episode 33.

1283 Words
Arya menuruni tangga dengan semangat , ia melangkahkan kakinya dengan cepat ke arah meja makan. " Pagi ma ... pa ... " ucap Arya seraya mendudukkan dirinya untuk sarapan dengan ke dua orang tuanya. " Pagi .... " ucap ke dua orang tua Arya, membalas sapaan dari putra mereka. " Lho kamu mau kemana Ar... kok sudah rapi? " tanya santi mama Arya, yang melihat anaknya sudah berpakaian rapi. "Kerja lah ma, emang mau kemana lagi ? " tanya Arya heran dengan apa yang di tanyakan mamanya itu. " Emangnya kamu gak capek apa? kemarin kan baru pulang dari Batu Malang? " Santi mengingatkan. " Gak apa - apa kok ma, Arya gak cape nanti kalau cape Arya pulang atau gak Arya tidur di kamar yang ada di kantor. " Arya menenangkan sang Mama supaya tak khawatir. " Mama mu benar Ar... Lagiankan kamu baru datang semalam kalu hati ini gak ke kantor gak masalah papa masih Bisa ko ganti in kamu hari ini. " Heru membenarkan apa yang di katakan sang istri, putranya itu baru tiba di rumah pukul satu dini hari tadi jadi apa uang di ucapkan istrinya ada benarnya. " Gak isak pa, Arya bisa ko lagian hari ini ada rapat penting dan gak mungkin kalau aku gak hadiri, lagian si Toni juga ada ko pa... " Arya bersikeras untuk berangkat bekerja. Ia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan gadis judesnya itu, ia rindu mungkin. memikirkannya saja membuat hatinya menjadi senang. " Berangkat ya ma... pa... ! " Arya pamit sambil mencium tangan mama dan papanya bergantian, setelah ia selesai dengan sarapan yang sudah di siapkan mamanya itu. " Assalamualaikum. " pamit Arya setelahnya berangkat untuk pergi ke kantor. Sepanjang jalan Arya tak berhenti - hentinya tersenyum, entah mengapa ia seperti anak abg yang lagi jatuh cinta. masa ia jatuh cinta pada gadis judes itu pikir Arya. Tapi tak ayal ia memang selalu bersemangat kalau mengingat tentang gadis itu. Melangkahkan kaki panjangnya dengan tegas Arya memasuki gedung perkantoran milik papanya itu dengan semangat, ia sudah tak sabar ingin bertemu gadisnya. Gadisnya ia terkekeh geli dengan apa yang di ucapkan hatinya. Ting. Bunyi pintu lift yang terbuka membuat Arya melangkahkan kakinya memasuki benda persegi yang akan membawanya ke lantai ruangannya berada. Camelia yang sudah sampai di kantor sebelum Arya, sekarang sedang fokus memeriksa laporan yang kemarin ia buat di meja kerjanya yang belum sempat ia periksa. Ting.... Bunyi notifikasi pesan masuk lewat ponsel yang ada di meja kerjanya ARYA nama si pengirim, membuat Camelia mengalihkan pandangannya dari laporan yang sedang ia periksa ke pesan yang masuk ke ponselnya. Dengan tak sabar Camelia membuka pesan tersebut. " Nanti siang tunggu saya di parkiran mobil, kita makan siang di luar. TIDAK ADA PENOLAKAN. " isi pesan tersebut yang mampu membuat Camelia mendengus jengkel dengan kata - kata yang di tegaskan bosnya itu, tapi tak urung membuat ia tersenyum - senyum sendiri. " PAGI... " teriak Desi yang membuat Camelia kaget dan urung untuk membalas pesan dari Arya. " Ya Allah Desi gue kaget tahu, gimana kalau gue mati muda gara - gara denger suara toa lo... " Marah Camelia dengan melotot galak. " Ya maaf neng Lia , gue kan harus membawa aura positif kalau pagi - pagi biar kita semua pada seneng... " ucap Desi asal. " neng ... neng, tumben amat lo manggil gue pake neng segera. Tumben lo gak bareng Laras biasanya kalian suka bareng. " Camelia yang merasa heran tak menemukan teman satunya itu. " Gak tahu gue, tadi dia bilang gak mau bareng gitu. " Desi mengangkat bahu acuh tanda tak tahu. " Eh kalian sudah pada datang? " Suara seseorang menjeda obrolan mereka. " Pagi pak... iya pak Teguh kita baru sampai. " ucap Camelia sopan pada atasannya itu. " Oke deh... saya masuk dulu ya, " pamit pak Teguh sambil berlalu keuangannya. " Silahkan pak... " mereka berdua menjawab sopan. Arya memandangi room chatnya dengan Camelia, pesannya sudah terbaca tapi ko gak ada balasannya. " Si cabe kemana sih, ko pesan gue gak di balas - balas. " arya memasang wajah cemberut lantaran kesal karena Camelia tak juga membalas pesannya itu. " Kenapa tuh muka kusut amat, " Toni menghempaskan pantatnya di sofa yang ada di ruangan Arya. " Aduh gue masih ngantuk. " ucap Toni sambil menguap tampa menutup mulut. " Tutup mulut lo bau banget. " Arya tak menghiraukan apa yang Toni ucapkan, tapi malah mengomentari kelakuan sahabatnya itu. " Sembarangan lo mulut gue wangi tahu, lagian lo kenapa sih Ar, kita kan baru sampai semalam masa gak ada libur dulu. " Toni langsung mengomel, karena tubuhnya masih merasa lelah akibat perjalanan mereka kemarin. " Kita ada meting penting kan Ton, oke gini saja abis meting lo boleh balik nanti bonus lo gue lebih in deh, kalau proyek kita yang ini sukses gimana? " Arya merasa kasihan pada sahabatnya itu akhirnya memberikan libur walau pun hanya setengah hari. " Beneran lo? " tanya Toni yang balas anggukan kepala oleh Arya. " Oke deh gue setuju, Thanks ya... " ucap Toni senang karena membayangkan bonus yang ia dapat karena proyek yang sedang mereka tangani lumayan besar. Arya yang melihat pesannya tak di hiraukan akhirnya memutuskan untuk menelepon langsung Camelia. Tapi sudah deringan kelima tak juga di angkat oleh Camelia. Membuat ia bertambah jengkel, " Oke satu kali lagi, kalau masih gak di angkat gue susul ke ruangannya. " gumam Arya marah. Belum sempat ia menekan tombol untuk telpon ponselnya berbunyi tanda pesan masuk. Akhirnya pesan yang di tunggu tiba. " Iya pak nanti saya tunggu di dekat mobil bapak, sudah ya saya lagi meting sama pak Teguh ?. " Camelia membalas dengan di tambahkan dengan muka marah. Arya yang mendapat pesan balasan langsung memasang wajah senang, dan ia pun tak sabar menunggu waktu makan siang tiba. Camelia berdiri kepanasan di trotoar samping gerbang masuk , tadinya ia akan menunggu di samping mobil Arya tapi tadi parkiran banyak karyawan yang hendak mengambil kendaraan milik mereka, Camelia merasa akan bahaya kalau ia samping terlihat menunggu bosnya itu disana. Akhirnya ia memutuskan untuk menunggu di gerbang masuk, awalnya Arya menolak tapi akhirnya luluh juga berkat ancaman yang Camelia berikan. Tin... tin... Sebuah mobil mewah hitam yang Camelia kenal berhenti di hadapan Camelia, si pengemudi menurunkan kaca mobil dan menyuruh Camelia agar masuk ke dalamnya. " Sorry lama ya, tadi si Toni gak ada jadi saya agak repot sedikit. " Arya menjelaskan tanpa Camelia minta. " Gak apa - apa pak, saya mengerti gak masalah ko. Ngomong - ngomong kita mau kemana sih pak? " Camelia bertanya penasaran, karena tumben Arya memaksa dirinya makan siang di luar. " Nanti juga tahu, gak usah kepo " Arya berucap dengan senyum mengejek pada Camelia. Kurang lebih lima belas menit mereka sampai di tempat yang di maksud Arya, restoran atau bisa di bilang rumah makan lesehan di kolam terapung, yang menampilkan suasana pedesaan yang asri. " Ayo masuk, kamu pasti suka. " Arya berucap sambil menarik tangan Camelia, Camelia yang melihat tangannya lagi - lagi di genggam Arya sontak bersemu merah. " Kenapa pak Arya main gandeng - gandeng saja sih, kan jantung gue dangdutan lagi. " batin Camelia. Setelah mereka mendapatkan saung untuk mereka makan, mereka langsung memesan makan yang ia inginkan. " Di tunggu ya mbak dan mas nya. " pelayan tersebut pamit setelah mencatat apa yang di pesan. " Cabe.... " panggil Arya mengalihkan pandangan Camelia dari memandangi kolam - kolam yang di penuhi ikan di bawah saung yang mereka duduki. " Ya... " Camelia memandang balik Arya yang memanggilnya . " saya suka sama kamu... " ucap Arya memandang Camelia dengan serius. by Cha88 . Terima kasih sudah mampir jangan lupa tekan ♥️ dan follow ya makasih .
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD