Arya mengurut keningnya pusing, ia baru saja meyelesaikan meting yang cukup menguras tenaganya. Ia kira masalah yang ia hadapi ringan tapi ternyata masalah cukup serius. KORUPSI , ya korupsi ada yang bermain - main dengan anggaran pembangunan salah satu hotel yang sedang perusahaan bangun.
Hotel yang terletak di kawasan batu itu rencananya harus selesai dalam waktu kurang beberapa bulan lagi, tapi ternyata sampai sekarang tak juga selesai jangan kan selesai ternyata masih berbentuk setengah jadi, itu yang membuat Arya naik darah.
Usut punya usut setelah di selidiki ternyata pengawas yang bekerja dan seorang manager menikmati uang yang seharusnya untuk pembangunan hotel miliknya.
Itulah sebabnya ia tadi pagi langsung terbang ke batu setelah mendengar perintah sang papa, ia berangkat pukul empat pagi dengan di ditemani temannya Toni yang merupakan Asistennya.
" Gila tuh orang ngambil duit gak kira - kira, bermilyar -milyar. Serakah amat jadi orang " Toni mengomel sambil menyandarkan tubuhnya di sofa di ruangan kerja Arya.
Arya yang mendengarnya hanya memejamkan matanya lelah, karena masalah ini ia menjadi kurang tidur.
Ia masih ingat kejadian semalam yang membuatnya merasakan bahagia karena gadis judes itu, tapi sekarang ia malah ada di sini. Padahal tadinya ia ingin mengajak Camelia makan siang bersama di restoran favoritnya, tapi harus tertunda dulu.
Ah memikirkan gadis judes itu mengapa ia merasa rindu. RINDU entahlah tapi ia merasa memang sangat ingin bertemu, padahal baru semalam mereka bersama, bahkan ia masih bisa merasakan halusnya tangan gadis itu.
" Ah cabe aku merindukan mu ... " batin Arya berteriak.
" Woy ngelamun mulu lo , gue ajak ngomong juga lo dari tadi " Toni berteriak marah pada Arya karena mengacuhkannya.
" Apaan sih lo Ton...? berisik banget " Arya mendengus jengkel pada Toni karena mengganggunya yang sedang memikirkan gadis judesnya.
" Apaan - apaan... Dari tadi di ajakin ngomong diam terus " gerutu Toni karena kesal dengan bosnya itu.
" Emang lo ngomong apa sih? " tanya Arya dengan muka tak bersalah, sedangkan Toni hanya mendengus jengkel. Arya yang tak mendapat jawaban dari temannya itu mengangkat bahunya acuh.
" Sudah ah gue mau makan lapar !" Arya bangkit dari duduknya berniat akan makan siang, memandang sekilas temannya yang bisa di pastikan sedang kesal.
" Lo gak mau ikut ? Ya udah gue pergi aja sendiri " Arya melangkah kan kakinya bermaksud akan keluar. Toni yang melihat Arya berniat pergi meninggalkannya berkata dengan nada kesal.
" Dasar gak setia kawan, teman marah bukannya di bujuk malah mau di tinggal ... " gerutu Toni sambil berdiri untuk berniat untuk mengikuti Arya.
Arya yang mendengar Toni menggerutu segera merangkul bahu temannya itu.
" Lo kenapa sih kayak cewek lagi PMS aja lo ? dari tadi marah - marah melulu ... " ucap Arya sambil merangkul Toni supaya bisa jalan beriringan.
" Tau ah gue kesel sama lo ." Toni berusaha melepaskan tangan Arya yang berada di bahunya itu.
" Ha ha ha ... Toni , Toni sorry deh tadi otak gue lagi menjelajah dunia. " Arya berkata dengan senyum yang lebar. Toni yang mendengar hanya mengerutkan kening bingung dengan perkataan Arya yang agak ribet bagi otaknya.
" Maksud lo ? " Toni bertanya sambil tangannya menekan nomor yang ada di lift menunjuk lantai paling bawah.
" Sudah lah nanti gue cerita sekarang ayo kita makan, cacing gue dah pada demo nih ... " ucap Arya sambil memegang perutnya yang memang terasa perih.
Tiba - tiba ia jadi teringat dengan Camelia, biasanya jam segini camelia pasti sudah berada di ruangannya mengantarkan makanan yang akan mereka makan. Senyum Arya terbit lagi - lagi ia mengingat gadis cabenya.
" Ah tambah kangen " batin Arya menjerit.
" Woi buruan Ar .... Gue dah lapar nih " Toni keluar langsung menarik tangan Arya menuju mobil yang sudah di siapkan kantor untuk Arya, memang kantor cabang yang di sana menyiapkan mobil beserta sopirnya sekalian sebagai petunjuk jalan mereka.
Sepanjang lobby kantor banyak karyawan yang mencuri pandang ke arah mereka, terutama karyawan wanita.
Toni masuk lalu di susul Arya kemudian,
" Cari tempat makan untuk makan siang pak. " Toni memerintah selayaknya bos saja, sedangkan Arya hanya diam tidak mempermasalahkan sikap Toni, karena baginya itu sudah biasa.
" Baik pak.... Mau makan di mana ? " tanya sang sopir pada bosnya yang duduk di belakangnya.
" Dimana saja pak tak apa, yang penting tempatnya bersih " Arya berucap sambil mengeluarkan ponsel yang sejak tadi tak ia sentuh.
Menghidupkan ponsel pintarnya berharap ada pesan masuk dari gadis judesnya, tapi ternyata tak ada pesan satu pun dari nomer yang ia mau.Berdecak kesal lalu Ia menarik nafas lalu menyembuhkannya kasar.
Toni yang melihat wajah tak bersemangat temannya itu merasa heran, ia pun melirik sedikit apa yang di lihat sahabatnya itu. Ia terkejut menatap gambar yang menjadi wallpaper telepon genggam temannya itu.
Spontan ia langsung mengambil benda pipih tersebut dan melihat dengan teliti gambar yang terdapat di sana.
" Lo sama si judes ngapain foto berdua ? lo ada hubungan apa hah sama dia ? " tanya Toni beruntun tak percaya melihat foto yang ada di handphone temannya itu, Arya yang mendengarnya mendengus jengkel sambil merebut kembali handphone nya dari tangan Toni.
" Emang kenapa kalau gue ada hubungan sama dia? gak masalah donk, " Arya menjawab acuh tak acuh tak peduli dengan pertanyaan yang di berikan Toni.
" Eh si kampret gue nanya malah sewot... " balas Toni tak mau kalah, sedangkan Arya hanya diam tanpa mau repot - repot menjawab pertanyaan Toni.
####
Sepanjang sisa hari Camelia menampilkan wajah suram, entah kenapa moodnya turun langsung setelah kejadian ia melihat perempuan cantik yang mencari Arya bosnya itu.
Ia merasa kesal karena perempuan itu mencari Arya. Padahal dirinya tak mengenal gadis itu, tapi kenapa ia merasa jengkel ketika menanyakan Arya, ada hubungan apa bosnya itu dengan gadis cantik tersebut.
" Huh Jerapah nyebelin orangnya gak ada tapi tetap saja bikin pusing. " gerutu Camelia dalam hati.
" Itu muka lecek amat sih Lia? " canda Laras yang melihat muka kusut temannya itu, sedangkan Desi tertawa geli mendengar perkataan Laras.
Camelia mendengus jengkel.
" Lo kira muka gue apaan, baju ? pake acara lecek segala. " jawab Camelia ketus.
" Ha ha ha ... muka lo bukan baju Lia tapi kain pel ... " Desi menjawab di sela tawanya yang terdengar menyebalkan untuk Camelia.
Mereka berdua tertawa puas melihat muka Camelia yang bertambah kusut, di tambah dengan bibirnya yang cemberut lucu menambah keras suara tawa mereka berdua.
" Ah udah ah gue mau balik ... " Camelia beranjak untuk meninggalkan meja kerjanya untuk pulang. Karena memang sudah waktunya untuk mereka pulang.
" Laras ... Laras , seorang Camelia kalau ngambek tambah imut ya . " ujar Desi sambil mengejar Camelia yang sudah ke luar dari ruangan mereka.
" Iya imut banget, kayak anak bebek punya tetangga gue. Ha ... ha ... Ha ... " Laras tertawa setelah menjawab perkataan Desi.
Camelia yang mendengarnya bertambah cemberut, dengan muka yan memerah tanda menahan marah.
" Terus aja terus, gue gak bakal maaf in lo berdua kalau terus ngeledek gue " ucap Camelia yang sudah berada di dalam lift.
Kedua temannya bukan takut tapi malah keras tertawa, tak menghiraukan kan wajah Camelia yang tambah keruh.
" Ih kalian nyebelin, gue gak temenan lagi sama kalian. " Camelia berjalan cepat keluar kantor menuju jalan raya untuk pelu menghentikan taksi yang kebetulan lewat di depannya.
Laras dan Desi terdiam setelah Camelia masuk kedalam taksi tersebut.
" Dia marah ya? " tanya Desi yang berdiri di samping Laras.
" Kayaknya sih, ko tumben ya marah " Laras juga mengatakan hal yang membiayainya aneh melihat sikap Camelia.
" Apa kita keterlaluan tadi? " tanya Desi memandang ke arah Laras, yang di jawab gelengan kepala tanda tak tahu oleh Laras.
" Mungkin dia lagi ada masalah kali " ujar Desi yang masih bingung dengan sikap Camelia barusan.
" Ya udah kita balik saja yuk ah, besok kita minta maaf daan Lia " Laras menenangkan Desi dan juga dirinya sendiri.
by Cha.
terimakasih yang sudah mampir jangan lupa tekan ♥️ makasih