**Bab 017: Kejutan belum berakhir**
Pemandangan indah yang tadi sempat membuat mereka terpaku—mata berbinar oleh cahaya lembah yang megah—mendadak runtuh menjadi ketegangan yang menyergap d**a. Kengerian itu masih menempel di udara seperti kabut dingin yang tak mau beranjak.
Potongan kepala manusia itu bergoyang perlahan di tanah lembap, darah segarnya merembes ke dedaunan basah, mengalir membentuk garis merah yang tak wajar di lantai hutan.
Rezvan tak mampu mengalihkan pandangannya.
Matanya melebar, napasnya tersendat, wajahnya pucat. Tubuhnya tetap terpaku—seolah ada kait tak terlihat yang menahan dirinya pada wajah yang sudah kehilangan setengah ciri manusianya.
GREB
Tangan kekar Rafandra menangkap bahu Rezvan yang mulai limbung. Cengkeramannya kuat, stabil, seperti jangkar di tengah badai.
“Bergerak perlahan…” ucap Rafandra rendah namun tegas. “Fokus. Perhatikan sekelilingmu.”
Tidak ada getaran panik di suara itu—hanya disiplin seorang pria yang pernah hidup di medan konflik, terbiasa mengamati, menilai, dan bertahan.
Rezvan tetap membeku. Lututnya bergetar, mata kosongnya terpaku pada potongan kepala itu. Bau besi dari darah segar menusuk hidungnya, mengeringkan lidah dan tenggorokannya.
“Rezvan—kendalikan dirimu!” seru Rafandra sedikit lebih keras.
Nada itu tidak marah, namun cukup keras untuk memutus benang halus yang hampir menyeret Rezvan ke dalam jurang shock.
Rezvan terhuyung kecil, akhirnya menelan ludah.
“Itu… itu…” suaranya pecah. “M-manusia…”
“Dia sudah mati.”
Jawaban Rafandra datar. Matanya tidak pernah lepas dari kawanan babi hutan yang kini masih riuh, suaranya menggerung dan menggerutu sambil memperebutkan sesuatu di balik semak.
Nada Rafandra terdengar dingin—seolah realita kematian itu hanyalah laporan situasi yang harus diterima tanpa emosi. Tapi di balik ketenangan itu ada tarikan kecil pada rahangnya… tanda bahwa ia juga manusia, hanya saja melatih dirinya untuk tidak runtuh saat hidup dipertaruhkan.
Rezvan menatap Rafandra—wajahnya pucat, matanya gemetar—tak percaya pada ketegasan yang terdengar nyaris kejam itu. Namun di balik keterkejutannya, ada satu kesadaran pahit: tanpa ketenangan seperti itulah, mereka mungkin sudah mati sejak tadi.
“Kita masih hidup,” bisik Rafandra, suaranya rendah namun solid seperti batu karang. “Dan aku tidak mau mati karena babi.”
Ia menunduk sedikit, menilai jarak antara mereka dan kawanan hewan besar itu. “Kau lihat ukuran mereka… mustahil kita melawan tanpa senjata. Dan posisi kita—satu langkah salah, kita meluncur bebas ke jurang.”
“A-aku… aku… t-tidak bisa bergerak…” gumam Rezvan, napasnya terpotong, tubuhnya gemetar hebat seperti untaian daun yang diterpa angin kencang.
“Paksa dirimu—atau kau kutinggal.”
Rafandra menepuk bahunya, tegas tapi tidak kasar. Matanya menatap lurus ke dalam ketakutan Rezvan, mencoba menyalakan sedikit kendali dalam diri rekan yang hampir kehilangan pegangan.
“Kita harus menjauh. Atau berikutnya kita yang akan dicabik-cabik. Anggap saja kita beruntung—mereka lebih tertarik pada daging yang sudah ada sebagai hidangan… Kita masih punya kesempatan. Lari, kalau kau ingin tetap hidup.”
Ucapan itu menampar udara.
Rezvan menelan ludah, napasnya bergetar, lalu perlahan memaksa lututnya terkunci agar tidak runtuh.
Ia menarik napas panjang, mencoba menata ulang tubuhnya yang terasa seperti bukan miliknya.
Rafandra mengawasinya setiap detik. Mata veteran itu menilai kontur tanah, jarak dari tepian, dan jalur mundur yang paling aman. Setiap daun bergerak, setiap hembusan angin ia catat tanpa mengalihkan pandangan dari bahaya.
Angin dingin menggiring aroma tanah basah, darah, dan embun yang terus menetes dari dedaunan. Aroma itu menusuk, memaksa mereka sadar bahwa langkah mereka adalah perhitungan hidup atau mati.
Mereka mulai bergerak perlahan—pelan sekali—seolah tiap otot takut menimbulkan suara.
Dunia di bawah sana—lembah yang sebelumnya memukau mata dengan keindahan mentari dan kabut bergulung—kini berubah menjadi panggung neraka, tempat hukum alam berjalan tanpa belas kasihan.
Rafandra dan Rezvan menjauh dari tepi jurang, menjaga agar tanah tidak runtuh dan kaki tidak terpeleset. Nafas mereka tersengal, namun teratur mengikuti kendali Rafandra yang terus memandu tanpa suara.
Mereka akhirnya mencapai perlindungan semu di balik batang pohon raksasa—kulit kayunya lembap oleh embun, otot-otot pohon itu seperti dinding alam yang siap melindungi.
Namun ketenangan itu hanya tipuan.
Jantung mereka masih memukul keras.
Hutan masih memandang mereka dalam diam.
Dan kejutan demi kejutan masih menggantung di udara—seolah alam sengaja menguji batas kewarasan mereka.
Dari celah dedaunan, Rafandra mencondongkan tubuh sedikit, matanya menyipit. Lalu membeku.
Ia menahan napas. Pupilnya menyempit tajam.
Di lembah jauh di hadapannya…
Salah satu bus dari armada yang sama dengan rombongan mereka tampak ringsek, menancap miring di tanah berbatu. Bagian depannya remuk; kaca pecah, pintu terpelintir. Bus itu… yang seharusnya membawa anak-anak sekolah tempat Rezvan mengajar.
“Tidak… mungkin…” bisik Rafandra. Suaranya rendah, serak, seperti tenggorokannya menolak menerima kenyataan itu. “Apa… ini? Kenapa begini…?”
Rezvan mengikuti arah pandang Rafandra, keningnya berkerut. “Ada apa?”
Lalu mata Rezvan menemukan bus itu. Dan menemukan apa yang berserakan di sekitarnya.
Matanya langsung membesar.
HOEK!
Isi perutnya tumpah seketika. Suara muntahnya memecah udara di antara suara serangga dan angin lembah. Rezvan tersungkur, tubuhnya gemetar hebat, kedua tangannya mencengkeram tanah basah agar tidak jatuh terjerembab.
Namun pandangannya tak sengaja kembali tertarik oleh gerakan di bawah…
Burung-burung raksasa—berbulu kusam kecokelatan, dengan leher panjang dan paruh melengkung tajam—menerjang dan mematuk potongan tubuh manusia. Sayap mereka mengepak kuat, menimbulkan tiupan angin kasar yang mengangkat ranting dan dedaunan. Mereka berebut, saling serang, memekik nyaring sambil menelan daging dan potongan organ.
Rezvan memalingkan wajah, memaksa dirinya tak melihat. Namun ke mana pun ia memutar pandangan, gambarannya tetap sama—neraka yang terbuka, hidup, dan nyata.
Di sisi lain, Rafandra hanya berdiri terpaku. Dagunya mengeras. Rahangnya mengetat sampai ototnya tampak menonjol.
Ia menelan ludah perlahan—rasa mual menyentak perutnya, tapi ia menahannya dengan disiplin bertahun-tahun.
Geraman rendah terdengar dari balik semak; suara langkah hewan besar; kepakan sayap; suara daging dicabik. Segalanya berpadu seperti orkestra liar dari dunia yang tidak lagi mengenal manusia sebagai penguasa.
“Ini…” Rafandra menarik napas keras dan panjang, mencoba menahan hantaman syok yang menyambar jiwanya. “…pembantaian. Terlalu sadis…”
Pikirannya berputar—menganalisis, menolak, menerima, lalu menolak lagi. Nalarnya bergemuruh, terpukul oleh realita baru yang brutal dan tak masuk akal.
Tangannya yang mencengkeram batang pohon besar bergetar halus, namun tubuhnya tetap berdiri tegak—sekadar sisa disiplin seorang mantan prajurit elit yang berjuang melawan runtuhnya logika.
Di hutan purba itu, dunia seperti berubah peran.
Manusia bukan lagi pengamat.
Mereka—Rafandra dan Rezvan—hanyalah mangsa yang tersesat di tengah panggung yang penuh kematian dan pemangsa.
Rezvan gemetar hebat. Air mata mengalir tanpa henti di pipinya, membasahi kulit yang sudah pucat pasi.
“Aku… aku tidak sanggup… apa yang aku lihat… apa ini?!” suaranya pecah, terpotong antara mual dan ketakutan.
Tubuhnya bergetar bukan karena dingin, tapi karena ngeri yang menggigit sampai ke tulang.
Rafandra menoleh cepat. Tatapannya tajam namun letih—campuran kewaspadaan dan keinginan untuk menenangkan, meski hatinya sendiri dilanda guncangan yang sama.
‘’Bagaimana aku harus menenangkannya? Aku sendiri… masih berusaha bernapas,’’ gumamnya dalam hati.
Dada Rafandra naik turun, napasnya pendek-pendek, menahan gemetar yang mencoba menjalar sampai ke ujung jarinya.
“Tempat apa ini…?” batinnya berderak. “Pemandangan apa ini…? Aku sendiri tidak tahu apa yang harus kulakukan…”
“Akh…” suara Rezvan pecah tiba-tiba, parau dan penuh putus asa.
Ia jatuh bersimpuh di tanah lembap, kedua tangannya menutupi kepala seakan ingin menghapus seluruh kenyataan itu. Tubuhnya bergetar hebat, bahunya naik turun pada setiap serapan napas yang patah.
“Ini tidak benar… ini tidak benar…” ia merintih, suaranya pecah dan tersendat. “Bagaimana aku bisa terjebak di tempat seperti ini…”
Rafandra memaksakan dirinya tetap tegak. Ia menelan ludah yang terasa getir.
‘’Dia syok,’’ pikirnya cepat.
‘’Siapa pun akan begitu. Bahkan aku…’’
Gambaran-gambaran itu kembali menghantam pikirannya:
Bus-bus remuk.
Tubuh-tubuh berserakan.
Burung-burung raksasa berebut daging manusia.
Suara gigi merobek daging.
Darah yang memercik di tanah.
Ia menarik napas panjang, menahannya, lalu menghembuskan perlahan—cara simpel untuk menahan tubuh agar tidak roboh.
Lembah itu mencekam.
Angin membawa bau besi darah yang menusuk.
Di atas kepala, suara kepakan burung pemakan bangkai terdengar berat, kasar, seperti sayap-sayap yang mengoyak udara.
Dari kejauhan, langkah-langkah besar menggema—DUG… DUG… DUG—seperti sesuatu yang lebih besar sedang bergerak di antara pepohonan.
Setiap daun yang bergeser terdengar seperti ancaman.
Setiap ranting yang patah seolah mengisyaratkan sesuatu sedang mendekat.
Dunia di sekitar mereka terasa seperti mulut raksasa yang siap menelan siapa pun tanpa memberi kesempatan berteriak.
Dan di tengah semua itu, Rafandra dan Rezvan berdiri di tepi kewarasan—satu mencoba mempertahankan nyawanya dengan logika, satu lagi berjuang agar pikirannya tidak runtuh sepenuhnya.
—