Satu tahun kemudian. "Halo, selamat pagi." Karen hampir saja menjatuhkan ember air di tangannya ketika dia mendapati Ayyara mendorong punggungnya, hampir membuatnya jatuh terjerembap ke depan dan kekehan dari adik kecilnya membuat Karen mendengus kesal. "Apa-apaan kau ini?" Karen menaruh ember hitam itu di atas tanah dan berkacak pinggang. "Kau menunggang kuda dan berlari dari kudamu tanpa memikirkan calon keponakanku?" Karen menggeleng gemas. "Berhenti Ayyara atau suamimu akan marah." Ayyara memasang wajah meledek pada Karen. "Oh, apakah pria menyebalkan itu bisa kesal padaku?" Ayyara tertawa menyadari wajah Karen yang berubah dan memeluknya. "Aku merindukanmu, Karen!" Karen terkekeh kecil dan balas memeluk adiknya dengan sayang. "Aku bilang akan pergi mencari gelang dan jepit rambut

