Eight

1080 Words
"Barry udah sarapan?" Barry menggeleng pelan, entah kenapa ekspresi malu-malu dia hari ini seperti bukan buatan. "Kebetulan, makan pagi sama Tante aja ya. Udah siap tuh di meja makan." "Eh, enggak usah Tante nanti Barry ngrepotin Tante!" "Ngrepotin apa sih, enggak kok Barry. Sebentar Tante pakai pakaian dulu ya!" "He-em." Barry terus menghindari tatapan Cherry. Entah kenapa Tante satu ini terasa begitu berbeda dengan targetnya yang lain. Selain masih muda, Cherry juga begitu hangat dan tidak seperti wanita kesepian yang nakal dan memacari berondong. 'Dia kayaknya terlalu muda untuk gue panggil Tante!" Barry memperhatikan Cherry yang mulai menaiki anak tangga satu persatu. "Tapi, Tante Cherry cenderung lebih perhatian. Entah kenapa dia selalu mau tau kondisi hidup aku. Tidak seperti Tante lain yang tak mau tau kehidupan pribadiku, dan hanya peduli dengan kisah kesepiannya yang memuakkan." Dia bicara sendiri sambil menyapu seluruh ruangan dengan matanya. "Ah, tapi kenapa juga gue jadi baper! Kan tujuan gue sama aja! Jadi, Tante Cherry ya sama aja dengan Tante lain. Ngapain amat gue pusing!" Cowok dengan celana ketat itu berusaha menghalau perasaan aneh yang datang di benaknya. Cherry kemudian datang lagi. Hari ini dia mengenakan celana panjang dan kemeja berwarna ungu muda. Rambut panjangnya dikuncir ke atas membuatnya menjadi terlihat sangat menawan. Persis tokoh dalam webtoon yang sering Barry baca. Jari-jari Cherry panjang dan mungil, begitu cantik dan bersih. Aroma parfumnya juga sampai di hidung Barry yang kini terpukau menatapnya. Saat Cherry semakin dekat, Barry tersadar dan mengalihkan pandangannya. 'Ya ampun, kok ada ya manusia secakep itu! Apa Tante ini model atau artis ya? Cakepnya tuh kaya fantasi!' pikir Barry dengan jantung agak berdebar lebih kencang daripada biasanya. "Kenapa, Barry?" Barry gelagapa karena tertangkap basah tengah memperhatikan Cherry dari kepala hingga ujung kaki. "Eh, enggak apa-apa Tante." "Kenapa hayo? Tante cantik ya?" "Hah?" "Hihi." Cherry tersenyum hingga matanya menyipit. "Tante, suka banget bikin Barry salah tingkah." "Tante enggak cantik ya?" "Ha? Eh! Ya cantik, Tante! Cantik banget malah! Hehe." Cherry menoel ujung cuping hidung Barry dengan telunjuknya. "Ih, kamu gemesin banget!" goda Cherry. Tubuh Barry hampir saja merosot kebawah. Seluruh organ dalam tubuhnya seperti mencelos dan jatuh berserakan. Benar-benar sentuhan kecil yang membuat dirinya ser-seran. 'Aduh, Tante Cherry rupanya tipe yang satset juga ya! Aduh, dia enggak bakal ajakin gue tidur bareng kan?' pikiran Barry melanglang buana, padahal Cherry hanya iseng menggoda Barry. Barry benar-benar cemas akan dirinya. Kenapa dia merasa ada ketertarikan pada dirinya terhadap Cherry. Si Tante target yang nantinya akan tergantikan dengan target baru. 'Ya ampun, apa gue udah mulai sakit jiwa ya karena terlalu sering jalan sama tante-tante? Apa gue udah enggak normal? Kenapa gue selalu aja gini setiap Deket Tante Cherry?' Barry memegangi d4danya yang bergejolak dalam ritme yang benar-benar tak biasa. "Barry, ayo ikut Tante!" ajak Cherry. "Ha? Ikut kemana Tante?" Cherry cekikikan. "Ayo, ikut aja!" Cherry meraih lengan Barry. Untuk pertama kalinya Barry ingin sekali merasakan yang namanya pingsan. Dia benar-benar tidak tahan diperlakukan begini oleh Cherry. Tungkai kakinya agak gemetar. Cherry mengajaknya makan kudapan pagi bersama. Barry nampak menikmati sajian yang disiapkan oleh wanita yang terus saja menyebutnya Aden. Barry melirik Cherry, cara makan wanita cantik itu benar-benar anggun. Barry berpikir apakah makanan enak ini terasa biasa saja baginya? Normalnya orang akan makan lahap jika bertemu kudapan lezat saat akan mengawali hari ini. Seperti halnya Barry yang menumpuk semua lauk di atas nasinya, kemudian melahapnya dengan cepat. Dia termasuk jarang makan enak, uang sebanyak apapun yang dia hasilkan rasanya sayang sekali jika harus dipakai untuk makan di restoran mewah, dia lebih suka memberikan semuanya pada Giana agar sang pujaan hatinya itu bahagia dan semakin mencintainya. "Makanannya enak, Tante!" Barry malu-malu karena ternyata sudah nambah dua kali. "Enak ya? Nambah dong!" Cherry menyeka sudut bibirnya dengan hati-hati sekali menggunakan ujung tisu yang dia lipat. "Udah kok, Tan. Hehehe." Barry melongok ke piring Cherry. Makanannya masih terlihat utuh. Dia hanya makan satu atau dua sendok saja sepertinya. "Barry boleh kok sering-sering makan di sini. Walaupun Tante lagi enggak ada di rumah. Barry dateng aja, di rumah ada si Mbak." "Ah Tante, paling bisa bikin Barry ngerasa enggak enak." "Lho. Tante ini tulus lho, Bar!" "Hehe, iya Tante." "Nah, ini uang untuk Barry bayar ujian ya. Cukup?" Barry melotot karena uang yang diberikan Cherry jumlahnya mungkin sekitar tiga kali lipat dari yang dia terima waktu itu. 'Ya ampun, kok gue jadi merasa bersalah gini ya?' Barry tiba-tiba saja enggan menerimanya. "Barry!" "I-iya, Tante." "Ini ambil. Tante enggak mau Barry sampai enggak bisa ujian!" "Makasih, Tante. Barry sebenarnya enggak enak. Nanti kalau Barry udah ada uang, Barry ganti." "Enggak usah, Barry. Tante minta ganti pakai waktu aja ya!" "Wa-waktu?" Barry menelan ludahnya. Pikirannya bergejolak liar, berbagai bayangan kemudian datang berputar di kepala Barry. 'Jangan-jangan Tante Cherry minta ditemenin tidur!' pikir Barry ngeri. "Iya, waktu. Barry mau kan ngasih waktu untuk Tante!?" "Ma-mau kok Tante." Mau tidak mau ya harus mau karena Barry harus meraup lebih banyak lembaran merah lagi. "Nanti Tante kabarin ya!" "Iya, Tante." 'Enggak Barry! Dia enggak mungkin ajakin elo tidur bareng! Enggak mungkin!' Barry mengibaskan tangannya di depan wajah. Tapimeskipun begitu, dia agak lega karena ternyata Cherry sama saja dengan Tante lain. Kalau begitu, semua akan jadi aman terkendali. Tidak akan ada hal spesial apapun antara dirinya dan sang Tante. Kelak Tante baru akan segera muncul di depannya. Saat Cherry sudah jenuh pada Barry dan tak lagi sudi memberikan Barry uang. "Ya sudah, Barry berangkat aja. Nanti telat." "Iya, Tante. Sekali lagi makasih ya Tante!" Cherry mengulurkan tangannya dan menyentuh pipi Barry dengan sengaja. Barry terperanjat. Dia nampak kikuk dan panik. Kemudian pamit pergi dengan terburu-buru. Meninggalkan Cherry yang tertawa lepas karena senang berhasil mengerjai Barry. "Mbak, liat itu Barry wkwkwk. Dia lari tunggang langgang, Mbak." "Si Non ini ada-ada aja, kasian dia." Si Mbak yang datang membawakan sepatu untuk Cherry ikut tertawa karena tingkah Barry yang jenaka. "Dia polos banget, Mbak. Aku jadi suka godain dia kalau dia kaya gitu."Cherry terus saja tertawa. "Saya perhatiin, baru kali ini Non Cherry ketawa sampai lepas begitu." Cherry tersenyum setelah tawanya usai. Meraih sepatu di lantai dan memakaikannya sambil duduk. "Saya ikut seneng, kalau Non Cherry bisa ceria lagi seperti waktu ibu masih ada." "Iya ya, Bi. Kalau dipikir-pikir, udah lama enggak ada hal lucu yang bisa bikin aku ketawa." "Non juga udah enggak pernah dekat dengan siapapun sejak..." "Sudah Mbak, jangan dibahas ya! Aku pergi dulu, nanti siang aku makan diluar jadi Mbak enggak usah masak. Istirahat aja." Cherry memotong perkataan sang asisten yang seperti akan mulai membahas sesuatu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD