"Cha, lo harus ke klub malam sekarang. Ini penting!" ucap Alex lewat sambungan telepon saat sudah sampai di klub malam dan melihat lelaki yang diduga sebagai kekasih Icha sedang berkencan mesra dengan wanita lain.
"Sorry, Lex. Gue sibuk. Harus berapa kali gue bilang, gue sibuk. Lo ngeyel banget, sih!" tolak Icha dari seberang telepon.
"Plis, Cha. Kali ini saja. Ini penting buat lo." Alex masih mencoba meyakinkan Icha agar mau ke klub malam sembari mengawasi lelaki bernama Jose Armando yang sedang pesta mabuk-mabukan dengan wanita teman kencannya.
"Sorry, gue sibuk. Jangan ganggu gue!" Icha memutus sambungan telepon secara sepihak membuat Alex membuang napas kasar. Lelaki itu kemudian mengambil foto Jose Armando berikut wanita teman kencannya, lalu mengirimkannya ke ponsel Icha. Tak ada balasan dari gadis itu. Namun, Alex melihat Jose berdiri dan menjauh dari wanita itu sembari memegang ponselnya, lalu keluar dari klub malam.
Alex pun beranjak dan membuntuti Jose dalam jarak aman. Lelaki itu berhenti di parkiran dan melihat Jose menerima telepon di samping mobil sport warna merah. Alex tidak bisa mendengar jelas apa yang mereka bicarakan. Namun, selang beberapa saat, ponselnya berdering panggilan masuk dari Icha. Kedua sudut bibir Alex melengkungkan senyuman.
"Hai, Cha. Lo berubah pikiran? Lo mau ke sini, kan?" tanya Alex setelah menggeser tombol hijau di layar ponselnya.
"Dengar, Lex! Gue menghargai lo sebagai teman Kak Leon. Tapi, kalau lo sudah mulai mengusik kehidupan pribadi gue, maka jangan salahkan kalau gue mulai muak sama lo. Jangan pernah lagi menggunakan cara-cara kotor untuk fitnah Jose demi mendapatkan cinta gue karena itu nggak akan mempan."
"Apa maksud lo, Cha? Siapa yang fitnah?"
"Foto yang lo kirim, itu foto lama waktu Jose baru tiba di Bandung dan kami belum saling kenal. Jadi, kalau lo berharap bakal merusak hubungan gue dengan Jose lewat foto murahan itu, lo salah. Gue barusan hubungi Jose dan dia sedang rapat online dengan stafnya di Jerman."
"Astaga, Cha. Jadi, lo lebih percaya pada buaya darat itu daripada gue?"
"Stop menjelekkan Jose dihadapan gue, Lex. Dia jauh lebih baik dari lo. Setidaknya dia gak pernah jelek-jelekin orang kayak lo." Icha memutus sambungan telepon secara sepihak, membuat Alex membuang napas kasar. Lelaki itu sama sekali tidak menyangka kalau niatnya membuka keburukan Jose justru malah membuat Icha semakin membencinya.
Saat hendak pulang, Alex berpapasan dengan Jose yang hendak kembali masuk klub malam. Lelaki itu tersenyum miring melihat kelicikan Jose. Hampir saja Alex lepas kontrol hendak menghajar Jose, tetapi ia tahan. Alex tidak mau Icha semakin benci terhadapnya. Sementara Jose yang memang tidak mengenal Alex berlalu begitu saja tanpa menoleh ke arah lelaki itu. Alex pun memutuskan untuk pulang, mencoba untuk mengabaikan urusan Icha, tetapi Alex tak tega.
Meskipun Icha sudah terang-terangan menolaknya, tetapi Alex merasa harus memperingatkan gadis itu kalau Jose hanyalah lelaki buaya yang suka mempermainkan wanita. Jika dirinya sudah tidak didengarkan oleh gadis itu, maka jalan satu-satunya adalah lewat Leon. Alex pun menghubungi Leon sembari melajukan mobilnya menuju rumah.
"Hai, Lex. Tumben telepon malam-malam? Kangen, ya?" sapa seorang lelaki dari seberang telepon membuat Alex mendengkus kesal.
"Jijay," balasnya disambut tawa lelaki yang tidak lain adalah Leon.
"Ada apa?" tanya Leon setelah tawanya terhenti.
"Gue mau bicara penting sama lo."
"Soal?"
"Icha."
"Oke, kapan dan di mana?"
"Besok malam, lo nginep aja di rumah gue. Bokap Nyokap mau ke Paris beberapa hari."
"Lo nggak lagi nyari teman tidur, kan? Mending lo nyari cewek panggilan," canda Leon.
"s**t! Gue bukan lo."
"Oh ya, I see. Lo emang cowok baik-baik. Beda sama gue yang bad boy," kekeh Leon. Lelaki itu tahu sebucin apa sahabatnya terhadap Icha sampai-sampai tidak sempat melirik pada wanita lain. Sayangnya Icha tidak bisa melihat ketulusan cinta Alex dan lebih memilih Jose. Leon tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantu sahabatnya karena hubungan Icha dan Jose ada campur tangan kedua orang tuanya. Kemungkinan besar keduanya memang dijodohkan untuk memperkuat jaringan bisnis Johansyah dengan orang tua Jose.
***
"Ara, kalau kamu capek istriahat aja. Ini sudah malam. Biar aku yang bukanin pintu," tahan Alex saat Ara hendak membukakan pintu karena bel berbunyi. Semenjak tahu gadis itu hamil, Alex jadi merasa tak tega melihatnya kerja keras. Meskipun sampai saat ini gadis itu belum juga mengaku siapa yang telah memperkosanya, tetapi Alex percaya Ara hanya korban.
"Gak papa, Mas Alex. Saya di sini kerja, bukan jadi tuan putri. Jadi, biarkan saya mengerjakan tugas saya," balas gadis itu sembari tersenyum. Meskipun punya majikan yang baik, tetapi Ara tidak mau terkesan memanfaatkan kebaikan mereka.
"Ya sudah, tapi kamu harus jaga kesehatan. Ingat, ada makhluk kecil di dalam perutmu." Mendengar ucapan Alex, Ara jadi terharu. Meski sedang tidak ada Amelia dan Willy di rumah, Alex tetap memperlakukannya dengan baik dan sopan. Terkadang Ara berpikir, andaikan saja ayah dari janin dalam perutnya adalah Alex, mungkin kini mereka sudah menikah karena pasti akan langsung dapat restu dari Willy dan Amelia.
"Astaghfirulloh, mikir apa sih aku? Mas Alex cowok baik, dia akan dapat jodoh wanita yang baik pula," batin Ara menepis semua angan-angan. Gadis itu tak mau baper dengan perhatian Alex karena jelas lelaki itu hanya kasian terhadapnya.
Gadis itu bergegas meninggalkan Alex yang masih sibuk dengan laptopnya di ruang tengah, lalu membukakan pintu. Namun, Ara terkejut saat melihat sosok itu kembali dihadapannya.
"Harusnya tadi aku biarkan Mas Alex yang bukain pintu," sesal Ara saat melihat tamu yang datang ternyata adalah Leon. Keduanya terjebak dalam keheningan beberapa saat. Sementara Leon kesulitan menelan ludahnya saat melihat Ara yang kini terlihat semakin cantik, meski hanya berbalut daster pendek.
"Mas Alex ada di ruang tengah. Silahkan masuk," ucap Ara tanpa basa-basi. Gadis itu segera menutup pintu kembali setelah Leon masuk dan bergegas kembali ke dapur. Namun, tangan kekar Leon mencekal pergelangan tangannya.
"Kamu makin cantik, Ara," bisik Leon membuat gadis itu melebarkan kedua matanya.
"Anda gila, Tuan." Ara melepaskan pegangan tangan Leon dan bergegas meninggalkan lelaki itu. Namun, kedua bibir Leon melengkungkan senyuman.
"Kenapa gue kangen sama elo, Ara? Gue ingin mengulang lagi kebersamaan kita," batin Leon sembari memperhatikan Ara hingga gadis itu berbelok di ruang tengah yang menuju dapur. Lelaki itu kemudian menemui Alex di ruang tengah. Leon menjumpai sahabatnya itu tengah sibuk berkutat dengan laptopnya.
"Sudah malam masih kerja aja, Bro," ucapnya sembari duduk di samping Alex.
"Tinggal dikit lagi," balas Alex tanpa menoleh ke arah sahabatnya.
"Apa yang mau elo bicarakan tentang Icha?"
"Tunggu gue kelar bentar, ya. Elo jadi nginep, kan?" tanya Alex masih tanpa mengalihkan pandangan dari laptop.
"Tentu saja. Oh, ya. Gue haus. Gue boleh ambil sendiri di dapur?" tanya Leon penuh harap. Lelaki itu berharap ketemu Ara nanti di dapur.
"Boleh, ambil aja sesuka, lo," balas Alex yang masih terus sibuk dengan laptopnya. Mendengar jawaban sahabatnya, bibir Leon melengkungkan senyuman. Lelaki itu kemudian bergegas menuju dapur. Sementara Ara yang ada di dapur terkejut melihat Leon tiba-tiba sudah ada di belakangnya.
"Tuan Muda, mau apa Anda ke sini?" tanya Ara yang tampak ketakutan.