“HELLOW, ADEKKU...” dengan senyuman yang lebar, Ozan duduk di hadapan meja kerja Lala. Dapat Lala tebak kedatangan Kakaknya yang tiba-tiba ke kantornya. “Kenapa, Kak?” “Hey, Adikku...Kamu udah makan siang belom?” Sebagai jawaban, Lala menggeleng samar. “Belom...” “Kamu gak lagi puasa, kan?” sekali lagi Lala memberikan gelengan. “Hah, Kakak juga belom makan siang, nih! Gimana kalo kita makan siang bareng?!” “Boleh...” jeda tiga detik, dan entah kenapa Lala menunjukkan senyuman lebar. “Tapi Kakak yang traktir, yah?” Ozan berdecak samar. Ujung-ujungnya setiap mereka makan bersama, selalu Lala meminta traktir. Tak pernah bermodal. “Iya, iya... Selow aja, kalo dengan Kakak kamu ini. Eh, tapi mau makan di mana, ya?” Lantas Lala ikut-ikutan berpikir keras. Ia coba mengingat tempat makanan

