Camelia turun dari taksi masih dengan perasaan kesal, entahlah apa yang membuatnya kesal ia juga bingung, yang pasti sekarang ia benar - benar memiliki mood yang jelek.
" Assalamualaikum ... " ucap Camelia ketika memasuki rumah, tapi tak ada yang menjawab ucapan salam darinya.
" Bunda kemana kok gak ada tumben. " Camelia berjalan memasuki ruang keluarga tapi tetap tak ada siapa - siapa. Ia memutuskan berjalan ke dapur karena kebetulan ia merasakan tenggorokan nya kering, mengambil air dari dalam kulkas menuangkannya dalam gelas yang tersedia di samping kulkas dan meminumnya dengan cepat sebab ia merasa haus.
" Dek ... " panggil suara mengagetkan Camelia.
" Uhuk ... uhuk ... " Camelia tersedak air yang belum semuanya ia telan, sehingga sebagian air dari mulutnya keluar.
" Kamu gak apa - apa dek ? " tanya Hana khawatir, melihat putri bungsunya tersedak.
" Bunda iihh.... Adek kan kaget, bunda datang gak bilang - bilang. " Camelia cemberut karena tindakan sang bunda yang tiba - tiba sehingga ia dirinya tersedak.
" lho kok nyalahin bunda sih, bunda kan gak tau kalau kamu bakal kaget. " Hana tak mau di salahkan atas apa yang terjadi pada putrinya itu.
Camelia menghela nafas karena sang bunda tak pernah akan mau di salahkan.
" Gak tahu ah adek kesel... Bunda dari mana sih tadi Adek pulang gak ada orang, sepi banget... ? " Camelia bertanya sambil mendudukan dirinya di meja makan.
" Oh bunda tadi ngambil kue yang bunda pesan dari bu rt, nih kuenya kue red velvet . " Hana menunjukan kotak kue yang baru saja ia letakkan di atas meja makan. Camelia yang melihat itu berbinar senang.
" Bunda Adek mau ya ? " Camelia berkata sambil membuka kotak kue yang ada di hadapannya.
" Boleh ambil piring sana, sisa in juga buat ayah sama kak Siska ya... " Hana menjawab sambil mengingatkan putri bungsunya itu, karena kalau gak di ingatkan bisa - bisa habis semua oleh Camelia.
" Oke bunda... " Camelia langsung berdiri untuk mengambil piring dan garpu untuk dirinya dan langsung mengambil kue yang sudah menggodanya itu dan memakannya dengan nikmat.
" Em ... Lia bunda mau tanya boleh ? " Hana bertanya ragu - ragu takut menyinggung perasaan putri bungsunya itu.
" Boleh ... " jawab Camelia heran mendengar bundanya seperti ragu ingin bertanya.
" Kamu masih marah dengan kak Siska ? " tanya Hana karena khawatir melihat hubungan kedua putrinya. Camelia menghela nafas sambil menelan sisa kue yang masih di mulutnya.
" sejujurnya Adek masih marah bunda, " jeda Camelia. " Tapi Adek juga gak mungkin marah terus sama kak Siska, Adek memang marah sama kakak kenapa di tega menusuk Adek dari belakang dengan cara berhubungan sama Rama di belakang Adek. Tapi sekarang Adek lagi berusaha buat ikhlas dengan cara Adek gak masalah in kalau mereka mau melanjutkannya karena sekarang Adek sama Rama udah gak ada hubungan apa - apa lagi." Camelia berucap panjang dengan pandangan yang mulai berkaca - kaca.
" Kalau di bilang sakit hati Adek sakit banget bunda, di hianati dua orang yang adek sayang dengan sepenuh hati. Tapi kalau mereka memang saling cinta sekuat Adek pegang tangan Rama tetap aja bakalan lepaskan bun... , jadi Adek berusaha buat iklasin mereka. " Camelia tak dapat menahan air mata yang sudah ia tahan dari tadi.
Hana yang melihat putri bungsunya menangis langsung memeluknya dengan sayang, merasa prihatin dengan apa yang terjadi dengan kisah percintaanya. Ia hanya berharap semoga putri itu dapat menemukan cinta yang baru yang lebih tulus untuknya.
Tanpa keduanya sadari, seseorang juga sedang menangis ia sangat menyesal karena telah menjadi duri dalam daging dalam hubungan adiknya. Ia Siska tak dapat menahan laju air matanya, niat hati ingin pamit hendak keluar pada sang bunda malah mendengar suara hati sang adik.
" Maaf in kakak Lia ... " Siska mengurungkan niatnya untuk keluar, ia beranjak naik ke atas menuju kamarnya berada. Dalam hati ia kini sangat menyesal telah melukai hati sang adik tersayang.
Duduk merenungi apa saja yang sudah ia lakukan terhadap sang adik sekarang ia merasa sangat berdosa. Tiba - tiba ia teringat dengan Rama yang juga sangat menyesal dan berniat ingin kembali dengan sang adik.
Sepertinya ia akan membantu Rama untuk kembali pada Camelia, sebagai rasa penebus kesalahannya. Ia berjanji akan berusaha untuk membantu niat Rama itu.
Camelia duduk di mekarjaya yang ada di kamarnya ia sedang mengeringkan rambut setelah mandi tadi. Ia teringat kejadian di dapur tadi, entah mengapa setelah ia bercerita pada sang bunda perasaannya menjadi terasa ringgan.
Mungkin karena ia sudah mengikhlaskan semua kejadian yang ia alami, jadi beban hatinya lebih ringan.
Ting...
Bunyi tanda pesan masuk pada layar ponselnya, " JERAPAH " nama kontak yang tertera pada layar ponselnya.
Perlahan senyum terbit di bibir berwarna pink muda itu, entah mengapa Camelia merasa senang melihat nama yang terdapat pada ponselnya itu.
" Cabe ... " satu kata pada isi chat tersebut, berhasil membuat senyum yang semakin lebar pada bibir Camelia. Camelia ragu ingin membalas apa, hingga panggilan dari kontak yang sama berhasil membuat ia gugup.
" Huh kenapa si Jerapah malah nelfon " Camelia menjadi gugup padahal biasanya tak pernah seperti ini sebelumnya.
" Hallo ... " Camelia bicara setelah bisa mengendalikan rasa gugupnya, setelah menggeser tanda hijau pada ponselnya.
" Cabe... kamu kemana kok pesan saya gak di balas. " Arya langsung bicara tanpa membalas sapaan Camelia. Camelia yang mendengar suara Arya bertambah gugup. menarik nafas mencoba bersikap biasa saja.
" Saya baru saja selesai mandi pak, emang kenapa telpon saya? " Camelia berusaha menormalkan detak jantungnya yang berdebar kencang.
" Emang saya gak boleh kalau telpon kamu gitu? " nada bicara Arya terdengar tak senang.
" Ya gak apa - apa sih pak, saya kan cuma tanya " Camelia menjawab pertanyaan Arya. " pak Arya kapan pulang dari batu ? " tanya Camelia tanpa sadar menanyakan kepulangan pria itu.
" Kenapa kamu kangen ya ? " tanya Arya merasa senang karena Camelia bertanya seolah ia merindukannya.
" iya pak kangen... " ucap Camelia tanpa sadar, tapi beberapa detik kemudian ia memelototkan matanya terkejut dengan apa yang baru saja ia ucapkan.
Arya yang mendengar ucapan Camelia terkejut tapi tak lama ia tersenyum lebar.
" Coba ulangi lagi, tadi kamu bilang apa? kamu kangen saya ? " Arya berteriak senang mendengar apa yang di ucapkan Camelia.
Sedangkan Camelia wajahnya sudah memerah malu, mengingat apa yang ia ucapkan tadi. Untung saja Arya tak melihatnya bisa - bisa ia pingsan dengan apa yang ia ucapkan tadi.
" Ih pak Arya siapa yang kangen saya bilang tadi saya pengen oleh - oleh. " Camelia memukul kepalanya pelan ,merasa bodoh dengan kebohongannya tadi " masa kangen jadi pengen oleh - oleh lia " batinnya menggerutu kesal.
Arya yang mendengar ucapan sangkalan dari Camelia tersenyum geli, dia kira dirinya tak mendengar apa yang di ucapkan gadis itu, cabe - cabe menggemaskan batin Arya.
" Oh jadi kamu gak kangen saya? " Arya berniat menggoda Camelia. " Padahal saya kangen pake banget sama kamu Cabe ... " ucap Arya mengatakan apa yang ia rasakan. Camelia yang mendengar ucapan Arya hampir berteriak karena malu, tapi ia berusaha menahannya.
" Ih pak Arya kok ngegombal terus sih, entar kalau saya baper gimana ?" ucap Camelia sok galak padahal jantung dag - dig - dug.
" Kalau saya serius gimana? " tanya Arya dengan nada yang berubah serius, yang membuat Camelia salah tingkah.
" Ih pak Arya udah ah saya BAPER ... " Camelia langsung mengakhiri panggilannya denga Arya. Ia sudah tak kuat merasakan wajahnya yang memanas.
" Sialan gue beneran baper ... " Camelia menutup wajahnya dengan bantal.
by Cha88.
Jangan lupa tekan ♥️ dan follow ya makasih