Api Unggun

1424 Words
**Bab 012: Api Unggun** Rafandra menarik napas panjang, matanya menatap ke celah pintu darurat. “Pak Guru… saya akan ke luar dulu. Cek area sebentar dan buat api,” bisiknya pelan. Rezvan mengangguk, tangannya menekan bahu Rafandra. “Baiklah. Hati-hati. Jangan sampai tergelincir.” Rafandra mencondongkan tubuh melalui celah sempit. Hup! Hup! Tubuhnya gesit, menapak perlahan di tanah yang miring dan lembap. Setiap langkah terdengar bergerak dengan hati-hati. Korek gas kecil tergenggam di tangan, hanya sesekali menyorot titik oranye ke tanah di depannya. Ia menunduk, menahan napas. “Gelap… pekat. Hanya korek ini. Dan akan segera habis… harus dimanfaatkan dengan baik.’’ Akar, batu, dan permukaan tanah yang lembab. Napasnya keluar perlahan, uap tipis menari di udara dingin. Setiap dedaunan yang berderak di bawah kaki membuatnya menahan napas. Ia melangkah perlahan, mata tetap mengikuti cahaya. “Ini datar tapi cukup berbahaya… undakan lereng, lebarnya cuma dua sampai tiga meter.’’ Rafandra mengukur tingkat keamanan dan risiko. ‘’Harus buat batasan atau kalau tidak anak-anak bisa tergelincir. Rasa ingin tahu diusia itu cukup besar tapi mereka ceroboh…’’ gumam Rafandra saat menentukan tindakan. Tangannya mulai mengumpulkan ranting kering, dedaunan, potongan kayu kecil. “Ini harus hati-hati… satu gerakan salah, api bisa liar… atau… kita bisa memancing sesuatu yang nggak ingin ditemui.” Ia membuat lingkaran dari batu-batu besar yang ia temukan di dekatnya. Korek gas menyala lagi, menyalakan tinder yang ia susun hati-hati. Bara kecil muncul, kemudian api menari pelan. CRRRR… suara ranting patah terdengar dari sisi lain lereng. Rafandra menahan napas. “Hening…’’ kata Rafandra dalam hati dengan kewaspadaan menyelimuti dirinya sambil memindai area di sekitarnya. ‘’Angin? Daun?’’ Matanya menelusuri kabut yang menyelimuti, tapi yang terlihat hanyalah siluet pepohonan dan tanah yang gelap. Tidak ada tanda makhluk yang mendekat. Ia menarik napas panjang, menahan uap tipis yang menari di udara dingin, menambahkan beberapa ranting tipis, memastikan api tetap kecil tapi stabil. Dari dalam bus, Rezvan menahan napas, matanya menempel pada celah pintu. Cahaya oranye yang menembus kabut mulai terlihat samar. Perlahan, udara di kabin terasa sedikit hangat, seperti bis itu menerima sinyal aman sementara dari api kecil di luar. Rafandra memberi isyarat dengan tangan—dua jari ke atas, kemudian menunjuk ke api. Rezvan mengangguk. Murid-murid menahan napas, tetap di tempat masing-masing, sebagian menempel di kursi untuk mengurangi risiko terpeleset jika ada sesuatu mendekat. Api unggun kecil itu mulai memantulkan cahaya pada kabut tipis, menciptakan lingkaran hangat di sekelilingnya. Aroma kayu terbakar ringan menyebar, dan suara crackle api mengisi malam sunyi. Dari kejauhan, desis angin dan gemerisik dedaunan terdengar, tapi Rafandra tetap fokus: api harus tetap hidup, stabil, dan aman. Setelah beberapa detik, ia melambaikan tangan lagi, kali ini menandakan lokasi aman untuk Rezvan dan murid-murid. Dengan hati-hati, ia mulai menandai jalur aman dari bus ke api dengan tanda-tanda sederhana—kain kecil yang diikat ke cabang, batu yang disusun lurus, sekadar untuk orientasi. CRIIIK… suara ranting patah terdengar lagi, lebih dekat. Rafandra menunduk, menatap bayangan di kabut. Napasnya tertahan. Tapi tidak ada makhluk yang muncul. Itu membuatnya yakin. Api berhasil menciptakan zona aman relatif, cukup untuk membawa murid-murid keluar perlahan dari bus. Rafandra menarik napas dalam, menatap anak-anak di dalam bus. “Oke… satu api di luar sudah menyala. Tapi kita butuh lebih. Anak-anak… beberapa dari kalian ikut saya keluar. Kita buat beberapa api unggun. Semua ini supaya setiap orang mendapat cahaya dan kehangatan cukup.” Rezvan mencondongkan tubuh ke depan pintu darurat. ‘’Bang, yakin aman?’’ ‘’Saya enggak akan bilang begitu…’’ jawab Rafandra, ‘’tapi masalahnya pilihan tidak banyak. Saya pribadi pilih hangat dan kita tunggu terang untuk bisa memutuskan langkah selanjutnya.’’ Rezvan menimbang penjelasan Rafandra dengan seksama sambil menatap murid-muridnya dalam keremangan cahaya. “Area di luar tidak sepenuhnya aman. Tidak bisa semua sekaligus.” Tambah Rafandra, ‘’Jadi kita akan bergiliran. Pertama, tiga orang ikut saya. Ambil ranting kering… buat api kecil. Minimal ada cahaya dulu agar visibiltas kita optimal dengan begitu kalian bisa melangkah dengan lebih aman.’’ Damar mengangkat tangan. “Saya ikut, Om.” Bima menatap ragu, tapi akhirnya ikut mengangguk. “Saya juga.” Darwis menyela, sedikit cemas. “Harus hati-hati kan, Om? Di luar gelap, nggak tahu ada apa.” Rafandra menatapnya tajam tapi tenang. “Ya, hati-hati. Jangan bergerak terburu-buru. Tetap dekat saya. Semua harus pelan, jangan panik.’’ Rezvan menambahkan, “Yang di bis, tetap di sini. Anak-anak kritis jangan diganggu. Kita jaga jarak, tapi tetap saling terhubung. Kalau ada masalah, kita panggil dari bis.” Rafandra menoleh ke Damar, Darwis, dan Bima. “Oke, kalian ikut saya. Kita buat api unggun. Ingat… hati-hati.” Damar mengangguk cepat. “Ya, Om.” Damar, Darwis, dan Bima menunduk, lalu mengikuti Rafandra keluar melalui pintu darurat. Rafandra memberi isyarat tangan kepada mereka. “Jangan panik. Aku beritahu dulu, kalian mungkin akan mendengar sesuatu atau merasakan sesuatu tapi harus tetap tenang…’’ Darwis menarik napas, matanya melebar. “Di luar gelap banget, Om. Kita harus pelan ya?” Rafandra menatap mereka tajam. “Betul. Jangan terburu-buru. Jalan kita di lereng ini, kemungkinan besar ada jurang di depan. Jadi… jangan mendekati pinggiran. Kontur tanah bisa labil.” Bima menelan ludah. “Jadi kita harus tetap di tengah?” Rafandra mengangguk, menggerakkan tangan ke arah jalur yang aman. “Tepat. Lihat tanah di bawah kaki kalian. Akar, batu, dan tanah basah bisa licin. Kalau tergelincir… bahaya. Kita tidak bisa ambil risiko.” Damar menatap tanah gelap, lalu menoleh ke Rafandra. “Om, api kecil… nanti di mana kita nyalainnya?” Rafandra mengangkat korek gas kecil di tangan. “Di sini, di bagian yang paling datar. Panjangnya cukup untuk api stabil, tapi jangan besar. Hanya untuk kenyamanan mata memindai area dan kehangatan. Kalau api terlalu besar, aku takut bisa menarik perhatian hewan atau makhluk yang kita tidak tahu apa akibatnya.” Darwis menggenggam bangku bekas di tangannya, menatap ke arah Rafandra. “Siap, Om. Kita pelan-pelan aja ya?” “Pelan tapi pasti,” Rafandra menekankan. “Perhatikan setiap langkah. Jangan sampai terpeleset. Kalau ada yang merasa tidak aman, hentikan sejenak dan lapor. Kita tetap koordinasi.” Mereka melangkah perlahan keluar dari bus, kaki menapak tanah lembab. Nyala korek gas menari di udara, menyorot akar-akar yang menjulur dan semak-semak rapat. Rafandra selalu berada di depan, mengawasi kontur tanah, sementara Damar, Darwis, dan Bima mengikuti rapat di belakang. “Jangan terlalu dekat ke pinggir,” Rafandra mengingatkan lagi, suaranya hampir berbisik, tapi jelas terdengar. “Di lereng seperti ini, bahkan tanah yang terlihat kuat bisa runtuh kalau salah pijak.” Bima mengangguk, menatap ke depan gelap pekat. “Mengerti, Om. Kita hati-hati.” Rafandra menoleh sekilas, memastikan anak-anak tetap fokus. “Bagus. Sekarang, kita cari titik datar… dan mulai kumpulkan ranting, daun kering, dan kayu kecil. Satu api kecil akan menandai posisi aman kita di sini.” “Area terlalu sempit untuk semua orang berkumpul di satu tempat,” Rafandra berkata pelan tapi tegas, matanya menyorot ke titik-titik api unggun yang berpendar samar di gelap. “Dalam kegelapan seperti ini, bahaya bisa datang dari mana saja… tiga titik api unggun sudah menyala. Empat sampai enam orang di tiap titik… jadi kita harus bergantian.” Rezvan mengernyit, napasnya terlihat di udara dingin malam. “Kalau begitu… bagaimana dengan mereka yang tidak sadarkan diri?” Rafandra menunduk, sesaat menatap tanah sebelum menjawab, nadanya tegas tapi ada getar cemas di baliknya. ‘’Saya tidak memahami medis, Pak… tapi kita bisa pakai sistem rotasi kehangatan. Buat isolasi untuk mereka, selalu jaga suhu tubuh anak-anak ini. Yang bisa bergerak… tubuh yang sudah hangat bisa masuk, berdekatan dengan mereka, bergantian… terus seperti itu.” Ia menatap Rezvan sejenak, menambahkan, “Setiap kali satu kelompok hangat, yang lain gantian. Jangan sampai ada yang kedinginan terlalu lama. Kita harus pastikan yang lemah tetap bisa bertahan sampai pagi.” Rezvan mengangguk, matanya tajam menyapu titik-titik api, bayangan anak-anak yang menunggu di kegelapan tampak samar. “Baik… kita lakukan sekarang. Tapi hati-hati. Tolong jaga murid-murid saya.” Senyum tipis tapi tegas muncul di wajah Rafandra, sorot matanya menenangkan di tengah malam yang pekat. “Ya… tentu saja. Mereka bukan hanya tanggung jawab Pak guru. Saya juga…” Rezvan menatapnya sebentar, lalu berkata dengan suara tulus, “Terima kasih…” Rafandra menggeleng pelan, nada bicaranya mantap dan hangat meski udara dingin menusuk. “Tidak perlu. Kita semua sama-sama di sini. Saling bantu, saling jaga.” Di sekeliling mereka, bara api unggun menari pelan, memercikkan cahaya ke wajah-wajah pucat anak-anak. Angin malam menyapu lembut, membawa aroma tanah basah dan dedaunan. Setiap napas mengepul di udara dingin, tapi kehangatan api cukup untuk membuat hati sedikit lega—meski ancaman gelap di luar sana tetap menghantui.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD