"Kamu sudah gila, Leon? Di mana kamu bertemu gadis kampung itu? Bukankah kita sudah mengusirnya?" tanya Ferra marah.
"Aku tak sengaja ketemu Ara di rumah Alex. Ternyata setelah keluar dari rumah kita, dia kerja di sana dan beberapa hari lalu aku baru tahu kalau Ara hamil. Aku harus menikahinya, Mom. Aku nggak ingin anakku lahir tanpa punya seorang ayah," balas Leon membuat Ferra terkejut.
"Nggak mungkin! Kamu nggak boleh menikah dengan gadis kampung anak pembantu itu. Otakmu pasti sudah bergeser," balas Ferra menentang keras.
"Dad, tolong aku! Tolong, restui pernikahanku dengan Ara. Dia sedang mengandung anakku, cucu keluarga Johansyah," mohon Leon sembari mendekat Johansyah. Lelaki itu berharap akan mendapatkan restu dari daddynya karena Ferra dari awal sudah jelas menentang.
"Kamu yakin itu anakmu?" tanya johansyah sembari menatap tajam ke arah putranya.
"Aku yakin, Dad. Aku lelaki pertama yang menyentuhnya. Dia masih virgin saat aku melakukan itu," balas Leon meyakinkan. Entah kenapa lelaki itu bersikukuh untuk menikahi Ara dan memperjuangkan anak dalam kandungan gadis itu. Padahal sebelumnya, Leon sangat anti dengan komitmen.
Leon tidak pernah serius dalam menjalin hubungan dengan wanita. Lelaki itu bahkan selalu memakai pengaman saat melakukan hubungan intim dengan para wanita pengagumnya agar tidak terjadi kehamilan. Namun, saat melakukannya dengan Ara, Leon dalam pengaruh obat perangsang dan tidak berpikir untuk memakai pengaman.
"Nggak, Mommy nggak setuju. Mommy masih tidak yakin kalau anak itu anak kamu. Bisa jadi setelah melakukannya denganmu, dia melakukan dengan orang lain. Barangkali itu anaknya Alex. Bukankah dia sudah lama kerja di rumah Alex? Mommy yakin setelah tidak berhasil mendapatkanmu, dia ganti menggoda Alex." Ferra tetap menentang keras.
"Ara wanita baik-baik, Mom. Dia sangat menjaga diri. Aku yakin itu anakku. Ijinkan aku menikahinya, Mom. Aku tidak mau jadi laki-laki pecundang."
"Tapi, Leon--" Belum sempat Ferra melanjutkan ucapannya, Johansyah memberi isyarat kepada sang istri untuk diam.
"Kami akan diskusikan dulu, Lee." Ucapan Johansyah membuat Leon sedikit lega.
"Apa itu artinya Daddy memberikan restu aku untuk menikahi Ara?" tanya Leon penuh harap.
"Kita perlu bukti. Kalau memang anak yang dikandung gadis itu anakmu, Daddy akan menikahkan kalian. Lakukan tes DNA setelah usianya cukup," balas Johansyah. Lelaki itu pernah mendengar kalau bayi dalam kandungan bisa dilakukan tes DNA dengan prenatal non invasif yaitu saat usia kandungan di atas tujuh minggu.
"Dad!" Vera hendak menolak keputusan Johansyah. Namun, lelaki paruh baya itu mengedipkan sebelah matanya sebagai isyarat agar istrinya diam.
"Terima kasih. Daddy memang selalu bisa aku andalkan," balas Leon senang. Lelaki tampan itu memeluk daddynya, lalu bergegas meninggalkan taman belakang untuk menelpon Alex dan memberitahukan kalau dia akan menikahi Ara secepatnya.
"Kamu serius akan membiarkan Leon menikahi gadis kampung itu?" tanya Ferra setelah Leon pergi.
"Tentu saja tidak, Sayang."
"Lalu kenapa kamu memberikan harapan pada Leon?" tanya Ferra kesal.
"Leon itu keras kepala. Sifatnya sama persis denganku. Semakin keinginannya ditentang, maka dia akan semakin menentang kita."
"Terus apa yang harus kita lakukan? Apa kita akan membiarkan putra kita menikahi gadis kampung anak pembantu itu? Mommy nggak rela!"
"Tenang saja, Sayang. Kita bisa lewat jalur belakang, tapi jangan sampai Leon tahu," ucap Johansyah setengah berbisik.
"Maksudnya apa?"
"Datangi rumah Alex dan temui gadis itu. Tekan mentalnya agar dia menolak menikah dengan Leon."
"Caranya?"
"Kamu pasti punya cara untuk itu, Sayang."
"Oh, oke. Aku akan menyerang mental gadis itu. Besok aku akan ke rumah Willy Taher." Ferra tersenyum. Dalam otaknya sudah terpikir ide jahat untuk membuat Ara menolak pernikahan dengan Leon.
***
"Leon akan segera menikahi Ara, Mom," ucap Alex saat Amelia sedang duduk bersantai di taman belakang rumah. Setelah satu minggu menginap di Paris, Amelia dan Willy Taher kembali ke rumah.
Wanita paruh baya itu terkejut mendengar cerita Alex bahwa lelaki yang telah memperkosa Ara adalah Leon, sahabat putranya. Tadinya Amelia mengira Alex lah yang telah menodai Ara hingga hamil. Namun, belum mau mengaku.
"Oh begitu," balas wanita paruh baya itu dengan ekspresi datar.
"Mommy tidak senang dengar berita ini?" tanya Alex heran.
"Mommy senang, kok. Akhirnya anak yang dikandung Ara punya ayah," balas Amelia tanpa menoleh ke arah putranya.
"Tapi sepertinya Mommy tampak kurang senang."
"Jujur memang iya. Tadinya Mommy menyangka kamulah ayah dari bayi yang dikandung Ara."
"Astaga, Mom. Alex nggak seburuk itu!"
"Iya, Mommy paham. Kamu lelaki yang baik, sama seperti Daddy."
"Pasti karena itu Mommy jatuh cinta sama Daddy," goda Alex.
"Tentu saja. Di dunia ini nggak ada lelaki sebaik Daddy," balas Amelia sembari tersenyum.
"Aku juga berharap akan bernasib sama dengan Daddy. Semoga kelak aku mendapatkan wanita yang baik seperti Mommy." Amelia tersenyum mendengar ucapan Alex, kemudian memeluk putra semata wayangnya itu.
Sebenarnya ada rasa kecewa di hati wanita paruh baya itu setelah tahu Ara hamil anak Leon. Tadinya Amelia mengira kalau asisten rumah tangganya itu akan menjadi menantunya, mengingat kedekatan Ara dengan Alex.
Sejak pertama kali melihat Ara pekerja di rumahnya, Amelia sudah bersimpati pada gadis itu. Ara seorang gadis pekerja keras dan jujur. Selain itu dia juga cantik dan sangat menjaga diri. Amelia tidak merasa malu kalaupun nantinya wanita yang mendampingi Alex hanya seorang gadis dari golongan orang biasa.
Meskipun menjadi istri seorang pengusaha kaya, tetapi tidak lantas merubah jati diri Amelia yang memang selalu rendah hati karena dulunya dia juga orang biasa. Amelia adalah gadis yatim piatu dari panti asuhan yang telah membuat seorang anak konglomerat bernama Willy Taher jatuh cinta. Amelia melepaskan pelukannya dari Alex saat melihat Darmi datang mendekati keduanya dengan tergesa-gesa.
"Ada apa, Mbok Darmi?"
"Nyonya, di luar ada Nyonya Ferra Johansyah, tetapi tidak untuk bertemu Nyonya."
"Lalu untuk apa dia ke sini?" tanya Amelia heran.
"Nyonya Ferra ingin bertemu Ara. Sekarang mereka sedang berbicara di gazebo taman depan. Saya takut Nyonya Ferra melakukan sesuatu terhadap Ara," ucap Darmi khawatir membuat Amelia tersenyum.
"Mbok Darmi tenang saja. Saya akan ke sana."wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dan anggun itu beranjak meninggalkan taman belakang untuk menjumpai Ferra yang sedang berbincang dengan Ara. Sedangkan Alex mengekor di belakangnya.
Sementara itu, Ara terkejut melihat kedatangan Ferra ke rumah majikannya. Apalagi wanita yang merupakan mantan majikan ibunya itu datang ke rumah keluarga Taher khusus untuk menemuinya. Wajah Vera yang angkuh dan kurang bersahabat itu membuat Ara cemas.
"Dasar w************n. Sudah aku usir dari rumah tapi belum menyerah juga untuk mendapatkan putraku," ucap Ferra begitu melihat Ara muncul.
"Maaf, Nyonya. Saya sama sekali tidak seperti yang Anda tuduhkan. Saya dan Tuan Leon bertemu tanpa sengaja di rumah ini. Saya sudah berusaha diam dan menganggap kami tidak pernah kenal dan bertemu sebelumnya, tetapi putra Anda lah yang mencari gara-gara. Dia ingin berbuat kurang ajar lagi terhadap saya, sampai akhirnya Mas Alex tahu," balas Ara membela diri.
"Jadi menurutmu, putraku yang mengejar-ngejar gadis kampung sepertimu?"
"Terserah Nyonya mau percaya atau tidak. Tetapi itulah kenyataannya. Saya tidak pernah menggoda Tuan Leon. Dia sendiri yang datang pada saya." Jawaban Ara membuat Ferra tertawa.
"Kamu memang cerdik, Ara. Kamu menjebak putraku dan mengatakan dirimu hamil anaknya? Dasar wanita tidak tahu malu. Benar-benar sudah putus urat malumu, ya!"
"Cukup, Nyonya. Saya bukan lagi pembantu Nyonya dan saya tidak akan diam saja kalau Nyonya menghina saya," balas Ara tegas.
"Oh, sekarang kamu sudah berani melawan, ya? Demi bisa menjadi istri Leon, kamu mengaku-ngaku telah hamil anaknya. Padahal aku yakin sekali bukan hanya putraku yang sudah tidur denganmu."
"Apa maksud Anda?"
"Aku yakin Alex juga pernah tidur denganmu, bukan? Kamu w************n, bisa jadi anak yang kamu kandung bukan anak Leon, tetapi anak Alex atau entah lelaki mana yang pernah tidur denganmu."
"Cukup, Jeng Ferra!" teriak seseorang membuat Ferra dan Ara terkejut lalu menoleh ke arah datangnya suara.