Bab 7. Hamil

1255 Words
"Alex, kamu di dalam?" tanya Amelia sembari mengetuk pintu kamar putranya. Beberapa menit kemudian, pintu kamar terbuka. Amelia terkejut melihat penampilan putranya yang kusut. Wanita paruh baya itu pun mengurungkan niatnya hendak bertanya tentang bunga mawar merah yang diberikan putranya untuk Ara. "Kamu sakit, Lex?" tanya Amelia lagi sambil menyentuh kening putranya. "Aku baik-baik saja, Mom. Aku lagi ingin sendiri. Bisa Mommy tinggalkan aku?" Mendengar jawaban putranya, Amelia melebarkan kedua matanya. "Ada masalah di kantor?" tanya Amelia heran. Alex bukan tipe lelaki yang suka mengurung diri di kamar. Putranya itu ramah dan suka bersosialisasi. "Nggak ada, Mom. Semua baik-baik saja." "Lalu kenapa kamu jadi aneh begini, Lex?" "Aku belum bisa cerita, Mom. Plis, tinggalkan aku sendiri." Amelia menghela napas berat dan mengangguk lalu meninggalkan kamar putranya. Wanita paruh baya itu kemudian menghubungi suaminya dan menanyakan tentang Alex. Namun, suaminya mengatakan tidak ada masalah apa-apa. Bahkan tadi Alex minta ijin keluar saat makan siang dengan wajah ceria. Amelia jadi bingung dengan apa yang terjadi pada putranya. Sementara itu Alex yang merenung di dalam kamar mendapatkan telepon dari Hendy, asisten pribadinya. "Tuan, saya sudah dapat informasi tentang lelaki itu," ucap sang asisten dari seberang telepon membuat Alex antusias. "Siapa dia?" "Namanya Jose Armando. WNA berkebangsaan Jerman. Dia tinggal di apartemen Tamansari Tera Residence. Ijin tinggal di Indonesia karena sedang ada kerjasama bisnis dengan Tuan Johansyah Akbar." "Oh, jadi dia rekan bisnis Om Johan. Apa dia punya hubungan khusus dengan Icha?" "Sepertinya iya, Tuan." Jawaban Hendy membuat Alex kecewa. Mungkinkah dia harus kalah sebelum maju perang. Tapi untuk mengganggu hubungan mereka pun tidak mungkin. Alex bukan tipe seperti itu. "Tuan, apa Tuan baik-baik saja?" Pertanyaan Hendy membuyarkan lamunan Alex. "Ah, iya. Aku baik-baik saja. Terima kasih informasinya. Tolong bilang ke Daddy, aku tidak kembali ke kantor. Sedang ada urusan." "Baik, Tuan." Alex menyudahi panggilan, lalu menyunggar rambutnya kasar. Lelaki itu kemudian mengambil ponselnya dan membuka galeri tempatnya menyimpan foto-foto Icha. Satu persatu ia menghapus foto-foto gadis itu dari memori handphonenya. Bahkan lelaki itu tidak menyisakannya satupun foto Icha. Alex kemudian meletakkan ponselnya dan menyandarkan punggung di ujung ranjang sembari memejamkan mata. "Cinta itu memang gila dan aku juga tidak tahu kenapa begitu mencintaimu, Cha. Mulai saat ini aku harus melupakanmu. Semoga kamu bahagia dengannya," gumam Alex lirih. Sementara itu di taman depan, Ara yang sudah selesai merapikan taman bergegas kembali ke dapur. Sebenarnya tugas merapikan taman bukanlau pekerjaannya. Namun, Ara memang gadis yang rajin. Setelah bekerjanya selesai, dia selalu mencari-cari pekerjaan yang lain agar tidak menganggur karena hanya dengan itu caranya melupakan kesedihan atas kematian sang ibu juga atas perlakuan Leon terhadapnya. Saat memasuki dapur, Ara bertemu dengan Amelia. Wanita paruh baya itu tersenyum melihatnya memegang setangkai mawar merah pemberian Alex. "Cantik sekali bunganya, Ara? Kamu dapat dari mana? Perasaan di taman tidak ada pohon mawar?" tanya Amelia pura-pura tidak tahu. "Oh anu, Nyonya. Ini tadi saya diberi seseorang," balas Ara gugup. "Wah, seseorang siapa? Pasti orang yang istimewa. Setahuku bunga mawar merah itu tanda cinta. Kalau ada seseorang memberimu bunga mawar merah seperti ini artinya dia sedang menyatakan cinta," pancing Amelia membuat Ara semakin gugup. "Apa mungkin Pak Agus, security di rumah ini yang kasih kamu bunga? Tapi seingatku dia sudah punya istri. Kamu jangan jadi pelakor, loh," tambah Amelia lagi membuat Ara semakin salah tingkah. "Anu, Nyonya. Ini bukan dari Pak Agus, tapi--" "Tapi siapa?" "Bunga ini dari Mas Alex." "Apa? Dari Putraku? Apa itu artinya--" "Maaf, Nyonya. Jangan salah paham dulu. Saya sungguh tidak pernah menggoda Mas Alex. Saya sudah jaga jarak dengannya. Mungkin Mas Alex cuma iseng saja ngasih bunga ini, nggak ada maksud lain. Saya masih mau kerja di sini, Nyonya. Tolong jangan dipecat saya," mohon Ara ketakutan. Gadis itu kembali teringat sikap Ferra yang langsung kalap dan marah, bahkan mengusirnya saat tahu dirinya dan Leon telah tidur bersama tanpa mau mendengar penjelasan darinya. "Loh, siapa yang mau pecat kamu?" "Nyonya, saya benar-benar tidak ada hubungan apa-apa dengan Mas Alex." Ara makin ketakutan. Gadis itu tidak mau dianggap memanfaatkan kebaikannya nyonya rumah dengan mendekati putranya. "Iya, aku percaya. Tapi kenapa aku berpikir putraku menyukaimu, Ara?" "Tidak, Nyonya. Tidak mungkin Mas Alex menyukai gadis kampung seperti saya. Saya yakin Mas Alex hanya iseng soal bunga mawar ini." "Ya sudah. Kalaupun iya, aku tidak masalah, kok. Aku tidak pernah pilih-pilih urusan calon menantu. Siapapun akan kuterima menjadi menantu asalkan Putraku senang tanpa memandang status sosialnya," ucap Amelia membuat Ara terharu. Wanita paruh baya itu benar-benar baik. Namun, Ara tidak ingin terbawa perasaan karena sesungguhnya gadis itu yakin Alex memang tidak ada perasaan terhadapnya. *** "Huek, huek!" Ara menutup mulutnya dan berlari ke wastafel. Perutnya tiba-tiba mual saat Darmi memintanya memindahkan gulai kepala ikan ke dalam mangkuk saji. Malam itu, Amelia meminta Darmi membantunya masak gulai kepala ikan sesuai permintaan suaminya. Sudah sangat lama Willy tidak request masakan, sehingga Amelia secara khusus memasak untuk sang suami, meskipun tetap saja dibantu oleh Darmi. "Kamu kenapa, Ara? Kamu sakit?" tanya Darmi heran. Amelia yang ada di dapur juga tampak cemas. "Kalau kamu sakit, istirahat saja, Ara. Biar Mbok Darmi yang siapin makan malamnya," titiah Amelia sembari mendekat pada Ara yang masih muntah-muntah. Wanita paruh baya itu memijat tengkuk Ara hingga selesai muntah. "Maafkan saya kalau membuat Nyonya jijik. Perut saya tiba-tiba terasa mual dan gak tak bisa ditahan," balas Ara merasa tak enak hati. "Nggak papa. Kamu mungkin masuk angin. Makan dulu terus istirahat," ucap Amelia. "Tadi saya sudah makan, Nyonya," bohong Ara. Sebenarnya seharian ini gadis itu belum makan karena perutnya mual mencium bau ikan. Ara terpaksa berbohong karena takut majikannya tahu kalau sebenarnya gadis itu sedang berbadan dua. Sementara Darmi sudah curiga sejak lama, tetapi tidak berani bertanya karena takut menyinggung Ara. "Ya sudah, kamu istirahat saja. Kalau masih belum membaik, minta tolong Darmi antar ke dokter," putus Amelia. Ara mengangguk kemudian berpamitan ke kamar untuk istirahat. "Nyonya, sebenarnya saya curiga sesuatu. Tapi, saya sendiri masih ragu," ucap Darmi lirih sembari mendekat sang majikan setelah Ara pergi. "Curiga apa?" "Ara sudah satu bulan ini sering mual-mual. Semula saya kira masuk angin biasa, tetapi setiap saya ajak ke dokter selalu menolak. Saya curiga--" "Kamu berpikir Ara hamil?" potong Amelia membuat Darmi mengangguk. "Setahu saya, Ara itu gadis baik-baik, Nyonya. Saya tidak ingin berprasangka buruk." Darmi menundukkan wajahnya. "Aku akan panggil dokter untuk memeriksa Ara." "Tapi, Nyonya--" "Tenang saja, Mbok. Daripada kita berprasangka, lebih baik kita cari kebenaran, bukan?" Amelia mengambil ponsel dan menghubungi dokter pribadi keluarganya untuk segera datang. Selang beberapa menit kemudian, seorang lelaki berbalut jas dokter datang. "Siapa yang sakit Nyonya Taher? Rasanya sudah lama sekali Anda tidak memanggil saya," canda lelaki itu saat tiba di rumah keluarga Taher. "Asisten rumah tanggaku, Dok. Dia sedang sakit tapi menolak dibawa ke dokter. Jadi, aku panggilkan Anda," balas Amelia membuat Dokter tersenyum. Wanita paruh baya itu kemudian mengajak Dokter ke kamar Ara. Ara terkejut saat Amelia datang bersama seorang Dokter. Namun, gadis itu tidak bisa menolak untuk diperiksa karena takut majikannya curiga. "Dia sakit apa, Dok?" tanya Amelia setelah Dokter keluar dari kamar Ara. "Dia hanya anemia, Nyonya. Bisa jadi sebab kelelahan karena--" Dokter menggantung kalimatnya. "Karena?" "Sepertinya dia sedang hamil muda, Nyonya." "Apa? Hamil?" Amelia syok, begitu pun Darmi. Setelah Dokter memberikan resep vitamin dan berpamitan pulang, Amelia mendatangi kamar Ara diikuti Darmi. Ara terkejut melihat sang majikan datang ke kamar dengan raut wajah tegang. "Siapa yang menghamili kamu, Ara?" tanya Amelia membuat Ara kesulitan menelan ludahnya sendiri. Dokter yang barusan memeriksanya pasti telah memberitahu majikannya kalau sebenarnya dirinya sedang hamil. Gadis itu bingung harus menjawab apa, sehingga memilih diam. "Apa Alex yang melakukannya? Jawab Ara!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD