Bab 10. Penyusup

1095 Words
"Aku mau minum. Tolong buatkan kopi hitam, jangan terlalu manis karena kamu sudah manis," ucap Leon sembari mendekat ke arah gadis itu. Menyadari modus dari mantan majikannya, Ara memundurkan langkah dan menjaga jarak dari Leon. "Stop, Tuan Muda!" Ara menahan d**a Leon yang semakin mendekat ke arahnya. "Kamu makin cantik, Ara. Sejak kamu diusir Mommy, aku selalu merindukanmu," balas Leon sembari menepis tangan Ara dari dadanya. Namun, suara deheman seseorang membuat Leon menghentikan aksinya. "Tuan Leon butuh sesuatu? Biar Mbok Darmi buatkan. Ara harus istirahat karena jam kerjanya sudah berakhir," ucap seorang wanita paruh baya yang tidak lain adalah Darmi membuat Ara menghela napas lega. Gadis itu tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk kabur dari Leon setelah Darmi memberikan isyarat agar Ara pergi. "Eh, nggak, Mbok. Aku cuma mau ambil soft drink," balas Leon salah tingkah. Lelaki itu kemudian mengambil dua botol minuman siap saji di kulkas dan segera keluar dari dapur. Sementara Darmi segera menyusul Ara di kamarnya. "Apa Tuan Leon hendak berbuat kurang ajar terhadapmu, Nak?" tanya Darmi setelah sampai di kamar Ara. Wanita paruh baya itu melihat Ara meringkuk di ranjang dengan wajah ketakutan. "Bu Darmi." Ara berhambur memeluk sahabat ibunya itu sembari menangis. "Ada apa, Ara? Ceritakan pada Ibu. Kamu bilang Ibu sudah seperti Ibumu sendiri." Darmi melepaskan pelukan Ara dan membingkai wajah gadis itu dengan kedua telapak tangannya yang sudah mulai keriput. "Dia ... dia ayah dari bayi saya, Bu," ucap Ara lirih sembari menangis, tetapi cukup terdengar di telinga Darmi. Wanita paruh baya itu syok dan mengelengkan kepala. "Bagaimana bisa, Ara? Kalian sudah saling mengenal sebelumnya?" Ara kemudian menceritakan pada Darmi kalau Leon dulunya adalah putra majikan ibunya. Ara juga menceritakan tentang malam petaka itu saat dirinya menggantikan tugas sang ibu yang sedang sakit. "Kenapa kamu tidak minta pertanggungjawaban darinya, Ara? Kamu hamil dan Tuan Leon harus bertanggung jawab." "Saya diusir oleh Nyonya Ferra, Bu. Dia mengatakan kalau saya sengaja menggoda putranya. Nyonya Ferra juga bilang kalau saya ini w************n dan pasti sebelumnya sudah banyak lelaki yang tidur dengan saya. Mereka tidak akan percaya kalau bayi dalam kandungan saya ini adalah keturunan mereka." "Astaghfirulloh, kejam sekali mereka. Kamu yang sabar, Nak. Bu Darmi yakin, Allah sudah merencanakan yang terbaik. Kamu harus hati-hati dengan Tuan Leon. Sepertinya dia menginap malam ini. Kamu kunci saja kamarnya dari dalam, Ara." "Iya, Bu Darmi. Terima kasih sudah mengingatkan." "Sekarang kamu tidur aja. Biar Ibu yang layani kalau Den Alex butuh apa-apa. Wanita hamil jangan tidur larut malam." Ara mengangguk dan segera mengunci pintu kamarnya setelah Darmi keluar. Sementara di ruang tengah, Alex sudah selesai dengan pekerjaannya saat Leon kembali dari dapur. "Lo harus peringati Icha," ucap Alex setelah menutup laptopnya. "Soal?" Leon menjatuhkan bobot tubuhnya di samping Alex sembari membuka tutup soft drink yang dia ambil dari dapur tadi. "Cowoknya, Jose Armando. Dia bukan cowok baik-baik." "Maksud lo?" "Dia bohongin Icha, dia duain Icha. Gue udah kasih tahu, tetapi Icha gak percaya malah nuduh gue fitnah cowok itu." "Icha emang keras kepala. Dia udah dibutakan cinta," balas Leon membuat Alex membuang napas kasar. Sebenarnya Leon bukan tak tau tabiat asli Jose. Namun, lelaki itu tidak bisa berbuat apa-apa karena Johansyah dan Ferra sangat mendukung hubungan mereka. Perusahaan Johansyah sedang mengalami masalah besar dan hanya Jose yang bisa diandalkan untuk menyelesaikannya. Kalau Icha bisa mendekati Jose, maka kemungkinan besar lelaki itu akan menyuntikkan dana yang besar untuk perusahaan orangtuanya. Namun, Leon tidak mungkin menceritakan masalah intern perusahannya kepada Alex, meskipun mereka bersahabat. Leon tentu tidak mau masalah perusahaannya bocor ke luar dan berimbas pada turunnya harga saham perusahaannya. "Astaga." "Sorry, Bro. Gue tahu maksud lo baik. Gue juga tahu lo tulus cinta sama Icha, tapi itu sudah pilihannya." "Jadi, lo rela adek lo jatuh ke tangan cowok buaya seperti Jose? Lo kakak yang aneh." "Bukan begitu, Lex. Gue--" "Gue nggak maksa kalau memang Icha gak cinta sama gue, tetapi setidaknya jangan dengan cowok b******k seperti Jose." Leon terdiam. Lelaki itu tahu apa yang dikatakan sahabatnya memang benar. Namun, Icha mengemban misi penting dari daddynya untuk menakhlukkan Jose dan membuat lelaki itu menikahinya. Jika mereka menikah, Johansyah akan mendapatkan banyak keuntungan karena Jose pasti akan memberikan kucuran dana yang besar untuk perusahaan orang tuanya yang hampir pailit. "Oke, nanti gue bicarakan sama Icha. Semoga dia mau dengerin gue." "Ya sudah. Malam ini kita ke mana? Ke Kafe apa klub malam?" tanya Alex sembari membereskan laptopnya. "Kita ngegame aja. Gue males keluar," balas Leon. Alex pun setuju. Keduanya kemudian mabar hingga tengah malam. "Lex, gue ngantuk," ucap Leon sambil menguap setelah beberapa kali kalah dengan Alex. "Ngantuk? Nggak salah, nih? Baru jam dua belas." "Gue capek. Kalah mulu sama lo," ucap Leon membuat Alex terkekeh. "Ya sudah. Lo tidur di kamar tamu. Udah disiapkan sama Mbok Darmi tadi." Alex mengantar Leon ke kamar tamu di lantai satu. Setelah memastikan sahabatnya nyaman, lelaki itu kembali ke kamarnya di lantai dua. Tak berapa lama kemudian, Alex pun memejamkan mata. Sementara itu, Leon masih terjaga. Hingga jarum jam menunjukkan pukul tiga dini hari, lelaki itu masih belum bisa tidur, padahal tadi begitu mengantuk. Kedua matanya sulit terpejam teringat Ara. Semenjak bertemu lagi dengan gadis itu di rumah Alex untuk pertama kalinya beberapa minggu yang lalu, Leon jadi semakin sulit melupakan malam kebersamaan mereka. Bahkan semenjak itu, Leon tidak pernah lagi berhubungan dengan wanita lain. Membayangkan wajah Ara dan erangan kesakitan gadis polos itu saat pertama kali juniornya menembus area sensitif itu membuat hasrat Leon kembali terbangkitkan. "Ah, gue benar-benar sudah gila." Lelaki itu mengusap wajahnya dengan kasar, lalu beranjak dari ranjang dan keluar kamar. Leon mengendap-endap melewati lorong rumah Alex yang hanya bercahayakan lampu remang-remang. Lelaki itu melangkahkan kakinya dengan hati-hati agar tidak menimbulkan suara dan menuju kamar Ara. Tadi saat di dapur, Leon sempat melirik ke mana arah Ara masuk kamar, sehingga kini tidak kesulitan mencari kamar gadis itu. Setelah sampai di depan pintu kamar, lelaki itu hendak langsung membuka pintu kamar Ara, tetapi ternyata dikunci dari dalam. Leon pun kemudian mengetuk pelan pintu kamar Ara. "Bu Darmi, Ibu kah itu?" tanya Ara dari dalam kamar. Gadis itu terjaga karena ada suara ketukan di pintu kamarnya. Ara yang masih mengantuk dan belum membuka matanya dengan sempurna seolah lupa kalau malam itu Leon menginap di rumah Alex. Pintu kamar kembali diketuk pelan membuat Ara beranjak dari ranjang dan melangkahkan kaki menuju pintu. Gadis itu berpikir Darmi mungkin membutuhkan dirinya. Namun, gadis itu terkejut saat melihat sosok tampan yang begitu ia benci sudah berdiri di depan pintu dan langsung menyusup masuk ke kamar. Payahnya, saat Ara hendak berteriak, Penyusup itu sudah membungkam mulutnya dengan tangan, lalu mengunci pintu kamar Ara.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD