Nine

1425 Words
Siang harinya, Barry dan geng keluar dari sekolah untuk mengunjungi sebuah minimarket yang letaknya tak jauh dari bangunan sekolah mereka. Ini jam istirahat kedua, pukul dua belas siang. Biasanya para siswa makan siang di kantin dan beramai-ramai menunaikan ibadah sholat Zuhur di mushala yang terdapat di area sekolah. Tapi, tiga badung itu justru naik pagar samping kemudian meloncat ke gang kecil yang menjadi jalan ke arah sebuah sekolah dasar negeri tepat di belakang gedung SMA mereka. Barry lebih dulu naik, diikuti ketiga rekan bandelnya. Kini mereka tengah berjalan hendak menyebrang karena minimarket yang mereka tuju berada di sisi berbeda. Mereka menyetop sebuah mobil sebelum akhirnya menginjakkan kaki di pelataran minimarket. "Beli berapa bungkus, Bar?" tanya Shaka yang mulai menghitung uang dari Barry. Ada lima puluh ribuan, dua lembar sepuluh ribuan dan satu lembar dua ribuan kertas. "Secukupnya aja, Ric! Sekalian beliin gue minum dingin." "Lu masuk aja deh!" ajak Shaka. "Bar, elo ngapain bengong! Buruan masuk!" Barry sejak tadi memperhatikan sebuah mobil yang terparkir di depan minimarket itu. Jenis dan warna yang dia kenali, Barry membaca plat nomornya tapi dia tak begitu yakin. Tak lama kemudian dia mendengar suara ribut-ribut dari sisi kanan mobil itu. Barry yang tengah berdiri di sisi sebaliknya mendadak mengenali suara itu. "Bar!" panggil Shaka yang sudah memegang handel pintu. "Duluan!" Barry mengibaskan tangannya ke arah Shaka dan Rico. Cowok SMA itu kemudian berjalan memutari bagian belakang mobil tadi, menerka ada ribut-ribut apa di sisi balik kemudi. Benar saja tebakannya, suara yang dia dengar adalah suara Cherry. Seorang pria nampak menahannya untuk masuk ke dalam mobil. Pria dengan kemeja dan celana bahan serta sepatu pantofel hitam itu terlihat mencengkram lengan Cherry dengan sangat keras. Cherry terus berusaha melepaskan diri dari jerat pria kasar itu, tapi dia terlalu lemah dan usahanya seperti sia-sia belaka. Barry berdiri tertegun di belakang mobil sambil tetap mempelajari situasi yang terjadi di depannya itu. "Lepasin aku, Fin!" pekik Cherry yang mulai lelah, rambutnya yang biasanya rapi nampak kusut karena badannya terus terguncang karena berusaha masuk ke dalam mobil sementara sang pria terus menahannya. "Enggak! Aku enggak akan lepasin kamu sampai kamu mau balikan sama aku!" tegas pria yang disebut Fin itu dengan nada mengancam. "Jangan konyol kamu, Fin!" "Aku ini sayang sama kamu, Cher!" "Maaf Fin, tapi aku enggak!" balas Cherry. "Cherry!!!" bentak pria itu tanpa rasa belas kasian. Semakin ditonton, suasana justru jadi semakin buruk. Barry tak bisa lagi menahan diri saat pria itu tiba-tiba saja menampar pipi Cherry dengan tangannya yang berotot. "Plak!!!" suara nyaring itu terdengar. Sang juru parkir yang biasa nongkrong depan minimarket terkejut dan menoleh ke asal suara. Tapi dia bingung harus bagaimana. Cherry menangis dan meronta, satu tangan pria itu masih tetap mencengkeram lengan Cherry. "Lepasin aku!" Cherry setengah berteriak. Dia baru saja akan berteriak meminta tolong saat Barry datang. Cowok berseragam SMA itu mendorong sang pria hingga mundur beberapa langkah dan cengkraman tangannya lepas dari Cherry. Pria itu nampak sangat marah dan tak suka ada pria muda asing yang ikut campur dalam masalahnya. "Enggak usah ikut campur ya! Bocah!" Pria itu melangkah lagi mendekati Cherry. "Kalau gue ikut campur emang kenapa?" tantang Barry. Dia benar-benar tak bisa membiarkan seseorang berlaku kasar pada wanita, apalagi wanita itu sangat dia kenal dengan baik. "Sialan, nantangin Lo bocah!?" Pria muda itu melotot. "Malu dong, kasar banget sama cewek!" "Enggak usah deh bocah ingusan kaya elo nasehatin gue segala!" "Kenapa?" tantang Barry. Cherry yang takut terjadi sesuatu pada Barry, berusaha melerai mereka. "Barry, Barry! Sudah!" Cherry menarik Barry mundur dari panggung pertikaian antara dua pria itu. Pria yang dipanggil Fin tadi menaikan sebelah alisnya, nampak heran karena ternyata Cherry kenal dengan bocah ingusan yang menantangnya duel itu. "Kamu kenal dia?" selidiknya dengan rasa curiga. "Fin, sudahlah. Kamu pergi aja!" pinta Cherry dengan nada memohon. "Aku tanya, kamu kenal dia??? Dia siapa??" bentak Fin. "Kefin, tolong kamu pergi dari sini." Cherry terus memohon karena sudah sangat malu saat beberapa orang mulai menonton keributan itu. "Oh, enggak mau jawab? Dia siapa? Seingat aku kamu enggak ada kerabat yang tinggal di sekitar sini." "Fin, tolong." Cherry menghela nafas. "Benar-benar mencurigakan! Apa dia ini brondong simpanan kamu, Cher?" Pertanyaan Kefin menohok. Barry terdiam. Cherry menatap Fin dengan pandangan benci yang tak terbendung. "Aku tanya, apa dia simpanan kamu? Sekarang kamu jadi suka main-main sama bocah ingusan!!?! Hah!?! Jawab Cherry!" Sentak Kefin dengan urat leher yang bermunculan akibat emosi tak terkendali saat bicara. "Bukan urusan kamu!" Tak disangka, alih-alih menyangkal. Cherry justru membentak balik Kefin. Kefin tertawa, berdecih dan meludah. Matanya masih menyorot penuh emosi menatap Barry yang berdiri dengan tangan terkepal di samping Cherry. "Oh, jadi dia alasan kamu ninggalin aku?" Kefin terkekeh, dia merasa ini adalah berita paling gila yang pernah dia dengar selama hidupnya. Cherry benar-benar takut Barry terkena masalah. Dia tak mau Barry berkelahi dengan Pria dewasa di tempat umum seperti ini. Kalau sudah begitu, selanjutnya pasti akan berurusan dengan pihak berwajib. Dia tak ingin Barry terkena kasus semacam itu hanya karena membela dirinya. Jadi, dia pikir sebaiknya dia akui saja semua tuduhan Kefin yang sangat konyol itu. "Iya, kamu benar Fin. Jadi tolong sebaiknya kamu pergi!" lirih Cherry dengan suara ditekan agar Kefin tau betapa Cherry ingin segera dia enyah dari depan hidungnya. "Cherry!" Kefin merasa frustasi, dia tertawa getir dan meremas rambutnya sendiri. Benar-benar lucu baginya, kenyataan bahwa Cherry menjalin hubungan dengan bicahy ingusan. "Cherry, kamu bercanda kan?" tanya Kefin masih tak mau percaya dengan apa yang dia dengar. "Kefin, maaf tapi aku harus pergi! Ayo Barry!"Cherry menarik lengan Barry. Cherry meminta Barry masuk ke dalam mobil. Sementara dia kembali duduk di balik kemudi. Kefin hanya menyaksikan mereka berdua pergi bersama deru mobil yang dikendarai Cherry. Kefin membuka mulutnya, tak bisa berkata-kata lagi. Dia ternganga sementara Cherry dan Barry semakin menjauh. "Sialan! Bocah Prik!!" umpatnya. Kemudian Kefin pergi dengan motornya, pelataran parkir minimarket itu kembali sepi. Shaka dan Rico yang cukup lama berada di dalam karena berdebat soal minuman kaleng itu akhirnya keluar dari dalam minimarket. Mereka berdua masih meributkan tanggal kadaluarsa di kemasan kaleng minuman bersoda. Sejurus kemudian Rico menyadari bahwa tak ada Barry di depan minimarket. "Lah, Barry mana?" "Itu Bar..ry.. Lah kemana dia? Kok enggak ada Rico?" Shaka menunjuk kursi yang terletak di depan minimarket. Tempat Barry biasa menunggu mereka belanja. "Yah, elo ngapain tanya ke gue!? Kan gue juga baru keluar!" Rico yang bertugas menenteng kresek belanjaan itu ikutan bingung kemana perginya Barry. "Iya ya! Lah dia kemana ya? Jangan-jangan!"ucap Shaka. "Apa?" "Jangan-jangan ditangkap pak satpam!" "Gawat!" seru Rico. "Udah buru balik ke sekolah!" ajak Shaka. "Balik ke rumah aja deh, daripada kita ikutan kena semprot kepsek gegara ketauan manjat pager!" "Gitu ya?" "Ya iya!" "Terus Barry gimana?" "Udahlah! Lebih baik ketangkep satu daripada ketangkep semua!" "Gitu ya?" "Iya udah buruan cabut!" * "Tante, Tante Cherry enggak apa-apa?" Barry menatap sedih ke arah wanita yang tengah mengemudikan mobilnya itu. Cherry mencoba tersenyum dan menoleh. "Enggak apa-apa kok." Mereka menemukan minimarket lain, Cherry kemudian berhenti dan memarkirkan mobilnya di depan. Mereka saling diam. Hanya terdengar suara deru kendaraan lain yang melintas di jalan. "Maafin Tante ya, Barry." Cherry mencoba tersenyum lagi meski wajahnya pucat dengan mata sayu. "Maaf kenapa Tante?" "Soal tadi." "Barry malah cemas kalau Tante kenapa-kenapa. Cowok itu kasar banget. Pasti itu alasan Tante mutusin dia ya?" Cherry menggeleng. "Tadinya dia enggak kasar begitu, cuma.." "Cuma apa Tante?" "Ah, enggak kok. Enggak apa-apa." Cherry menghela nafas. Tengkuknya berkeringat meski di dalam mobil suhu udara cukup rendah. "Sebentarya, Tante." Barry bergegas keluar dan masuk ke minimarket. Cowok berseragam SMA itu membeli air mineral dingin dan satu buah tisu kering. Dia kembali dengan menenteng dua barang tersebut. Duduk tanpa bicara sementara tangannya sibuk membuka tutup botol air mineral. "Ini Tante,minum dulu!" Barry mengulurkan botol itu pada Cherry. "Makasih ya, Barry." Barry mengangguk, dia sangat cemas pada Cherry. Sungguh dia tak suka kalau wanita diperlakukan kasar seperti itu. Bapakya tidak pernah main tangan kepada sang Ibu, meski terkadang dia kesal pada tingkah Barry dan kerap memukul Barry. Tapi, tak pernah sekalipun dia menyakiti apalagi memukul ibunya. "Ini Tante, Tante keringatan." Barry mengulurkan tisu. Cherry terkekeh pelan. Baginya, Barry ini anak baik dan polos sekali. "Kayaknya Tante harus ke dokter. Ehm, ini Tante lebam." Barry menyentuh pipinya sendiri sambil berkata begitu pada Cherry. "Tante baik-baik aja kok." "Tapi, pipi Tante merah banget!" "Enggak apa-apa nanti di kompres di rumah." Barry menghela nafas. "Kalau saja Tante tidak melarang, pasti sudah habis dia kena pukul tinju Barry." "Hei, ingat Barry ini sudah kelas tiga. Jangan cari masalah." "Emh, cari masalahnya nanti kalau udah lulus ya, Tan?" Mereka berdua tertawa bersama. "Kamu ini, ada-ada aja!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD