Cherry yang mulai fokus mengemudi.
“Apa? Kamu barusan bilang apa?” tanya Cherry.
“Hah? Ehm, anu. Mobilnya cakep banget!”
“Oh, hihi kirain tante yang cakep!” celetuk Cherry menggoda Barry.
“Hah?” Barry kini merinding karena keusilan si tante cantik itu.
Barry menelan ludah, saat melirik ke sepasang tungkai kaki Cherry yang begitu putih dan mulus. Pria muda itu menyeka keringat dingin di keningnya. Kenapa dia jadi deg-degan begini?
“Kenapa? Sakit ya? Keringatan tuh?”
“I-iya, sakit tante.”
“Sabar ya! Tuh rumah tante udah deket. Eh, atau mau ke rumah sakit?”
“Hah? Enggak usah tante! Ke rumah tante aja!”
“Ehm, iya deh. Lagipula, tante ini kan dokter!”
“Oh, jadi tante ini dokter?” Barry sumringah, dokter pasti duitnya banyak.
“Iya, dokter cinta.” Cherry terkikik kecil.
“Eh?” barry tercengang.
Cherry tertawa renyah, garing, kriuk-kriuk seperti keripik pisang buatan emak Barry.
“Ah, tante bisa aja!” wajah Barry memerah.
‘Tar dulu, ini kenapa jadi dia yang godain gue sih!? Astaga! Kenapa gue yang jadi deg-degan gini?!’ batin Barry bingung.
‘Kebalik Barry! Kebalik ini! Buset dah! Kenapa jadi gue yang ser-seran! Kenapa d**a gue deg-degan gini sih! Enggak beres nih! Enggak sehat!’
“Barry? Ayo! Kok malah bengong?”
Cherry sudah membuka pintu mobil sejak tadi, tapi Barry sibuk sendiri dengan kebingunganya sejak tadi.
“Eh, iya tante.”
Cherry membantu Barry turun dari mobil, rambut panjang hitam miliknya terbang ke wajah Barry. Harum sekali, apalagi wangi parfumnya yang sudah pasti mahal. Ah, Barry jadi salah tingkah.
Seorang petugas keamanan rumah mendatangi mereka.
“Kenapa ini, Bu?”
“Eh, Pak tolong ambil motor dia di persimpanga dekat gerbang masuk. Bawa kesini!”
“Motor apa, Bu?”
“Matic pak, warna cokelat!” sahut Barry.
“Oh, iya.”
“Makasih pak secemrity!” seru Barry polos.
“Ayo Barry masuk, tante bantu!”
Barry baru kali ini dibawa ke rumah target, biasanya mereka hanya bertemu di hotel atau mall saja. Tiba-tiba saja Barry jadi ngeri, jangan-jangan dirumahnya ada om-om galak dengan kumis besar melengkung seperti pelangi gosong.
“Duduk sini ya, tante ambil kotak p3k dulu!”
“I-iya tante.” Barry luar biasa takjub dengan design interior rumah ini. Begitu elegant dan semua benda dirumah ini tak pernah ada di rumahnya.
“Buset, aquariumnya kenapa keluar asep ya?” desisnya kagum.
Matanya menyapu seluruh sisi ruangan tempatnya duduk pada sofa nyaman dan pasti berharga ribuan dollar itu.
“Aden, mau minum apa?” suara seorang wanita tua mengejutkannya.
Barry celingukan, tidak ada siapapun di sana selain dirinya.
“Saya?” tanya Barry dengan telunjuk di depan wajah.
“Iya, Aden mau minum apa?”
“Tapi saya Barry, bukan aden!” ujarnya polos.
Cherry yang sudah berganti pakaian datang membawa kotak berisi obat-obatan untuk pertolongan pertama. Dia terkekeh pelan karena mendengar dialog lucu antara asisten rumah tangganya dengan Barry, si pemuda polos dan lucu yang baru saja dia kenal itu.
“Buatin es jeruk aja, Bi. Sama kalau ada makanan bawain ya!”
“Iya, Bu.” Jawab wanita tua dengan pakaian sangat rapi. Terlalu rapi untuk ukuran seroang asisten rumah tangga biasa, rupanya Cherry begitu mensejahterakan para pekerja dirumahnya.
“Nah, ayo Barry buka celananya!”
“Hah??? Apa? Buka ce-celana?” Barry menggeser duduknya menjauh dari Cheery yang nampak menahan geli karena ulah konyol Barry.
“Iya dong, kan mau diobati itu lututnya. Apa mau tante yang bukain?”
“Hah?!!” sekali lagi Barry tercengang.
‘Gawat nih! Kenapa jadi gue yang panas dingin?’ pikir Barry.
“Hihi, lucunya kamu! Nih, pakai celana pendek ini, nanti diobati lutunya!” Cherry mencubit gemas pipi Barry yang kini berubah merona seperti baru dipoles blush on berkwintal-kwintal.
“Aduh, gawat!” Barry memegangi dadanya.
Cherry meninggalkan Barry dan menutup pintu agar dia bisa berganti celana jeans dengan celana pendek milik Cherry. Barry memegangi celana pink bermotif boneka babi itu. Dia jadi pasrah sekarang, benar-benar scene diluar dugaan, jauh dari rencana dan rancangan dia bersama Giana.
“Sudah ganti celananya?” Cherry mengetuk pintu ruangan itu.
“Su-sudah, tante.”
Cherry masuk dan terkekeh karena melihat betapa lucunya Barry memakai celana pink miliknya. Berkali-kali dia menahan tawa saat menutul-nutul cutton bud pada lutut Barry.
“Ini obat mencegah infeksi, jangan kena air dulu ya!” ujar Cherry masih tetap menahan geli.
“Tante kok ketawa terus?” Barry jadi salah tingkah.
“Habisnya kamu lucu!” cherry mencubit pipir Barry lagi.
‘Aduh, mampus deh gue! Kacau! Kalau begini lama-lama gue bisa demen sama ini tante!”
“Nah, itu minum dulu, pasti kaget ya jatuh cinta begitu.”
“Hah? Jatuh cinta?”
“Maksudnya jatuh di aspal begitu.”
“Hehe, iya nih tante.”
Cherry merapikan kembali kotak p3k miliknya.
“Om-nya belum pulang, tan?” tanya Barry sambil melahap brownis yang disajikan sang asisten rumah tangga.
“Om?” Cherry mengangkat sebelah alisnya.
“Iya, Om!”
“Om pemilik hati tante. Eakk!” barry tersedak dan minum es jeruk manisnya lagi.
“Oalah, ih kiran om siapa yang kamu maksud. Ehm, hati tante belum ada yang punya. Apa kamu mau jadi pemilik hati tante?”
“Hah? Uhuk!! Uhuk!!” Barry terbatuk.
“Haha, maaf tante cuma bercanda lho, Barry.”
“Hehe, iya tan. Ternyata tante humoris juga ya!”
Barry sudah merasa kacau, dadanya jadi berdegup kencang tak beraturan, kalau begini caranya bisa gawat, dia tak pernah merasa hal aneh itu dengan targetnya yang lain. Tapi, cheery benar-benar membuatnya gila.
‘Enggak bisa gini! Gue harus batalin rencana ini, harus cari target baru! Gue enggak mau malah gue yang masuk perangkap dia, gawat!’ batin Barry ngeri.
Cherry mengantar Barry pulang ke rumah, sementara motor maticnya dibawa oleh sang security mengekor dibelakang mobil mewah Cherry.
“Makasih banyak, tante. Barry jad ngerepotin.”
“Enggak masalah, Barry. Istirahat ya!” ucap Cherry.
Hati Barry berdesir hanya karena perhatian kecil dari tante yang bahkan belum dia ketahui namanya itu.
“Oia, Barry! Nama tante Cherry!”
“Cher-cherry?” Barry gelagapan, kenapa nama mereka mirip.
“Iya, biar kalau kapan-kapan ketemu lagi, kamu bisa sapa tante.”
“Oh, iya tan!”
“Yaudah, tante balik ya! Oia, ini ada brownis belum dimakan, kamu kasih orang tua kamu ya!”
“Hah?”
“Enggak mau ya? Ini baru kok!”
“Bu-bukan gitu tante, kenapa tante baik banget?” tanya Barry kikuk.
“Lho, masa baik salah!”
“Enggak salah, cuma barry jadi sungkan.” Barry menggaruk tengkuknya.
“Masa gitu aja sungkan. Enggak usah sungkan! Kapan-kapan main ke rumah ya!”
“Ehm? Eh, iya tante!”
Hari itu berakhir, dengan desiran halus di d**a Barry yang tak kunjung berhenti hingga pagi datang.
Dia tak bisa sedetik saja melupakan harum parfum Cherry. Tante yang menjadi target berikutnya. Semua Tante yang dia temui memang sellau baik, tapi Cherry berbeda bagi Barry.