Twenty One

2083 Words
"Bar, elu kagak berbuat aneh-aneh kan di kampus?" tanya Ibu Barry pada suatu pagi saat Barry tengah bersiap untuk ke kampus. "Ya ampun, emang Barry ngapain si Mak?" Dia berdecak seraya mengikat tali sepatunya. "Perasaan emak kok enggak enak, ya?" "Emak belum makan kan?" Ibunya menggelengkan kepala. "Nah, makan dulu! Nanti juga perasaannya enak! Dah, Barry jalan ah!" Barry menyalami ibunya. "Ini duit jajannya!" "Oia! Makasih Mak!" Barry bergegas keluar, menstater motor bebeknya kemudian pergi setelah menghela nafas melihat asap hitam yang menerobos keluar dari lubang knalpot. 'Pikiran gue tetep carut-marut, masih tetep bimbang karena hal jelek itu udah jadi kebiasaan gue. Jadi, saat gue udah enggak lakuin itu lagi, rasanya kaya ada yang kurang. Enggak apa-apa, Bar. Cara elo udah bener! Elo udah dewasa, harus lebih baik jalanin hidup elo.' Matanya menyipit terkena sinar matahari pagi yang cukup terik meski baru jam delapan pagi. Di kelas dia bertemu Giana, gadis itu nampak pucat tanpa riasan wajah sama sekali. Tak banyak bicara dan hanya menelungkup di meja selama mata kuliah listening berlangsung. Cherry hanya memperhatikan Giana tanpa menegurnya secara berlebihan. Di kampus, ratusan mahasiswa dan mahasiswi punya tingkah polah yang beragam dan kadang semaunya sendiri. Mereka sudah cukup dewasa untuk memilih serius belajar atau hanya ingin main-main. Jadi, Cherry sebagai dosen tak ma terlalu ambil pusing. Barry penasaran, apakah dia kehabisan uang sampai tak sanggup beli perlengkapan make up? Giana tak pernah pergi keluar rumah dengan wajah polos seperti itu. Meski, yah dia tetap saja cantik. Rambutnya juga tergerai seperti tak disisir rapi, terlihat sangat kacau. 'Apa ini trik dia? Agar aku kasihan dan kembali nyari uang untuk dia?' Barry menopang dagu, memperhatikan Giana yang diam bak tak bergerak. Cherry menatap Barry, kemudian mengalihkan perhatian ke mahasiswa lain karena baginya, Barry tengah sibuk menatap gadis idamannya. Yah, meski telah diselingkuhi seperti yang dia liat waktu itu. b***k cinta memang begitu, gelap mata. Selama jam pelajaran, ponsel Barry berdering. Spontan dia mengeluarkan ponselnya dari saku, mentap fitur penolak panggilan karena dia tengah di dalam kelas sekarang. Cherry melihat dengan jelas, ponsel itu masih dengan layar retak. Bukan ponsel yang pernah dia belikan. 'Lho, handphonenya kok bukan yang baru?' batin Cherry. Barry tak sengaja bertemu pandang dengan Cherry. Kemudian dia gugup dan memasukkan ponselnya kembali ke saku. Berdeham dan melihat ke segala arah. 'Mampus, dia lihat handphone gue ya? Aduh, pasti dia nanyain deh. Harus jawab apa nih?' Barry menunduk sekarang, menghindari tatapan menusuk Cherry yang seolah bertanya "Dimana handphone baru kamu?" Usai pelajaran, Giana tetap berada di dalam kelas. Gadis menyebalkan itu bahkan tak punya teman yang bisa sekedar bertanya tentang apa gerangan yang terjadi padanya? Kenapa dia? Tak ada satupun yang peduli karena gadis itu sungguh membuat muak. Barry merapikan bukunya, menggendong ransel hitamnya dan hendak keluar kelas. Tapi, dilihatnya Giana masih duduk di kursinya. Barry heran sekali, dia mendekati kekasihnya itu. Menyentuh pundaknya. "Giana, enggak makan siang?" Barry melongok ke wajahnya. Gadis itu tengah menangis. "Giana, kamu kenapa?" Barry panik sekali, Giana merintih seperti menahan sakit. "Giana? Ada apa? Ada yang sakit?" Barry mengusap kepalanya. "Barry." isaknya. Barry memeluknya, entah apa yang terjadi padanya tapi Barry sangat cemas sekarang. Giana tak pernah seperti ini selama bersamanya. "Giana, kamu sakit? Ayo kita ke klinik kampus!" ajak Barry. Giana menggeleng, membenamkan wajahnya dalam pelukan Barry. "Kenapa? Cerita sama aku. Bapak kamu sakit lagi?" Giana hanya terisak. Enggan bicara tentang sebab yang membuatnya seperti itu. "Hei, kamu kenapa sayang?" ucap Barry lembut. "Barry, apa kamu masih sayang sama aku? Hikshikshiks." "Kok tanya gitu? Maaf ya soal kemarin, aku terlalu keras ya sama kamu." Giana mendekap tubuh jangkung itu. Tangannya gemetar. Ingin rasanya berkata "tolong" tapi dia tak mau aibnya terungkap di depan kekasihnya. "Mau pulang? Mau aku anterin?" Barry menawarkan diri. Giana mengangguk. "Yuk, pulang!" Barry meraih tas Giana dan mengalungkannya di bahu kirinya, sementara di bahu kanannya sudah ada ransel miliknya sendiri. Tubuh kurus itu dibimbing keluar dari kelas, Cherry yang ternyata menunggu Barry di luar melihat pemandangan itu dan hanya bisa berlalu pergi. 'Memang sudah seharusnya mereka mesra, kan mereka pacaran.' Cherry mencoba tersenyum. 'Cherry, elo kenapa sih?' batinnya. 'Jangan bilang elo naksir berondong itu?' Cherry memukul pelan kepalanya sendiri sementara Barry dan Giana terlihat jauh di sana, menuju ke arah luar. Mereka menyambangi parkiran, Barry mengantar Giana pulang dengan motor bututnya. Kali ini, Giana tak menolak. Mulutnya yang cerewet itu seolah tertinggal di sebuah tempat. Dia hanya diam sepanjang perjalanan. Sesampainya di rumah, Barry bertemu dengan mamanya Giana. "Barry, udah lama enggak mampir." sapa mama Giana. "Iya, Ma. Sehat ma?" Barry bersalaman dengan wanita itu. "Baik." Giana meminta Barry mengantarkannya ke kamar. "Biar sama mama aja, Barry." "Kalau gitu, Barry permisi ya, Ma." "Enggak mau minum dulu?" "Enggak usah, Ma. Masih ada jam kuliah." "Dari pagi Giana udah murung, Mama bilang jangan ke kampus tapi dia tetep pergi naik taksi." "Iya, tadi Barry aja ke klinik juga dia enggak mau, Ma." "Mungkin cuma masuk angin kali ya, biar nanti Mama yang urus." "Iya, Ma. Barry ke kampus dulu ya!" "Iya, hati-hati Barry. Makasih banyak ya!" Kedua orang tua Giana, tahu kalau Barry adalah pria baik-baik. Hanya saja, Giana memang jarang sekali membolehkan Barry berkunjung ke rumah. Hanya beberapa kali saja Barry datang dan ngobrol dengan sang Mama. "Giana kenapa ya?" Barry menoleh lagi ke arah rumah itu sebelum akhirnya pergi bersama suara knalpot yang tak enak didengar. Giana berbaring di tempat tidur, ponselnya berdering. Dia ketakutan, meremas selimut meski tubuhnya sudah berpeluh. Vano si pria lembut yang amat Giana sukai itu, membawanya ke apartemen miliknya sesaat setelah menonton sebuah film semi di bioskop, dimana dia terlihat oleh Barry dan Cherry. Giana setuju saja karena tahu Vano adalah pria baik yang sangat romantis. Tapi, alangkah terkejutnya Giana. Di kamar apartemen itu, Vano mulai agresif dan melucuti pakaian Giana. Awalnya gadis itu menolak, tapi Vano berkata bahwa dia sangat mencintai Giana dan akan menikahinya. "Menikahi dengan kamu tidak sulit untuk aku, Gi. Aku sebenarnya kaya raya. Aku selama ini menguji kamu dengan berpura-pura miskin." Perkataan Vano dibuktikan dengan apartemen mewah ini. Namun, ternyata Vano melakukan hal-hal diluar kewajaran. Dia seperti maniak s3ks gila yang sangat brutal. Giana memekik kesakitan tapi dia justru semakin gencar melakukan aksinya. Kejadian itu sudah berlangsung sebanyak empat kali, di tempat yang sama. Entah apa yang merasuki Giana sehingga dia tak pernah berani menolak saat Vano berkata akan segera datang untuk menjemputnya. Hingga di kali terakhir itu. Giana merasakan sakit yang luar biasa. Dia sangat takut. Giana merasa hancur, pria idaman yang amat dia puja itu ternyata merusaknya. Begitu berbeda dengan Barry yang sangat baik, cowok yang selama ini dia sia-siakan keberadaannya. Hanya menuntut materi dan tak pernah sedikitpun Giana mencintainya. Sementara itu, di sisi lain Barry mulai menemukan kenyamanan di samping Cherry. Semakin hari, perasaan itu seperti tumbuh subur. Seiring pertemuan mereka yang intens di kelas, juga keseruan mereka saat nongkrong berempat dengan Shaka dan Rico. Barry ke kampus tapi ternyata dosen mata kuliah speaking berhalangan hadir. Waktu kosong itu dimanfaatkan Barry untuk duduk santai di area kampus sambil mendengarkan musik lewat headphone milik Rico. Barry memakai kemeja lengan pendek yang kancingnya dibiarkan terbuka hingga ke bawah, sementara di bagian dalam kemeja, dia mengenakan kaos putih polos. Bibirnya bergerak-gerak mengikuti nyanyian yang dia dengar. Sebuah pesan masuk. Senyum Barry seketika tersungging lebar. "Tante Cherry!" serunya. "Ngapain kamu sendirian disitu?" isi pesan itu. Barry membuka headphone dan celingukan kesana-kemari. Kemudian menemukan Cherry sedang berdiri beberapa meter darinya. Dosen cantik itu tersenyum. Barry hendak melambai tapi dia menarik tangannya kembali. Mahasiswa mana yang kurang ajar sekali, melambaikan tangan kepada dosen seksi. "Mau makan bareng?" ajak Cherry. "Mau sih, Tante. Tapi, Barry enggak enak kalau terus dibayarin. Kalau Barry yang bayar, bingung mau dapat uang darimana. Hehehe." balas Barry. "Ish! Udah ayo! Tante tunggu di depan ya!" "Sekarang, Tante?" "Ya sekarang! Masa tunggu kamu mapan!" Barry cekikikan sendiri kemudian menatap Cherry dan mengangguk sebanyak dua kali. * Kini mereka berada di dalam mobil, dengan Barry sebagai supirnya. Supir ganteng dan cool yang tak pernah bisa menahan diri untuk melirik ke jok sebelahnya. "Apa sih? Liatin terus?" goda Cherry. "Enggak, hehe. Barry kira Tante mau ajak Rico sama Shaka." "Emang kamu lebih suka kalau ada mereka?" pancing Cherry. "Ha? Ya enggak juga hehe." "Kalau mau ajak mereka, Tante telepon nih!" "Eh, jangan Tan-te.." Barry hendak merebut ponsel Cherry tapi tangannya justru menggapai tangan Cherry sementara ponsel itu jatuh ke pangkuannya. Cherry tertegun. Barry juga kaget, tapi nyatanya dia tak melepaskan genggaman tangannya itu. Dia pura-pura tak tahu dan fokus menyetir. Cherry tersenyum dan mempererat genggaman tangan itu. Mereka kemudian tak saling bicara. Kehangatan hanya tersalurkan lewat ruas jemari yang saling bertautan itu. 'Indah banget, moment kaya gini. Entah kenapa gue nyaman banget kalau pegang tangan dia kaya gini.' Barry menggunakan satu tangan untuk mengendalikan kemudi. Sementara ponsel Cherry terselip diantara kedua paha Barry. Diam di sana menjadi saksi "Gimana kuliah kamu? Lancar?" Cherry bertanya saat mereka berada di rumah Cherry. Duduk bersama di sofa ruang depan setelah menyatap kudapan yang dimasak oleh si Mbak atau yang biasa dipanggil si Bibi wkwk. "Ah, Tante. Kok malah tanya, kan Tante dosen Barry." Cherry tertawa. Mereka duduk berdekatan, sementara di depan mereka ada dua piring slice cake dengan minuman dingin tersaji. Sebagai teman ngobrol santai keduanya. "Tante enggak akan kasih kamu nilai bagus hanya karena kamu adalah.." Dia tak melanjutkan kalimatnya. "Adalah apa, Tante?" sergap Barry. "Adalah? Emh." Cherry meraih gelas dan meneguk isinya, wanita dewasa itu mendadak canggung. "Adalah?" Barry justru membuat Cherry salah tingkah karena wajahnya mendekat. Cherry sampai harus bergeser sedikit karena kikuk. "Adalah apa?" Barry malah berbisik, membuat tengkuk Cherry jadi merinding seketika. "Barry, ish." Cherry mencubit lengan cowok itu. "Ish, adalah apa?" rengek Barry. "Enggak tahu ah!" Wajah Cherry memerah. "Lho kok enggak tahu? Enggak baik lho ngomong tapi enggak dilanjutin." Barry secara natural bersikap sebagai pria yang pandai mengusili teman dekat wanitanya. "Ish!" Cherry mengalihkan itu dengan menyendok cake dan memasukkan ke mulutnya. Alih-alih mengubah topik, Barry malah semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Cherry. Perlahan dia menaikan jarinya ke bibir Cherry. 'Ya ampun, anak ini mau apa?' batin Cherry teriak panik. Barry menatapnya lembut, sementara ujung ibu jarinya sudah menyentuh pelan bibir Cherry. Dosen cantik itu tertegun, baru saja akan menutup mata saat Barry menarik kembali tangannya dan berkata. "Ada krim." Kemudian dia melumat ibu jarinya dengan bibirnya sendiri. "Manis." bisik Barry setelah merasakan krim dari ibu jarinya itu. Cherry mendelik, dia berdebar. Pria muda ini benar-benar membuatnya hampir gila. Jantungnya seperti akan loncat. 'Astaga, Barry! Bener-bener bikin gue deg-degan parah' Cherry kembali pura-pura minum. Barry senyum-senyum, entah kenapa dia jadi agresif saat hanya ada dirinya dan Cherry saja. Saat berduaan, dia merasa seperti pria gentle yang berhadapan dengan kekasih cantiknya yang nampak malu-malu diperlakukan dengan manis olehnya. Dalam hati, sebenarnya Cherry mengharapkan hal lain. Tak hanya sebatas itu. Tapi, tak mungkin jika dia memulainya lebih dulu. Meskipun dia lebih dewasa dari Barry, tapi tetap saja dia seorang wanita. Barry merasa tak bisa membuang kesempatan emas ini. Cherry yang nampak diam dan malu membuatnya ingin beraksi lebih jauh lagi. Barry mencondongkan tubuhnya ke arah Cherry, demi apapun rasanya dad4nya hampir meledak. Barry sekali lagi menyentuh bibir Cherry, kemudian menarik dagu Cherry agar mendekat ke arahnya. "Cup!" Sebuah kecupan pertama diantara mereka perlahan terjadi. Cherry memejamkan matanya, Barry menerima sinyal dari Cherry dan melanjutkannya agar lebih intim. Saat mereka tengah asyik terbuai dalam romansa manis, tiba-tiba pintu depan terbuka dan terdengar suara teriakan marah seorang pria. "Cherry!" sentaknya. Barry menarik dirinya, sementara Cherry membuka matanya. Nampak di depan mereka, Kefin yang berdiri dengan sorot mata menyala karena geram. Kefin berjalan cepat ke arah Barry dan menarik kerah kemeja yang dikenakannya. "Bangs4ttt!!" Satu tinju melayang dengan sangat cepat,tanpa bisa Barry hindari. "Kefin!" Cherry histeris dan meraih tubuh Barry yang tersungkur di sofa. "Gara-gara dia? Ha? Gara-gara berondong sial4n ini kamu ninggalin aku? Batalin rencana pernikahan kita? Iya?" Kefin koar-koar dengan wajah merah padam. "Pak! Pak satpam!" teriak Cherry. "Cherry!!" teriak Kefin yang tak percaya bahwa Cherry justru membela Barry. "Ada apa, Non?" satpam itu terlihat berlari masuk ke ruang depan. "Pak, tolong suruh Kefin keluar!" Cherry mulai menangis. Barry masih terduduk di sofa, memegangi bibirnya yang memar. "Mas, ayo keluar!" "Eh satpam rendahan, diem Lo ya!" bentaknya. "Keluar kamu, Fin! Atau aku telepon polisi!" Cherry berteriak nanar. Kefin hendak meraih kembali tubuh Barry tapi satpam Cherry bergegas mencegahnya. Dia menarik Kefin yang meronta hingga ke luar pintu. Satpam itu boleh saja kurus, tapi dia tetap terlatih dan punya beragam tehnik untuk menjatuhkan penjahat atau orang yang mengusik lingkungan tempatnya berjaga dan bekerja.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD