Melihat kesungguhan Giana untuk mengenalkannya pada si cowok itu, membuat Barry agak goyah, sedikit. Matanya melirik ke sana kemari.
"Gimana? Mau kapan kenalan sama sepupu aku?" Giana nampak percaya diri bahwa dia sedang berusaha jujur dan apa adanya di depan Barry.
"Kamu serius?" tanya Barry.
"Iya, serius dong! Kamu kan tau aku kaya apa. Aku selama ini setia sama kamu, nunggu kamu sukses nanti dan nikahin aku, seperti janji kamu. Iyakan?"
Tapi, sekelebat ulasan senyum Giana di hari itu menodai kepercayaannya lagi. Nyeri di d4danya benar-benar menusuk tiap kali suara tawa Giana itu melintas. Tak pernah dia tertawa penuh gairah seperti itu di depannya, tak peduli sudah berapa lamapun hubungan mereka.
"Barry! Sayang!" Hari ini begitu spesial karena berkali-kali Giana memanggil Barry dengan sebutan romantis itu.
Barry mulai melunak. Dilihatnya wajah Giana yang menunggu jawaban Barry. Matanya berkedip-kedip lugu dengan bulu mata lentik yang memayungi kelopaknya.
"Kamu serius kalau dia sepupu kamu?"
"Beneran, Sayang! Ya ampun!"
"Lain kali kalau jalan sama dia, bilang aku ya."
"Beres, Bos!"
"Beneran ya!"
"Iya, Sayang! Iya!"
Barry mengatupkan bibirnya, kemudian tersenyum setelah mengusap puncak kepala Giana.
"Kapan mau kenalan sama dia?" tanya Giana lagi, memastikan apakah dia perlu menyusun sandiwara saat mempertemukan Barry dan pria simpanannya.
"Emh, enggak usah. Aku percaya kok sama kamu, Sayang."
"Beneran nih? Nanti cemburu lagi, dibahas lagi."
"Enggak kok, enggak akan aku bahas lagi."
Tapi, percakapan itu setelah ini akan tinggal kenangan saja. Pasalnya, Giana terlalu sering jalan berdua dengan pria itu, mana mungkin Barry tak tahu.
*
Shaka, Rico dan Barry nongkrong di warung rokok depan kampus. Sebuah gerobak yang dimodifikasi sedemikian rupa agar bagian dalamnya bisa dimasuki oleh sang penjual, bahkan cukup untuk berbaring.
Persis di trotoar tak jauh dari gerbang utama kampus. Mereka tengah meneguk minuman gelas berperisa, tak lupa dengan lintingan tembakau modern dalam kemasan di tangan masing-masing dari mereka. Asap mengepul, satu orang terbatuk dan lanjut menghisap lagi.
"Elo kayaknya lagi ribut ya sama Giana?" Tanya Shaka setelah menyedot minuman gelasnya yang ada gambar bintang entah bison atau banteng beradu. Konon katanya itu minuman penambah stamina versi lite. Alias versi kalangan bawah dengan harga murah meriah.
"Biasalah." jawab Barry enteng.
Rico memajukan bibirnya, Shaka berdecih dan menoyor kepalanya. Shaka bertubuh tinggi, rambutnya lucu seperti batok kelapa. Kacamata yang dia kenakan membuatnya jadi semakin berkarakter. Rambut itu tak dia sebut model cupu, dia bilang itu keren. Dan memang dia jadi sangat keren dengan rambut seperti itu.
Sedangkan Rico bermata sipit, kulitnya putih dan satu telinganya ditindik. Rambutnya lurus dan agak panjang, bagian depan rambutnya sering kali membuatnya repot saat berjalan atau menulis di meja. Berkali-kali harus dirapikan dan disibak ke belakang.
Dan, the most handsome dari gank itu ialah Barry Febriza yang tampan palipurna. Postur tinggi dengan punggung dan bagian depan yang bidang. Dia mudah berkeringat di bagian keningnya, seringkali rambutnya basah oleh peluh. Tapi, dia jadi seperti pemain basket dalam komik. Basah dan segar.
Mereka bertiga seperti sedang melakukan photoshoot dengan background trotoar sibuk. Lalu lalang mahasiswa di belakang mereka jadi pemandangan biasa setiap harinya. Asap rokok yang bercampur dengan asap dari metromini juga sudah lumrah mereka hirup.
"Sampai kapan ya kita kaya gini?" keluh Rico.
"Kaya gini apanya?" tanya Shaka balik.
"Ya gini, jadi beban keluarga." Rico menyibak bagian depan rambutnya, kemudian menutul-nutul bagian ujung rokoknya. Serpihan tembakau yang sudah terbakar nampak melayang terbawa angin, beberapa lagi jatuh ke aspal.
"Ya elah! Sok banget mikirin hidup! Santai aja si! Masa sekarang itu harus kita nikmati. Sebelum akhirnya nanti elo harus nanggung beban dan enggak punya kesempatan untuk menikmati hidup Lo!"
"Beban?" tanya Rico.
"Ya iya, emang elo enggak ada niat buat kawin? Nih, kaya si Barry."
"Ah, dia sih belum kawin udah nanggung beban berat."
Barry menyikut lengan Rico, Shaka terkekeh pelan. Sebuah angkot melintas sambil membunyikan klaksonnya. Menawarkan diri barangkali mereka sedang menunggu angkot untuk pulang.
"Kagak! Kagak mau naik!" teriak Barry.
"Muka kita emang muka angkot-able." decak Shaka.
"Angkot-able gimana?"
"Ya gitu. Cocok naik angkot, enggak cocok punya mobil mewah."
"Njir, elo aja! Gue kagak!" Barry menyemburkan asap rokok ke arah kawannya itu.
"Haha, gue juga ogah. Mau jadi orang kaya gue sih! Kaya raya! Punya Pulau dan pesawat pribadi."
"Makin kesini elo makin enggak realistis."
"Elo tuh yang makin pesimis!" mereka berbalas kalimat hingga tanpa sadar api di rokok mereka telah sampai di ujungnya.
Saat keributan itu berlangsung, sebuah mobil lewat dan berhenti di depan mereka.
"Hey, kalian ngapain di sini?" sapa wanita dibalik kemudi.
"Miss Cherry!" Shaka bangkit dari trotoar, menyapa Cherry setelah membuang rokoknya yang sudah tinggal satu sentimeter panjangnya.
"Halo Shaka!" Cherry tersenyum, matanya menyipit.
"Miss Good Evening!" Rico sok English.
Cherry tertawa.
Barry hanya mengatupkan bibirnya, tersenyum kecil dan menghindari tatapan Cherry.
"Kalian mau pada kemana?" tanya Cherry.
"Emh, enggak kemana-mana Miss. Nongkrong di sini aja."
"Masa weekend di pinggir jalan gini!"
"Hehehe." Rico dan Shaka salah tingkah.
"Masuk yuk, malam mingguan di kafe aja!"
"Ha? Sa-sama Miss?" Shaka tergagap.
"Iya, sama aku. Enggak mau ya?"
"Lho ya mau! Mau kan ya, Co? Bar?"
Rico mengangguk seperti anjing Chihuahua. Bedanya, lidah Rico tidak menjulur dan mengeluarkan liur.
Barry tak menjawab, dia sebenarnya belum siap bertemu Cherry setelah pertemuan dirinya, Giana dan sang Cherry waktu itu.
"Mau kan Barry?" Sekarang Cherry yang bertanya.
Barry hanya mengangguk tipis.
"Ayo naik!" ajak Cherry lagi.
Mereka bertiga akhirnya naik, Barry duduk di depan sementara dua badung lainnya ribut di jok belakang.
"Adem banget mobilnya!" seru Shaka.
"Mulai deh, norak!" sungut Rico.
"Yeee!"
Cherry tertawa sambil menyetir.
"Kita nongkrong di kafe situ aja ya!" Cherry menunjuk kafe yang papan namanya sudah terlihat dari tempat mereka kini berada.
"Iya, Miss!" jawab Shaka bersemangat.
Barry bersedekap, rasanya tak nyaman ada di posisi seperti itu. Dia bahkan tak bicara sama sekali dengan Cherry. Hanya suara Rico dan Shaka saja yang.l melantur membahas design interior mobil Honda jazz Cherry yang sangat sporty.
Mereka masuk ke pelataran kafe, keempatnya turun setelah mesin mobil dimatikan. Cherry masih berpakaian sama, dia tak nampak seperti dosen. Lebih nampak seperti wanita tak baik yang gemar pulang pagi. Pakaiannya menunjukkan sebuah citra buruk tapi dia tak terlalu peduli. Ini hidupnya, dia bebas melakukan apa yang dia mau. Begitu motto hidupnya.
Mereka duduk bersama, pelayan tidak datang karena mereka harus memesan dan mengambil pesanan mereka sendiri di tempat yang sudah disediakan.
Setelah menentukan apa saja yang akan mereka pesan. Rico dan Shaka ditugaskan pergi ke kasir untuk memesan. Cherry memberikan beberapa lembar uang pada mereka.
Kini tersisa Cherry dan Barry saja di tempat itu. Mereka duduk agak di sudut, jauh dari tempat memesan menu kopi atau makanan lain.
Di samping kiri mereka ada deretan wastafel yang lengkap dengan sabun cair dan mesin pengering tangan.
Barry merasa canggung. Cherry berusaha menatap mata Barry yang terus bergerak kesana-kemari.
"Aku enggak tahu kalau Giana itu pacar Barry."
"Emh? Oh, enggak apa-apa Tante." Barry jadi malu sekarang, pasalnya waktu itu dia sempat menjamah tangan Cherry.
'Pasti Tante Cherry mikir yang enggak-enggak! Ya, meskipun gue emang ngelakuin yang enggak-enggak ke dia. Tapi, tetep aja gue cemas kalau dia berpandangan bahwa gue ini seburuk itu.' Barry tak berani bertatapan dengan dosennya itu.
"Tante tahu kamu pasti terpukul waktu itu, enggak masalah kok. Jangan mikirin hal yang aneh-aneh. Oke?" Cherry tak ingin Barry kikuk di depannya, berusaha berkata bahwa semuanya tetap biasa saja.
"Iya." jawab Barry datar. Segala rasa masih berkecamuk dalam benaknya. Benar-benar aneh. Dia sungguh salah menentukan targetnya kali ini. Seharusnya dia sudahi saja dulu, saat dia mendapati hatinya berdesir untuk Cherry.
Rico dan Shaka kembali, Mahasiswa dan Dosen itu akhirnya seolah sepakat berhenti bicara saat dua cowok itu datang dengan dua nampan berisi minuman dan slice cake.
"Sepi amat! Ngobrol dong Miss!" Goda Shaka.
"Hus, sopan dikit sama dosen!" tegur Rico.
"Enggak apa-apa, santai aja ini kan bukan di kelas. Kalian bebas mau panggil apa aja. Enggak usah Miss."
"Wah, enaknya panggil apa ya? Mbak? Kakak?" usul Shaka.
"Mas Mbak! Udah kaya mbak jamu!" protes Rico.
"Terus apa dong?"
"Kakak kali ya? Aneh ya wkwk."
Cherry tertawa.
"Apa aja! Suka-suka kalian. Eh ini minuman Barry ya? Ini Barry!" Cherry memberikan gelas berisi jus alpukat pada Barry.
"Iya, Tante. Makasih." Sahut Barry spntan.
Shaka dan Rico terperangah, menatap Barry dengan tatapan bodoh.
"Apaan? Tante?" Rico menaikan alisnya.
"Uhuk! Uhuk!" Barry tersedak.
Cherry cepat-cepat memberikan tisu untuk Barry.
"Makasih, Tan." Lagi, Barry keceplosan.
"Heh! Tante! Tante! Kita sepakat panggil dia kakak kan? Kenapa elo jadi panggil Tante?"
"Tau nih! Dikira Miss Cherry ini tante-tante apa!" omel Rico.
Barry mengaduh dalam hati. Inilah sebabnya dia enggan pergi berempat tadi. Tapi, dia tak sanggup menolak ajakan Cherry.
"Panggil Tante lagi, ini piring melayang nih!" Gurau Shaka.
Barry melanjutkan minum.
"Udah, panggil apa aja bebas!"
"Ya tapi enggak Tante juga kali! Miss Cherry kan masih muda."
"Iya bener! Gue liat resume Miss Cherry di data kampus, dia itu masih dua empat atau dua lima gitu! Iya kan Miss?"
Cherry tertawa kecil. Barry mendongak, melepaskan perhatiannya dari gelas jus.
'Apa? Dua empat?' Batin Barry.
Entah mengapa rasanya dia ingin bersorak. Seperti ada alasan bagus baginya mempertahankan debaran dalam dad4nya untuk Cherry.
'Jadi, detak jantung gue yang gabut itu normal karena Tante Cherry gak sedewasa yang gue kira? Jadi gue enggak menyimpang kan? Iya kan? Eh, apa? Apa gue lagi mengiyakan kalau gue mulai tertarik sama Tante Cherry?' Barry bercakap-cakap dengan dirinya sendiri. Dialog yang sangat panjang hingga tak sadar dia masih berada di antara tiga orang itu.
"Bar, malah bengong! Kesambet Lo?" Shaka menggoyangkan bahu Barry.
Wajah Barry jadi memanas sekarang, entah kenapa dia ingin merasakan kehangatan jemari Cherry lagi. Kalau saja tidak ada Shaka dan Rico. Pasti sudah dia sosor Dosennya itu.
"Udah makan itu kuenya. Atau mau pesen makanan berat?"
"Makanan berat apa, Kak? Astaga aneh banget manggil dosen kaya gini wkwkwk." Rico terpingkal-pingkal sendiri.
"Iya, bener wkwkwk." Shaka membenarkan.
"Kalian ini, lucu-lucu banget sih!"
Barry jadi tak suka saat Cherry menyebut kedua sahabatnya itu lucu. Harus hanya dia yang lucu untuk Cherry, yang lain tidak boleh lucu!
'Hey, apa ini? Cemburu?' Barry mengelap keningnya yang berpeluh.
"Kalau mau pesen makanan berat, pesen aja. Nanti Miss yang traktir."
"Widih, asli baru kali ini punya dosen asyik dan gaul!"
"Bener! Mana cakep!" Shaka terkekeh.
"Dasar kalian ini. Sana pesan aja!"
"Kemon, Sak! Elo mau pesen makanan berat apa?"
"Paku, martil, beko!"
"Heh! Mau rakit bom Lo?"
"Katanya makanan berat wkwk."
"Paku enggak berat!"
"Berat kalau sekarung mah!"
"Dih!"
"Hahahaha."
Mereka saling merangkul pundak dan kembali memesan ke kasir yang nampak sibuk dengan antrian yang cukup panjang.
"Barry enggak tahu kalau Tante semuda itu."
"Hihi, enggak masalah Barry. Sama aja kan."
"Soalnya, Tante keliatan dewasa dan mapan banget. Jarang ada wanita seperti Tante di usia segitu."
"Mapan gimana?"
"Ya, emh. Cewek lain, di usia segitu masih sibuk cari pekerjaan tetap. Setelah lulus kuliah kadang enggak mudah dapat kerjaan yang cocok. Tapi, di usia segitu Tante udah punya segalanya.
"Ah, keberuntungan aja Barry. Tante mungkin dilahirkan dengan banyak kebetulan dan keberuntungan."
"Terus, pas pertama kali bertemu Tante. Barry pikir Tante udah punya suami." Barry bicara seperti bocah belia.
Cherry terkekeh.
"Pantes aja kamu nanyain dimana Om. Jadi kamu kira Tante udah nikah?" Cherry tergelak.
"Iya, aku kira begitu. Aku kaget juga pas tadi tahu umur Tante. Emang wajah Tante mendukung sih untuk seusia itu. Karena emang masih sangat muda. Tapi, aku udah terlanjur manggil Tante jadi susah ganti panggilan."Masih dengan wajah polosnya, Barry mencicit.
"Uhm, Tante memang pernah merencanakan pernikahan."
"Dengan Fin itu?"
Cherry mengangguk, kemudian mengaduk es kopinya dengan sedotan putih. Terdengar suara halus es batu yang saling bertumbukkan satu sama lain.
"Terus, akhirnya gimana? Kalian putus?" selidik Barry.
Cherry mengangguk lagi.
"Kenapa?"
"Ada sesuatu yang pada akhirnya membuat Tante harus pergi dari dia."
Barry mengernyitkan keningnya.
Shaka dan Rico terlihat datang kembali.
"Kapan-kapan Tante harus cerita soal ini, oke?"
Cherry mengiyakan dan pembicaraan selesai karena Shaka dan Rico sudah ada diantara mereka lagi.
Giana masuk ke dalam kafe, tak sengaja melihat sekelompok orang yang duduk agak di sudut. Dia mendekat karena merasa mengenali mereka sementara temannya sudah hendak memesan dan pergi ke arah lain.
"Lho, itukan Barry!" Giana memperhatikan dari jarak yang tak terlalu dekat.
"Kok sama Miss Cherry? Pada ngapain tuh?" gumamnya curiga.
Dia berusaha menguping pembicaraan mereka. Tapi tak ada yang serius. Hanya terus terdengar suara Rico yang tertawa disusul suara Shaka. Barry lebih banyak diam dan curi pandang ke arah Cherry. Bahkan keduanya tersipu saat kaki mereka tak sengaja bersentuhan di kolong meja sana.
"Gila banget ada dosen nongkrong sama mahasiswi! Doyan berondong pasti!" dengus Giana yang sejak awal memang tak suka pada Cherry.
"Giana!" seru temannya tadi.
"Eh, gue cabut ya!" Dia tak mau bertemu Cherry. Dia malas menyapa dosennya itu.
"Lho, enggak jadi makan?!" temennya yang belum sempat memesan ikut keluar.
Sekilas Barry mendengar suara Giana, tapi saat dia menoleh, Giana sudah keluar. Jadi Barry tak sempat melihatnya. Menganggap suara Giana tadi hanya halusinasinya saja.
Perbincangan itu terus berlanjut hingga malam datang. Cherry merasa cara seperti ini adalah healing yang sempurna. Bersenang-senang dengan orang yang tak akan merasa kehilangan dirinya. Hal itu membuat beban di hatinya berkurang.
'Mereka di sini, tak akan sedih saat aku tiada nanti.' Cherry menatap wajah itu satu persatu kemudian tersenyum hangat.