Lima lembar uang kertas itu tak membuat Giana puas. Entah apa maunya gadis berambut lurus yang wajahnya seperti barbie itu. Dia hanya seorang gadis muda dari keluarga biasa, tapi keinginan dan angannya terlampau tinggi. Hal itu seringkali menyulitkan Barry yang sudah terlanjur jatuh terlalu dalam pada pesona Giana. Dia berkata bahwa uang itu tak akan cukup untuk berobat bapaknya.
“Bapaknya mau berobat apa mau kawin lagi sih? Masa duit segitu enggakn cukup!”
Berada dalam situasi ini juga tak pernah Barry duga. Selama ini, dia hanyalah Barry. Bukan Barry yang berlaku aneh, hanya seorang Barry yang gemar bolos sekolah untuk sekedar merokok di pojok kantin. Berubahnya keadaan hanya karena keinginan tak terbatas Giana, hingga kini belum Barry sesali.
Dia tak pernah merasa amat nyaman saat mendapatkan banyak uang atau barang mewah dari para wanita yang usianya jauh lebih dewasa darinya itu. Bahkan dia jarang sekali menikmati hasil buruannya. Yang dia tahu, hanyalah rasa puas tatkala Giana tersenyum karena pemberiannya atau memekik gembira karena keinginnanya bisa dikabulkan Barry dengan mudah.
Dia tahu ini tak sehat, semuanya dalam kondisi tak wajar. Hubungannya dengan Giana yang masih bertahan hanya karena Barry yang menuruti semua titah Giana. Juga, tentang perilaku menyimpangnya menggoda para tante demi lembar-lembar cuan. Semua itu benar-benar abnormal.
Meskipun begitu, Barry cukup pemilih dalam menandai targetnya. Dia tak pernah berurusan dengan para wanita yang usianya terlalu jauh, apalagi yang hampir seusia ibunya. Tidak pernah. Karena Barry merasa geli dan kikuk. Setidaknya, dia masih berpendapat bahwa dirinya cukup normal untuk melanjutkan hidup.
“Aku akan berhenti melakukan hal konyol ini, tepat sesaat setelah aku dapat kerjaan dan bisa hidup dengan mapan.” Tekadnya pada suatu ketika.
Saat ini Barry sendirian di depan sebuah ruangan berisi beragam buku bacaan.
“Barry! Bar! Mana katanya mau bungkusin gudang tembakau!” seru Shaka dari kejauhan saat dilihatnya Barry yang tengah duduk di depan perpustakaan. Dia baru saja memberikan uang tadi pada Giana, tapi gadis itu kemudian berdalih bahwa dia harus membaca buku. Barry tahu dia merajuk karena uangnya terlalu sedikit.
“Berisik!” Barry tiba-tiba berbaring di bangku panjang yang terbuat dari kayu itu.
“Iya nih, tadi elo sendiri yang sesumbar mau bawain markas rokok!”
“Bisa diem enggak!? Ini perpus woy bangsadh!” umpat Barry.
“Perpus kan di dalem! Alasan aja lu, Bar!” tukas Rico.
“Tau nih!” timpal Shaka.
Gue lagi bete!” Barry menghela nafas.
“Kenapa sih? Ribut lagi sama Giana?”
Barry tak menjawab.
“Bar, gue bilang elo itu terlalu baik ke dia. Masa semua yang dia butuhin, harus banget elo siapin. Yang bener aja, Bar! Elo aja masih minta duit ke ortu, sama kaya gue dan Shaka.” Rico berkacak pinggang sambil mempelajari raut wajah Barry, jelas sekali dia badmood karena ribut dengan sang kekasih.
“Bener tuh! Mendingan elo putusin aja dia, cari yang lain. Elo kan ganteng!” saat Shaka bicara seperti ini, tiba-tiba saja Giana keluar dan mendengar ucapannya. Gadis dengan rok pendek di atas lutut itu berdecih kemudian pergi dengan menyibakkan rambut terlebih dahulu.
“Waduh, Sak! Giana tuh!” Rico menunjuk ke arah perginya Giana.
Barry yang sejak tadi berbaring sontak berdiri dan melihat ke arah yang ditunjuk oleh Rico tadi. Giana sudah berjarak dengannya, Barry serta merta berlari mengejar Giana. Dia benar-benar takut kehilangan Giana.
“Giana! Tunggu aku! Giana! Tunggu!” Barry berlari terseok-seok demi mengejar pujaan hatinya itu. Dia melintasi lapangan depan perpustakaan, kemudian menginjak rerumputan, semak belukar gundukan pasir, mendaki gunung melewati lembah.
Barry berhasil langkah Giana yang tungkai kakinya lebih pendek darinya. Dia meraih lengan Giana, gadis itu berbalik dengan wajah kesal, tangannya mendorong tubuh Barry. Syukurlah dia tak terjungkal ke belakang, kalau tidak dia bisa menduduki kotoran meong yang masih basah dan harum itu.
“Giana, kamu kenapa sih?” Wajah Barry terbakar matahari yang tepat berada di atas kepalanya.
“Aku bilang juga apa! Kamu tuh enggak boleh temenan lagi sama mereka!” teriak Giana yang kesal karena perkataan Shaka tadi.
Giana kembali berjalan menjauhi Barry.
“Giana, tunggu dulu. Dengerin aku dulu!”
“Enggak!” Giana menampik tangan Barry yang berusaha meraih lengannya lagi.
“Tadi ‘kan Shaka yang bilang gitu, bukan aku!”
“Tapi lama-lama kamu akan terpengaruh!”
“Enggak kok, Sayang.” Barry melemahkan syahwatnya, maksudnya melemahkan suaranya.
Barry benar-benar tak ingin kehilangan Giana. Selamanya, baginya adalah Giana cinta pertama dan terakhirnya. Padahal usianya saja baru delapan belas tahun. Bagaimana bisa dia berpikir bahwa cintanya akan berhenti dan berlabuh pada sosok gadis yang kini bermata merah karena marah itu.
“Mereka itu bawa pengaruh buruk lho buat kamu! Coba kamu pikirin baik-baik, mereka tiap hari minta kamu bayarin makanan mereka, belum lagi mereka minta dibeliin rokok dan minuman. Sadar dong, Bar! Mereka itu udah manfaatin kamu!”
“Sayang, mereka enggak gitu kok! Aku kenal mereka dari kelas satu. Kita gantian kok beli makan atau minuman. Mereka kan temen aku, Sayang. Kalau kamu sibuk shopping sama temen kamu, aku cuma bisa nongkrong sama mereka.”
“Oh, kamu jadi bahas itu sekarang? Memangnya kenapa kalau aku shopping? Kamu nyesel udah kasih aku uang? Iya?”
“Bukan gitu, Sayang. Selama ini kan kamu suka shopping tapi aku selalu enggak boleh ikut. Kata kamu mau Qtime sama temen-temen kamu kan?”
Giana terdiam.
“Nah, coba sekarang aku tanya. Kenapa kamu selalu larang aku ikut tiap kali kamu mau beli sesuatu?”
Giana menelan ludah, lidahnya agak kelu. Tak bisa spontan menjawab karena dia harus menyusun kebohongan terlebih dahulu.
“Sayang? Kamu denger aku kan?”
“Kamu apa sih!? Tanya itu terus! Kan kamu udah tahu kalau aku mau quality time dan have fun sama temen aku.” Dengus Giana.
“Itu terus alasan kamu, Sayang.”
“Itu bukan alasan! Itu kenyataan!”
“Ya kan bisa sekali-kali kamu ajak aku kalau mau cari sesuatu. Biar aku enggak kesepian terus, biar aku tahu rasanya pacaran dan jalan sama kamu kaya apa. Yang bener-bener jalan, bukan Cuma ketemu sebentar di kafe karena aku bawain kamu uang atau barang!”
“Kita sering kok jalan bareng, kemarin jalan bareng kan!?”
“Itu beda, itu kita mastiin rumah tante Cherry. Apa begitu yang disebut pacaran?” Barry lost kontrol.
“Kamu kok bentak aku??” Giana nanar menatap Barry.
“Astaga, maafin aku sayang. Aku cuma..” Barry kehabisan kata-kata.
“Cuma apa? Aku benci sama kamu, Barry!” Giana pergi setelah mendorong tubuh Barry dengan kekuatan penuh.
Barry yang kepanasan dan belum makan sejak pagi kini tersentak ke belakang, tubuhnya oleng dan kehilangan keseimbangan karena cairan dalam tubuhnya pasti menguap sejak tadi, dia terjungkal dan tangannya sigap menahan. Sejurus kemudian tangannya bertumpu pada sesuatu yang lembek dan berbau menyengat. Beberapa lalat terbang panik karena tempatnya berpesta terusik.
“Argh!! Argh!!!! Sialan!!!!” umpatnya setelah melihat telapaknya kotor dan berbau busuk.
Giana menoleh sebentar kemudian melanjutkan langkahnya setelah menyibakkan rambut panjangnya yang tergerai tertiup angin berhembus.
“Lah Sak, si Barry kejengkang noh!” Rico menyipitkan matanya karena silau.
“Waduh! Ayo samperin!” mereka berlarian menghampiri Barry.
“Bar, elu ngapain turu?”
“Turu! Turu! Pala lu!” dengus Barry.
“Lu ngapain rebahan disitu sih?” timpal Shaka.
“Bisa diem enggak? Apa mau gue sumpel mulut lu pake ini?”
“Idih, tangan lu megang apaan?” Rico mundur selangkah sambil menutup cuping hidungnya dengan dasi. Tumben sekali Rico pakai dasi.
“Iyeawk!!! Tai ya Bar!” Shaka mundur dua langkah.
“Aduh sial banget gue hari ini!” Barry menyapukan tangannya ke atas rerumputan.
Cowok dengan rambut lurus itu mengulurkan tangannya, pertanda dia meminta bantuan pada salah satu diantara dua rekan yang dia sebut kunyuk itu.
“Bantuin gue!” titah Barry.
“Dih! Enggak dulu deh!” rico kabur karena jijik.
“Woy Rico! Malah ngibrit! Dasar anak Dakjal!” umpat Shaka.
Dia mengumpat bukan karena sikap Rico yang tak setia kawan, tapi dia sebal karena sekarang hanya dia satu-satunya yang tersisa di depan Barry.
“Buruan bantuin gue! Atau gue enggak bagi rokok lagi!”
“Iya dah! Gue bantuin tapi gini aja!” Shaka mengangkat kepala Barry.
“Woy! Dasar anak set4an!” Barry kesal bukan main karena jemari Shaka mengaduk-aduk wajah tampannya.
“So-sorry Bar. Kalau gitu elu bangun sendiri aja deh!”
“Sialan!”
Mereka berdua ke toilet dan membersihkan kotoran di tangan Barry. Shaka menunggu di pintu dengan wajah jijik.
“Endus dulu Bar, masih kecium enggak baunya!” ujarnya sambil meringis.
“Bawel lu!”
“Endus dulu!”
“Endus-endus! Muke lu kaya wedus!”
“Dih, malah sewot! Kan gue ngomong bener, itu kan tangan kanan nanti elu pake makan. Kalau masih ada aroma-aroma kebangsatan kan gimana, Bar.”
“Nih, coba endus!” barry menjejalkan tangannya ke mulut Shaka.
“Sialan! Barry wedus!”
“Mampos!” barry tergelak dan keluar dari toilet.
“Sialan, huek! Bau banget sialan!!” Shaka sibuk berkumur.