**Bab 013: Fajar Menyingsing**
Gelap masih menyelimuti lereng ketika Rafandra dan beberapa anak menyalakan titik-titik api unggun. Bara kecil menari di hadapan mereka, menembus kegelapan yang pekat, menciptakan lingkaran hangat bagi empat sampai enam orang di setiap titik. Nafas anak-anak terlihat mengepul, tubuh yang menggigil perlahan mulai menghangat..
Mata mereka masih menatap gelap yang pekat, tapi perlahan terdengar suara halus—angin dingin yang membawa cahaya samar. Di ufuk timur, secercah oranye pucat menyelinap di antara pepohonan, perlahan berubah menjadi semburat kemerahan. Fajar.
“Lihat… cahaya,” bisik Damar, hampir tak terdengar.
Mata anak-anak menatap ke arah timur, tubuh yang tadinya tegang mulai rileks sedikit.
“Subuh… cahaya pagi,” Rafandra menghela napas panjang, wajahnya menunjukkan lega yang sulit disembunyikan.
“Kita bisa melihat lebih jelas sekarang. Titik-titik api tetap memberi kehangatan, tapi sekarang… kita punya sedikit pandangan ke sekeliling yang lebih luas.”
Rezvan menunduk sebentar, menatap anak-anak.
“Mentari pagi memberi kita harapan. Sekarang kita bisa lebih leluasa bergerak, lebih nyaman.”
Siluet anak-anak yang ragu-ragu tadi kini terlihat jelas. Bayangan mereka di antara titik api dan cahaya fajar menciptakan ritme yang aneh—antara takut dan lega. Panik perlahan berubah menjadi ketenangan yang hati-hati.
“Hal yang selalu terjadi setiap hari, tapi kini, jadi titik balik untuk menyalakan semangat,” bisik Rafandra, matanya tetap menelusuri lereng.
“Dari sini, kita bisa mulai melihat lokasi untuk memutuskan tindakan selanjutnya.’’
Cahaya fajar menyebar perlahan, menyingkirkan sebagian kegelapan malam, tapi tetap membiarkan bayangan panjang pepohonan.
Anak-anak menghela napas panjang, wajah mereka perlahan tersenyum.
Malam penuh ketakutan belum berakhir, tapi hari baru telah mulai menyalakan secercah harapan.
“Tapi Bang,” ujar Rezvan, matanya menatap Rafandra penuh tanya, “kenapa tidak ada bantuan sampai pagi tiba?”
Rafandra menunduk, tatapannya kosong sebentar.
Diam.
“Entah,” akhirnya Rafandra menjawab, suaranya berat.
“Mengingat apa yang terjadi semalam… itu jelas kejadian luar biasa. Seharusnya dalam hitungan jam, minimal polisi atau ambulans sudah terlihat. Tapi kita terjaga sepanjang malam. Kecuali suara penghuni hutan… kita tidak dengar yang lain.”
Pak Marta mengerutkan dahi. “Apakah kita terlempar terlalu jauh hingga luput dari mereka?”
Rezvan mendengus, wajahnya merah.
“Apakah secuai itu para petugas pemerintah? Kalau iya, itu keterlaluan!”
Rafandra menggeleng, tegas.
“Tidak mungkin. Saya tahu pemerintah kita sedikit berantakan… tapi tidak sampai melalaikan korban puluhan orang. Kalian adalah kelompok darmawisata sekolah, kalian menyewa sepuluh bis pariwisata di perusahaan kami. Data kalian jelas. Tidak mungkin mereka tidak mencari kita.”
Rezvan menatap sekeliling, matanya menyapu lereng dan titik api unggun yang mulai hangatkan anak-anak.
“Apakah kita diseret sampai sejauh itu?” tanyanya lagi, nada penuh heran.
“Entah,” Rafandra menghela napas panjang, menatap cahaya fajar yang mulai merekah di timur.
“Suara nyaring yang kita dengar… gajah. Tapi lebih dari itu, saya juga tidak mengerti. Kita berangkat pagi sekitar pukul delapan, masih terang. Bagaimana bisa dalam sekejap, malam menelan semuanya? Itu yang masih sulit saya pahami…”
Anak-anak di sekitar titik api unggun menahan napas, mendengar percakapan orang dewasa itu. Udara dingin pagi terasa lebih menusuk, tapi cahaya fajar mulai menyebar, menyingkap bayangan pepohonan dan kontur lereng yang sebelumnya tersembunyi dalam kegelapan.
Rafandra menatap Rezvan dan Pak Marta dengan mata serius.
“Yang jelas, kita harus fokus sekarang. Anak-anak aman, hangat… tapi kita tidak tahu sampai kapan kita bisa bertahan seperti ini. Kita berharap bantuan segera tiba, tapi kita tidak bisa diam menunggu.”
Rezvan mengangguk pelan, wajahnya menegang.
“Abang benar. Kita harus mengusahakan yang terbaik sampai bantuan datang.”
Rafandra menoleh ke arah fajar yang mulai menyingkap lereng. “Saat mentari naik lebih tinggi, saya akan coba melihat lokasi… menilai situasi di sekitar.”
Rezvan langsung menatapnya. “Saya akan pergi denganmu.”
“Anak-anak?” tanya Rafandra, ragu.
“Saya yang akan mengawasi mereka. Pak guru benar, sebaiknya kamu tidak pergi sendirian,” sahut Pak Marta, suaranya mantap tapi waspada. “Ini hutan, Raf. Harimau, beruang… bahkan orang utan atau bekantan bisa berbahaya kalau kita lengah.”
Rafandra menelan napas. Matanya menatap titik-titik api yang mulai hangatkan anak-anak. “Baik… kami akan berhati-hati.”
Pak Marta mengangguk, seolah menekankan pengalamannya. Lahir dan hidup di Kalimantan, dia tahu sedikit banyak bagaimana hutan bisa menjadi ancaman—bukan hanya hewan besar, tapi juga medan dan kontur yang tak terduga.
Fajar kini mulai benar-benar menyibak kegelapan. Cahaya oranye pucat menembus pepohonan, membuat bayangan anak-anak bergerak lambat di sekitar titik api. Udara dingin masih menusuk tulang, tapi setidaknya kini mereka bisa melihat… dan bernapas sedikit lega.
Rafandra menatap ke atas, tempat cahaya mentari mulai menembus celah-celah pepohonan. Bayangan gelap lereng tempat mereka berdiri samar-samar mulai menjadi lebih terang.
“Jadi memang benar… kita ada di jurang,” ujar Rezvan pelan, matanya menyapu lereng di seberang. Cahaya pagi memperjelas kontur tanah, dinding jurang tampak jelas, jaraknya belasan meter dengan lereng tempat mereka berdiri.
Rafandra menoleh ke arah anak-anak yang duduk mengelilingi tiga titik api unggun. Beberapa masih mengantuk, mata mereka setengah terpejam, napas berat dari dingin semalaman.
“Hei, lihat sini,” seru Rafandra, menepuk pada anak-anak.
Mereka menoleh, sebagian mengerjapkan mata, belum sepenuhnya menyadari situasinya.
“Kita berada di jurang. Jangan sok tahu, jangan sok berani,” lanjut Rafandra, suaranya lebih tegas.
“Tetap tenang, pikir dulu sebelum bertindak! Kalau kalian jatuh… akan langsung jadi ayam geprek!”
Sejenak hening. Hanya suara percikan api unggun dan angin tipis yang menembus pepohonan.
Anak-anak menunduk, menyesuaikan diri, sementara Rafandra menatap Rezvan, memastikan semua memahami bahaya yang mengintai.
“Anak-anak, hindari area pinggiran,” ujar Rezvan, suaranya tegas tapi tenang.
“Kelihatannya stabil, kelihatannya kokoh, tapi bagian bawah bisa saja kosong dan langsung membawa maut. Jadi hati-hati… jadi anak baik, jangan susahkan Pak Marta.”
Beberapa anak mengangguk pelan, sebagian lain masih tampak mengantuk. Tapi di antara mereka ada pula yang menatap ke arah jurang dengan mata penuh rasa ingin tahu.
“Damar, Ardi, Bima…” suara Rezvan meninggi seketika, “jangan macam-macam!”
Tiga pasang mata langsung membulat. Damar menelan ludah, Ardi mengalihkan pandangannya, sementara Bima hanya tersenyum kaku.
Mereka tidak perlu menjelaskan apa pun, Rezvan sudah membaca isi kepala mereka seperti buku terbuka.
Ia bisa membaca wajah mereka dengan mudah.
Ia tahu betul, tiga muridnya punya satu kesamaan, rasa penasaran yang nyaris selalu berujung masalah.
Wajah ketiganya memerah, bukan karena dingin, tapi karena tertangkap basah bahkan sebelum sempat beraksi.
“Indah, Dina, Kirana,” lanjut Rezvan, menatap tiga siswi yang duduk berdekatan di dekat api unggun.
“Kalian bertiga kuberi wewenang untuk menjaga ketertiban.”
“Iya?! Kami?!” seru mereka hampir bersamaan, ekspresinya campur antara kaget dan tidak percaya.
“Iya, kalian bertiga!” tegas Rezvan, kali ini dengan nada guru yang tak ingin dibantah.
Ia menatap seluruh kelompok dan menambahkan, “Hei, para pria, kalian dengar instruksiku?”
“Iya, Pak…” jawab mereka bersamaan, sebagian terdengar malas, sebagian lain setengah bergumam.
Rezvan menarik napas panjang, menatap mereka satu per satu. Di atas, sinar mentari mulai menembus kabut pagi, mengguratkan cahaya ke wajah-wajah lelah itu. Namun di balik hangatnya fajar, udara masih menyimpan sesuatu—keheningan yang terlalu asing untuk disebut hutan biasa.