Pagi Pertama

2037 Words
**Bab 016: Pagi Pertama** Mentari pagi merangkak dari balik punggung pegunungan yang menjulang di kejauhan. Cahaya keemasannya memecah kabut lembut yang menggulung di dasar lembah, membiaskan kilatan cahaya seperti serpihan kaca cair. Udara terasa dingin, basah, tapi murni — terlalu murni, seolah belum pernah tersentuh asap, debu, atau bahkan napas manusia. Di hadapan mereka, hamparan lembah terbentang sejauh mata memandang, lembab dan hijau pekat. Pohon-pohon menjulang dengan batang sebesar pelukan lima orang dewasa, daunnya memantulkan cahaya matahari seperti permukaan logam yang basah. Beberapa pohon tumbuh miring, ditumbuhi liana sepanjang puluhan meter, melingkar bagai ular raksasa tidur. Suara dunia ini hidup — gemuruh, berat, dan purba. Dari jauh terdengar derap berat, bergemuruh di tanah seperti langkah gendang besar. Kabut pagi masih menggantung rendah ketika seekor gajah muncul dari balik tirai putih itu. Siluetnya besar dan tenang, lalu diikuti sosok-sosok lain yang perlahan mengisi padang — bukan satu atau dua, tetapi seluruh kawanan. Tubuh mereka kokoh, lebih tinggi dari gajah yang pernah dilihat manusia masa kini, kulitnya kasar dan basah oleh embun. Rambut-rambut halus di punggung dan bahu tampak hanya ketika cahaya matahari menembus kabut tipis, membentuk garis-garis samar di tubuh mereka. Mereka bergerak dalam irama lambat dan serempak, menyibakkan rumput yang menjulang hingga setinggi d**a manusia. Setiap langkah membuat butiran air jatuh, terdengar seperti hujan kecil yang turun di kaki mereka. Belalai-belalai itu menggesek semak, memeriksa setiap helai rumput, seolah memastikan bahwa jalur ini aman—ritme yang biasa dalam hidup mereka, tetapi entah kenapa terasa berbeda bagi siapa pun yang bersembunyi dan mengamati. Terlalu sunyi untuk kawanan sebesar itu. Terlalu rapi. Terlalu… hati-hati. Di atas kepala kawanan, bayangan-bayangan besar melintas rendah. Burung-burung itu memiliki bentang sayap yang mengesankan, warnanya menyatu dengan kabut dan langit yang pucat. Setiap kepakan menghasilkan hembusan yang menggoyangkan padang rumput tinggi, membuat permukaan hijau itu bergelombang seperti tertiup napas raksasa. Suara kepakannya tidak keras, hanya berat dan lembap—cukup untuk membuat bulu kuduk meremang, karena di lanskap sunyi seperti ini, suara apa pun menjadi penanda bahwa ada sesuatu yang bergerak, sesuatu yang hidup, dan sesuatu yang mengawasi. Dari arah sungai yang berkilau di tengah lembah, muncul bayangan besar menyerupai rusa. Siluet-siluet itu perlahan menajam: rusa sambar jantan, tubuhnya tinggi dan padat, dengan tanduk bercabang panjang yang tampak seperti rangkaian ranting kering ketika terangkat menembus kabut tipis. Cabang-cabang tanduk itu tidak sebesar pohon, namun cukup lebar untuk menimbulkan kesan rimbun ketika dilihat dari kejauhan. Tanah di dasar lembah tampak basah dan gelap—endapan aluvial yang subur dari sungai yang dulu pernah lebih besar. Setiap langkah kaki hewan-hewan itu menimbulkan bunyi lembut seperti tanah diaduk, meninggalkan cekungan kecil yang cepat terisi air. Lembah ini hidup oleh kelembapan; bahkan jejak yang baru ditinggalkan pun memantulkan cahaya. Di atasnya, serangga berwarna tembaga bergerak dalam pola tak beraturan. Sayap mereka memantulkan sinar matahari seperti pecahan logam panas, khas serangga tropis yang menghuni kawasan lembap dan kaya mineral. Sesekali, seekor capung besar melintas dekat permukaan sungai, kilau tubuhnya seakan menari di antara pantulan air. Kabut berlahan menipis, memperlihatkan langit biru jernih yang terasa asing bagi siapa pun dari masa kini. Tidak ada garis asap pesawat, tidak ada bayangan menara atau lalu lintas udara—hanya bentangan langit murni seperti yang telah ada ribuan tahun sebelum manusia mengubah dunia. Di lembah ini, tidak ada tanda-tanda peradaban. Yang tersisa hanya ritme alam: desir angin melewati rumput tinggi, langkah hati-hati kawanan hewan besar, dan panggilan burung rangkong dari hutan yang menutup lereng. Semua itu terjadi tanpa ancaman yang jelas. Namun justru ketenangan itulah yang menekan d**a: gerak yang terlalu mulus, lanskap yang terlalu luas, dan kabut yang terlalu mudah menelan suara. Di tengah padang yang terbentang tanpa akhir, kawanan itu tampak seperti bagian dari dunia yang tidak memikirkan apakah ada manusia yang tersesat di tepinya… atau apakah seseorang sedang menahan napas, berusaha agar keberadaannya tetap tak terdeteksi. Di tepi jurang tempat mereka berdiri, Rafandra dan Rezvan hanya bisa terdiam — bukan karena takut, melainkan karena tubuh mereka tidak menemukan cara yang tepat untuk merespons pemandangan yang tampak melanggar logika ruang dan waktu. “Kau melihatnya…?” suara Rezvan pecah dari keheningan, getar halus terdengar di ujung kalimatnya. “Aku lihat,” jawab Rafandra pelan, singkat, suaranya rendah seperti sedang memastikan sesuatu pada dirinya sendiri. “Kau yakin kita melihat hal yang sama?” Rezvan mencondongkan tubuh sedikit, matanya terpaku pada lembah hijau yang membentang luas di bawah mereka. “Apa kita masih waras?” lanjutnya, mencoba bercanda, tapi nada cemasnya lebih kuat daripada humornya. “Menurutmu?” Rafandra menoleh sebentar, menatap Rezvan dengan tatapan analitis—seolah mengevaluasi baik orangnya maupun situasinya—lalu kembali menatap hamparan hijau yang tidak pernah ia tahu. “Hei… apa Indonesia punya lembah seperti ini?!” kata Rezvan, napasnya terputus-putus antara kagum dan panik. “Aku bukan petugas kehutanan. Mana aku tahu,” Rafandra menjawab datar, tanpa mengalihkan pandangan, matanya menelusuri kontur lembah seperti sedang membaca peta asing. “Aku rasa… aku mungkin harus ganti materi pelajaran. Menjadi guru biologi… sepertinya tidak buruk,” gumam Rezvan, setengah berusaha mengalihkan kecemasannya sendiri. Keduanya saling melirik singkat. Ekspresi bingung dan takjub bertemu di wajah mereka. Kaki mereka tetap kokoh, tetapi d**a terasa lebih berat—seolah alam meminta mereka diam agar tidak mengusik lanskap purba yang tengah memulihkan diri pada ingatan dunia. “Apakah kita… masih ada di Indonesia?” kata mereka hampir bersamaan. Suara itu lahir dari ketidakpastian yang sama: campuran kekaguman, kebingungan, dan ketegangan yang membuat detak jantung mereka berdetak tak selaras dengan ritme lembah di bawah sana. Rafandra dan Rezvan masih berdiri di tepi jurang, mata mereka menyapu lembah yang seperti tidak masuk akal. Namun ketenangan itu runtuh ketika tanah di bawah kaki mereka bergetar pelan—sebuah getaran ritmis, berat, berdentum sporadis. Dum Dum Dum Rezvan menegakkan tubuh. “Ah—apa itu?!” desisnya, menahan napas, tubuhnya sedikit mundur. Rafandra tidak bergerak. “Diam.” Suaranya rendah, nyaris berbisik. Ia mencondongkan tubuh, telinga menangkap pola suara, mata menyisir pepohonan. Ada sesuatu yang besar sedang bergerak tak jauh dari mereka berada. Ketajaman indra Rafandra mengatakannya. Dentuman itu makin dekat — BRUK! BRUK! — seperti sesuatu menghantam tanah dengan seluruh bobot tubuhnya. Lalu terdengar geraman kasar, rendah namun panjang, membuat daun-daun kering di lantai hutan ikut bergetar. Rezvan menelan ludah. Dia ingin bicara tapi terlalu takut untuk membuka mulut. Rafandra tetap waspada, memindai sekitarannya. Seluruh latihan dan pengalamannya selama ini memberinya ketenangan dalam ketegangan. Semak-semak di bawah mereka tiba-tiba terguncang keras. Dari balik belukar, tiga ekor babi hutan besar menerobos keluar, tubuh mereka setinggi pinggang orang dewasa. Lumpur melekat tebal di bulu hitam mereka, dan bercak darah segar masih menetes dari moncong dan kaki mereka. Rezvan bergidik, matanya membulat. ‘’Babi apa ukurannya sebesar itu?!’’ Benaknya berteriak dramatis. Rafandra memperhatikan dengan mata terfokus, napasnya pendek namun tetap stabil. Jemarinya otomatis merapat ke lutut, tubuh sedikit condong ke depan—postur refleks seorang yang terbiasa membaca medan. ‘’Babi apa yang sedang aku lihat…?’’ tanyanya di dalam hati. Di bawah sana, hewan-hewan itu saling seruduk, saling hantam, kaki mereka menggaruk bumi dengan brutal. Tanah tercabik, rumput tercabut bersama akarnya. Gerakan mereka bukan sekadar agresif—mereka seperti makhluk lapar yang menemukan sesuatu yang penting dan menolak melepaskannya. Rafandra menahan napas, mencoba menenangkan diri. Matanya mengikuti pola gerakan, memperhatikan celah di antara tubuh-tubuh hitam berotot itu. ‘’Apa yang mereka perebutkan…? Ada sesuatu di situ… kenapa aku malah penasaran sama itu? Ada sesuatu disitu yang membunyikan alarm tanda bahayaku…’’ pikir Rafandra. Salah satu babi mengangkat moncong. Dari hidung dan rahangnya, darah segar menetes—kental, gelap, mengkilap. Bukan darah lama. Bukan bekas perkelahian ringan. Sesuatu yang baru saja terjadi. Dan saat itu, hidung Rafandra menangkapnya. Bau itu menghantamnya seperti gelombang. Amis, pekat, tajam. Bau darah. Ia membeku sepersekian detik. ‘’Bau… darah… pekat… bagaimana baru sekarang aku mencium ini—sial. Aku lengah.’’ Tenggorokannya menegang. Ia menelan ludah keras-keras. Perutnya naik-turun seperti sedang melawan dorongan untuk muntah, namun matanya justru semakin fokus, semakin tajam—insting bertarungnya bangkit. ‘’Ini bahaya… sangat bahaya. Mereka masih sibuk dengan sesuatu itu… tapi kalau salah satu dari mereka menyadari kehadiran kami…’’ Rafandra menahan napas lagi. …apakah kami akan selamat?’’ Seketika dunia menjadi bisu—tak ada suara selain degup jantung yang menghantam d**a mereka berdua. Bahkan angin yang tadi bergerak lembut kini terasa membeku. Fokus… Rafandra menggertakkan gigi dalam hati. Pemandangan ini… ternyata menyembunyikan pembantaian di baliknya. Ia memaksa rasa mual turun ke perut, menahan ketakutan, lalu menyalurkan setiap serpihan energi ke hal yang bisa ia kendalikan: membaca medan, menghitung bahaya, mencari jalur aman. Di sebelahnya, Rezvan menyipitkan mata, tubuhnya sedikit maju—berusaha mencari bentuk yang samar di tengah keributan itu. Krauk… krauk… krauk… Suara rahang menghantam daging dan gigi berbenturan membuat bulu kuduk mereka meremang. Bau darah yang pekat menyeruak menusuk hidung—bercampur lumpur basah, dedaunan busuk, dan tanah yang tercabik. Detak jantung Rafandra dan Rezvan berpacu, mengikuti irama kekacauan di bawah mereka. Pemandangan lembah yang tadi begitu menakjubkan—cahaya mentari, kabut tipis, hamparan hijau yang terasa mustahil—lenyap dari benak mereka. Yang tersisa hanya rasa dingin yang merayap naik di sepanjang tulang punggung. Mereka teringat hal yang seharusnya tidak boleh dilupakan ketika memasuki hutan: Ini tanah liar. Tak ada belas kasihan. Hanya predator dan mangsa. Tanpa perlu saling bicara, keduanya bergerak—perlahan, otomatis—saling menutup punggung. Nafas mereka pendek, wajah tegang, mata tidak berani berkedip. Setiap daun yang terinjak makhluk di bawah sana, setiap retakan ranting, setiap helai semak yang bergeser membuat jantung mereka memukul lebih keras. Deg-deg… deg-deg… deg-deg… Rafandra menarik napas panjang, menahan gemetar halus yang mulai merayap ke tangannya. Ia tahu satu hal: panik membunuh lebih cepat daripada taring hewan mana pun. ‘’Sialan… kenapa malah ikut panik?!’’ umpatnya dalam hati. Ia mencondongkan tubuh ke arah Rezvan, matanya tetap tertuju pada semak-semak yang bergetar samar. Dengan suara serendah mungkin, hampir hanya getaran dari tenggorokan yang kering, ia berbisik: “Rez… gerak teratur. Tetap tenang… Mundur. Kita pergi dari sini… sekarang…” Rezvan mengangguk, kecil—hampir tak terlihat. Bibirnya mencoba menutup rapat, tapi dagu itu gemetar, seolah tubuhnya menolak berpura-pura berani. Ia terlalu takut untuk menjawab. Suara tanah diinjak berat itu semakin mendekat—ritmis, brutal, seperti genderang perang yang dipukul dari bawah bumi. Satu babi hutan melesat keluar dari semak dan BRUKK! Tubuh besar dan basah lumpur itu menghantam tanah, memercikkan lumpur dan kerikil. Beberapa serpihan kecil meluncur ke tepi jurang, membuat Rafandra dan Rezvan spontan mundur beberapa langkah. Ngok… grok… krokk… Suara-suara itu datang dari segala arah, saling sahut, saling tindih—seperti orkestra liar dari perut hutan yang tak pernah dimaksudkan untuk didengar manusia. Rafandra dan Rezvan menatap kosong ke arah kawanan itu. Dunia yang tadi damai—lembah pagi yang lembut dan basah—seketika berubah menjadi panggung dari sesuatu yang purba dan tak berbelas kasih. Keindahan itu lenyap, ditelan kekacauan, digantikan insting liar yang menelanjangi manusia dari rasa aman semu. “Jangan lari,” bisik Rafandra cepat, rendah tapi tegas. “Kita terpojok. Tanpa senjata. Pantau dulu…” Mata mereka terpaku. Nafas mereka tertahan, seperti paru-paru pun takut terdengar. Heningnya begitu rapat hingga hembusan angin pun terasa seperti desis makhluk asing yang mengintai dari balik kabut. Lalu— PLUK. Sesuatu jatuh di tanah, hanya beberapa jengkal dari kaki mereka. Tanah lembek muncrat ke celana mereka, membawa serta bau anyir yang menusuk. Rezvan menunduk. Dan membeku. Matanya membesar, bibirnya terbuka tanpa suara. Tubuhnya gemetar, lututnya melemah seolah seluruh keberaniannya longsor bersama tanah di bawah kakinya. Sebuah kepala manusia—setengah wajahnya terkoyak, rambutnya masih meneteskan darah—tergeletak di antara dedaunan basah. Rafandra menahan napas. Pupilnya menyempit. Dalam sekejap, dunia menjadi bisu. Tak ada suara—kecuali deg… deg… deg… deg… dari jantung mereka sendiri. Rezvan menutup mulutnya dengan satu tangan, wajahnya pucat seperti kehilangan darahnya sendiri. Air mata menggenang di matanya. Tenggorokan tercekat antara muntah dan teriak. Tapi yang keluar hanya napas tersengal, kusut oleh ketakutan murni yang menghapus seluruh warna dari wajahnya. Di bawah sana, kawanan babi itu terus bertarung—menyobek, menggigit, krauk! krauk!—saling tarik antara daging dan lumpur. Dan di tepi jurang itu, dua manusia hanya bisa berdiri terpaku, menyadari bahwa keindahan yang baru saja memukau mereka… ternyata adalah wajah lain dari neraka yang bersembunyi di bawah kabut pagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD