"Woy Bar, kemarin kemana?" Shaka meninju lengan Barry.
"Gue cabut, ada urusan dikit."
"Gue udah ngeri aja, gue kira elo kena ciduk kepsek!"
"Weh, diajak ngomong malah diem aja!"
Barry nampak agak murung, entah kenapa Cherry selalu saja mengusik pikirannya. Dia takut sekali sesuatu yang buruk terjadi padanya. Pasalnya, dari sekian banyak para Tante yang dia dekati, hanya Cherry yang demikian menarik perhatiannya. Dia sungguh takut kalau ada sesuatu bersemi di hatinya.
Bel masuk berbunyi, para siswa sudah tertib duduk di kursinya. Hari ini, jadwal ujian akhir bagi para kelas tiga. Kelulusan sudah di depan mata. Setelah ini Barry akan jadi cowok dewasa seutuhnya dari segi usia.
"Apa kalau gue udah kuliah, gue jadi bukan bocil lagi? Jadi, setara sama Tante Cherry?" Gumamnya sambil mengisi bulatan dengan warna hitam dari ujung pensilnya.
"Ya ampun, mikir apa sih gue!" Barry tiba-tiba kaget dia bergumam seperti itu.
Siang harinya, Barry yang biasa nongkrong itu mendadak aneh. Dia ngeloyor pulang dengan wajah datar. Persis bujang lapuk pengangguran yang banyak pikiran.
Dia sampai dirumahnya mengendarai motor bebek warisan sang bapak. Kemudian duduk di bale kayu depan rumahnya. Menghela nafas. Tempat santai yang terbuat dari kayu itu persis ada dibawah pohon rindang di depan rumahnya. Biasa dipakai bapaknya untuk tidur siang atau menikmati secangkir kopi di pagi dan sore hari.
Seperti kali ini, bapaknya itu terlihat datang mendekat membawa sebuah bantal. Dia duduk di sebelah Barry. Memperhatikan mimik wajah sang anak dengan seksama.
"Udah balik, Lu?" Sapa Bapaknya sambil merebahkan tubuhnya di atas bale kayu. Semilir angin menerpa keduanya. Dedaunan kering berjatuhan di pelataran.
"Udah."
Kemudian mereka saling diam. Barry melepaskan seragamnya. Terlihat dirinya yang mengenakan t-shirt putih polos. Cowok itu mulai membuka sepatu dan kaus kakinya. Kemudian termenung lagi.
"Bar, belakang Babeh heran sama elu! Elu lagi kagak bikin onar kan?"
Barry berdecak.
"Bar!"
"Enggak, Beh! Enggak!"
Mereka diam lagi. Seorang tetangga lewat di depan mereka dan menyapa bapak Barry. Kemudian tersisa mereka berdua lagi.
"Dari dulu, Babeh emang orang susah. Tapi, Babeh Alhamdulillah enggak pernah bikin ulah yang aneh-aneh. Nyari rejeki juga yang halal aja. Apalagi sejak Babeh punya elu. Ya, walaupun hidup elu enggak kaya hidup temen-temen elu yang kaya. Tapi, setidaknya elu enggak kelaparan, elu bisa tidur enggak kehujanan. Ya, Babeh sih enggak ada maksud apa-apa ngomong gini tuh. Cuma, biar elu bersyukur aja sama hidup keluarga kita."
Barry terdiam, angin meniup rambutnya yang lurus dan lembut. Rahangnya bergerak-gerak saat dia menggigiti bibir dan menelan ludah berkali-kali.
Entah apa maksud bapaknya bicara seperti itu. Yang jelas Barry merasa tersindir telak. Dia bertanya-tanya apakah pria paruh baya itu mengetahui kelakuan anaknya di luar sana selama ini?
"Lu denger Babeh kan, Bar?"
"Denger, Beh! Barry capek ah! Mau masuk dulu!"
"Iya dah, makan dulu sana kalau mau tidur."
"Iye."
Barry berjalan dengan langkah lunglai, setelah lulus nanti dia harus bisa mencari sumber uang yang halal. Dia harus bekerja. Jadi, hubungannya dengan Gimana akan baik-baik saja meskipun dia tak lagi memacari para Tante.
Ya, dia merasa harus segera mendapatkan pekerjaan layak dan bergaji lumayan. Rasa bersalahnya juga sudah terlalu banyak, selalu saja dia abaikan itu. Tapi, tak bisa dia pungkiri bahwa rasa itu tetap mengganjal selama ini.
"Udah balik Lu? Tumben! Makan dulu sana! Emak udah masak sambel terong kesukaan Babeh lu!"
Barry menatap Ibunya dengan sebal.
"Dih!"
"Ah, Emak! Kan itu kesukaan Babeh bukan kesukaan Barry!" Tukasnya.
"Lah, kan emak kagak tau kalau elu bakal balik hari gini, Bar!"
"Dah ah, Barry mau tidur!"
"Emak ceplokin telor deh ya?"
"Enggak ah!"
"Masak mie goreng?"
"Enggak!" Barry ngeloyor masuk ke kamarnya.
"Hem, itu anak kelakuannya persis babehnya waktu muda dulu. Kepalanya batu, atinya keras!" gerutu Ibu Barry.
Barry melemparkan seragam dan tasnya, dia sudah bertelanjang kaki sejak di luar tadi. Sepatunya teronggok di bawah pohon besar itu.
Merebahkan diri di tempat tidur, sama sekali tidak membuatnya nyaman. Cherry terus saja mengusiknya. Ada perasaan khawatir di dalam benaknya. Melihat Cherry diperlakukan kasar oleh mantan kekasihnya membuat Barry tak senang.
"Ah, pasti gue cuma kasihan sama Tante Cherry. Iya! Pasti karena kasihan!"
"Soalnya, dia itu cantik dan kaya raya. Tapi, malah dapet pacar yang kasar dan enggak sayang sama dia kaya gitu. Kalau dia sayang mana mungkin tega berbuat kasar begitu. Tante Cherry itu layak dapetin cowok yang sepadan dan sayang sama dia."
"Eh, tunggu!" Barry kembali bangkit dan duduk di tepi tempat tidur.
"Berarti, Tante Cherry itu belum menikah dong ya? Atau, cowok kemarin itu mantan suaminya? Argh! Kenapa juga gue jadi musingin Tante Cherry!" Barry meraup wajahnya dan kembali berbaring dengan wajah menghadap ke langit-langit kamar.
*
Hari terus berlalu, kehidupan masih berlanjut. Hingga moment kelulusan datang, membawa Barry dan teman seangkatannya merubah status dari pelajar SMA ke mahasiswa atau manusia dewasa.
Bapak Barry bersikeras ingin Barry kuliah. Dia tak ingin sang anak menjadi orang bodoh seperti dirinya yang tidak kompeten dalam bidang apapun.
Barry duduk di sofa, bapak dan ibunya tengah menasehatinya. Tentang betapa Barry harus kuliah seperti kawan yang lain. Seperti Shaka dan Rico, juga Giana.
"Elu harus kuliah, Bar! Ijasah SMA itu enggak bisa dipake kerja!" Ujar sang Ibu yang memegang sendok sayur. Dia tengah memasak di dapur tapi sang suami memintanya datang ke ruang tamu untuk bicara pada Barry.
"Tapi, Mak. Barry ini mau kerja. Kuliah itu ngabisin duit doang! Barry kasihan sama Babeh dan Emak."
"Kasian kenapa sih, Bar! Babeh sama Emak ada tabungan kok buat masukin elu kuliah. Mentang-mentang Babeh diem aja, jangan dikira Babeh enggak pegang duit!"
"Tapi, Beh."
"Bar, udah elu nurut aja sama Babeh elu! Mendingan sekarang tanya temen-temen elu, pada mau kuliah dimana. Besok, elu ikutan mereka daftar deh tuh!" Sela sang Ibu.
"Barry enggak bisa bantah keinginan Babeh sama Emak kan?"
"Ini buat elu juga, Bar. Babeh sama Emak mau elu jadi orang sukses."
"Kuliah itu mahal, Beh."
"Udah, tugas elu belajar yang bener. Kuliah yang bener. Soal biaya mah nanti juga ada aja."
"Hem, yaudah kalau emang Babeh sama Emak ngotot mau Barry kuliah ya oke. Besok Barry mulai daftar deh."
Pembicaraan hari itu selesai dengan satu keputusan baik untuk masa depan Barry. Bagaimanapun, seorang pria setidaknya mengenyam pendidikan tinggi agar kelak dapat pekerjaan dan penghasilan yang baik untuk menghidupi anak dan istri yang akan dia miliki.