Sehari Pasca Kejadian

1263 Words
**Bab 015: Sehari Pasca Kejadian** Pangkalan Militer Pusat Dua puluh empat jam telah berlalu sejak blackout besar-besaran. Hari itu, seluruh petinggi militer berkumpul di ruang komando. Wajah-wajah tegang, dengan mata memerah karena belum tidur. Di luar ruangan, para perwira berwenang mondar-mandir dengan dokumen dan laporan di tangan juga monitor di hadapan. Suara langkah kaki, gemeretak kursi, dan desah cepat menambah ketegangan. Di dalam ruangan utama, di ujung meja, Perwira dengan kedudukan tertinggi duduk diam, tubuhnya menegang, tenggorokannya serak. Sudah lelah. Entah berapa kali dia memekik dan membentak dalam 24 jam terakhir. Kini ia diam, menatap tumpukan laporan yang menumpuk di depannya, memutar otak, mencoba merangkai kepingan-kepingan informasi yang setengah utuh. Tangannya terkepal, rahang menegang. “Kalimantan, Sulawesi, Papua, Sumatra… kenapa di sana?” tanyanya, suaranya lirih namun tajam. “Kalau teroris, apa yang diinginkan, dan bagaimana bisa serentak di wilayah seluas itu?” Pertanyaan-pertanyaan berulang yang nyaris sama. Mereka semua yang duduk di meja panjang itu. Entah ini hanya pikiran di kepala, atau gumam terdengar bagi orang di sekitarnya. Seorang kolonel muda, wajahnya tegang, menelan ludah sebelum menjawab. “Terlalu besar jika hanya serangan teroris, Pak.” Pimpinan itu menatapnya leka dengan matanya yang memerah karena kurang tidur. “Aku mengerti… bahkan dua jet tempur kita hilang dari radar, berbarengan dengan hilangnya pesawat-pesawat komersial dari radar. Terlalu menakjubkan jika dilakukan oleh teroris.” Seorang staf intel menambahkan, suaranya rendah tapi jelas terdengar di ruangan. “Itu benar… Tapi, masalahnya, dua jet tempur yang kita kirim untuk memantau pun ikut hilang tanpa jejak…” Pimpinan itu menunduk sebentar, menahan napas, lalu menepuk meja perlahan. Suaranya pecah saat melanjutkan, “Itu dia… hilang… apa kau tidak aneh? Jika itu hanya satu atau dua mobil patroli, aku tidak akan segamang ini. Tapi total, sudah empat jet tempur… barang sebesar itu, bagaimana bisa hilang tanpa jejak?! Aku lebih percaya jika empat pesawat itu hancur ditembak jatuh, tapi hilang… apa itu tidak… terdengar konyol?!” kalimat terakhirnya terdengar lirih. Ruang komando hening sesaat. Semua mata tertuju pada pimpinan. Suara detak jam analog di dinding terdengar jelas, mengiringi kebingungan dan tekanan strategis yang memenuhi ruangan. Setiap laporan baru yang masuk hanya menambah beratnya tanggung jawab; tidak ada panik karena sistem mati, tetapi rasa tak berdaya terhadap fenomena yang tidak bisa mereka jelaskan membuat seluruh perwira terdiam sejenak, menimbang langkah selanjutnya. ‘’Bagaimana dengan jalur darat?’’ tanya salah satu perwira, ‘’Apa masih juga belum ada kabar?’’ ‘’Belum, Pak?’’ ‘’Jalur laut?’’ tanya perwira yang lain. ‘’Belum… juga… Pak,’’ jawabnya ragu-ragu. Dia tampak bingung, menatap layar radar dan peta di depannya yang tak memberi jawaban. Tidak ada satu pun kabar dari wilayah-wilayah yang tiba-tiba putus kontak. ‘’Apa yang sebenarnya kita hadapi?’’ ‘’Apa mungkin serangan dari negara lain?’’ ‘’Perang?!’’ ‘’Jangan bercanda… kalau iya pun, apa akan setenang ini? Tak ada apa pun kabar yang kita dapat sejauh ini…’’ Tiba-tiba… TOK TOK TOK Pintu kaca diketuk keras. ‘’Pak…’’ seru seorang perwira yang baru saja mengetuk pintu, membawa kabar. Wajahnya tegang, suaranya bergetar, tubuhnya menandakan ketegangan yang mendesak perhatian semua yang ada di ruangan. Seluruh petinggi menoleh serentak. Hanya dengan melihat ekspresinya, mereka seolah bisa memprediksi bahwa malam ini mereka kembali harus bergadang, menghadapi kemungkinan terburuk. ‘’Katakan laporanmu!’’ perintahnya, suara berat penuh frustrasi, seolah tidak sabar dengan basa-basi. ‘’EMP, kemungkinan besar EMP, Pak…’’ ujar perwira yang baru saja masuk. Ruangan komando kembali hening sejenak. Laporan itu menggantung di udara, berat dan tak mudah diterima. Para perwira menatap satu sama lain, menyadari bahwa mereka baru saja menghadapi situasi yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya, di mana teknologi—sekali lagi—bisa menjadi musuh dan sahabat sekaligus. “Sambungkan ke meja,” katanya pelan, tapi setiap kata tersimpan kewaspadaan. Ketenangannya tampak sempurna di permukaan, tapi nalurinya sudah membunyikan alarm. Suara pelapor terdengar cepat, tegas, tapi terkendali. “Selamat siang, Pak. Komandan TRC Balikpapan melaporkan situasi awal di lapangan.” Para perwira tinggi duduk kaku, menahan napas. Blackout total. Jalur komunikasi putus. Jalur darat dan laut terisolasi. Operator mengulang beberapa informasi yang samar, memastikan setiap detail tercatat. “Indikasi awal…” suara salah satu perwira pecah di ruang rapat, tajam. Di sambungan telepon, Komandan terdiam. Lama. Heningnya membuat udara seolah menebal. Para perwira saling melirik, rahang menegang. Kesal, tapi bersabar. “Kemungkinan besar EMP, Pak,” kata suara dari telepon akhirnya. “Prajurit,” sahut seorang perwira, suaranya dingin dan menuntut. “Apa kau bisa menjamin validitas laporanmu?” Komandan pelapor terdiam. Sekejap. Kali ini lebih singkat. “Bisa, Pak. Kami berkumpul di sini—perwakilan dari komando-komando terdampak. Saya tidak sendiri. Situasi serupa terjadi di tempat lain.” “EMP?!” seru seorang perwira lagi, hampir terdengar panik. “Skalanya terlalu masif. Teknologi mana yang bisa menimbulkan kekacauan sebesar ini? Apa ini fiksi ilmiah?!” “Tidak, Pak. Ini fakta. Pengamatan di lapangan. Nyata.” Desah frustrasi terdengar di antara para perwira. Mata saling bertemu, penuh keraguan. Laporan itu sulit diterima, tapi jika benar… bencana besar sedang menunggu mereka. Belum juga selesai percakapan di saluran telepon, pintu kaca diketuk lagi. Seperti sebelumnya, pelapor masuk dengan kegugupan yang jelas—gestur tegang, ekspresi cemas, hampir gemetar. “Cepat! Ada apa?” ujar perwira yang sudah kehilangan kesabaran. Kesalnya terhadap laporan-laporan yang menurutnya absurd jelas tersirat di suaranya. “Pak… laporan dari Sumatra dan Sulawesi masuk…” jawab pelapor dengan suara ragu. “Sumatra dan Sulawesi? Sudah memberi laporan?! Apa isinya?” tanya salah satu perwira, matanya berbinar, seakan berharap mendapat kabar yang lebih masuk akal. “S-sama, Pak…” suara pelapor bergetar. “EMP. Kronologi dan situasinya… kurang lebih sama.” Ruangan hening seketika. Para perwira menunduk, tubuh mereka seakan melorot ke kursi. EMP di Kalimantan saja sudah terdengar mustahil. Sekarang, laporan serupa datang dari Sumatra dan Sulawesi. Pikiran mereka berputar, tapi tak satu pun dapat menerima logika di balik kenyataan ini. Segalanya terasa tidak nyata. “Pak Kepala… apa kita bisa mempercayai laporan itu?” tanya Komandan Pasukan Darat, suaranya tegang, mata menatap lurus ke Komandan Operasi. Tubuhnya sedikit maju, menahan gugup. Komandan Operasi menunduk sebentar. Menghela napas panjang. “Anda sudah mendengar sendiri. Bukan hanya satu laporan… tapi semuanya. Melaporkan hal yang sama.” Seorang Kepala Staf Angkatan Laut mengangkat alis, suaranya tercekat. “Sumatra, Kalimantan, Sulawesi… kita belum terima laporan dari Papua, tapi kemungkinan besar sama. Kalau laporan itu masuk, hasilnya juga akan serupa.” “EMP…” gumam Komandan Angkatan Udara, tangan mengepal di atas meja, matanya menatap dokumen tanpa berkedip. “Tapi… bagaimana bisa?!” bentak Komandan Pasukan Darat. Suaranya pecah, hampir terdengar putus asa. Tubuhnya mencondong ke depan, dagu menonjol, napas tersengal. Komandan Operasi mengangkat tangan, menahan gerakan. “Kita belum tahu apa dan bagaimana. Tapi… situasi darurat ada di depan mata. Blackout masif. Sekarang kita harus cari pola persebarannya. List area terdampak. Cepat.” Pelapor TRC masih berdiri, gemetar sedikit. “Izin, Pak… kami menemukan pola persebaran.” “Apa itu?!” hampir serempak semua jenderal bertanya, suara mereka penuh ketegangan. “Garis katulistiwa,” jawab pelapor, suaranya tegas tapi ragu. Matanya menatap wajah para jenderal satu per satu, menunggu reaksi. Mata semua jenderal melebar. Keheningan tebal menyelimuti ruangan. Napas mereka serasa tertahan. “Kenapa… garis katulistiwa?” tanya Kepala Staf Angkatan Laut, suara bergetar sedikit, tangan menepuk meja. “Belum tahu, Pak,” ujar pelapor, menunduk pada dokumen di tangannya. “Tapi berdasarkan pengamatan Komando Pusat dari laporan-laporan masuk, valid. Radius 10 km di sepanjang garis katulistiwa terdampak.” Para jenderal saling bertukar pandang. Napas memburu. Jantung berdegup kencang. Ruang rapat terasa panas, penuh ketegangan. Blackout masif. Pola yang mustahil. Kenyataan yang menentang logika. Apa yang sebenarnya terjadi?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD