Tanpa disadari, perlahan sikap Barry kepada Giana berubah. Cowok dengan hidung bangir itu nampak lebih sibuk dengan kuliahnya dibandingkan menuruti segala keinginan Giana.
Gadis itu jengkel bukan main, Barry yang terkenal sebagai b***k cintanya itu seolah rasanya mulai memudar dan entah karena apa.
Giana mematut dirinya di cermin kecil yang baru saja dia ambil dari dalam tasnya. Isi tas gadis itu hanya sebuah binder dan beberapa peralatan make up, juga handphone serta dompet. Tak seperti isi tas pelajar yang fokus untuk kegiatan belajar mereka.
"Apa aku udah mulai enggak cantik? Atau, Barry lagi tertarik sama cewek lain di kampus ini?" gumamnya sambil mengecek apakah bulu mata palsunya copot atau tidak.
"Eh, menurut lo gimana kalau gue tanem bulu mata?" Giana menoleh ke kursi belakang dan menanyakan hal tidak penting itu pada seorang mahasiswi kutu buku.
Gadis berkacamata tebal itu hanya mengedikkan bahu, kemudian lanjut membaca buku paket tebal di atas mejanya.
"Huh! Dasar cupu! Enggak asik Lo!" umpat Giana yang merasa tersinggung karena diabaikan.
Gadis tadi tak menggubris omelan Giana. Masa depan adalah segalanya. Apa itu tanam bulu mata? Dia sibuk membalik lembar demi lembar halaman buku.
Giana pergi dari kelas, menghentakkan kakinya saat berjalan. Mencari Barry dan gank bangornya.
"Eh, liat Barry enggak?" Giana bertanya pada sekelompok mahasiswa yang tengah duduk di taman membahas sebuah materi kuliah.
Mereka semua menggeleng.
"Ngapain nyari si kunyuk itu? Sama gue aja sini!" Ledek cowok yang sering menggoda Cherry.
"Ugh!" Giana menyibakkan rambutnya, sok jual mahal dan pergi.
"Eh, liat Barry-Shaka-Rico enggak?" Kini dia bertanya pada seorang gadis berjilbab yang memeluk buku-buku di tangannya.
"Tadi sih gue liat mereka di perpustakaan."
"Perpus? Mereka?"Giana tercengang.
Gadis berjilbab tadi mengangguk, apa salahnya berada di perpustakaan?
"Lo seirus?"
"Liat aja deh sendiri! Udah tanya tapi malah gitu!"
"Dih, kok sewot! Makanya jangan belajar mulu! Healing dong healing!" Giana meneriaki punggung dara berkerudung itu.
"Cih!" Dia kini benar-benar ke perpustakaan.
"Kalau bukan karena duit, gue ogah deh masuk ke sini nyari Barry. Tempat yang bikin heboh suntuk dan membosankan! Bau kertas usang! Bau!" Dia kini sudah berada di depan perpustakaan.
Dilihatnya bagian kursi dan meja yang berderet secara teratur. Benar, Barry dan Ganknya memang ada di sana. Aneh bukan?
"Barry!" seru Giana.
Beberapa orang menoleh dan berdesis.
"Ssstttt!"
"Ups, sorry!" Giana bergerak mendekati Barry.
"Sayang, kamu ngapain di sini?" bisiknya, kemudian melirik ke arah Shaka dan Rico dengan tatapan tak sudi.
"Nyari bahan buat tugas writing." jawab Barry.
"Barry? Nyari bahan buat tugas? Kamu yakin kamu enggak lagi demam, Sayang?" Giana duduk di sisinya, menyentuh kening Barry.
"Apa sih!" Barry menepis tangannya.
"Ih, kamu kok gitu! Aku ngambek nih!"
"Giana, jangan kaya anak kecil deh!"
"Kamu ih! Nyebelin! Aku dari tadi nyari kamu."
"Ada apa?"
"Aku mau beli sepatu baru." rengeknya.
"Sepatu baru? Sepatu kamu kan banyak dan masih baru-baru semua."
"Aku mau model baru!" Giana merebut pena yang Barry pegang, sengaja untuk mencari perhatian Barry.
"Giana, aku lagi belajar ya! Jangan gangguin."
"Ih! Aku mau beli sepatu!" Giana ribut dan mengusik warga perpustakaan lain.
"Ssstttt!" tegur petugas perpustakaan.
Barry menghela nafas dan membawa Guana keluar ruangan.
"Kamu ini kenapa sih?"
"Kamu yang kenapa!? Kamu inget enggak kapan kamu terkahir kali kasih aku uang!?" sentak Giana.
"Aku udah kasih kamu banyak uang, beliin kamu ini dan itu. Jadi, sekarang tolong biarin aku fokus kuliah."
"Kamu bebas mau apa aja, asal kamu kasih aku uang!"
"Ya aku dapet uang darimana, Giana?"
"Kok tanya aku? Biasanya kamu ngapain?"
"Giana."
"Aku sebel deh sama kamu! Kamu udah enggak sayang aku lagi ya? Jahat! Hikshiks!" Tangis Giana mengundang perhatian mahasiswa yang lewat di depan perpustakaan.
"Giana! Jangan gitu ih!"
"Jadi, kamu udah mulai hindarin aku? Setelah apa yang udah kamu lakuin ke aku? Tega ya kamu Barry!"
Beberapa mahasiswa berbisik saat mendengar kalimat itu.
"Lakuin apa sih? Giana udah ya, mending kamu fokus kuliah. Please!"
"Enggak! Hikshiks, kamu jahat! Kamu tega sama aku, kamu lupa udah berbuat apa aja ke aku! Sekarang kamu udah mulai cuek, kenapa? Kamu ada cewek baru? Tega ya kamu, Barry!"
Saat itu Cherry baru saja akan ke perpustakaan, mengembalikan beberapa buku dengan dua orang mahasiswa mengekor di belakangnya mengangkut beberapa buku tebal dengan lengan mereka.
Percakapan dengan suara keras itu juga sampai di telinga Cherry. Dosen cantik itu tetap berjalan seolah tak mendengar apapun.
Barry terlihat amat frustasi, entah apa yang coba diperbuat Giana. Dia menceracau tak jelas seolah Barry memang pernah berbuat sesuatu terhadap dirinya. Barry pusing sekali. Baru kali ini dia merasa kehadiran Giana membawa hal buruk baginya, padahal kondisi seperti itu sudah berlangsung lama.
Keberadaan Giana memang sudah bak benalu di pohon yang menjadi inangnya. Hanya saja, kadar cinta Barry yang terlampau murni membuatnya buta mata dan hati. Segala cara dia lakukan, hanya untuk melihat Giana tersenyum, tak peduli caranya itu salah atau benar.
Tapi kini, keadaan seolah berubah bertahap. Kehadiran Cherry yang membuat hati Barry berdesir membuatnya lebih nyaman tatkala berada di dekat wanita dewasa itu.
Tak seperti Giana yang kekanak-kanakan, gemar merengek dan minta banyak hal. Cherry sangatlah dewasa, pola pikirnya jauh berbeda dari Giana. Cara bicara Cherry juga menyejukkan hati. Apakah Barry benar-benar sudah terjatuh dalam pesona Cherry?
Barry tanpa sadar seringkali membandingkan Cherry dan Giana. Tentu saja mereka berdua sangatlah berbeda. Seperti dua sisi pada koin, sama-sama koin tapi sangat berbeda tak ada kesamaan selain fakta bahwa mereka adalah sama-sama wanita.
"Kamu ini ngomong apa sih, Giana!? Jangan ngawur deh! Jangan bikin malu aku!" sentak Barry.
"Cowok emang gitu! Jahat! Kamu mau buang aku setelah kamu puas?" Giana menutup wajahnya dan berlari menjauh.
"Lho, Giana! Apa sih cewek itu aneh-aneh aja!" Barry mengejarnya.
"Giana!" Gadis itu masuk ke dalam toilet kemudian tangisan sandiwaranya berhenti. Dia membasuh wajahnya, menatap bayangan dirinya di cermin wastafel.
"Aku enggak boleh kehilangan, Barry. Dia juga harus tetep bisa kasih aku uang. Gimana caranya supaya dia takluk lagi di depan aku? Gimana?" Giana merasa putus asa.
Ponselnya berdering, seorang pria menghubunginya. Giana meringis.
"Halo, Giana." Suara dari seberang sana terdengar agak mendesah.
"Ya." jawab Giana.
"Jam berapa pulang kampus? Nanti ketemuan ya! Kamu ke apartemen aku!" suara pria itu berbisik lirih seperti mengundang Giana untuk melakukan sesuatu.
"Kak, aku..." Giana tak tahu harus menjawab apa, dia terlihat menahan sesuatu setiap kali mendengar suara pria itu. Rasa nyeri, di bagian kewanitaannya.
"Kenapa? Mau aku jemput?" tanyanya bersemangat.
"Aku lagi enggak enak badan, Kak." ujarnya pada pria dewasa yang jalan dengannya saat Barry dan Cherry melihatnya di mall.
"Kamu sakit?"
"Kak, udah ya! Ada dosen." Giana buru-buru menutup ponselnya. Kemudian, dia bersandar pada wastafel dan memegangi bagian bawah perutnya.
Giana menangis, bukan tangisan sandiwara seperti tadi. Dia terisak pilu seolah ada hal yang begitu membuatnya sakit dan terpukul. Usai tangisnya reda, dia kembali membasuh wajah dan menyekanya dengan tisu.
"Giana, kamu kenapa?" Ternyata Barry sejak tadi menunggu Giana di depan toilet.
"Enggak! Aku enggak apa-apa! Lepasin aku!" Giana beregas ke kelas, membawa tasnya dan pulang.
"Giana!" Barry masih terus mengejarnya.
Di gerbang depan, Barry akhirnya membiarkan Giana pergi karena keributan mereka akan mengusik banyak orang. Barry bingung dengan apa yang sejak tadi dikatakan oleh Giana.
Apa dia hanya berusaha mempermalukan Barry di depan seisi kampus? Melakukan apa? Apa yang sudah diperbuat Barry pada Giana? Bahkan mengecup bibirnya saja baru sekali, setelah itu tak pernah lagi. Hanya sesekali berpelukan atau berpegangan tangan. Itu saja.
"Apa maksudnya ngomong kaya tadi? Apa secinta itu dia dengan uang? Sampai bicara ngelantur agar aku bingung?" Barry berkacak pinggang, agak stress. Dia melihat Giana sudah jauh pergi dengan maticnya.
"Apa aku pernah ngelakuin hal lain sama dia? Ah, tapi kayaknya enggak deh! Aku mana pernah mabuk-mabukan sampai enggak sadar udah ngapain aja, kaya di film-film itu. Ck, Giana kamu kenapa sih?" Barry kembali masuk ke area kampus, mood belajarnya sudah melayang dibawa oleh angin yang mengantarkan Giana pulang.
Dia kini duduk termenung di kantin, di depannya ada segelas teh dingin. Teh dingin dalam gelas plastik yang lengkap dengan sedotan bening, tutup gelas itu bergambar animasi yang digilai para anak kecil.
Menyalakan rokok untuk sekedar mengusir penat yang hadir berkat kelakuan Giana. Memainkan asap rokok yang berhembus hanya demi menenangkan hatinya. Dia masih sangat muda, tadi hidupnya sudah demikian rumit.
Sejatinya, dia hanya ingin hidup normal meski dengan keterbatasan finansial. Berdiri sebagai Barry yang apa adanya, dengan seorang kekasih baik hati yang senantiasa memberikan support untuknya. Kuliah dengan baik untuk masa depannya kelak.
Tapi rancangan itu hanya tetap jadi rancangan karena dirinya terlanjur terbelit oleh kehidupan rumit. Jejak langkah buruknya sudah dimulai sejak
kali pertama dia mengiyakan titah Giana mendekati salah satu wanita dewasa di masa SMA mereka.
Ketenangan wajahnya sudah terusik, ketampanannya terasa sia-sia karena digunakan untuk hal yang tak baik. Semua itu, hanya demi satu nama. Satu nama yang baru saja menjelek-jelekkan dirinya di depan mahasiswa lain.
Alih-alih kesal, Barry justru jadi agak cemas terhadap Giana. Apa tidak apa-apa berkendara sendiri saat suasana hatinya sedang tak baik?
"Huft, Giana.. kamu kenapa sih?" Barry mengacak-acak rambutnya sendiri.
"Apa enggak bisa kita jadi pasangan yang normal saja? Seperti yang lain?" lirihnya sambil menatap foto Giana di layar ponsel retak miliknya.
"Bro!" renungan sepinya berakhir saat tangan jahil memukul pundaknya.
"Nyari bahan belum kelar, main cabut aja!" omel Rico yang datang dari di sisi kanan Barry.
"Sorry deh."
"Kenapa lagi si? Berantem lagi?" Shaka menarik kembali tangannya, kemudian duduk.
"Gitu deh."
"Yang diributin apa sih? Asli gue sering heran sama lo berdua."
"Ho-oh, aneh emang! Elo kan Bar, enggak pernah selingkuh. Tapi si Giana kerjanya marah terus. Soal apa si?"
"Enggak tahu deh, gue juga udah mulai capek."
"Putusin aja, Bar!" usulan Rico ini sudah dilontarkan puluhan kali dari sejak mereka masih duduk di bangku sekolah.
"Tau!" timpal Shaka yang juga turut lelah menyaksikan keributan kekal abadi Barry dan Giana.
Barry menghela nafas. Saat dirinya mulai tak memberikan uang lagi, Giana mulai bicara melantur, apa jadinya jika kelak dia diputuskan oleh Barry? Apakah dia akan menyebarkan aib Barry lewat pengeras suara kampus?
"Cabut yuk!" ajak Barry yang merasakan penat di kepalanya.
"Kemana?" tanya Rico.
"Kemana aja!" sahut Barry.
"Eh, ajak Miss Cherry lagi yuk!" usul Shaka berapi-api.
"Ck, jangan! Apaan sih!" larang Barry.
"Eh, bener Sak! Cepet telepon dia!"
Barry melirik Shaka, cowok berkacamata itu nyengir kuda.
"Gue kan kemarin sempet minta nomor hape Miss Cherry."
"Ngapain si, Anjir?!" omel Barry.
"Dih, sewot! Udah sak buruan telepon!" tegas Rico.
"Oce!" Shaka menjauh dari Barry yang akan merebut ponselnya dan mulai menghubungi Cherry.
Wanita cantik yang belakangan memang selalu kesepian itu tentu saja setuju saat Shaka meminta mereka bertemu lagi di kafe dekat kampus.
"Tapi, di traktir kan ya Miss?" Shaka bicara malu-malu meski hanya lewat telepon.
"Si anjir Sak, bikin gue malu aja sih!" Barry terus berusaha merebut ponsel Shaka.
Cowok dengan rambut lucu itu cepat-cepat kabur ke arah parkiran.
"Buruan! Miss Cherry udah mau kesana!" serunya dari jauh.
Rico merangkul Barry yang terlihat enggan, dia suka bertemu dengan Cherry tapi tidak bersama dua cowok iseng itu. Hanya berdua saja, baru Barry suka.
"Udah ayo! Katanya mau cabut! Apa perlu, anu lo yang gue cabut!" Rico melirik ke bagian perut Barry.
"Huh" Barry menyikut Rico dan berjalan cepat.
"Hahaha! Tungguin woy!"
*
Giana berhenti di sebuah taman, dia duduk di rerumputan dan kembali menangis. Ponselnya terus berdering, sebuah nama tertulis di sana. "Kak Vano".
Giana meletakkan ponsel itu di sisinya, dibiarkan terus berdering. Pria dewasa di seberang sana itu rupanya tak sabar ingin segera bertemu dengan Giana dan melakukan hal yang sama dengan yang berkali-kali sudah dia perbuat belakangan ini.
Setiap kali melihat nama Vano, saat mendengar suaranya yang seperti menginginkannya. Giana menangis, tertekan, seolah ada trauma dalam yang belakangan dia hadapi. Gadis itu meremas rerumputan di depannya, tak peduli meski tangannya kotor karena tanah di sana basah usai hujan tadi siang.
Air matanya menetes deras membuat embun halus di helaian rumput.
Tak ada apapun yang keluar dari bibirnya, bagian bawah perutnya seperti berdenyut dan rasanya sakit sekali. Berkali-kali dia menarik nafas dalam dan melepaskan perlahan agar sakit itu reda meskipun sedikit.
"Barry, Barry." lirih dia kini menyebut nama kekasihnya.
"Tolong aku, Barry." isaknya diantara deru suara kendaraan yang lalu lalang di sekitar taman kecil itu.
Tidak ada orang di sana, hanya seorang ibu petugas kebersihan berseragam orange yang sibuk menyapu bagian trotoar taman.
"Barry." Giana meringkuk sendiri, sementara ponselnya terus berdering seolah tidak akan pernah berhenti.