"Jangan berisik, Ara. Aku hanya rindu. Sebentar saja," bisik Leon setelah pintu kamar terkunci. Lelaki itu menyandarkan punggung Ara di balik pintu sambil terus menutup mulut gadis itu.
"I'm sorry. Aku sudah berusaha ngelupain kamu, tapi kenapa kamu harus muncul lagi. Aku tidak bisa membendung hasrat ini, Ara," ucap Leon lagi. Satu tangan lelaki itu membungkam mulut Ara, sedangkan tangan yang lain mengunci kedua tangan gadis itu di atas kepala, tepatnya di belakang pintu kamar.
Ara menggeleng lalu berusaha mendorong tubuh Leon dengan kakinya. Gadis itu berteriak minta tolong saat Leon terdorong ke belakang. Namun, lelaki itu kembali mendekat dan membungkam mulut Ara.
"Jangan teriak lagi, Sayang. Kita akan sama-sama menikmati malam ini," bisik Leon yang sudah dikuasai oleh nafsu gila. Namun, kali ini Ara tidak selemah dulu. Gadis itu menggigit tangan Leon yang membungkam mulutnya. Spontan lelaki itu pun mengaduh kesakitan dan melepaskan Ara. Leon meniup tangannya yang terkena gigitan.
Gadis itu tidak menyia-nyiakan kesempatan dan berusaha membuka pintu kamar. Sayang kuncinya ada pada Leon. Ara terus berusaha membuka handle pintu, tetapi percuma.
"Bu Darmi, tolong!" teriaknya sembari memukul pintu kamar dengan tangan. Namun, Leon langsung mendekat dan memeluknya dari belakang, lalu mengangkat dan menghempaskan tubuh gadis itu di atas ranjang.
Leon menyibak daster pendek Ara, bermaksud hendak menurunkan segitiga pengaman yang menutup area sensitif Ara. Namun, gadis itu menendang Leon hingga terdorong ke belakang. Mendapatkan perlakuan demikian, Leon bukannya marah melainkan tambah bernafsu untuk menggagahi tubuh gadis itu yang memang telah membangkitkan birahinya.
"Kamu semakin menggemaskan jika melawan seperti ini, Ara. Aku senang dengan perlawananmu. Ini seperti sebuah tantangan bagiku. Aku sudah bosan bermain dengan wanita yang agresif dan memujaku." Ucapan Leon membuat Ara syok. Lelaki itu tidak menyerah, bahkan langsung menindih dan mengukung tubuh Ara hingga tak dapat melawan lagi.
"Jangan lakukan lagi, Tuan Muda. Kasihani saya," ucap Ara akhirnya menangis berharap lelaki itu iba terhadapnya. Mau tidak mau, Ara harus pasrah jika malam ini lelaki itu kembali menjamah paksa tubuhnya. Seutas senyum terukir di bibir Leon saat lawannya telah menyerah.
Lelaki itu pun mulai melancarkan aksi, mencumbui tubuh Ara tanpa sempat membuka bajunya. Aksi penolakan masih dilancarkan oleh gadis itu meskipun hal tersebut malah semakin membuat Leon bersemangat. Namun, keduanya terkejut saat tiba-tiba terdengar suara seseorang mendobrak pintu kamar Ara. Leon pun menjadi panik.
Tak Butuh waktu lama, pintu kamar Ara pun akhirnya terbuka. Darmi dan Alex tampak berdiri di balik pintu yang sudah rusak itu. Alex menatap tajam ke arah sahabatnya sembari mengepalkan kedua tangannya. Sedangkan Leon langsung beranjak dari atas tubuh Ara.
Tadinya, Darmi mendengar teriakan dari arah kamar Ara. Wanita paruh baya itu pun segera keluar kamar untuk untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Namun, saat mendengar kegaduhan dari dalam kamar gadis itu, Darmi segera menelpon Alex. Beruntungnya, meskipun sedang tertidur pulas, Alex mendengar telepon dari asisten rumah tangganya itu.
Tanpa berpikir panjang, putra tunggal Willy Taher itu segera keluar menuju kamar Ara dan berinisiatif mendobraknya. Alex syok melihat sahabatnya sudah berada di kamar Ara dalam posisi yang memalukan.
"Lex, dengarkan dulu. Gue--" Belum sempat Leon meneruskan ucapan, Alex sudah mendekat dan menarik kerah bajunya lalu memukul wajah lelaki itu hingga jatuh tersungkur di lantai kamar. Sementara Darmi mendekati Ara yang tampak ketakutan dan membenahi baju gadis itu yang terkoyak oleh aksi Leon.
"b******k lo! Apa yang lo lakukan sungguh membuat gue jijik karena pernah punya sahabat kayak lo. Kalau memang lo lagi pengen, kenapa nggak panggil wanita malam saja, hah? Kenapa harus memaksa wanita hamil seperti Ara?" tanya Alex geram sembari mendekati Leon yang sedang berusaha berdiri, lalu kembali memukul wajah lelaki itu. Tubuh Leon kembali tersungkur di lantai dengan wajah memar.
"Ap-apa lo bilang? Ara hamil?" tanya Leon sembari meringis memegang pipinya yang memerah karena dua kali terkena tonjokan Alex. lelaki itu menatap ke arah Ara dan menggeleng pelan.
"Kamu hamil, Ara? Apa itu anakku?" Pertanyaan Leon membuat Alex terkejut dan mengalihkan pandangan ke arah Ara yang hanya menunduk dan menangis.
"Oo, jadi elo cowok b******k yang sudah memperkosa Ara? Fvck you!" Alex makin marah. Lelaki itu kembali mendekati Leon dan menghajar sahabatnya tanpa ampun. Sementara Leon sama sekali tidak memberikan perlawanan. Lelaki itu masih syok saat mengetahui Ara hamil dan kemungkinan besar itu adalah anaknya.
"s**t! Ternyata selama ini gue berteman dengan binatang." Alex masih brutal menghajar Leon, hingga lelaki itu tak sanggup lagi untuk berdiri. Sementara hidung dan kedua sudut bibir Leon telah mengeluarkan darah segar.
"Sudah, cukup, Mas Alex! Jangan pukul lagi!" teriak Ara menghentikan aksi brutal Alex. Sementara Darmi mendekati majikannya sembari menahan tangan lelaki itu agar tidak khilaf dan melukai Leon lebih parah lagi.
"Benar dia orangnya, Ara? Benar dia yang telah menodai kamu?" tanya Alex sembari menatap ke arah asisten rumah tangganya itu. Ara hanya terdiam dan menjawabnya dengan anggukan kepala.
"b******k elo, Lee! Masalah ini akan gue bawa ke jalur hukum. Nggak peduli elo adalah sahabat gue," ucap Alex geram membuat Leon panik.
"Tunggu, Lex. Kita bisa bicarakan baik-baik. Gue memang salah, gue khilaf. Gue lakuin itu karena pengaruh obat perangsang yang diberikan Alvin malam itu saat kita ke klub. Sungguh, gue benar-benar menyesal."
"Bullshit! Kalau memang lo nyesel, kenapa lo nggak mau bertanggung jawab dan kenapa elo malah mengulang lagi?"
"Gue--"
"Nggak usah kebanyakan alasan! Gue tetap akan bawa masalah ini ke jalur hukum. Gue akan bela Ara dan lawan lo."
"Jangan, Lex! Gue akan tanggung jawab. Gue akan nikahin Ara, agar bayi yang dia kandung tidak lahir di luar pernikahan," ucap Leon bersungguh-sungguh. Saat tahu kalau Ara mengandung anaknya, hati Leon pun tergerak iba. Lagipula, lelaki itu mulai merasakan sesuatu yang berbeda saat dekat dengan Ara.
"Lo yakin akan menikah dengan Ara? Apa Tante Ferra akan setuju?" tanya Alex memastikan.
"Beri gue waktu untuk bicara sama Mommy. Gue akan coba yakinkan semua keluarga untuk menerima Ara. Gue yakin setelah tahu ada calon anak gue di dalam perutnya, Mommy akan memberikan restu."
"Gue sanksi." Alex mendekati Leon yang masih terkulai di lantai, lalu mencengkram krah baju lelaki itu dan menariknya hingga berdiri.
"Gue nggak main-main, Lee. Gue kasih waktu seminggu, kalau lo ingkar, lo akan menyesal!" Alex mendorong tubuh Leon.
"Pergi!" Leon yang masih merasakan sakit di sekujur tubuhnya terutama wajah hanya bisa pasrah. Sebelum pergi lelaki itu sempat noleh ke arah Ara yang masih menangis dan tidak berkomentar apapun. Leon menghela napas berat, lalu dengan langkah gontai meninggalkan kamar Ara dan juga rumah Alex.
Sementara itu Alex mendekati Ara dan menarik tubuh gadis itu ke dalam pelukannya. Meskipun terkejut dengan perlakuan majikannya, tetapi Ara tak menolak dan malah menumpahkan tangisnya di d**a bidang Alex. Sementara Darmi tersenyum lega. Setidaknya malam ini Ara selamat dari niat buruk Leon.
"Kamu tenang saja, Ara. Leon tidak akan menyakitimu lagi," bisik Alex.