Cherry mengantar Barry sampai ke rumah. Hari sudah petang, kumandang adzan dari surau dekat rumah Barry terdengar mengalun merdu.
Sebuah mobil dengan warna putih berkilau di hari yang redup, sorot jingga lampunya berpendaran menyapu wajah-wajah warga setempat yang berbondong-bondong hendak pergi ke surau dengan silih berganti.
Di area sini, tak banyak orang yang memiliki mobil. Hanya salah seorang pria yang biasa disebut pak Haji yang punya beberapa mobil terparkir di garasi rumahnya. Selain itu, hampir semuanya beraktivitas dengan sepeda motor.
Meski ada di Jakarta, tapi daerah tempat adalah sebuah kampung di pinggiran kota besar itu. Jadi, suasananya juga amat berbeda dengan di pusat kota sana. Di sini masih banyak pepohonan besar rindang dan juga hewan ternak yang dipelihara warga. Entah itu unggas atau mamalia.
Wajah-wajah yang mereka jumpai di jalan amatlah cerah, mereka pastilah baru saja mandi dan mengenakan pakaian terbaik untuk beribadah pada Sang Khalik.
Tapi, berbeda dengan keturunan mamalia satu ini. Kini dia baru saja turun dari mobil putih dengan tulisan jazz di belakangnya. Tampangnya tak segar seperti warga lain yang baru saja berwudhu. Muka Barry kusut bak baru dilepaskan dari lipatan.
Beberapa orang yang berjalan melewati mobil itu mencari tahu siapa gerangan yang baru turun dari mobil berukuran sedang itu.
"Si Barry?" bisik Ibunya Dini, ratu gosip di kampung ini.
Meski tengah memakai mukenah, nyatanya jiwa gosipnya tidak serta merta jadi lenyap. Para ibu memang kadang mengenakan mukenah sejak masih di rumah. Saat pulang pun mereka begitu. Baru ditanggalkan setelah kembali sampai di rumah masih-masing.
"Iya, Barry ya anak si Babeh!" Yang lain menimpali.
"Sama siapa itu dia?" Ibunya Dini masih lanjut.
"Tau, temennya kali!" jawab Ibu di sebelahnya.
"Tante girang?"
"Hus! Udah ayo buruan nanti ketinggalan sholat berjamaah!" ajak Ibu tadi.
Untungnya Ibu dan Bapaknya sudah tidak ada di rumah, jadi Barry setidaknya tak akan diwawancarai oleh keduanya.
"Tante mau mampir?" tanya Barry lemas, matanya sayu.
Cowok itu seperti kehilangan semangatnya. Apa yang dia inginkan, tak tercapai hari ini.
"Enggak deh, magrib gini. Nanti gangguin."
"Emh, iya deh."
"Tante pulang ya."
Barry mengangguk dan menutup pintu setelah sejak tadi berdiri saja di sana. Kemudian dia melambai saat Cherry mulai meninggalkannya.
Di Mushala, saat imam tengah melafalkan doa setelah sholat berjamaah. Para ibu bergosip di belakang, diketuai oleh Ibunya Dini yang sangat penting comel mulutnya.
Dia tahu ada Ibu Barry di sana. Alih-alih membuatnya tak enak, dia justru semakin semangat membicarakan apa yang baru saja dilihatnya.
"Tadi ya, kita lihat si Barry jalan sama cewek kaya!" ujar Ibu Dini yang memulai acara gibahnya.
"Ah masa sih?" seseorang jadi penasaran.
"Iya, nih tanya sama emaknya si Sobri. Tadi kita berdua liat dia dianter pulang pake mobil cakep!"
"Temen kuliahnya kali!"
Ibu Barry menahan diri, semua pembicaraan itu terdengar jelas olehnya. Dia ingin segera pulang tapi doa sang Imam masih berlangsung.
"Masa anak kuliahan udah punya mobil cakep begitu!" sahut Ibunya Dini.
"Ya kali aja dia anak orang kaya." Ibunya Sobri terus nencipratkan air ke dalam bara api yang mulai berkobar.
"Ah, tapi kan tadi kita lihat di dalam mobil itu, cewek cakep banget! Jangan-jangan itu Tante gatel yang suka main berondong!" Suara Ibu Dini meninggi.
"Ssstt! Ini Mushala! Jangan bergunjing di sini!" tegur salah satu bapak-bapak yang kepalanya menyembul sedikit dari tirai pembatas di dalam surau.
Ibu-ibu tadi sontak diam. Mereka pura-pura khusyu berdoa. Ibu Dini masih kasak-kusuk berbisik dengan Ibu Sobri yang duduk di sebelahnya.
Ibu Barry berusaha tetap diam. Kalaupun ada hal aneh, dia akan bertanya langsung pada putranya. Bukan pada saksi palsu yang menebak dan menerka secara subjektif semau mereka.
Akhirnya jamaah surau itu membubarkan diri. Ibu Barry berjalan cepat menyusul langkah sang suami yang ada di depannya.
"Beh! Babeh!"
"Apaan?" Bapak Barry berjalan gontai sambil menatap awan pekat yang menutupi bulan sabit di langit sana.
"Barry katanya balik diantar pake mobil lagi!"
"Lagi?" tanya suaminya.
"Iya."
"Emang kapan dia pernah diantar pake mobil?"
"Waktu dia balik bawa kue itu."
"Udah dah, jangan dipikirin. Barry kan kuliah di tempat orang kaya. Jadi temen-temennya udah pasti bermobil semua."
"Gitu ya, Beh?"
"Iyaa, kan Lu juga liat sendiri kampus Barry. Gede kan?"
"Iya, gede!"
"Nah, itu isinya orang kaya semua! Anak kita doang yang blangsak!"
"Lah Abang, Napa anak kita dimasukin ke tempat orang kaya si. Kan kasian dia blangsak sendirian."
"Yee, justru sengaja dia masuk situ. Biar dia pinter jadi orang sukses. Nanti pas kerja punya pangkat! Enggak blangsak kaya sekarang."
"Gitu ya, Beh."
"Ya iya! Kalau enggak, ngapain amat bela-belain jual tanah buat dia masuk kuliah?"
"Iyaa! Udah dah, jangan banyak pikiran! Doain aja anak kita jadi orang bener yang sukses. Kan elu juga yang seneng liat anak kerjanya enak."
"Iya deh Beh. Jadi biarin aja ya kagak usah ditanyain soal mobil itu?"
"Kagak usah! Lagian orang kampung sini aneh banget kaya kagak pernah liat mobil aja!"
"Iya juga ya, Beh."
*
"Bar, dah sholat lu?" Ibunya baru datang dari surau, bersama dengan sang bapak.
"Belom, Mak."
"Yah, ngapa belom? Sana sholat! Kagak baik nunda sholat."
"Nanti deh, Mak. Barry belom mandi."
"Ya mandi tinggal mandi!"
"Kagak ada shampo."
"Ya kagak udah sampoan!"
"Mana bisa gitu! Ya harus sampoan lah Mak! Kalau enggak keramas nanti enggak sah mandinya, kalau mandinya enggak sah, shalatnya jadi enggak sah juga."
Ibunya yang sibuk menutup gordyn jendela depan terbengong-bengong.
"Apa Lu kata? Emang elu habis ngapain kudu mandi basah segala?" selidik Ibunya.
Barry terkejut.
"Hah? Tadi Barry bilang apa Mak?"
"Elu habis ngapain? Hah?" Wanita itu memukul pundak Barry dengan sajadah yang sejak tadi tersampir di bahunya.
"Kagak ngapa-ngapain, Mak!"
"Terus kenapa pake mandi basah segala!?" Emaknya terus menyerang Barry.
"Ya mandi emang basah, Mak! Kalau enggak basah ya gimana!"
"Boong lu ya?!!"
"Kagak, Mak!"
"Plak! Plak!" Ibunya masih memukuli Barry, sekarang dengan telapak tangannya.
"Beneran Mak!"
"Awas lu ya kalau macem-macem!"
"Kagak Mak, Kagak!"erang Barry kesakitan.
"Udah ngapa, ribut aja! Sana siapin makanan!" Bapak Barry menengahi keributan itu.
"Ugh." Barry memegangi bahunya yang perih terkena gamparan sang Ibu.
"Awas lu ya kalau berbuat aneh-aneh!"
"Kagak, Mak! Astagfirullah." Barry nyebut.
Ibunya berlalu ke kamar, melepas mukenahnya dan menuju dapur untuk menyiapkan makan malam.