Barry termenung sendiri di kamarnya. Giana belum juga mau membaca pesan darinya pasca tragedi kotoran meong tadi. Malam ini, gelisahnya seperti tak bertepi.
Dia mencintai Giana dengan setulus hatinya. Apakah salahnya kalau saat ini belum bisa mengabulkan semua inginnya?
Saat itu, dia melihat-lihat layar ponselnya. Jarinya berhenti saat terpampang nama Cherry di sana. Menghela nafas, dia kemudian mengirim pesan iseng pada wanita yang dia panggil Tante itu. Padahal dari segi usia, Cherry mungkin lebih cocok jika jadi kakaknya, bukan tantenya.
"Tante, ini Barry." Awalnya ragu, tapi pesan singkat ini tetap terkirim pada Cherry di seberang sana.
Sudah pukul sebelas malam, barangkali Cherry sudah tidur saat ini. Barry menghela nafas. Apa yang bisa dia lakukan sampai matanya mau terpejam?
"Tante Cherry pasti udah tidur. Iyalah pasti. Orang-orang kaya yang enggak punya kekhawatiran akan apapun pasti lebih mudah tidur dan nyenyak." gumamnya seorang diri.
"Kalau dipikir-pikir, kenapa ya ada orang yang beruntung terlahir kaya. Tapi, ada juga yang kaya gue gini. Blangsak! Mau berusaha kaya apapun tetep aja blangsak! k***********n, kelas menengah ke bawah, ke bawahnya lagi terus sampe mentok di dasar." tambahkan mengoceh tak tentu arah.
Saat dia sudah mulai mencoba memejamkan mata, ponselnya bergetar.
"Pasti notifikasi spam dari platform." tebak Barry.
Penasaran, dia kemudian membuka matanya. Siapa tahu itu dari sang kekasih yang sudah mulai luluh hatinya. Yang sudah sadar bahwa tak mudah mencari uang dalam waktu singkat seperti itu.
Barry meraih ponsel yang dia letakkan di bawah bantal.
"Tante Cherry!" serunya kemudian terlonjak dan duduk dengan spontan.
"Iya, Barry," balas Cherry diikuti dengan emoticon tersenyum.
Barry tersenyum tipis. Baginya, Ini tandanya Cherry sudah memakan umpan yang dia lemparkan. Benar-benar tepat sasaran dan sesuai harapan.
"Sudah gue duga!" Barry menjentikkan jari.
Dia mulai berbalas pesan ringan dengan Cherry yang katanya insomnia. Membahas hal-hal santai saja, karena ini masih dalam lajur perkenalan.
Tak lupa, Barry mengeluh tentang hidupnya yang sulit. Dia juga bercerita bahwa setiap hari gak mampu membeli makanan di kantin karena ekonomi keluarganya tengah benar-benar berada di kerak bumi.
Tentu saja dia berbohong. Keluarga Barry mungkin bukan orang berada. Tapi kalau sekedar membiayai putra tunggalnya itu, mereka masih sanggup.
*
Malam berikutnya, mereka tak lagi berbalas pesan. Barry menghubungi Cherry dengan dalih terkena insomnia juga. Kesempatan pertama bercakap-cakap dengan Cherry itu dia gunakan dengan baik.
Dia berkeluh kesah kalau besok mungkin tidak bisa sekolah karena pihak sekolah memintanya melunasi pembayaran untuk ujian akhir.
Cherry kemudian memintanya masuk sekolah, apalagi Barry sudah kelas tiga dan harus lulus dengan baik agar dapat kuliah nantinya.
"Begini saja, Barry besok pagi-pagi sekali ke rumah Tante aja ya. Tante kebetulan lagi pegang uang cash."
"Ah, enggak Tante! Yang kemarin aja belum dibayar. Barry ngomong gini ke Tante cuma karena enggak ada temen curhat aja Tante. Soalnya kalau curhat ke temen, udah pasti jadi bahan bully."
"Iya Barry, tante paham maksud kamu kok. Tapi, Tante enggak bisa biarin Barry kesusahan begitu."
"Makasih Tante, tapi Barry bener-bener enggak bisa kalau harus pake uang Tante lagi. Yang kemarin aja belum dibayar."
"Jangan dipikirkan, Barry. Ya udah pokoknya besok Barry datang ke rumah ya. Kalau sampai Barry enggak datang, Tante enggak mau kenal Barry lagi."
"Yah kok gitu Tante?!"
"Dah ya! Bye!"
Panggilan terputus.
Barry terdiam sejenak, kemudian melompat-lompat di atas tempat tidur hingga ranjang usang itu hampir rubuh karena menanggung kelakuan Barry.
"Yeah! Yes! Yes! Akhirnya! Misi mengumpulkan dollar sudah dimulai! Giana, kamu lihat ya sayang. Aku akan sanggup beliin apapun yang kamu mau! Hahahaha!" teriaknya di tengah malam.
"Hahahaha! Yes! Berhasil!" Suaranya menggema ke seluruh penjuru rumah.
"Hahahaha! Keren banget elo Bar!"
Tiba-tiba saja ada sandal karet karpil melayang melintasi gordyn kamar Barry. Benda berat itu menghantam dahi Barry dengan sempurna.
"Plak!!"
"Adah!! Aduh! Apaan ini!" Barry memungut sandal milik Babehnya yang jatuh di atas kasur.
"Ya Ampun Babeh!" jeritnya.
Babehnya datang menyingkap gordyn, kemudian membetulkan sarungnya yang melorot.
"Babeh apaan dah!" protes Barry yang menahan sakit.
"Elu apa-apaan sih Bar! Lu liat noh jam berapa!"
"Maap deh, Beh! Ah, lagian Babeh enggak bisa liat anak seneng dikit!"
"Ngomong lagi Luh! gue timpuk pake sendal satu lagi!"
"Iya, Beh kagak! Ampun dah ampun!"
"Siniin itu sendal Babeh!"
"Iya." Barry turun dari ranjang dan menyerahkannya pada Babehnya.
"Dasar! Enggak bisa biarin babeh sama emak lagi asik! Ribut aja enggak siang enggak malem!" omelnya.
"Emang babeh sama emak lagi ngapain?" goda Barry.
"Het ini bocah mau tau aja urusan orang tua!"
"Iya ampun Beh, jangan lempar sendal lagi. Bekas Minggu kemarin aja masih sakit ini! Tega amat si!"
"Tidur kagak lu!" Babehnya mengancam dengan sandal lagi. Senjata andalannya.
"Iyaaaa! Iyaaaa!" Barry kabur ke atas tempat tidur.
*
Keesokan harinya, pukul enam sang Ibu baru saja akan membangunkan putra tercintanya. Tapi, saat dia membuka gordyn Barry sudah tidak ada di kamar.
"Lah, tumben banget! Apa lagi mandi?" Tanya Ibunya yang baru saja kembali dari warung sayur.
Tapi di kamar mandi tidak ada siapa-siapa. Motor Barry juga tidak ada di teras depan. Pertanda anak Badung itu sudah berangkat ke sekolah.
Memang benar, Barry sudah berangkat. Tapi bukan ke sekolah, melainkan ke rumah Cherry. Target empuknya saat ini.
Cowok berseragam SMA itu berdiri di depan gerbang rumah mewah Cherry. Dia melongok kemudian menekan bel. Tak lama, bapak penjaga yang dulu itu muncul dan membukakan pintu.
"Eh, Adek yang waktu itu!"
"Hehe, iya Pak. Ini saya!"
"Masuk, Dek!"
"Makasih, Pak." Barry menuntun motor bebeknya masuk ke gerbang.
Pak satpam memperhatikan motor bebek butut yang Barry bawa. Itu motor yang dipakai waktu Babehnya masih bekerja dulu. Diwariskan untuk Barry. Sementara Matic yang kemarin-kemarin dipakai adalah milik Giana yang dibelikan oleh Barry dari uang haram.
"Kenapa, Pak?"
"Oh, enggak apa-apa! Antik!"
"Bukan antik, Pak. Tapi tua!" ralat Barry.
"Ah, si Adek bisa aja!"
"Tante Cherry ada, Pak?"
"Ada, masuk aja."
"Iya, makasih Pak!"
Barry melangkah masuk ke rumah megah yang sangat sepi itu. Diucapkannya salam layaknya sedang bertamu. Suaranya yang sudah baligh itu menggema di ruangan besar tempat dia berdiri sekarang.
"Assalamualaikum!"
"Assalamualaikum!"
"Wa'alaikumsalam!" sahut seseorang yang berlari kecil menyambut tamunya.
Seorang asisten yang berpakaian terlalu rapi yang dulu pernah Barry temui.
"Oh, Aden! Duduk Den, sudah ditunggu sama Nona Cherry."
"Barry, Bi! Bukan Aden!"
"Iya, Aden Barry!"
"Ya udah terserah Bibi aja, deh!"
"Duduk, Den! Nanti Non Cherry lagi mandi."
"Iya, makasih Bi."
Barry duduk di sofa, kemudian mengecek ponselnya. Ingin tahu apakah Giana sudah membaca pesannya atau belum. Ternyata belum.
"Cewek kalau ngambek gini amat ya! Bikin gue stress!" gerutunya.
Tak lama, terdengar suara langkah kaki di keheningan. Suara yang terus berulang itu sepertinya berasal dari tangga yang ujung bawahnya tepat di depan Barry duduk.
Tak lama kemudian, muncul sepasang tungkai indah yang terlihat masih agak basah. Barry menelan ludah demi melihat lagi kaki jenjang yang berkilau itu.
"Barry, sudah lama nunggu?" Cherry menyapa Barry.
Cowok itu menaikan dagunya. Kemudian dia agak gemetar karena dilihatnya Cherry masih mengenakan bath robes, benda yang berasal dari spesies handuk-handukkan dengan bentuk menyerupai kimono. Jadi, tidak susah-susah melingkarkan handuk ke tubuh, cukup memakainya seperti memakai pakaian saja.
Barry refleks menutup matanya. Kemudian menunduk dalam-dalam. Cherry terkekeh melihat tingkah jenaka Barry.
"Barry kenapa? Tante kan enggak lagi bug1l." Cherry tak bisa menahan diri, dia terus saja tertawa. Anak muda di depannya ini sungguh lugu dan lucu.
"Barry enggak apa-apa buka mata nih, Tante?"
"Iya,enggak apa-apa! Memangnya kenapa sih? Wkwkwk!" Cherry kemudian duduk di sebelah Barry, menaikkan satu kakinya ke kaki yang lain hingga keduanya bertumpu.
"Hehe, Barry malu Tante!" Barry sudah membuka matanya tapi masih menunduk malu.