9

2122 Words
Ara melihat arlojinya dan memastikan sekali lagi ia tak terlambat, setelah memarkir motor dan mematut diri di kaca depan, kemudian masuk kedalam cafe tempat ia berjanji akan menonton si kembar minus Troi nge-jam malam ini. Menurut Nino, mereka sudah membentuk band sendiri sejak pindah ke Jakarta beberapa tahun yang lalu. Nino sendiri kebagian bass karena menurut Sky, semakin panjang body sebuah bass guitar akan semakin panjang pula ukuran p***s yang memainkan, Troi menampar bagian belakang kepala Sky karena menyentuh paha Nino sembari mengucapkan katanya yang tak pantas. Edgar di drum, suara gebukan drum yang gaduh bisa menjadi terapi untuk otak Ed yang berjalin kusut di dalam, begitu Sky bilang dan Edgar mengiyakan penuh semangat. Troi di gitar dan Sky tak berani komentar, karena Troi selalu sempurna dengan setiap pilihan hidupnya termasuk mendapatkan istri super hot seperti Helena Salim. Sky the one and only, semua orang mengakui suaranya yang merdu, serak dan unik, ia mengangkat dirinya sendiri sebagai vokalis sekaligus frontman band yang mereka namai KVLAN diambil dari nama sang ayah yang baru kembali kekehidupan mereka. Jam menunjukkan pukul 08.17 malam, C-Plan Caffe adalah sejenis kafe yang biasa di datangi kaum urban ibukota dan interiornya di disain minimalis dengan sentuhan retro. Ketika melihat Ara, mata Nino berbinar-binar, kentara sekali kalau ia senang Ara datang, Sky melihat gelagat itu dan meyakini bahwa lamaran Nino kepada Ara beberapa minggu yang lalu bukanlah main-main. Trio kwek-kwek Sky, Nino dan Ed hari ini ditemani Gilang sebagai pengganti Troi. Gilang "gigi langka" adalah teman SMA mereka, giginya jarang dan hobi tertawa, ironis sekali. Dari dulu sampai sekarang ia selalu mengaku sebagai remaja mesjid tapi si kembar tahu kalau Gilang hanya shalat sekali setahun, yaitu hanya pada hari raya Idul Fitri, itupun pada takbir kedua, si gigi langka ini malah ruku' sendiri. Tapi biarpun bentukannya ajaib, si kembar tetap menggunakan jasanya apabila Troi berhalangan hadir, style bermusik Gilang hampir mirip Troi dan bisa matching dengan harmoni yang berasal dari bass Nino dan ketukan drum Ed, overall, Gilang additional player yang paling tepat dan cocok. "Sering main disini?" Ara duduk di kursi istimewa yaitu didepan panggung pertunjukan, Nino mereservasinya jauh-jauh hari hanya untuk gadis itu, karena dari meja itulah view yang paling bagus untuk menonton dan selalu jadi rebutan pengunjung kafe. "Ya, tempat ini punya teman kuliah Sky, dia yang menyarankan kami untuk perform disini"? "Oh ya? rutin?" "Ga juga, kapan kami berempat punya waktu luang yang sama, mampir kesini dan 'memanaskan mesin' " 'memanaskan mesin' maksudnya meregangkan otak dan otot-otot mereka yang terforsir untuk pekerjaaan dengan cara bermain musik. Ara manggut-manggut, dengan pekerjaan mereka masing-masing yang penuh tuntutan, jangankan untuk nge-jam bareng, kumpul di meja makan untuk sekedar menikmati kopi buatan Eva saja belum tentu mereka punya waktunya. Sky datang, pria itu langsung memeluk Ara sembarangan, sampai-sampai Ara hampir terjungkal dari kursinya. "Tapir haram, babon busuk! minggir!" Sky tertawa-tawa melihat kehebohan Ara, ia memang sengaja berbuat itu untuk melihat reaksi Nino yang tak mengecewakan, mukanya memang datar, tapi Sky bisa melihat asap keluar dari kepalanya, Nino cemburu berat. "Sialan, napa lu kesini? tentara boleh main ke kafe? bukannya lu sekarang seharusnya ada di barak, ngelap popor senapan?" Sky mencoba sekali lagi menyentuh kepala Ara, tapi gadis berkelit dan meninju bahu