Twenty Four

1400 Words
Cherry benar-benar dilanda kebimbangan kini. Dia merasa bodoh karena terjebak di sini, dalam kenyamanannya saat berada di dekat pria yang lebih muda darinya itu. Penderitaan telah dia rasakan saat dirinya dengan tegas melepaskan Kefin meski kekasihnya itu bersungut-sungut memohon agar hubungan mereka tak kandas. Cherry tak memberikan alasan yang sebenarnya agar Kefin kelak akan menemukan penggantinya. Tidak terkubur dalam pedihnya ditinggal pergi untuk selamanya. Namun kini sepertinya Barry akan jadi the next Kefin yang mencintai Cherry tanpa ampun. Memberikan kehangatan yang sama sebagai seorang pria dewasa. "Aku harus gimana? Barry enggak boleh main perasaan. Dia boleh bersenang-senang denganku tapi enggak boleh pakai hati. Kalau tidak, lukanya mungkin akan lebih dalam daripada Kefin." Cherry masih berada di dalam mobilnya. Menyusuri malam di jalanan kampung ini membuatnya jadi merasakan sebuah ketakutan. Jalur lurus ini begitu gelap, pepohonan di sisi kanan dan kiri membuatnya merinding. "Apakah di sana nanti segelap dan sesepi ini?" Wanita itu menggigit bibirnya. Perlahan airmatanya meleleh hangat di pipi. Roda kendaraan membawanya keluar dari jalan kampung menuju jalan raya yang cukup ramai. "Aku enggak tahu kalau di Jakarta masih ada tempat sepi dan gelap kayak tadi." Dia kini tertawa meski airmatanya berlinangan mengaburkan pandangan. Pagi harinya, Giana gelisah menunggu Barry di depan kelas. Dia berniat memberitahu Barry, tentang hal yang menimpa dirinya. Setidaknya, dia harus memberitahu seseorang agar beban dan traumanya berkurang. Di rumah dia menyempatkan diri memoles wajahnya. Agar segalanya tampak normal. Lima belas menit Giana menunggu tapi Barry belum juga datang. Dia gelisah dan tak sabaran, menghentakkan kakinya berkali-kali dengan cepat. "Itu dia!" serunya saat dilihatnya Barry datang dengan wajah murung. "Barry!" Giana beranjak berdiri dari duduknya. Barry mendongak setelah sejak tadi terus saja menatap lantai. Melihat Giana, bibirnya yang kering kerontang itu mencoba tersenyum. Dia belum sarapan dan tak minum apa-apa sejak bangun tadi. Angin dalam perjalanan membuat semakin kering saja. "Barry!" Giana mendekatinya, meraih lengan kekasihnya itu. "Kamu udah baikan?" tanya Barry lesu. "Aku mau bicara sama kamu, Barry." "Giana maaf tapi aku benar-benar lagi enggak bisa cari uang." ucap Barry. "Bukan soal uang." "Bukan? Terus soal apa?" "Soal hal lain, tapi jangan ngobrol di sini." "Ini kelas udah mau mulai, Giana." "Sebentar aja, Barry." "Habis kelas ya? Oke?" Barry menyentuh kedua bahu Giana dan berkata seperti itu. "Tapi Bar!" Barry nyelonong masuk ke kelas. Saat itu, Giana menyadari bahwa Barry telah berubah. Dia tak biasanya cuek seperti itu. Biasanya Barry selalu panik setiap kali sesuatu terjadi pada Giana. Dia akan meluangkan waktu, bahkan akan meluangkan masa seumur hidupnya untuk diberikan pada Giana. Tapi, pagi ini perbedaan begitu terasa. Barry jadi seperti tak begitu peduli dan tak mau tahu apapun yang akan Giana katakan. 'Bar, kamu kenapa? Padahal yang akan aku bicarakan ke kamu ini adalah masalah besar yang enggak sanggup lagi aku tahan sendiri. Barry, kenapa kamu cuek sekarang? Kamu justru cuek saat aku butuh kamu.' Giana meremas jemarinya sendiri, merasa kacau. Barry berjalan gontai masuk ke kelas, tak menyadari tatapan nanar Giana yang masih mematung di luar sana. "Bar, gue kira bolos!" Shaka yang sudah sampai sejak tadi kini menghampiri Barry. "Biaya kuliah mahal! Jadi gue enggak bakalan bolos." "Ciye sok dewasa Lo! Hahaha!" "Brisik lah!" Barry agak berdebar karena sebentar lagi kelas Listening. Itu artinya dia akan bertemu lagi dengan Cherry. Setelah adegan dewasa kemarin, pasca keributan besar itu. Juga, usai sebuah penolakan sepihak itu. Sebenarnya dia enggan berhadapan dengan Cherry. Tapi, dia jadi merasa seperti pengecut kalau mengindar. Lagi pula dia hari ini akan bertemu Miss Cherry, bukan Tante Cherry yang kemarin baru saja berciuman mesra dengannya. Waktu sudah pukul delapan lewat sepuluh, tumben sekali Cherry terlambat. Kelas masih gaduh, Giana yang sejak tadi di luar kini sudah kembali ke kursinya. Menelungkup di meja, membenamkan wajahnya. Seorang dosen masuk ke kelas, membawa setumpuk lembaran kertas. "Miss Cherry hari ini berhalangan hadir. Kalian kerjakan saja tugas ini!" Dosen pria itu memberikan tumpukan kertas tadi kepada Rico untuk kemudian dibagikan ke teman-teman sekelasnya. "Miss Cherry enggak masuk?" Barry tertegun, apa gerangan yang membuatnya tidak masuk hari ini? Apakah, dirinya? 'Apa dia enggak masuk gara-gara gue ya?" Barry bergumam sendiri dengan suara pelan. Dia mengeluarkan ponsel layar retaknya, kemudian mengirim pesan pada Cherry. Tapi, dia offline. Barry coba menghubunginya tapi tetap sama. Nomor Cherry tidak aktif. Entah kenapa, rasa ingin tahu Barry mencuat. Dia bergegas lari ke ruangan dosen. Bertanya pada dosen yang piket hari ini. Tentang alasan Cherry tidak mengajar. "Oh, Miss Cherry sakit. Sudah ada tugas kan?" tanyanya. "Sudah, Pak. Kalau gitu, makasih ya Pak!" Barry tak bisa berpikir jernih, dia cepat-cepat pergi ke rumah Cherry dengan motor bututnya. "Kenapa sakit? Sakit apa? Apa karena aku? Dia sakit atau menghindari aku?" Barry bicara sendiri sepanjang perjalanan. Barry tiba-tiba teringat Giana yang tadi berseru memanggilnya saat dirinya meninggalkan kelas untuk mencari tahu tentang Cherry. "Argh, maaf Giana. Aku harus ketemu Tante Cherry." ucapnya pada angin. "Aku bahkan enggak paham dengan hatiku sendiri, tapi aku benar-benar amat menginginkan Tante Cherry. Aku bahkan secemas ini saat tahu dia sakit." Motor butut itu melaju dengan kecepatan tinggi, beruntung dia bisa menghindari sebuah angkot di depannya yang berhenti mendadak. Barry meliukkan motornya kemudian berpacu mendahului angkot yang kini sudah mulai berjalan lagi. "Angkot sialan, untung gue enggak nyusruk!" umpatnya. Sampai di area kompleks tempat rumah Cherry berada. Barry melambatkan laju motornya. Dia berhenti di depan gerbang rumah besar itu. Dan tak mendapati mobil Cherry di dalamnya. "Kok dia enggak ada di rumah?" Barry mendekat memastikan apakah mobil Cherry benar-benar tidak ada atau tertutup oleh pepohonan hias yang cukup rindang dan tinggi di sekitar pagar. "Enggak ada! Itu ada di pak satpam, aku tanya dulu. Pak! Pak!" "Eh, kamu!" "Iya, Pak. Saya! Tante Cherry ada pak?" "Oh, enggak ada! Lagi ke rumah sakit!" "Ke rumah sakit? Ngapain pak? Siapa yang sakit?" Satpam itu baru hendak membuka mulutnya, tapi dia ingat kalau Cherry berpesan tidak boleh memberitahu siapapun kalau dia sedang check up ke rumah sakit. "Emh, katanya temannya sakit." dustanya. "Teman? Teman yang mana ya, Pak?" "Wah, saya ya tidak tahu. La wong teman Non Cherry kan banyak!" "Gitu ya, Pak." "Iya, gitu." "Emh, iya deh. Makasih ya, Pak." "Iya! Enggak mau masuk dulu?" "Enggak deh, Pak." "Ya sudah." Barry kembali naik ke motornya. Terdiam dan seolah enggan pergi dari sana. "Kira-kira siapa yang sakit ya?" gumamnya. Sekali lagi melihat ke arah rumah besar itu. "Kok gue ngerasa aneh ya? Cemas banget." * Giana kesal karena Barry terkesan tak peduli padanya. Kekasihnya itu sudah tak seperti dulu lagi dan dia tak tahu apa yang merubahnya menjadi sangat cuek dan acuh. "Aku enggak boleh kehilangan dia. Kalau sampai aku kehilangan dia, maka hidup aku benar-benar akan hancur." lirihnya. "Aku harus bikin Barry balik kaya dulu lagi, perhatian dan sayang sama aku." tekad Giana. Dia masih belum menyadari bahwa Barry ada hubungan spesial dengan sang dosen. Fakta itu memang terlalu mencengangkan sehingga hampir seperti tidak ada kemungkinan seperti itu. Sama sekali tak terpikirkan oleh Giana. "Pasti ada cewek lain, tapi siapa? Selama ini dia cuma tergila-gila ke aku. Siapa cewek yang bikin dia sampai cuek ke aku? Aku harus cari tahu. Barry harus tetep jadi milik aku agar aku bisa lanjutin hidup aku yang berantakan ini." Satu keputusan sudah diambil oleh cewek yang kehormatannya sudah porak-poranda akibat ulah Vano yang maniak seks itu. Kehancuran Giana sudah di depan mata, trauma mendalam dan rasa tak percaya diri sudah melahap semangat hidupnya. Karena itu, dia merasa membutuhkan Barry agar sanggup bertahan dan tidak berusaha mengakhiri hidupnya sendiri. "Kapan nih kita jalan lagi sama Miss Cherry?" saat itu kantin tak begitu ramai. Giana yang sejak tadi duduk seorang diri menoleh mencari asal suara yang dia kenal itu. Suara Shaka. Dia tengah makan bersama Rico, tak jauh dari tempat Giana duduk termanggu di depan s**u coklat panasnya. "Iya ya, padahal seru nongkrong sama dia." sahut Rico. "Iya, serulah orang dibayarin makan haha." kelakar Shaka. Giana menguping pembicaraan mereka. "Mereka lagi bahas soal yang di kafe itu ya? Iya, aku lupa kalau aku pernah liat Barry dan Miss Cherry di kafe bareng Shaka dan Rico." ucap Giana mengingat saat itu. "Apa mereka sedekat itu?" rasa penasaran mulai muncul. "Apa ada sesuatu yang aku enggak tahu?" Ya, tentu saja begitu. Selama ini Giana sibuk menikmati daging segar hasil tangkapan Barry. Dia tak tahu betapa Barry yang tumbuh dewasa itu amat mendambakan kehangatan seorang wanita. Bahkan Giana sendiri terlalu sibuk berurusan dengan Vano tanpa tahu bahwa pria yang lebih tua darinya itu ternyata hanyalah seorang pria b******k.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD