8

1181 Words
"kau ingat?" Ara kembali dari lamunannya. "ya". "kenapa?" "ntahlah, tapi yang paling ku ingat kau menangis sambil memakan apelmu" "s**t, it was rotten and i ate it" Ara tertawa sedih, ia seumur hidup tak pernah ingat ulang tahunnya, karena ia tak peduli, tapi Nino selalu ada mengingatkan hari itu untuknya. "kenapa?" "mmm.." "kenapa kau menyukaiku?" "kenapa tidak". "aku bukan gadis yang bisa kau sukai". "aku suka semua tentang dirimu". "kau menyebalkan". "terima kasih". Ara dan Nino tertawa berbarengan, perasaannya menghangat mendengar tawa Nino yang menyenangkan, kalau Tuhan izin, ia ingin seperti ini selamanya, duduk berdua, ngalor-ngidul tentang hal yang tak penting dan absurd, sekali-kali saling sindir dan melemparkan guyonan, tapi ia ragu Tuhan akan mau. "apa kau suka menjadi tentara" "kau tahu cuma itu yang aku bisa sebagai manusia" "apa? menodongkan senjata ke kepala orang? kau tentara bukannya rampok". "well, not really, tapi paling tidak aku bisa menggunakan senjata itu untuk hal-hal berguna" "seperti..." "membunuh ayahku" Ara terdiam, Nino bisa merasakan ada kebencian mendalam di nada suara gadis itu. "kau sudah bertemu dengannya?" Lagi-lagi Ara tak bersuara. sorot matanya menajam, rahangnya mengeras dan ia nyaris meremukkan apel ditangannya. "kau tahu lagu Styx? Renegade, aku suka lagunya" "kenapa?" "karena akulah Renegade nya dan pria itu the wanted man yang akan kugantung sendiri ditiang gantungan, dan sebelum eksekusi dilakukan akan ada yang bernyanyi sedih..." "Oh, Mama, I'm in fear for my life from the long arm of the law Law man has put an end to my running and I'm so far from my home Oh, Mama I can hear you a-cryin', you're so scared and all alone Hangman is comin' down from the gallows and I don't have very long" "saat lagu itu berakhir, aku orang pertama yang akan bersorak bahagia" Ara menatap satu titik diluar sana kebalik jendela, ia membayangkan satu hal yang membuatnya akan bahagia dan takkan ada lagi permintaan yang lain kepada Tuhannya. Nino tak tahu pasti tentang keluarga Ara kecuali ibunya yang gila dan uwaknya yang pemarah, selain itu ia tak pernah mendengar Ara menyebut tentang ayahnya. Tapi siapapun laki-laki yang mewarisi Ara darahnya, Nino yakin orang itu takkan hidup tenang, jika melihat gelagat Ara yang sangat membenci ayahnya. "kemaren kau nonton TV? tentara tetangga tertangkap tangan sedang memindahkan patok perbatasan, and it was funny" "ha yang disuruh pulang sambil bawa kepala ayam hutan?" "yep, they're messed up, untung ga bawa pulang kepala sendiri, hantu jeruk purut bisa dapat saingan, hahahaha..." Melihat Ara yang melupakan keresahannya tentang percakapan mereka barusan Nino bertekad agar Ara dapat menikmati ualng tahunnya. "apa yang terjadi?" "yah kalau menurut aturan sih, seharusnya "disekolahkan" atau paling tidak ditukar dengan imbalan, tergantung pemerintahnya bisa apa". "bisakah?" "yup". "apa menariknya hidup seperti itu? patuh kepada atasan, tak bisa berpolitik" Nino merenungi pertanyaannya. "oh jangan kau salah, tentara memang tak bisa berpolitik praktis seperti sipil kebanyakan, tapi pada tingkat atas sikut menyikut untuk mendapatkan jabatan sudah membuat mereka berpolitik tanpa mereka sendiri sadari, politik bisa dimana saja terjadinya, tak perlu harus duduk di pemerintahan, kau mengecoh orangtuamu soal uang belanja, kau sudah dibilang sedang berpolitik, politik hanya soal kau bisa menang dengan cara apapun, tak perlu benar atau salah" "tapi apa yang terjadi di level bawah" Nino tertarik dengan diskusi mereka. "yah..nrimo wae, apalah daya seorang kopral macet yang tak kunjung naik pangkat karena memang tak ada prestasi, yang bisa yah begitu terus sampai pangsiun, manut dan hormat kanan kiri" Ara menirukan caranya memberi hormat dengan sikap lucu, Nino tertawa. "bagaimana soal Paranoid Android?" ini hal lain lagi, tapi masih bersangkut dengan ulah manusia. "yah, Thom Yorke itu gila, tapi kita patut membenarkan karena banyak hal-hal yang seharusnya disadari oleh manusia sedari dulu, dengan jaman yang semakin membuat manusia menjadi tak tahu lagi kenapa mereka diciptakan oleh Tuhan dan terus berlanjut dengan kegilaannya sendiri dan berharap tanah yang mereka tempati akan baik-baik saja, padahal utopia itu tak ada" "Ambition makes you look pretty ugly Kicking, squealing, Gucci little piggy" "itu maksudmu?" Nino mendendangkan part favoritnya. "ya, manusia itu posesif dengan segala hal, termasuk terhadap dirinya sendiri, ambisius dan materialistis adalah penyakit mereka nomor satu" "termasuk kau juga?" "bisa jadi, tapi aku belum menemukan apapun untuk menjadikanku penuh ambisi dan posesif". "bagaimana denganku" Nino tersenyum menggoda. "kau? aku bahkan memasukkanmu dalam daftar orang yang tak ingin aku hadiri pemakamannya". Ara kejam, tapi Nino tak percaya, yang ada Ara akan memakai gaun putih ketika nanti akan menikah dengannya. "Bullet With Butterfly Wings oke tuh" mata Ara bersinar mengingat salah satu lagu band favoritnya, The Smashing Pumpkins. "The world is a vampire" Bagian pertama lagu bernada rendah itu dinyanyikan Nino dan Ara serempak, Ara berdiri dari kursinya dan berpura-pura memainkan gitar tak kasat mata, ia adalah Billy Corgan sekarang. Sedangkan Nino adalah D'arcy Wreztky si bassis cantik yang suka berdandan ghotic. "sent to drain Secret destroyers, hold you up to the flames And what do I get, for my pain? Betrayed desires, and a piece of the game Even though I know -- I suppose I'll show All my cool and cold-like old job Despite all my rage, I am still just a rat in a cage Despite all my rage, I am still just a rat in a cage Then someone will say what is lost can never be saved Despite all my rage, I am still just a rat in a cage" "it is the best birthday ever" Ara bersorak didalam hatinya. Semuanya berjalan baik pasca ulang tahun Ara tempo hari. Lamaran yang sempat dilontarkan Nino tak diungkit-ungkit lagi. Nino menyadari kesalahannya yang terburu-buru, dan ia berniat membujuk Ara pelan-pelan. Lagipula tak ada alasan kenapa Ara tak mau dengannya, gadis itu jelas menyukainya seperti ia menyukai Ara lagipula mereka berdua single yang tak terikat hubungan dengan siapapun, jadi ada kemudahan disana. Nino mendapatkan tawaran untuk menjadi model runway di Milan Fashion Week sedangkan di waktu yang bersamaan Ara menjadi bagian dari Tim TNI untuk mengikuti kejuaraan menembak militer se-ASEAN yang diadakan di Thailand, jadi keduanya akan berpisah dalam waktu lama. "Ara minta dibawakan apa?" Nino niat sekali sikap manisnya, selama di boarding room ia tak berhenti merayu Ara dengan pesan-pesan pendek. "Minta dibawain kepala Berlusconi, biar dijadiin sasaran tembak" Ara ya begitu, perempuan horor. "Ngga mungkin, Berlusconi sekarang hidup bahagia dengan gundik ciliknya sembari meramu sabu" Nino dusta, kalau mantan PM Italia itu tersinggung dengan kebohongannya, Nino pasti diculik dan dijadikan selir. "Kerangka Salvador Dali untuk gue gerus dan gua minum biar otak gila Dali masuk ke sumsum, lo dan gue akan gila forever". "Dali lahir dan mati di Spanyol, Ara sayang". "Bagaimana jika gue numbuhin kumis flamboyannya". "No!" tak terbayangkan jika Ara nya yang cantik punya kumis yang menelikung. "Hahahahaha...." "Aku ingin oleh-oleh juga" gantian Nino yang mengetik keinginannya. "No way man, rugi gue buang-buang uang buat buat lo" "Yah, Ara" emoticon lucu Nino membuat gadis itu terpingkal-pingkal. "Oke, oke, lu mau dibawain apa? pasir Pukhet atau poto ladyboy?" Ara itu miskin seumur hidup dan pelit lahir batin. "Aku mau kamu pulang dengan selamat". Ara menyimpan message terakhir itu ke draftnya, dan selama di Thailand ia tak berhenti membaca pesan keramat Nino dan menjadikannya semacam jimat. ***********************
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD