"Mommy kok di sini? Ara sakit, ya?" tanya Alex yang tiba-tiba muncul membuat Amelia yang sedang menginterogasi Ara mengalihkan pandangan ke arah putranya. Alex diminta Willy untuk memanggil mommynya agar segera makan malam karena lelaki paruh baya itu hendak rapat online dengan beberapa rekan bisnisnya di Paris.
"Apa kamu yang melakukannya, Lex?" Pertanyaan Amelia jelas membuat Alex bingung. Lelaki tampan itu menoleh ke arah Ara yang menangis.
"Melakukan apa, Mom?"
"Ara hamil. Apa kalian sudah melakukan hal-hal yang dilarang agama?" tanya Amelia sembari menatap putranya tajam membuat Alex terkejut dan semakin bingung.
"Apa? Aku--"
"Mommy perhatikan kalian sangat dekat. Kalau kamu suka sama Ara, bukan begini caranya, Lex. Nggak seharusnya kamu menodai dia. Mommy tidak pernah mengajarkan kamu jadi pecundang."
"Tunggu, Mom. Mommy lagi ngomongin apa? Aku nggak ngerti."
"Kamu harus tanggungjawab. Mommy sudah putuskan, besok kalian harus menikah."
"Apa? Menikah?" Alex syok mendengar ucapan sang mommy begitu juga Ara yang tidak menduga kalau majikannya akan salah paham.
"Tapi, Nyonya--"
"Diam, Ara! Kamu tidak perlu takut. Aku tidak mau putraku menjadi pecundang. Wanita akan selalu jadi korban. Aku akan bertindak keras meskipun itu putraku sendiri. Dia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya."
"Ada apa ini ribut-ribut?" Willy Taher yang tadinya berdiam di ruang makan akhirnya menyusul Alex ke kamar Ara karena putranya itu tidak juga kembali saat diminta memanggil mommynya.
"Putra kita, Dad. Dia menghamili Ara." Willy melebarkan kedua matanya mendengar ucapan sang istri. Lelaki paruh baya itu kemudian menatap ke arah Alex dan Ara bergantian.
"Nggak, Dad. Ini nggak benar. Mommy salah paham." Alex membela diri.
"Mas Alex benar, bukan dia pelakunya," potong Ara cepat membuat semuanya sontak menoleh ke arah gadis itu termasuk Darmi yang sejak tadi diam menyimak.
"Kalau bukan Alex, lalu siapa? Pak Agus, tukang kebun, atau bahkan ... suamiku? Jawab Ara!" Amelia mendekati Ara dan menatapnya tajam. Sementara WIlly terkejut karena sang istri juga menyebutnya sebagai salah satu lelaki yang dicurgai menghamili Ara. Namun, Ara hanya menggelengkan kepala.
"Kamu jangan takut jujur. Aku pasti akan meminta pertanggungjawaban untukmu jika memang terbukti," lanjut Amelia membuat Ara terharu. Majikannya itu tidak marah atau bahkan mengusirnya sebagaimana Ferra.
"Bukan semuanya, Nyonya." Ara pun menangis. Mana mungkin dia mengatakan kalau Leon yang telah memperkosanya hingga hamil. Apa mereka akan percaya. Kalau pun toh keluarga Taher percaya padanya, sudah pasti keluarga Johansyah akan mengelak dan mengatakan kalau dirinya mengada-ada. Ara tidak mau hubungan persahabatan Alex dengan Leon dan juga kedua keluarga menjadi rusak karena dirinya.
"Ara, kamu harus jujur siapa yang melakukan perbuatan keji itu. Aku yakin kamu dipaksa, kan? Aku pasti bantu kamu." Alex ikut memberikan dukungan pada Ara, membuat gadis itu merasa punya keluarga.
"Semua orang di rumah ini sangat baik. Saya sangat berterima kasih, tapi saya tidak bisa mengatakan siapa yang memperkosa saya. Biar itu jadi rahasia saya," balas Ara sembari menangis.
"Jadi benar kamu diperkosa? Siapa, Ara? Dia harus tanggung jawab," balas Amelia geram. Namun, Ara hanya menggeleng sambil menangis.
"Honey, jangan paksa Ara. Biarkan dia tenang dulu. Kita makan malam dulu, ya. Aku harus segera rapat dengan rekan bisnisku di Paris. Lagi ada masalah serius dengan beberapa bisnis kita di sana," ucap Willy menenangkan sang istri. Amelia mengangguk dan memerintahkan pada Darmi untuk menemani Ara. Wanita paruh baya itu kemudian meninggalkan kamar Ara bersama suami dan putranya untuk makan malam.
Sementara Darmi memeluk Ara yang sudah seperti anak kandungnya sendiri. Wanita paruh baya yang sudah dua puluh lima tahun menjanda sejak ditinggal mati suaminya itu sudah menganggap Ara seperti anak kandungnya sendiri.
"Nak, kalau kamu mau cerita sama Bu Darmi, cerita saja. Anggap Bu Darmi seperti ibumu sendiri," bisiknya membuat Ara semakin terisak.
"Terima kasih, Bu Darmi. Saya hanya ingin minta tolong agar Bu Darmi minta ke Nyonya Amelia untuk tetap memperkerjakan saya, agar saya bisa mengontrak rumah dan membiayai persalinan anak saya, Bu. Saya akan pergi setelah tabungan saya cukup."
"Tapi, Ara. Siapa lelaki yang menghamili kamu? Dia harus tanggungjawab."
"Lelaki b******k itu tidak akan tanggungjawab. Biarlah saya membesarkan anak ini seorang diri, Bu."
"Sabar ya, Nak. Ibu yakin, suatu saat kesabaranmu akan berbuah manis. Kamu gadis yang baik. Allah pasti akan menolongmu."
"Aamiin. Terima kasih, Bu."
"Nyonya Amelia dan Tuan Willy orang yang baik. Mereka tidak akan mengizinkanmu pergi. Bu Darmi yakin mereka akan mengijinkanmu tinggal di sini. Jadi jangan berpikir untuk pergi atau mengontrak rumah. Kamu tinggal di sini saja, menemani Ibu." Darmi memeluk Ara.
***
"Mommy akan tetap ijinkan Ara tinggal di sini, kan?" tanya Alex saat makan malam. Amelia berhenti mengunyah sebentar dan menatap putranya.
"Benar bukan kamu yang menghamili Ara?" tanya Amelia yang masih curiga. Wanita paruh baya itu masih menyangka putranya menyukai Ara.
"Astaga, Mom! Aku bukan pria pecundang. Kalau aku yang nglakuin, pasti aku nikahi dia." Alex membuang napas kasar karena sang mommy masih juga curiga terhadapnya.
"Sudahlah, Honey. Kita hargai perasaan Ara. Kalau memang benar Ara diperkosa, dia pasti sekarang masih trauma. Jadi, kita jangan terlalu menekannya." Willy ikut bersuara.
"Ya sudah. Tadinya Mommy pikir kamu suka sama Ara karena beberapa waktu lalu kamu kasih dia bunga mawar merah," ucap Amelia kecewa membuat Alex yang sedang mengunyah makanannya hampir kesedak.
"Hati-hati, Lex!" tegur Willy. Alex segera mengambil air putih dan meminumnya.
"Jadi, Mommy tahu soal bunga itu?" tanyanya setelah menghabiskan setengah gelas air putih.
"Iya, Mommy liat sendiri dari balkon kamar saat kamu kasih dia bunga." Mendengar jawaban Amelia, Alex pun tertawa.
"Mommy salah paham. Bunga itu sebenarnya untuk Icha, tetapi ternyata Icha udah punya cowok. Jadi, daripada aku buang, aku berikan saja pada Ara," balas Alex membuat Amelia melebarkan kedua matanya.
"Astaga! Jadi anak Mommy lagi patah hati?" tanya Amelia yang teringat saat putranya mengurung diri di kamar setelah memberikan bunga mawar merah kepada Ara.
"Tenang saja, Mom. Aku bukan pria lemah. Aku hanya butuh waktu untuk move on dari Icha dan aku jamin tidak akan lama," balas Alex membuat Willy tersenyum.
"Ini baru anak Daddy. Jadi lelaki harus kuat, jangan lemah hanya karena wanita. Sepertinya Daddy akan ke Paris untuk beberapa hari. Daddy harap kamu bisa handel perusahaan dengan baik selama Daddy pergi."
"Lho, bukannya Daddy mau rapat online dengan mereka malam ini?" tanya Amelia.
"Iya, Honey. Tapi sepertinya aku tetap harus terbang ke sana. Ada beberapa hal yang tidak bisa kami bicarakan lewat online."
"Apa aku harus ikut?"
"Tentu saja. Sekalian kita healing berdua. Sudah lama kita tidak jalan-jalan."
"Wah, makasih, Mas. Aku akan packing setelah ini," balas Amelia antusias, lalu segera menghabiskan makanannya. Sementara Alex hanya mengangkat bahunya sembari menatap Willy.
Ponsel Alex berdering membuatnya beranjak dari meja makan. Lelaki itu meminta ijin kedua orang tuanya untuk menerima telepon yang ternyata dari Hendy, asisten pribadinya.
"Halo, ada apa?" tanya Alex setelah menggeser tombol hijau di layar ponselnya.
"Tuan, saya sedang di klub malam."
"Terus?"
"Saya bertemu lelaki itu, maksud saya Jose Armando."
"Apa urusannya denganku?"
"Tuan akan senang mendengar berita ini. Dia sedang berkencan dengan seorang wanita dan itu bukan Nona Icha."
"Apa? Kamu serius?"
"Buat apa saya berbohong, Tuan."
"Oke, kamu awasi dia. Aku akan ke sana." Alex menyudahi telepon dengan Hendy, lalu bersiap ke klub malam.
"Gue akan bongkar kelakuan lo di depan Icha," gumam Alex sembari melajukan mobil Porsche merah kesayangannya menembus gelapnya jalanan kota Bandung.