“Assalamu’alaikum!” Barry masuk ke dalam rumah setelah berterimakasih pada penjaga keamanan rumah Cherry yang mengantarkan motor Giana ke rumahnya.
“Wa’alaikumsalam!” sebuah suara berat menjawabnya dari dalam.
Barry masuk dengan kaki pincang.
“Lah, kaki lu kenapa?” tanya suara tadi.
Barry menghentikan langkahnya kemudian tertawa.
“Lah ditanya bener-bener malah ngikik kaya kuda, Luh!”
“Hehe, anu Beh!”
“Anu apa?”
“Barry tadi Cuma pura-pura pincang.”
“Bisa-bisanya lu pura-pura pincang!”
“Biasalah, drama!”
“Tugas sekolah?”
“Iya dong Beh, apalagi coba!”
“Iya dah, hebat juga akting Lu, kebawa sampe ke rumah.”
Barry nyengir, menyepelehkan rasa bersalah yang tiba-tiba datang dalam benaknya.
‘Masa bodoh, ngapain merasa bersalah sama tante Cherry. Emang gue ngapain? Ngerampok? Kan kaga! Kalaupun para tante itu kasih gue duit kan mereka ikhlas.’ Batinnya.
“Mak, ini!” dia menyerahkan brownis tadi ke emaknya yang sedang asyik mengganti saluran televisi.
“Apaan nih?”
“Kuenya orang kaya!” jawab Barry asal.
“Buset, lalaguan! Timbang ginian doang mah emak juga bisa beli!”
“Yaelah, Mak. Kaga bisa becandaan dikit!” barry menoel hidung emaknya.
“Heh, tangan lu bau!”
“Haha, bau apaan?”
“Au amat bau kandang sapi!”
“Haha tadi barry habis garuk bok0ng, Mak!”
“Najis, Luh!” emaknya melemparkan remote televisi ke kepala Barry.
“Pletak!!”
“Buset, Mak! Sakit!”
“Lagian jorok bener dah! Udah sana lu mandi!”
“Beres, Mak!”
Usai mandi, Barry bergabung dengan Babehnya yang masih ngopi tak jauh dari tempat emaknya duduk. Babehnya melirik sang anak dengan tatapan aneh.
“Apa sih, Beh? Anak Babeh ganteng ya? Iya tau!”
“Eh, Bar! Gue peratiin elu belakangan ini jarang minta duit buat bayaran.”
“Kan bayaran sebulan sekali, ya masa Barry minta tiap hari!”
“Biasanya ada aja bayaran saban hari, kadang iuran buat guru perpisahan, kadang bakal uang kas, jengukin guru lahiran, kondangan di guru yang kawin.”
“Ya sekarang lagi enggak ada guru kawin, Beh.”
Babehnya menatap Barry dengan curiga.
“Apaan sih, Beh!”
“Elu kagak bikin aneh-aneh kan?”
“Bikin aneh-aneh apaan sih, Beh?”
“Lu kaga jual narkoba kan?”
“Astagfirullah Babeh dah kalau ngomong asal aje! Nih Beh dengerin, yang namanya narkoba kaya apa aja Barry kagak tau, Beh! Boro mau dagang gituan, kagak dah! Tenang aja!”
“Bener nih?”
“Lah buset, masa sama anak sendiri kagak percaya!”
“Iya dah! Babeh Cuma curiga aje lu sekarang jarang minta duit selain duit jajan.”
“Sengaja, biar tabungan babeh nambah. Terus warisan Barry jadi banyak!”
“Nih anak emang kudu digeplak pake sendal karpil gue nih!” babehnya meraih sendal dan mengacungkan ke arah Barry.
“Ampun, Beh!” barry tergelak dan pergi ke kamarnya menghindari sendal merk carvil bapaknya yang lumayan berat dan pasti sakit kalau kena pelipis.
“Kurang ajar! Nyumpahin gue mati, Lu!”
“Haha, kagak Beh! Becanda doang!” barry menutup gordyn kamarnya.
Di dalam kamar, Barry membaringkan tubuhnya yang lelah. Bagian siku dan lututnya agak sakit. Dia melihat luka bekas jatuh tadi. Obat yang dioles oleh Cherry sudah hilang terkena air saat dia mandi tadi. Bibirnya secara alami tersenyum tatkala jemarinya menyentuh bekas luka yang tak seberapa itu. Melintas wajah Cherry yang begitu cantik bak para wanita yang biasa ada di televisi. Tubuhnya juga seperti manekin di mall, ramping dengan tungkai kaki panjang.
Ponselnya berdering, sebuah panggilan masuk dari Giana. Barry selalu saja bahagia saat melihat nama Giana di layar ponsel pintarnya. Kekasih yang amat dia sayangi, hingga dia rela berbuat hal kotor sekalipun.
“Sayang, gimana tadi?” suara dari seberang sana itu bahkan tak bertanya bagaimana kondisi Barry pasca jatuh dari motor.
“Lancar, Sayang.”
“Serius? Terus kamu dapet apa?”
“Dapet brownis!”
“Kok brownis?! Jangan bercanda deh, Barry!”
“Iya, Yang. Memang dapet sekotak brownis.”
“Kenapa?”
“Kok kenapa?”
“Iya kenapa cuma dapet itu?”
“Ya ampun, Na. Kan baru hari pertama. Kamu sabar dong, Sayang.”
“Hems, masalahnya Bapak mau berobat besok.”
“Iya, besok aku pastiin uangnya udah ada ya, Yang ya! Kamu bobo ya, udah malem.”
“Bener ya?”
“Iya, Sayang.”
Panggilan selesai, Barry meletakkan ponselnya. Dia kini teringat kalau tadi dia belum sempat meminta nomor telepon Cherry. Dia meremas rambutnya sendiri, sebal kenapa bisa melupakkan hal yang sangat penting.
“Si anjir, kenapa gue lupa save nomor dia sih! Argh! Besok gimana caranya gue bisa dapet uang buat calon mertua gue ya!?” Barry menggaruk kepalanya dengan kasar.
Sementara di lain tempat di waktu yang sama, Giani berbincang dengan seorang pria dewasa sesaat setelah memutus panggilannya dengan Barry. Mereka nampak terlalu akrab untuk disebut teman biasa.
*
Pagi harinya, Barry menyergap tubuh Giana dan merangkulnya dengan cara cool ala Barry.
“Pagi, Cantiknya Barry!” sapanya riang.
“Pagi, Sayang.” Giana menyuguhkan senyum terbaiknya untuk sang kekasih. Tak lain tak bukan adalah agar Barry semakin suka padanya. Barry tak akan sanggup mengabaikan senyum indah bak berlian itu. Dia teramat menyukai Giana sejak pertama kali bertemu saat kelas satu dulu.
“Udah bawa uangnya?” tanya Giana tak sabaran.
“Belum, Na. Masih pagi. Sabar ya!”
“Yah, kapan dong?” rengeknya seperti biasa.
“Iya nanti pasti aku kasih uang kok.”
“Ya tapi kapan?”
“Ya sabar dulu, nanti siang ya!”
Senyum Giana memudar, senyumnya memang seharga beberapa lembar uang. Sekali saja inginnya tak dituruti, dia langsung melipat senyumnya mengubahnya menjadi raut sebal.
Barry hanya bisa menghela nafas, padahal baru kemarin Giana menerima barang mewah darinya. Sebuah ponsel bermerk mewah keluaran terbaru yang harganya belasan juta, padahal dia sendiri hanya pakai android jadul yang layarnya sudah retak di sana sini.
‘Gini amat ya jatuh cinta.’ Batin Barry nelangsa tapi merasa selalu saja bahagia setiap kali senyum Giana mekar di hadapannya.
Mereka berjalan bersama menuju kelas, Shaka dan Rico mengekor seperti biasa. Waktu kedatangan mereka seolah sudah diatur, selalu saja bersamaan meski sama sekali tak pernah janjian.
“Yah, dua kunyuk dateng!” gumam Barry.
Giana hanya tertawa kecil mendengar Barry mengeluh soal Shaka dan Rico. Giana tahu, dua beban itu selalu saja menempel pada Barry setiap hari, kecuali hari libur nasional.
“Sampai kapan kamu mau temenan sama beban kaya mereka, Barry?” bisik Giana.
“Sampai gue tahu kalau mereka itu takkan terganti.” Jawab Barry dengan wajah serius.
“Bener-bener tak terganti, si paling membebani.” Tukas Giana tak suka.
Barry tertawa.
“Ngetawain apa?” Rico menyela ditengah keduanya.
“Iya, seru amat!” Shaka berjalan disamping Giana.
“Ada deh!” jawab Giana ketus sebelum berjalan mendahului mereka bertiga.
Barry membenarkan letak tasnya, kemudian berbalik arah.
“Bar, madol?” tanya Rico.
Barry mengedikkan bahu.
“Madol woy! Kuylah!” Shaka mengedipkan mata ke arah Rico.
“Bar, nongki dimana? Warung si mpok lagi?”
“Lu pada masuk kelas aja! Gue ada urusan!”
“Lah, urusan apa? Kita bantuin!” usul Shaka.
“Enggak bakal deh elo pada bantuin gue! Sana masuk kelas, absenin gue!”
“Gitu ya?”
“Sana!”
“Iya deh, tapi nanti siang rokok sebungkus ya!” seru Rico.
“Yaelah, jangankan rokok sebungkus! Gudang tembakau gue bungkusin buat elo!”
“a***y! Gue demen nih!”
“Gue enggak!” sahut Barry.
“Hahha! Ayolah Sak!” ajak Rico.
Barry kembali ke parkiran, niatnya untuk masuk kelas jadi urung karena harus segera menyediakkan sejumlah uang untuk diberikan pada Giana sang pujaan hati.