Nino tertawa, membuat siapapun di lokasi pemotretan menoleh heran, karena semua orang tahu Kivlan Zacharino tak tertawa dan tak tersenyum, Lady Gaga bilang "muke lo poker face bangat dah" kalau kau tak melihat tarikan nafasnya, Nino bisa-bisa kau sangka mannequin.
Tapi kali ini lain, pria cantik itu tertawa setelah melihat isi ponselnya, ada 30 messege baru di inboxnya, isinya sama "f**k YOU" sedangkan di 30 sent yang kontiniu di kirimnya bertuliskan "BE MY WIFE".
Ara tak benar-benar mutung, ia hanya tak mau di temui dan tak mau mengangkat telfonnya, tapi secepat apa sms yang dikirim Nino, secepat itu pula balasan yang diterimanya, jelas kalau gadis itu tak yakin dengan sumpahnya untuk menghindari Nino yang diucapkan Ara setelah peristiwa di dalam mobil pria itu 2 hari yang lalu.
Selama ini Nino tak tahu hidupnya untuk apa, karena itulah ia tak hobi buang-buang energi untuk hal-hal yang dianggapnya tak berguna, meladeni perempuan misalnya. Dengan wajahnya yang cantik, ia gampang di kagumi wanita, malah banyak yang terang-terangan menyukainya, tapi Nino tak mau ambil pusing, selagi ia masih bisa membuat wanita menangis karena mulutnya yang kasar, ia akan senang hati akan terus berbuat seperti itu, dan ia tak peduli jika ia disangka tak berperasaan atau di bilang gay. Tapi sejak Ara kembali kedalam hidupnya, Nino tahu sekarang apa yang ingin diperjuangkannya, ya ia menginginkan Ara untuk menjadi miliknya.
Ara segalanya untuk Nino, cantik, unik dan selalu bisa membuat laki-laki itu tertawa yang mana tak seorangpun yang bisa, jadi jangan heran kalau akhir-akhir ini ia selalu berwajah cerah dan hobi senyam-senyum sendiri.
Sky menyadarinya, ada yang aneh dengan perubahan sikap Nino, tapi ia tak sempat bertanya karena ada event musik besar yang menuntut konsentrasinya, jadi ia harus bersabar dahulu jika ingin fokus menginterogasi adiknya.
Ngomong-ngomong soal abangnya Nino tahu tipe Sky seperti apa kalau sudah menyangkut urusan perempuan. Sky penyuka perempuan cantik dan hebat di ranjang "good looks, big boobs, big fat butt, slim waist, nice lips and hot p***y, damn... i don't want anything else in this world" Sky itu a smurfhead, picik, pikirannya pendek dan sempit, ia adalah makhluk Tuhan yang lebih mementingkan looks daripada substansi (ngomong opo iki thor?).
Oke, lupakan Sky, balik ke Nino yang berbeda dari abangnya yang murahan, kalau ia masih diberi nafas ia akan terus mencari wanita yang tepat untuk jiwanya yang tak sempurna, istilah Ed "walaupun s****a itu jumlahnya jutaan, satupun takkan di buang untuk wanita yang salah" Sky berdecak jengkel dengan teori Ed yang gila, Nino mengangguk setuju.
**************
Nino membukakan pintu dengan senyum sorenya yang lebar, kali ini ia memakai hand-knit sweater berwarna salam dengan lounge pants sebagai bawahan. Ia mencela penampilan Ara yang lagi-lagi hanya t-shirt putih usang dan jeans kedodoran, Nino tak mau tahu dengan asal muasal noda kuning di bagian ujung lengan baju itu.
Ara menyipitkan matanya ke arah Nino yang tersenyum dan menilainya.
"kau sehat?" Nino masih berdiri menghalangi jalan Ara.
"setiap ngeliat lo gue langsung sakit".
Nino tertawa.
"di sms lo bilang lo sakit".
"aku kebalikanmu, setiap melihat kau, sakitku langsung sembuh" senyum Nino semakin lebar.
"lo pantes dapat hernia?"
"ya?" alis kiri Nino terangkat bingung
"lupakan!"
Ara menyorong masuk tanpa dipersilahkan, ketika sudah berada di dalam, ia terkesima dengan interior apartemen itu. Apartemennya bergaya skandinavia, didominasi warna putih mulai dari cat tembok sampai pilihan furnitur. Dindingnya banyak yang dibuat miring, memberi ruangan cahaya yang cukup dari jendelanya yang besar-besar. Sofanya yang berwarna abu-abu cocok untuk relaksasi dan membaca. Di dinding ruangan terpajang rak built-in yang berisi buku-buku, DVD dan piringan hitam, Ara tak sabar ingin melihat koleksi Nino.
"lo banget." kali ini Ara tak menyembunyikan kekagumannya.
"o ya? padahal ini punya Sky"
"heh" Ara kaget, karena sedari awal, Ara yakin Ninolah pemilik apartemen ini, karena dengan desain yang calm dan hangat jelas tak sesuai dengan karakter Sky yang urakan.
"Sky yang beli, kami yang mendekor"
Ara mengangguk, ada sentuhan nyeni Troi di pilihan wallart-nya yang terkesan klasik, lalu d******i warna putih pastilah ide Nino, dan karena Sky sayang adiknya, ia mengiyakan saja. Ed menyumbangkan buku-buku dan sebuah TV plasma besar untuk mereka bermain game hasil kreasinya sendiri.
Kekaguman Ara semakin bertambah terhadap mereka berempat, tak bisah di pisah walaupun dengan karakter masing-masing yang bertolak belakang. Mereka adalah satu ikatan yang tak bisa dimasuki oleh siapapun dengan mudah.
Gadis itu terus beranjak ke dalam, tiba-tiba langkahnya terhenti, what the hell.... di atas meja makan ada torte, cake coklat multi layer yang diisi whipped cream dan dihiasi strawberry besar-besar, dengan angka 28 di atasnya.
"happy birthday Ciarran" Nino tiba-tiba memeluknya dari belakang, Ara terpana lalu ketika menyadari tubuh hangat Nino membungkusnya ia cepat-cepat melepaskan diri.
"get away from me!"
Nino hanya tertawa, damn..akhir-akhir ini ia sering tertawa, gara-gara gadis ini pastinya.
"duduk" Nino menarik kursi di seberang Ara, mereka berhadap-hadapan.
"eh, ga nyangka ya Sky bisa punya banyak uang dengan otaknya yang pas-pasan begitu, hidup ga adil!" Ara mengutuk Sky.
"kalau kau mau, aku bisa membelikan satu untukmu" Nino memandang Ara dengan sorot mata yang hangat.
Ara mendengus jijik "kau tahu yang paling kubenci di dunia ini? laki-laki cantik, laki-laki gombal, dan laki-laki cantik gombal, dan itu kau mister!"
Nino tertawa "just make a wish" pria cantik itu mengangsurkan cake cantik itu kearahnya, dengan penuh semangat Ara meniup lilin dan bertepuk tangan kegirangan "dan apa?" Nino bertanya disela-sela tepukan tangannya.
"apanya yang apa?"
"your wish"
"aku terbiasa menengadahkan tanganku untuk meminta kepada Tuhan, bukan meniup lilin, kau saja"
"kau Ara, akan menjadi istriku"
"aku yakin Tuhan takkan mengabulkannya"
Nino tak mau bertanya tentang perubahan Ara dengan 'kau dan aku' nya, ia terlalu senang sore ini. Tiba-tiba pria itu melemparkan sebuah apel kepada Ara yang dengan sigap menangkapnya. Ara menatap apel ditangannya, ia memandang Nino yang terdiam membalas pandangannya, lalu waktu berputar jauh kebelakang............
************
Siang sehabis pulang sekolah, ada kerumunan kecil anak-anak di halaman, Ara penasaran dan ikut bergabung. Stifanny anak kelas 4b sedang membagi-bagikan sesuatu.
Stiffany anak Pak Kardi juragan pemilik pabrik kerupuk kemplang dan satu-satunya orang dikampung yang punya mesin parut kelapa. Jaman dulu jika kau punya mesin parut kelapa, kau bisa dianggap orang kaya, karena benda itu seperti benda keramat yang diagungkan, biasanya orang kampung memarut kelapa dengan parutan yang dibuat manual dengan dudukan kayu yang disambungkan dengan bagian kepala dari besi yang ujungnya dibuat bergerigi tajam, untuk memarut satu kelapa saja bisa memakan waktu lama, sedangkan dengan mesin kau bisa memarut kelapa dalam jumlah yang banyak dengan menghabiskan beberapa menit saja. Pak Kardi dan istrinya Bu Safiah dianggap orang penting, karena jika hari raya sudah datang, ibu-ibu di kampung akan berduyun-duyun kerumah Pak Kardi untuk menyewa mesin parut kelapa yang di hargai Rp.300 per satu butir kelapa.
Dan untuk nama anaknya, Pak Kardi tak mau memberikan anaknya nama yang dianggapnya tak lagi modern, maka dari itu ia menamai putri bungsunya Stiffany Nur Azizah. Tapi nama yang dianggap gaya itu berbalik menyerang putrinya, mulut orang kampung yang terbiasa menyebut nama Fatimah, Nur atau Yurni takkan fasih menyebut nama yang agak kebarat-baratan, maka alhasilnya Stiffany menjadi Siti Pani.
Ketika Ara menengadahkan tangannya meminta bagian, Stiffany mencela "apa? tak ada untukmu, anak gila dan botak sepertimu bisa merusak acaraku, sana!" Stiffany mengusir Ara seperti mengusir anak ayam.
"kau ulang tahun"
"iya, apa urusanmu"
"tak ada, tapi kenapa tahun yang berulang kau yang merayakannya?"
"apa urusanmu botak!"
"kau sama bodohnya dengan ibumu yang hobi pakai lipstik di pipi".
Mendengar ibunya dikatai, Stiffany mendorong Ara sampai gadis itu terjungkal kebelakang, anak-anak lain bersorak kegirangan. Ara bangkit dan berteriak marah, sekarang gantian Stiffany yang didorongnya dan membuat siku gadis itu terantuk batu dibelakangnya. Stiffany menangis
"ahhh, mama" ia menangis sekencang yang ia bisa dan akhirnya menarik perhatian seorang guru yang histeris berlari kearah mereka "Siti..Siti Pani kenapa nak?"
Ara bersidekap, seharusnya ia lari menghindari amukan sang guru, tapi ia bukan pengecut, ia menerima saja ketika dijewer dan dimarahi ibu gurunya.
****************
Sorenya, dari atas pohon rambutan yang terletak diseberang rumah Ara, Nino dan gadis itu menonton Wak Naima yang sedang ribut besar dengan Bu Safiah, karena jaraknya dekat, mereka bisa mendengar lontaran kata-kata kasar yang keluar dari mulut kedua wanita itu. Ara tertawa melihat perut gendut Bu Safiah bergerak-gerak lucu karena terlalu semangat mencaci uwaknya.
"dasar tua bangka! anak kecil kau ajari kurang ajar, bagaimana kelak ia dewasa, pasti jadi kriminil!
"apa kau kata? lihat anakmu, kecil sudah l***e suka bergelayut dengan laki-laki yang bukan saudaranya, kuberitahu kau, anakmu itu kena karma bapaknya!" wak Naima punya amunisi penuh karena ia sering nongkrong di warung bu Halimah tempat semua gosip berasal.
"apa maksudmu nenek tua!"
"hah! cuma kau yang tak tahu kalau suamimu yang sombong itu hobi main kerumah bordil, ngakunya kemalaman karena harus mengantar pesanan kerupuk, eh nyatanya dia sedang "menunggang kuda" di kota, kasihan aku dengan kau Safiah!" wak Naima meludahi tanah.
Ara tak peduli lagi dengan kehebohan yang terjadi, karena sebentar lagi pak lurah pasti datang menengahi mereka.
"kau tahu, kalau dipikir aku tak mau dewasa".
"kenapa?"
"karena nanti aku akan seperti mereka, mengoceh terus".
"kenapa?"
"karena kalau kau berhenti berbicara, duniapun akan berhenti berputar".
"kenapa?"
"kalau dunia berhenti berputar, kau tak bisa lagi berbicara" Ara meyakini Nino dengan kata-katanya yang berputar-putar.
Nino tak bodoh tapi ia tak peduli dengan omongan Ara, dari balik pakaiannya, bocah itu memberi Ara sebuah apel yang sudah busuk sebagian. Ara menatap pemberian Nino dan anak itu bergantian.
"maaf, aku lupa memberikannya padamu kemaren, jadinya busuk".
"kenapa?"
"ini apel jatahku, harus ku sembunyikan biar tak diambil Sky".
"kenapa?" Ara mencoba menahan air matanya yang ingin tumpah.
"selamat ulang tahun Ara".
***************