berbalik menghadap Ara, mukanya tenang tak berekspresi, Ara kaget, refleks mundur hingga tersandar ke dinding lift. "mau apa kau bodoh! mundur!" Nino tak mengindahkan, dengan kedua lengannya ia mengurung Ara. Mencoba melepaskan diri, justru membuat tubuhnya kesakitan karena pelukan Nino yang mengetat, Ara pusing oleh gairahnya sendiri. Mereka bertatapan dalam diam, lalu Ara meloncat ke pelukan Nino dan menyerang bibir pria itu dengan ganas. Tubuh Nino agak sedikit limbung dengan gerakan Ara yang tiba-tiba lalu setelah menguasai diri ia membalas serangan Ara tak kalah hebat. Bibir-bibir saling mencari, Nino memeluk tubuh gadis itu dengan kuat, jemari Ara mempermainkan rambut Nino dan sesekali menjambaknya jika pria itu dengan sengaja menggigit bibirnya. "Nino! 8!" Ara mengeratkan kaitan kakinya di sekeliling pinggang Nino karena pria itu tak melepaskan gendongannya ketika mereka beranjak keluar lift. Ara tak membuka matanya karena sibuk mengulum bibir Nino yang ranum. Entah bagaimana caranya, mereka bisa sampai ke dalam apartemen yang gelap. Ara merasakan kasur yang empuk ketika Nino melemparkannya ke ranjang, belum sempat ia bangkit, tubuh pria itu sudah menindihnya dan kembali mencium mulut Ara yang terasa bengkak dan perih.  Nino melepaskan jaket denim Ara yang mengganggu lalu disusul kaus dan jeans nya. Tubuh bagian atas Nino sudah tak berpakaian, jemari Ara bergetar ketika berusaha melepaskan kancing celana Nino disaat laki-laki itu membuka hook bra Ara. Keduanya kini polos, cahaya hanya sedikit yang masuk membuat siluet mereka terlihat aneh. Ara mencengkram rambut Nino dan membawa kepala pria itu kedadanya, lidah Nino bermain di sana bergantian menyenangkan kedua tonjolan dadanya yang tak seberapa. Isakan pelan keluar dari mulut Ara, seumur hidup ia tak pernah merasa disayangi sedemikian rupa oleh seseorang, sekarang ketika Nino mencumbunya dengan segenap jiwa Ara merasa dadanya membuncah karena bahagia. Lihatlah bagaimana pria itu memuja setiap inci tubuhnya tanpa menilai, yang ada hanya geraman pelan dan lenguhan nikmat. Tubuh keduanya basah oleh keringat, Ara menggulingkan tubuhnya hingga kini ia yang diatas dan gantian menyenangkan pria cantik itu. "Ara!" Nino berteriak, saat Ara dengan berani melakukan felatio pertamanya, karena Nino juga amatiran, kuluman Ara hampir membuatnya "muntah" di mulut gadis itu. "Please, make love to me No, please...." Nino menatap Ara tak percaya, tak percaya dengan permohonan gadis itu yang menyerah untuk dicintainya. Sedangkan gadis itu tak sadar lagi dengan setiap gerak dan katanya, ia luruh dengan kehangatan yang diberikan Nino. Nino menempelkan kening mereka yang basah ketika dengan pelan memasuki Ara. "Ssssshhhh...ssshhhh..jangan takut sayang, jangan takut" suara pria itu seperti bisikan ketika menenangkan Ara yang sedikit memberontak ketika merasakan sakit di pangkal pahanya. Jari mereka bertautan di bantal, gerakan Nino pelan dan membuai. Air mata jatuh satu persatu di pipi Ara, apa yang ia rasakan sekarang tak bisa diucapkan dengan bahasa verbal, otaknya kosong, yang ada hanya pria itu dan kejantanannya yang berdenyut-denyut dan semakin membesar setiap kali menerobos "pintu" Ara. Nino punya kebutuhan seperti Ara yang mencapai puncak pertamanya, setelah memastikan gadis itu menikmati semuanya, sekarang giliran Nino yang harus segera menuntaskan gairahnya. Alis Ara bertaut, ketika merasakan kejantanan Nino bergerak cepat dan menghentak-hentak, nafasnya yang memburu terasa hangat di wajahnya. Ara menyambut setiap gerakan Nino dengan sama b*******h, rasa sakit itu telah hilang digantikan rasa nikmat luar biasa, dalam keremangan mata mereka terbuka saling menatap " i love you Ciarran" Nino mengucapkan 4 magic words itu disaat melepaskan cintanya ke rahim Ara yang menggigit bibirnya menahan jeritan orgasmenya yang kedua. Kali ini Ara tak menangis karena perih di kewanitaannya tapi perih di hatinya setelah mendengar pengakuan Nino barusan. Benar-benar timing yang tepat, ucapan cinta dari pria itu mengenai ulu hatinya, sakit sekali. Nino mencintainya dan ia juga merasakan hal yang sama, tapi ada tembok penghalang yang kokoh diantara mereka. Kenyataan itu menyadarkannya. Mereka tak seharusnya melakukan ini, karena pasti Ara akan sulit melupakannya disaat  tak ada harapan untuk ia dan Nino bersama. Dengan kasar Ara mendorong tubuh Nino yang berada di atasnya, tanpa memperdulikan vaginanya yang masih sakit, dengan tergesa-gesa ia turun dan memakai pakaiannya yang berserakan. "Ara?" cahaya di dalam kamar tak cukup menerangi penglihatannya di tambah hantaman o*****e yang baru melandanya, membuat Nino tak yakin dengan apa yang diperbuat Ara. "Ara? kenapa sayang? kamu kenapa?" Nino meraba-raba lampu di nakas, dan ketika ruangan terang benderang, pria itu melihat Ara melesat keluar. "ARA!" masih bingung dan menyadari ketelanjangannya, Nino buru-buru memakai jeansnya dan mengejar Ara. Bunyi lift berdenting, Sky muncul dari dalam dan Nino masih sempat melihat tubuh Ara menyelinap kedalam lift. "Ara! tunggu!" Nino terlambat, pintu lift sudah tertutup, dengan panik pria itu memencet tombol lift sembarangan dan mengedor pintunya. "Sial! sial!" "Nino kenapa?? hei?" Sky kebingungan dengan Nino yang seperti maling kesurupan. "Ntar tetangga keganggu No, sudah!" Sky menarik legan Nino lalu membawanya ke dalam apartemen mereka. Sesampai didalam, adik bungsunya itu terduduk di kursi, tertunduk dengan jari-jarinya yang saling menggenggam kuat. Rambutnya yang panjang menutupi seluruh wajahnya. Sky benar-benar tak mengerti, tadi ia hanya sempat melihat Ara yang menabraknya sewaktu gadis itu terburu-buru masuk lift, lalu Nino yang setengah telanjang memanggil-manggil Ara. Sky tahu ada yang salah, tergesa ia masuk kedalam kamar. "Holy s**t! she's virgin!....was." Sky melihat ada noda merah di seprei putihnya yang kusut, kamar itu seperti habis di terjang badai. Badai seksual yang barusan dilakoni Ara dan Nino. "Jadi apa yang terjadi setelah tadi kau berhasil menjadi cherry popper?" istilah Sky untuk orang yang berhasil memerawani seorang gadis. "I don't know" suara berat Nino terasa dingin sekali, Sky merinding. "But, bukan berarti kau tak tahu segalanya kan?" Sky masih mencoba memancing tapi diluar perkiraan, Nino bangkit dan mencengkram leher kausnya. "Shut up Sky! SHUT UP!" muka Nino semakin pucat karena marah, nafasnya memburu, Sky terkaget-kaget. "Okay, okay, i get it!" Sky mengalah dan melepaskan jemari kuat Nino di bajunya. Kemudian adiknya itu beranjak ke kamar dan mengambil bajunya lalu tanpa pamit ia pergi. Sky bingung luar biasa. Seumur hidup ia tak pernah melihat Nino marah ataupun hilang kendali, tapi sekarang.... "Sialan, what did you do to my brother?" "Twiggy? are you okay?" Rhum takut-takut memandang abangnya yang sedari tadi duduk terdiam. Nino memegang sendok di tangan kanan tapi sama sekali tak menyentuh makanan yang ada di hadapannya. Biasanya ini hobi Nino, duduk mematung tak bersuara, tapi kali ini lain, muka pria cantik itu seperti menghindari cahaya, muram dan ada kekalutan disana. "Nino, biasanya kamu suka sup krim jamur, kenapa ngga di makan?" Eva ikut-ikutan cemas, sudah hampir seminggu Nino mengurung diri di kamar, menolak semua pekerjaan yang datang, kebiasaannya berhibernasi kambuh lagi. Sky tahu apa yang terjadi, tapi ia tak mau ikut campur, bagaimanapun Nino sudah dewasa, ia bisa mencari solusi untuk masalahnya sendiri. Edgar juga tahu, Sky yang membuka komite pergosipan tingkat tinggi itu ketika ia menemani Ed yang mendapat jatah mencuci piring. "Really? like really really?" "Lu tanya lagi, gue masukin ni garpu kepantat lu Ed!" "Wow, Nino ternyata bisa juga, you know..bercinta hehehehe" "Edan lu, ya iyalah, setiap makhluk yang punya burung pasti bisa bercinta, burung aja bisa!" "Emang Nino punya burung?" "Emmm...ga tahu juga" Sky berlagak sedang memikirkan sesuatu yang berat, tawa Ed tersembur. Bwuahahahahahaha...air lur Ed menyembur kedalam busa sabun. "Burung siapa?" Troi muncul di belakang mereka, hari ini ia mengantar Leen pulang, persalinannya tinggal menghitung hari, lebih baik istrinya itu sekarang dibawah pengawasan Eva. Sky dengan penuh semangat langsung bercerita dengan detail yang menurutnya akurat, malah ia tega menambahkan bahwa Nino berniat terjun dari lantai delapan pasca ditinggal Ara yang kabur sehabis bercinta. Troi tahu Sky yang tak patut dipercayai setiap katanya, dan ia tahu Nino punya ketenangan batin setenang wajahnya yang datar, Troi mengerti adik-adiknya seperti ia mengerti diri sendiri. Sky, Ed dan Nino memang Eva yang melahirkan, tapi Troi yang mengembalakan. "Jadi Ara lari setelah ditiduri Nino?" karena tentara, Troi berpikiran logis dan karena hal itu juga bahasa Troi sedikit tak sesuai dengan kamus bahasa formal. "Ditiduri? bahasa lu Troi, no! lebih tepatnya make love, mereka dua makhluk rapuh yang baru pertama kali merasakan nikmatnya dunia, makanya si botak kaget karena Nino ternyata punya burung". "Gue dan Leen juga sama-sama virgin, tapi udah bisa bikin ranjang patah" Troi membeberkan salah satu fakta pernikahannya dengan santai. "Wow, wow, wow...bravo..bravo!" Ed pertepuk tangan kagum, dalam pikirannya, ranjang yang dimaksud Troi terbelah dua dengan semua kapuk beterbangan. Ia menyamakan keperkasaan Troi dengan gempa 6 skala richter. "Lu cerdas Ed tapi lu juga bodoh, mana ada bercinta sampai bisa ngancurin ranjang" Sky tak rela, ia yang mempunyai pengalaman bertahun-tahun dalam urusan seks kalah perkasa dari Troi yang seumur hidup hanya akan menikmati satu wanita. "Terserah, jadi itu alasan kenapa Nino jadi kayak zombie?" Sky dan Ed mengangguk serempak, wajah keduanya seperti dua tukang gosip yang sering muncul di televisi. Nino seperti pudur berhari-hari, ia hanya turun untuk makan lalu kembali tidur. Nino yang berbuat, Eva yang kena batunya, karena harus menolak telfon dari orang-orang yang hendak memakai jasa Nino dan itu berarti Eva harus memiliki stok kata-kata maaf. Eva tak mengerti kenapa Nino bisa kembali lagi ke masa sebelum masehi setelah beberapa minggu ini ia berada di orbitnya, selalu ceria dan hobi tersenyum. Adam yang melihat kegelisahan Eva berusaha menenangkan istrinya. "Sudahlah Eev, anak-anak sudah besar, biarkan mereka menyelesaikan masalahnya sendiri, lagipula kau harus berkonsentrasi untuk persalinan Leen". Eva menatap Adam lucu "ye..yang ga sabar jadi kakek" Adam tertawa dan membawa Eva kepelukannya. "Dulu diusia 32 punya anak 17 tahun, sekarang belum genap 45 udah mau punya cucu, aku pria beruntung, tak perlu menunggu sepuh untuk bisa mengendong cucu" Eva tertawa didada suaminya. "Kamu mau juga ngga?" Eva mendongkak, menatap suaminya dan tersenyum. "Apa?" "Bayi" senyum Eva bertambah lebar, Adam kaget.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD