episode 32.

1265 Words
Senyum Camelia mengembang sepanjang hari yang berhasil membuat Laras dan Desi heran dengan apa yang terjadi pada diri temannya itu. " Gak panas kok, suhunya juga normal. " Laras menyentuh bagian dahi Camelia menggunakan punggung tangannya, Mencoba memastikan keadaan temannya itu. " Lo waras kan Lia? " tanya Desi yang juga heran melihat apa yang terjadi dengan ekspresi wajahnya itu. Sedangkan yang di tanya semakin melebarkan senyumannya, yang semakin membuat mereka khawatir. Desi yang sudah tak tahan menggebrak mejanya lantaran bertambah khawatir. Brak ... " Lo ikut gue sekarang, ayo... " Desi langsung menarik tangan Camelia, " Lo Ras... izin in gue sama Lia, gue mau bawa nih anak ke rumah sakit. " lanjut Desi sambil melangkahkan kakinya ke luar ruangan tempat mereka biasa kerja. Camelia yang tadinya tak peduli dengan apa yang akan di lakukan Desi sontak menahan pergelangan tangannya yang sedang di tarik temannya itu. " Kita mau ngapain ke rumah sakit Des ... " Camelia heran kenapa ia mau di bawa ke rumah sakit. " Buat periksa lo , takutnya lo stres gara - gara di selingkuhin Rama sana kakak lo. " ucap Desi dengan ekspresi serius. Camelia yang mendengar itu sontak melotot kaget. " Enak aja gue gak gila Desi " ucap Camelia sambil melepaskan tangannya yang dari tadi di pegang oleh Desi. " Gue masih waras kali, sembarangan kalo ngomong. Omongan itu doa tahu " Camelia berjalan menuju mejanya tadi dengan gerutuan yang masih terdengar jelas. Camelia tak habis pikir bisa - bisanya ia di anggap gila oleh Desi. Laras yang melihat hal itu tak dapat menahan tawanya lagi, ia tertawa terbahak - bahak. " Ha... Ha .... Ha ... Lo berdua sumpah lucu banget, gue nyampe bingung mau komentar. " Laras bicara di sela - sela tawanya. Sedangkan Camelia mendengus kesal dengan apa uang di lakukan Desi. " Ya... Ya gue mana tahu, gue kira lo gak waras lagi. soalnya liat muka lo yang dari tadi senyum - senyum gak jelas gitu, gue kira lo gila . " ucap Desi tanpa beban, setelah mengeluarkan apa yang ada di pikirannya. " Lo kenapa sih Lia, ngomong donk jangan bikin kita penasaran. " akhirnya laras menyuarakan apa yang ingin ia tanyakan sedari tadi. Camelia yang di tanya seperti itu tiba - tiba mukanya bersemu merah, karena mengingat apa yang terjadi semalam.,ia merasa malu sendiri padahal tak ada orang lain yang mengetahuinya. Laras dan Desi lama - lama di buat kesal dengan tingkah Camelia. " seratus persen gila... " ucap Desi sambil menggelengkan kepalanya. " Kayaknya gitu sih... Bawa ke rumah sakit saja lah. " putus Laras yang menjadi jengkel dengan Camelia, bukannya menjawab malah senyum - senyum sendiri. Melihat kedua temannya memasang wajah cemberut, malah membuat ia semakin tersenyum senang. " Nanti deh kapan - kapan gue kasih tahu soalnya gue juga belum mengerti kanapa sikap gue jadi gini... " menghela nafas Camelia melanjutkan ucapnya, " terlalu dini menyimpulkan apa yang gue rasa sekarang. " ucap Camelia melirih di akhir kalimatnya. " gue masih takut memulai hal baru. " batin Camelia. Laras dan Desi yang melihat raut wajah Camelia jadi berubah sedih merasa tak enak hati karena suasananya jadi berbeda, " Apa yang sebenarnya terjadi " itu yang sedang mereka pikirkan. " Oke deh ... kami siap kapan pun, kalau kamu sudah siap cerita. " Desi berusaha merubah suasana kembali ceria seperti sebelumnya. Camelia pun berusaha tersenyum senang. #### " Rapat hari ini kita akhiri karena semua pelaku sudah tertangkap dan harus mengembalikan dan mengganti semua dana yang mereka ambil, itu menjadi putusan akhir yang saya sepakati. Mereka juga akan di keluarkan dari perusahaan ini secara tidak hormat. " Arya berkata untuk mengakhiri rapat yang ia pimpin Semua anggota rapat yang hadir setuju dan mulai meninggalkan ruangan tempat rapat di langsung kan. Menarik nafas lelah ia menyandarkan tubuhnya di kursi yang sedari tadi ia duduki. " Akhirnya beres..." Toni berkata sambil membereskan berkas - berkas yang yang berserakan di meja tempat mereka rapat tadi. " Iya gue bersyukur masalahnya cepet kelar, terus pelakunya juga ketangkap. jadi kita gak usah khawatir lagi. " jawab Arya sambil memainkan ponselnya. " Jadi rencana kapan kita bakal balik ke jakarta lagi? " Toni bertanya sambil melangkahkan kakinya mengikuti Arya yang sudah berjalan untuk keluar dari ruangan rapat tersebut. " Besok siang deh kayaknya, soalnya ada beberapa hal yang harus gue selesaikan dulu. " Arya berucap tanpa mengalihkan wajahnya dari ponsel yang ia genggam. " Ish ni orang kemana sih, ko pesan gue belum di baca? "gerutu Arya yang masih bisa di dengar oleh Toni. " Lo nunggu pesan siapa ? kayaknya penting banget ? " Toni bertanya heran karena temannya itu dari sebelum rapat tadi sepertinya sibuk dengan ponselnya. " Gak ada " jawab singkat Arya. #### Rama menghentikan mobilnya di sebuah cafe yang dekat kampusnya, cafe yang Biasanya di isi banyak anak muda juga para mahasiswa. Karena cafe tersebut memang menyediakan harga yang terjangkau bagi para mahasiswa, bukan hanya mahasiswa tapi kadang juga banyak anak sekolahan yang suka nongkrong di cafe tersebut. Rama mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan mencari sosok yang mengajaknya untuk bertemu, agak susah mencari karena cafe sedang ramai - ramainya sebab waktu menunjukan jam pulang. Setelah cukup lama ia berjalan ke arah orang yang ia cari, sebenarnya ia agak malas untuk bertemu tapi akhirnya ia memutuskan untuk menemuinya sebab ia bilang ini tentang Camelia, gadis yang sedang ia perjuangkan kembali. " Sorry tadi jalan rame. " ucap Rama setelah duduk di hadapan sosok tersebut. " Gak masalah. " sahutnya cepat. Hening kemudian tak ada yang bersuara, mereka merasa canggung walau pun Suasana cafe sangat ramai tapi kedua manusia itu sibuk dengan apa yang akan mereka katakan. " Apa yang mau kamu omongin Sis ..? " Rama bertanya pada sosok di depannya yang ternyata adalah Siska. Menghembuskan nafas berkali - kali siska akhirnya bersuara. " Maaf... maaf banget atas semua yang aku lakuin selama ini, dan juga atas yang kemarin malam aku lakuin sama kamu. " mengangkat tangannya ia menyuruh Rama untuk mendengarkannya dulu. " Aku merasa bersalah banget sama Camelia, kamu emang bener seharusnya kita gak ngelakuin itu di belakang Camelia, aku jahat banget sebagai kakak yang mengambil apa yang di punya adiknya. Sekarang aku sadar, aku juga gak akan menghalangi kamu kalau kamu mau sama Camelia mau balikan lagi. " Siska berkata dengan mata yang berkaca - kaca, karena merasa malu dengan semua yang pernah ia lakukan. Rama yang mendengar itu sedikit tak percaya dengan apa yang di ucapkan Siska, tapi ia juga senang akhirnya Siska mau menerima semua keputusan yang sudah aja ambil. " Kamu yang perlu merasa bersalah Siska, bukan cuma kamu yang salah di sini aku juga sama bersalah nya dengan kamu. Tapi aku bersyukur kalau kamu mau menerima semua keputusan yang sudah aku ambil, dan maaf juga karena pasti hati kamu juga merasa sakit karena perbuatan ku. " Rama mencoba menggenggam tangan Siska sebagai tanda ucapan terima kasih. Siska yang mendengar apa yang di ucapkan Rama seketika tak dapat menahan air matanya, hingga ia menangis tersedu - sedu walaupun sakit tapi ia merasa lega setelah mengatakan semuanya. " Terima kasih sekarang aku merasa lega karena sudah mengatakannya. " Siska mengusap sisa air matanya dengan tisu yang tersedia di meja. " Apa kita masih bisa berhubungan sebagai teman? " tanya siska ragu - ragu. Rama yang mendengarnya menganggukan kepalanya, ia rasa tak ada salahnya tapi ia akan menjaga jarak supaya Camelia tidak cemburu lagi. karena ia bertekad akan mendapatkan Camelia kembali. Senyum terpatri di wajah keduanya. mereka mencoba menjalani semuanya walau tak sama lagi. by Cha88. Terima kasih sudah mampir jangan lupa ♥️ dan follow ya makasih.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD