**Bab 014: Memanjat Naik**
Rafandra menatap Rezvan, ujung bibirnya sedikit melengkung, matanya menatap jauh seolah menelisik sesuatu yang tak terlihat.
Rezvan mengernyit, menatap tatapan aneh itu dengan campuran penasaran dan waspada.
“Apa?” tanyanya, nada suaranya sedikit ketus.
“Heheh…” Rafandra tertawa pelan, hampir seperti bergumam pada dirinya sendiri.
“Aku hanya sedang mengingat masa SMA dulu.”
“Dan, apa yang sedang Abang ingat…?” tanya Rezvan, nada suaranya tetap curiga, mata tak lepas menatap.
“Lumayan…” Rafandra tersenyum tipis, sedikit ambigu. “Pak guru, ternyata guru yang… benar-benar guru.”
Rezvan menatapnya dengan dahi berkerut, mencoba membaca maksud perkataan itu.
“Hahaha… jangan melihat aku seperti itu. Aku sedang memujimu,” kata Rafandra, menambahkan tawa kecil untuk meredakan ketegangan.
“Hei, cara bicaramu padaku berubah…” suara Rezvan terdengar heran, namun tetap serius.
“Maksudnya…?” Rafandra mengernyit, mencoba mengikuti arah pembicaraan.
“Kau lebih santai. Kau menggunakan ‘aku’, bukan ‘saya’, seperti biasanya,” ujar Rezvan, matanya menelusuri ekspresi Rafandra dengan tajam.
“Baiklah, jadi Pak guru ingin saya tetap menjaga cara bicara pada Pak guru?” Rafandra mencoba menanggapi dengan serius, tapi nada suaranya tetap ringan.
“Tidak. Yang sekarang lebih baik… lebih santai. Aku nyaman begitu,” jawab Rezvan, bibirnya menekuk tipis, seolah tersenyum samar.
“Baiklah… tidak masalah bagiku,” sahut Rafandra, wajahnya terang dengan rasa lega.
“Kenapa merubah gaya bicaramu?” tanya Rezvan lagi, nada penasaran tetap terasa.
“Masih belum selesai mengenai itu?!” Rafandra menatap Rezvan, sedikit terkejut dan heran.
“Aku hanya penasaran…” jawab Rezvan datar, matanya tidak berpaling.
“Kau seorang guru, dan aku menghormatimu untuk itu…” ucapnya santai, meski nada suaranya mengandung sesuatu yang lebih dalam.
Pandangannya kembali menyapu bayangan-bayangan di lereng sekeliling mereka, seolah mencari ancaman tersembunyi.
Ia menghela napas.
“Tapi situasi kita sekarang… kita akan banyak berkomunikasi. Bicara formal denganmu terasa membuat jarak.”
Rezvan menoleh perlahan. Cahaya fajar menyinggung sisi wajahnya, menajamkan garis tegang di rahangnya. Ia terdiam sejenak, lalu menjawab dengan nada yang lebih berat.
“Jadi sekarang kau tidak menghormatiku lagi?” katanya, pelan tapi tegas.
“Karena situasi menuntut aksimu lebih banyak daripada aku yang pasif… begitu maksudmu?”
Ada nada otoritas—refleks seorang guru yang terbiasa menjaga wibawa di depan kelas—meski situasi mereka sekarang jauh dari ruang belajar.
Rafandra mengangkat alis, mendecak kecil.
“Pak guru, kau itu sensitif, ya…” gumamnya, separuh bercanda, separuh serius.
Ia menatap Rezvan sejenak, lalu menambahkan dengan nada yang lebih tulus, “Seorang guru tentu akan aku hormati. Terlebih, guru yang adalah guru… tentu aku akan sangat menghormatinya.”
Senyum tipis muncul di sudut bibir Rezvan, sebuah ekspresi yang ia coba tahan. Meski begitu, matanya tetap keras, tetap waspada.
“Bicaramu enggak jelas. Berputar-putar.” Nada suaranya campuran frustrasi dan geli—dua emosi yang sering muncul saat berhadapan dengan Rafandra.
Untuk beberapa detik, angin saja yang bicara. Fajar merayap lebih tinggi, memperlihatkan lekuk lereng berbatu dan kabut tipis yang menggantung di bawah mereka.
Rafandra kembali menatap ke kejauhan. Suaranya menurun, menjadi lebih lembut.
“Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa…” katanya perlahan, seakan mengulang sesuatu yang sudah lama mengendap di pikirannya.
“Waktu sekolah—waktu SD—kalimat itu sering terdengar. Dulu aku tidak begitu memahaminya."
Ia menarik napas, panjang.
“Tapi saat dewasa… ketika aku melawat ke beberapa tempat terpencil… aku sadar itu bukan sekadar slogan. Itu kenyataan.”
Rafandra menundukkan kepala sedikit, seolah mengingat wajah-wajah yang pernah ia temui.
“Di pedalaman, mereka bekerja dengan dedikasi tinggi meski sering diabaikan instansi. Tanpa gaji yang cukup… tapi tetap menjalankan tanggung jawab dengan hati. Tulus.”
Ia menoleh pada Rezvan, sorot matanya sungguh-sungguh. “Dan Pak guru… saya melihat itu padamu. Sesuatu yang sulit terlihat dari guru-guru di kota besar.”
Angin kembali berhembus, membawa aroma tanah basah dan daun kering. Kabut tipis bergerak pelan di kaki lereng, dan kata-kata Rafandra masih menggantung di udara—lebih berat daripada kabut itu sendiri.
Rezvan menghela napas panjang. Ia menoleh ke belakang, menatap anak-anak yang berjalan terpaut beberapa meter dari mereka, wajah-wajah letih tetapi berusaha kuat.
“Itu hanya karena situasi…” katanya pelan.
“Dalam kondisi biasa, aku sudah menyerahkannya pada yang lebih kompeten. Menghadapi remaja-remaja yang selalu aktif itu… butuh tenaga ekstra.”
Nada suaranya santai, tapi lelahnya tidak bisa disembunyikan.
Rafandra menoleh sedikit, langkahnya tetap stabil di jalur berbatu.
“Justru itu maksudku…” sahutnya.
“Kau tidak menyerah dan tetap menjaga mereka. Karena kau tahu tak ada yang lain. Hanya ada dirimu.”
Suaranya tegas tapi lembut, seperti menegur sekaligus memuji.
Rezvan kembali menatapnya, kali ini wajahnya memerah samar—kehangatan yang tidak selaras dengan udara dingin lereng.
“Diamlah… kau membuatku malu.”
Ia mengalihkan pandangan, sesaat tersenyum kecil.
“Kau terdengar seperti Pak Marta. Memang berapa usiamu? Aku merasa kau seumuran denganku.”
“Dua puluh sembilan,” jawab Rafandra singkat. Matanya tetap menyisir jalur, memastikan pijakan aman di antara batu-batu licin.
“Hm… Ya, kita sepantaran, kau dua tahun lebih tua dariku…” gumam Rezvan.
Rafandra tidak menoleh.
“Dua puluh delapan… kau sudah berkeluarga?”
Rezvan menjawab dengan cepat, hampir refleks.
“Tidak, belum… Kau?”
Matanya menyipit sedikit, mencoba membaca sesuatu dari nada lawan bicara.
“Kita sama.” Rafandra menghela napas pendek.
“Aku juga belum… sulit bagiku menemukan pasangan.”
Nada acuhnya tidak sepenuhnya menyembunyikan senyum samar di bibirnya.
Rezvan menoleh, separuh penasaran, separuh menggoda.
“Kenapa? Apa karena pekerjaanmu?… Aku yakin kau lebih dari seorang kernet.”
Ia memperhatikan suara Rafandra—ritme, jeda, semuanya—seolah mencoba menangkap makna yang tidak diucapkan.
Rafandra berhenti sepersekian detik, menatap balik dengan alis terangkat. “Kenapa kau bilang begitu?”
Rezvan mengangkat bahu kecil.
“Bagiku… kau tidak tampak seperti kernet.”
Nadanya ringan, tapi ketulusannya jelas.
Rafandra tertawa—suara hangat dan lepas yang memantul di lereng yang mulai disinari cahaya fajar. “Hahaha… kau ini, Pak guru, bisa saja…”
Tawa itu memecah ketegangan perjalanan, meski hanya sebentar. Angin kembali menyusuri lereng, membawa aroma hutan dan sesuatu yang tak terucap di antara mereka.
Dataran lembah di atas mereka—hampir tujuh hingga sembilan meter lebih tinggi—dipenuhi bayangan besar yang bergerak perlahan. Suara berat tapi berirama: gemuruh kaki raksasa menghentak tanah, daun dan ranting patah di bawah beban yang tak terlihat jelas. Kawanan yang diduga gajah—atau setidaknya sesuatu yang mirip—mengisi lembah itu.
“Pak guru… dengar itu,” bisik Rafandra, suaranya nyaris tenggelam di antara derap kaki dan gemerisik daun.
Rezvan mencondongkan kepala, matanya menembus bayangan.
“Ya… aku rasa kita memang benar-benar ada di hutan. Bagaimana menurutmu, apa aman untuk naik?’’
Rafandra menunduk, memeriksa kontur lereng. Tanahnya agak basah, beberapa bagian tampak rapuh.
“Kita harus naik… selain naik, aku tidak melihat ada jalan lain. Lereng ini mungkin stabil, tapi ada kemungkinan tanah labil yang langsung menukik ke jurang.”
Kabut pagi masih bergelayut pekat di antara pepohonan tinggi. Embun menetes dari daun ke daun, menciptakan bunyi tik… tik… tik… yang berirama di keheningan.
Lereng di depan mereka tampak lembap, ditumbuhi lumut tebal yang berkilau samar di bawah cahaya matahari yang mulai menembus celah kanopi.
Rafandra menarik napas panjang, matanya menyipit menilai medan di depan mereka.
“Kita harus hati-hati,” ujarnya pelan namun tegas.
“Setiap langkah ke atas penuh risiko. Kalau terpeleset, jurang di bawah itu bukan main dalamnya. Embun masih tebal, tanahnya licin… sangat berbahaya.”
Rezvan mengangguk, wajahnya serius. Pandangannya menyapu lereng, memperkirakan batu dan akar yang bisa dijadikan pijakan.
Ia menggulung lengan bajunya, lalu mulai naik perlahan. Satu kaki menapak di akar, satu lagi mencari celah batu yang kokoh. Nafasnya teratur, tapi jantungnya berdetak cepat — keras, sampai terasa di d**a.
Suara krek! ranting patah di bawah kaki membuat mereka berdua spontan berhenti.
Hutan purba di sekeliling terasa seolah menahan napas bersama mereka.
Perlahan tapi pasti, mereka terus menanjak. Embun menggigit kulit, dingin dan tajam. Tapi ketika langkah Rezvan kehilangan keseimbangan, tubuhnya mendadak miring — tanah longsor sedikit di bawah kakinya.
“Pak guru!”
Rafandra berteriak serak, refleks meraih tangan Rezvan yang bergelantungan separuh badan.
‘’Ayolah, Pak guru… kau tidak pernah mendaki sebelumnya.’’ Keluh Rafandra sambil menarik tubuh Rezvan.
Rezvan mengerang, berusaha menegakkan tubuhnya.
“Aku… mendaki, dulu… waktu SMA…” katanya di sela napas berat, kakinya mencari pijakan dengan panik.
Rafandra mendengus, menahan tubuhnya agar tetap seimbang sambil menarik Rezvan ke sisi aman.
“Ini pendakian standar, dan sudah berapa kali kau terpeleset?”
“Tiga kali,” jawab Rezvan terengah, lalu menatap Rafandra dengan senyum lemah. “Dan aku masih selamat… berkat kau.”
Rafandra memutar bola matanya, lalu perlahan melepaskan genggaman dari tangan Rezvan.
“Lebih berhati-hati lagi. Kau bukan kucing… nyawamu cuma satu,” katanya dengan nada setengah kesal, setengah lega.
Angin pagi berhembus pelan, membawa aroma tanah basah dan dedaunan lembap. Kabut di bawah mereka bergulung seperti lautan putih — tenang, indah, tapi mematikan. Dari bawah, samar-samar terdengar suara serangga dan gemericik air yang menembus kesunyian hutan.
Rezvan tertawa kecil di antara helaan napasnya yang berat.
“Hahaha… lucu, Raf,” ujarnya, mencoba menutupi ketegangan dengan canda.
Mereka melanjutkan pendakian. Hanya tinggal beberapa langkah menuju dataran di atas. Nafas Rezvan mulai tersengal, jemarinya yang berlumur tanah berusaha menggenggam batu terakhir sebagai tumpuan.
“Raf…” panggilnya di sela-sela napas terengah. “Kau sudah mulai santai denganku. Bisa tidak, sebut namaku saja, jangan selalu memanggilku ‘Pak guru’? Kita bisa lebih akrab, kan?”
Tidak ada jawaban.
Rafandra tidak bergerak. Tubuhnya kaku, pandangannya terpaku ke depan — seperti membeku di tempat.
“Raf, kau dengar aku?” tanya Rezvan, nada suaranya naik sedikit, setengah jengkel karena tak dihiraukan.
Ia melangkah lebih cepat, menapaki batu terakhir, lalu berdiri di sisi Rafandra.
“Raf, ada apa? Kau kenapa diam?” katanya sambil menyeka peluh di dahi.
Namun Rafandra tidak menjawab. Ia hanya menatap lurus ke depan, matanya membesar, napasnya tertahan.
Perlahan, dengan suara nyaris berbisik, ia berkata, “Katakan… kau melihat apa yang aku lihat.”
Rezvan mengikuti arah pandang itu.
Dan saat matanya menangkap pemandangan di hadapan mereka — sesuatu yang tidak seharusnya ada di dunia yang mereka kenal — pupilnya melebar. Nafasnya tersendat. Tak ada kata yang bisa keluar. Hanya keheningan… dan detak jantung yang berdentum keras di telinga mereka berdua.