"Leon, kamu kenapa bisa babak belur seperti ini?" tanya Ferra cemas saat melihat putranya pulang pagi-pagi buta dalam keadaan tidak baik-baik saja. Pagi itu Ferra diberitahu asisten rumah tangganya kalau Leon pulang dalam keadaan luka-luka. Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dan anggun itu menjerit histeris melihat wajah putra sulung kebanggaanya yang penuh luka lebam dan juga darah yang mengalir di sudut bibir dan hidung.
"Biasa, Mom. Urusan lelaki," balas Leon enteng sembari melenggang menuju kamarnya. Namun, Ferra yang masih belum puas dengan jawaban putranya mengikuti dan menghadang langkah Leon.
"Bukannya kamu tadi menginap di rumah Alex? Kenapa bisa bagini? Siapa yang nglakuin ini sama kamu?" Ferra masih terus menginterogasi Leon.
"Sudahlah, Mom. Ini hal biasa terjadi sesama lelaki. Mommy jangan khawatir. Aku baik-baik saja." Leon menyembunyikan apa yang terjadi antara dirinya dengan Alex barusan. Lelaki itu tidak mau mommynya tahu kalau dirinya dan Alex berkelahi gara-gara Ara. Leon takut Ferra akan semakin membenci Ara dan tidak memberikan restu untuknya menikahi gadis itu.
"Tapi, Leon--" Belum sempat Ferra melanjutkan ucapannya, wanita itu dikejutkan dengan kedatangan putrinya, Icha keadaan mabuk diantar oleh seorang lelaki berpakaian serba hitam yang tidak lain adalah pengawal Jose.
"Icha." Ferra memeluk putrinya yang berjalan sempoyongan.
"Apa yang terjadi padanya?" tanya Ferra sembari menatap tajam lelaki yang mengantar putrinya.
"Maaf, Nyonya. Nona Icha mabuk. Tuan meminta kami mengantarnya pulang karena khawatir terjadi sesuatu di jalan," balas lelaki itu sopan.
"Kenapa kamu yang antar? Kenapa bukan Jose sendiri?" tanya Ferra tersinggung. Wanita paruh baya itu merasa Jose tidak bertanggungjawab. Padahal tadi Jose yang menjemput Icha, tapi sekarang hanya menyuruh pengawal mengantar putrinya.
"Maaf, Nyonya. Tuan tiba-tiba ada urusan penting," balas pengawal Jose beralasan.
"Sudahlah, Mom. Jangan diperpanjang. Mungkin Jose memang sedang sibuk." Leon ikut bicara. Ferra hanya menghembuskan napas kasar, lalu mengijinkan pengawal Jose pergi. Sementara Icha yang mabuk melepaskan pelukan Ferra dan langsung menjatuhkan bobot tubuhnya di sofa ruang tengah.
"Cha, bagaimana? Kapan Jose akan menikahimu?" tanya Ferra sembari duduk di samping putrinya. Sementara Leon hanya menggelengkan kepala melihat aksi mommynya. Bisa-bisanya wanita mengumpankan adiknya pada Jose demi mendapatkan kucuran dana dari pengusaha muda asal Jerman itu.
"Mommy tenang saja. Icha udah tidur sama Jose. Semoga Icha hamil. Jadi, mau gak mau Jose akan menikahi Icha," balas Icha merancau dengan mata terpejam, tetapi masih cukup sadar dengan apa yang diucapkan.
Leon yang semula hendak kembali ke kamarnya untuk membersihkan luka-luka di wajah pun menghentikan langkah mendengar ucapan adik perempuannya. Lelaki itu berbalik mendekati dua wanita beda generasi yang masih mengobrol di sofa ruang tamu.
"Elo gila, Cha? Elo menyerahkan kegadisan lo untuk cowok b******k seperti Jose? Bagaimana kalau dia tidak mau menikahimu, hmm?" tanya Leon marah. Tiba-tiba dia teringat pada Ara yang telah ia nodai dan bahkan sekarang sedang hamil, tetapi tidak mendapatkan keadilan darinya.
"Justru dengan Jose sudah mengambil kegadisan gue, dia akan terikat dan segera menikahi gue. Jadi, Kakak gak perlu khawatir. Jose pasti nikahi gue," balas Icha masih dengan mata terpejam membuat Leon mengusap wajahnya dengan kasar.
"Gue sanksi. Jose bukan cowok baik-baik. Dia bisa saja ninggalin lo dan kembali ke negaranya. Kenapa lo bodoh banget, Cha. Harusnya lo bisa mengikat Jose tanpa harus menyerahkan diri," ucap Leon kesal.
"Sudah, sudah. Mommy yakin Jose akan tanggungjawab. Kalau sampai dia ingkar, Mommy yang akan bertindak."
"Terserah kalian!" Leon mendengkus kesal, lalu kembali ke kamarnya. Saat ini mungkin bukan waktu yang tepat untuk mengatakan niatnya menikahi Ara. Leon akan menunggu beberapa hari lagi saat mommynya sudah tenang.
***
"Alex," batin Leon sembari melirik ponselnya yang terus berdering tanpa berniat untuk mengangkatnya. Nama Alex terpampang di layar benda pipih itu membuat Leon panik.
"Apa yang harus gue katakan pada Alex? Dia pasti mau nagih janji gue untuk menikahi Ara," batin Leon lagi sembari mengusap kasar wajahnya.
Hari itu, sudah satu minggu berlalu setelah kejadian di rumah keluarga Taher. Alex memberikan waktu kepada Leon satu minggu untuk membicarakan soal pernikahan dengan Ara kepada keluarganya. Namun, sialnya Leon belum sempat bilang apa-apa pada Ferra maupun Johansyah soal niatnya menikahi Ara karena kedua orang tuanya lebih fokus pada Icha yang tengah berusaha mendekati Jose.
Dering telepon yang sudah kesekian kali akhirnya berhenti membuat Leon menghela napas lega. Namun, beberapa saat kemudian sebuah pesan chat masuk ke ponsel lelaki itu. Kedua matanya membulat saat tahu ternyata nama Alex lah yang telah mengirim pesan padanya melalui aplikasi hijau itu. Dengan ragu, Leon membuka pesan dari sahabatnya itu.
"Heh, cowok pengecut! Gue udah kasih waktu lo satu minggu untuk berdiskusi dengan keluarga soal pernikahan lo dengan Ara, tetapi sepertinya lo nggak ada niat baik untuk menyelesaikan masalah ini. Gue sama bokap nyokap dalam waktu dekat ini akan datang ke rumah lo untuk meminta pertanggungjawaban secara kekeluargaan. Namun, kalau kalian tetap menolak, tak masalah. Kami akan menempuh jalur hukum. Ingat, Lee! Kami punya bukti rekaman CCTV."
Leon kesulitan menelan ludahnya sendiri setelah membaca pesan dari Alex. Sejak kejadian malam itu, persahabatannya dengan Alex menjadi renggang. Lelaki itu berpikir sejenak, lalu beranjak dari kamarnya untuk mencari kedua orang tuanya dan membicarakan masalah Ara. Setelah bertanya kepada asisten rumah tangga tentang keberadaan kedua orang tuanya, Leon pun akhirnya memberanikan diri untuk berdiskusi dengan Johansyah dan Ferra yang saat itu sedang duduk berdua samvil berbincang di taman belakang. Tepatnya di tepi kolam renang.
"Dad, Mom!" panggil Leon setelah mengikis jarak dengan kedua orang tuanya. Sepasang suami istri itu serentak menoleh ke arah putra sulung mereka.
"Leon, ada apa?" tanya Ferra sembari berdiri mendekati putranya.
"Aku ingin ngomong sesuatu sama kalian berdua, boleh?"
"Tentang apa? Kalau soal perusahaan, kamu jangan khawatir. Daddy yang akan urus."
"Bukan, Dad. Ini masalah pribadiku."
"Ada apa, Lee?" Ferra menatap putranya dan mengajak Leon duduk di dekat Johansyah.
"Aku, aku ingin menikah." Ucapan Leon sontak membuat Johansyah dan Ferra terkejut, tetapi juga senang. Selama ini yang mereka tahu, putranya hanya suka bermain-main dengan perempuan dan tidak pernah serius dengan salah satu dari mereka, apalagi menikah.
"Hei, wanita mana yang beruntung bisa menakhlukkan hati anak Daddy ini?" tanya Johansyah sembari tersenyum dan menepuk pundak putranya.
"Anak siapa, Lee? Usaha mereka bergerak di bidang apa? Kita bisa jalin kerjasama agar perusahaan Daddy bisa bangkit lagi," tambah Ferra bersemangat. Selama ini wanita paruh baya itu berupaya menjodohkan Leon dengan beberapa gadis anak pengusaha terkemuka di kota Bandung. Namun, Leon selalu menolak dengan alasan belum ingin menikah, sehingga Ferra meminta Icha mendekati Jose. Kebetulan juga Icha menyukai Jose dan bersedia mengemban tugas menakhlukkan pengusaha muda asal Jerman itu.
Mendengar reaksi mommynya, Leon seperti kesulitan menelan ludahnya sendiri. Lelaki itu menatap kedua orang tuanya bergantian sembari menarik napas panjang.
"Gadis ini bukan anak pengusaha manapun, Mom. Dia hanya gadis sederhana yang polos, cantik dan yang jelas selalu membuatku tak bisa berhenti memikirkannya. Entahlah apa yang aku rasa ini bisa disebut cinta atau hanya obsesi. Namun, sungguh aku ingin menikah dengannya."
"Apa? Gadis biasa, bukan anak pengusaha?" Ferra melotot ke arah putranya. Sementara Johansyah hanya menggeleng pelan.
"Siapa dia?" tanya Johansyah makin penasaran.
"Dia adalah gadis yang saat ini sedang mengandung anakku, cucu kalian karena kekhilafanku. Dia tidak pernah menginginkan itu, tetapi akulah yang melakukan kesalahan," lanjut Leon sembari menunduk, tak berani melihat ekspresi kedua orang tuanya.
"Siapa dia, Leon?" Ferra tampak tidak sabar.
"Dia ... Ara."
"Apa? Ara siapa?" tanya Johansyah sembari mengingat-ingat nama itu.
"Ara, anak gadisnya Mbok Marni, mantan ART kita."
"Apa?" Ferra dan Johansyah nampak syok.