Sky yang kokoh. "Menyingkir kau gurita bodoh, atau kau bisa pesan karung untukmu sendiri!!" Ara tak marah, ia sudah terbiasa bergelut dengan Sky sedari kecil. "Duduk Ara, Sky menjauhlah" Nino bersabda, dan dua makhluk jadi-jadian itu mematuhinya, Ara duduk dan Sky memasang muka cemberut, dagunya berlipat lima. "Sebentar lagi kita perform Nino sayang, pengunjung sudah banyak" kemudian Sky melirik Ara yang melotot kepadanya "Hindarilah cahaya wahai kau yang tak biasa, gue ga mau pas perform nanti mata gue silau karena pantulan sinar dari pala lu yang abstrak oke?" Sky masih sempat mentowel kepala Ara sebelum berlari menghindari amukan si gadis. "Kau mau pesan apa?" Nino menatapnya intens, Ara tersenyum malu "kau yang traktirkah?" Nino ingin mencium Ara dari atas meja "tidak, tapi kau bisa membayarnya nanti dengan satu ciuman". "Berharaplah pada angin yang lalu tuan" Nino tertawa, Ara diam-diam gugup dengan penawaran Nino yang nyata-nyata adalah seorang good kisser. Pesanan Ara datang, cappuccino yang dipasangkan dengan croisant yang buttery bikin lumer di mulut. Nino mengelus kepalanya yang botak dan pamit untuk bersiap-siap, Ara deg-degan, kepalanya yang di elus, mukanya yang memerah. "Yap. tes tes, selamat malam buat bapak dan ibu yang sudah menyempatkan diri datang ke C-plan, dan maaf kalau saya seperti pak RT yang sedang ngasih pidato". Grrrrrrrrrrrrrr...tawa berhamburan dari setiap sudut cafe mendengar kata sambutan Sky yang ngaco. "Malam ini, ada saya yang selalu tampan, dan 3 makhluk anomali. Ada adik saya yang tak berjenis kelamin, Nino di bass" penonton cewe bertepuk tangan dengan ke 20 jarinya "lalu Gilang yang saya berharap tak ada yang mencoba memancingnya tertawa, karena siapapun itu yang khilaf akan menyesal seumur hidup dan Edgar yang kita tak tahu jenius ataukah gila" Ed tersenyum di balik drumsetnya "kami akan menemani malam kalian yang seharusnya panjang, tapi karena memikirkan deadline esok hari, menjadi terpotong hampir 3/4 nya" Sky tersenyum dengan komentarnya yang nyelekit, penonton tertawa. "Dan spesial untuk cewek ogah cucunya pak ogah di meja nomor 5, malam ini akan ada yang akan memberikan hatinya padamu, brewwwwww" Ara merasa ada banyak pasang mata yang tengah mengarah kepadanya, tengkuknya meremang. Ditambah tatapan Nino yang menyorot tajam kepadanya seorang, membuatnya semakin salah tingkah. Mereka band yang memainkan lagu orang, istilahnya cover band. Lagu-lagu yang sering mereka mainkan berjenis new wave, genre musik yang ngetop di akhir 70-an. Punk-rock, alternative, dan disco mempengaruhi perkembangan jenis musik ini. Troi dan Sky mengidolakan Nirvana pastinya, tapi  tak berniat mati muda seperti Kurt Cobain, Nino suka Blondie, Ed cenderung ke new wave techno seperti Depeche Mode dan Culture Club. Malam ini mereka mengawalinya dengan 'About A Girl'-nya Nirvana disusul lagu ciamik dari Blondie bertitel  "Maria", lalu berturut-turut, "Dear God" XTC, "There Is a Light That Never Goes Out" The Smiths, "Should I Stay Or Should I Go" The Clash, "Never Say Never" Romeo Void, "Blue Monday" New Order, "Dear Prudence" Siouxsie and The Banshees, "Boys Don't Cry" The Cure dan ditutup dengan "Miss Me Blind" nya Culture Club. Ara mengetuk-ngetukkan jarinya ke meja menikmati setiap nyanyian yang berasal dari suara Sky yang gadis itu harus akui memang benar-benar bagus dan berkarakter. Sky menyanyikan setiap bait dengan suka-sukanya sendiri tapi tak melenceng dari irama aslinya, pokok e maknyus lah. Tapi yang membuat jantung Ara yang berdebar-debar adalah Nino. Pria itu sungguh punya magnet tersendiri, ia memainkan bass-nya dengan tenang namun berjiwa disetiap petikannya. Rambutnya yang panjang menutupi wajahnya dengan gaya misterius "liat permainan bass gue aja bro, jangan muka cantik gue" begitu jika diibaratkan. Sekali-kali Nino menyibakkan poninya dan menatap Ara yang balas menatapnya. Semua terlihat sangat jelas, kedua makhluk Tuhan ini menyukai satu dan lainnya, mungkin lebih dari hanya sekedar suka. Nino menyukai Ara tanpa alasan, karena ia hanya punya jantung yang berdetak kencang jika melihat gadis itu. Ara sayang Nino juga tanpa alasan yang menerima Ara apa adanya. Tapi apa iya ada yang mudah di dunia ini? Ara yakin tak ada, karena seberapa besarpun perasaannya kepada Nino, ia tetap tak bisa bersama laki-laki itu. Riuh tepuk tangan dari penjuru kafe menandakan pertunjukan KVLAN malam ini sukses besar, malah ada yang meminta encore tapi Sky menolak dengan alasan Gilang harus ganti kulit dulu ke tempat penyamakan dan tak bisa berlama-lama mengenjreng gitar karena harus rebutan antrian dengan puluhan buaya. Penonton kecewa namun setelah mendengar lelucon Sky mereka berpuas diri dan berharap minggu depan masih bisa menyaksikan mereka nge-jam lagi. Nino datang ke meja Ara setelah meletakkan bass kesayangannya kedalam hardcase. Ara semakin malu ketika Nino mengecup kening gadis itu dengan sayang. Setelah itu tanpa ijin terlebih dahulu, laki-laki cantik itu menautkan jemari mereka di bawah meja, Ara panas dingin. Gilang, Sky dan Edgar bergabung, mereka membawa bir dingin untuk melepas dahaga setelah lelah memberikan hiburan kepada pengunjung. "Wow, kau botak!" Gilang mengomentari Ara takjub. "Ya, dan gigi kau rungak" Sky tertawa kencang dengan komentar Ara "beginilah jika kau sedari kecil hobi ngemil sol sepatu, gigi kau ada spasinya" tawa Sky makin membahana mentertawakan Gilang yang mesem-mesem sendiri, seolah Sky sedari tadi memujanya yang bergigi unik. "Siapa namamu kawan?" Gilang mengulurkan tangannya yang kurus, Ara tak menyambutnya. "Kau sendiri siapa?" Tangan Gilang tetap dengan posisi menjulur, tak peduli Ara mau bersalaman atau tidak "Gilang Pradipta" "Oh, kusangka kau Gilang Majnun" "Jangan, saya Jawa asli bukan india" "Majnun itu bahasa arab, artinya gila dan ya kau lebih pantas punya nama belakang itu" Sky tergelak sambil memukul-mukul meja mendengar obrolan Ara dan Gilang. "Dan Ciarran, bagaimana menurutmu perform kita tadi" Edgar tak mempedulikan Sky yang mulai mabuk (mabuk karena candaan Gilang dan Ara) "It was great, kalian hebat sekali malam ini, ngga rugi gue datang" Ara tulus memuji mereka, karena kenyataannya memang begitu, walaupun rata-rata lagu yang mereka bawakan aslinya bergaya techno dengan unsur synth yang kental, tapi dengan hanya gitar akustik dan bass tak mengurangi keindahan musiknya, Ara menebak mungkin ini yang disebut unplugged minus piano dan biola. "Saya pernah berpikir untuk memadukan techno dan jaipongan, ibarat menduetkan Peter Godwin dan Cucu Cahyati...so sexy" bahkan Ed yang biasa sinting, takjub dengan keinginan terpendam Gilang. "Gue lebih suka duet Nicki Minaj dan Wendy Whooper" Sky mengurut dagunya, menghayalkan big ass-nya Nicki dan massive titsnya Wendy dan ia terjepit diantara keduanya. Dari mengurut dagu sekarang Sky ganti menggaruk selangkangannya. "Cih, kau emang murahan Sky" Ara mencibir. "Apanya?" Sky masih dalam mimpi, sekarang Wendy menampar wajah Sky dengan kedua melonnya, kalau dalam kamus m***m itu mengartikan "t**s slap" "Kau dan leluconmu itu, membuatku yakin kau jauh lebih dungu dari keledai" Nino meremas tangan Ara dan membuat gadis itu menoleh. "Dan kau selalu cantik Ciarran" muka Ara memerah seperti p****t bayi habis dicubit dan ketiga orang yang lain spontan koor "whoooooo" kentara sekali mereka meledek. "Manis sekali kalian loverbirds" Edgar mengangkat botol birnya kearah Nino dan Ara yang masih saling pandang. "Yeah low IQ lovebirds, gue yakin tak ada seorangpun diantara mereka tahu cara bercinta" Sky mencemooh dan menyipitkan matanya melihat reaksi Ara dan Nino. "I know" Nino masih memandang Ara yang kini salah tingkah. "O yeah, apa? oral? semua orang bisa "menjilat dan menghisap" Nino sayang, tapi untuk memarkirkan burungmu itu kau harus tahu tekniknya" muka Ara semakin parah memerah, Sky benar-benar keterlaluan. "Dan untuk kasus Ara yang seorang tentara, sebelum oral, kau sebaiknya mengingat jargon iklan rokok "menghisap membunuhmu"(seharusnya merokok membunuhmu), mungkin Gilang mengira Nino akan ditikam sangkur oleh Ara jika berani mengoralnya. Buahahahahahahahahahahaha... Sky dan Edgar tak tahan dengan komentar Gilang, mengagetkan pengunjung kafe dengan tawa kencang mereka. Nino menatap Ara lekat-lekat, tak peduli dengan suara berisik Sky dan Ed, tiba-tiba saja hawa berubah disekeliling mereka, tatapan Nino membuat Ara mengartikan sesuatu dan itu salah yaitu Seks!. Bagian bawah perutnya melilit, kewanitaannya meremang, malah ia terang-terangan mengusap lehernya pertanda ia merasakan Nino telah berhasil memancing libidonya. Tiba-tiba dalam pandangan Ara, Minnie Riperton muncul dan mendendangkan Lovin You. Lovin you is easy cause your beautiful. Makin love with you is all i want to do. Lovin you is more than just a dream come true. And everything that i do,is out of lovin you Ara geleng-geleng kepala, ia memberanikan menatap mata Nino, lalu mbak Minnie berganti dengan band Eagle Of Death Metal.   I'm gon' set my soul on fire My heart beats low while the flames go higher Strike the match and then the truth is told I'm gon' set my soul on fire   Lalu pandangan Ara mengabur sebentar, jeung Minnie muncul lagi.   la-la-la-la-la,la-la-la-la-la. la-la-la-la-la-la-la.And doot-doot.dootin.doot-do. [haaaaaaah]   I'm gon' set my soul on fire My heart beats low while the flames go higher Strike the match and then the truth is told I'm gon' set my soul on fire        Flames Go Higher kembali menggedor otaknya yang semaput, dan Ara menggila.   Brak!   Ara menggebrak meja, lalu sebelah tangannya berayun diudara mengusir bayangan-bayangan aneh, efek dari tatapan Nino yang berarti sesuatu. "Kenapa kau sialan? kau mau memanggil mbah sialmu kesini" Sky menatap Ara dengan pandangan heran dan menghina. Ara semakin gelisah karena Nino tak berhenti menatapnya.  "Kau tahu beda antara bus antar kota dan pesawat terbang Lang?" Sky kembali dengan teka-tekinya yang diyakini pasti ada unsur cabulnya.   Gilang tertawa "saya mengaku kalah teman" ia bahkan belum menjawabnya, Gilang kuncup sebelum mekar.   "Kalau bus antar kota ngelewatin jalan yang berlubang, kalau di pesawat pramugarinya yang "berlubang", huwahahahahahaha..."   Gilang terkikik, Ed memuntahkan birnya, Sky kali ini benar-benar mabuk.   Nino menarik Ara bangkit, lalu tanpa mempedulikan teriakan Sky yang memanggil mereka, pria itu membawa Ara ke parkiran mobil.   Ara yakin ia kena santet, karena tak menolak sedikitpun ketika diajak pergi Nino dengan mobilnya. Jantungnya berdetak tak karuan, ia tak mau memikirkan "hal" itu, tapi diotaknya sekarang hanya ada Nino berbaring tanpa pakaian di ranjang yang kusut dan hangat. SIAL!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD