Chapter 2

1082 Words
Chapter 2 “Galen! Jam berapa ini!” tegur Dosen yang saat itu sudah selesai memberi materi. Galen masuk ke kelas saat sang dosen hendak membuka pintu ruangan. “Eh, Bapak. Enggak jadi ngajar?” Galen memasang wajah konyol. “Enggak jadi ngajar apanya, sini kamu biar bapak hajar!” dosen itu menjewer telinga Galen. “Pak, malu pak! Ini kampus pak bukan sekolahan SD.” Keluh Galen saat Dosen galak itu menariik telinganya dan membawanya berjalan di lorong kampus yang ramai dengan mahasiswa. “Sengaja, biar kamu paham rasanya malu kaya gimana! Selalu saja telat masuk mata kuliah saya. Kamu ini punya dendam apa sama saya?” geramnya. “Ampun pak, bukan gitu pak! Saya ini enggak sengaja telat. Rumah saya jauh, dan motor butut saya mogok!” “Basi! Alasan basi!” “Pak, kepercayaan Dosen kepada Mahasiswa adalah syarat terbentuknya kestabilan kehidupan berdampingan di kampus, Pak.” cicit Galen sambil terus menggeliat menahan sakit di telinganya. “Menceracau saja kerjamu, Galen! Cepat ambil kain pel! Bersihkan aula utama!” mereka tiba di janitor tempat petugas kebersihan menyimpan sapu, kain pel dan peralatan lain. “Hah! Aula utama?” Galen tercengang. “Iya, kenapa?” “Aula utama kan segeda gaban, Pak!” keluh Galen. “Gaban itu apa? Bicara pakai kosakata yang baik. Kamu kan anak sastra!” “Lho! Bukan pak!” “Ssstt, cepat bersihkan!” Dosen itu ngeloyor pergi. *** Galen menggaruk telinganya yang gatal, dia berdiri di pintu masuk aula dengan tangan memegang erat kain pel berbatang panjang kurus dan lurus. “Nasib, udah dorong motor sekarang ngepell. Emang udah paling bener aku ini jadi supir delman aja, kuliah buat apa sih! Buang-buang uang Ayah aja.” Galen masih berdiri di sana. Mematung, seluruh perjalan hidupnya kembali diputar ulang di benaknya, segala yang telah dia lalui seolah berkeliaran kembali di depan matanya. Sepasang tangan mungil tiba-tiba menutup mata Galen dari sisi belakang. “Eh, siapa nih? Jangan bercanda ya! Aku lagi enggak mood sama candaan basi!” omel Galen. Galen meraba punggung tangan halus itu, kini Galen tahu siapa dia. Dan tiba-tiba dia jadi punya idel jahil, Galen dengan cepat meraih jemari itu dan memasukannya ke dalam lubang hidungnya. “Jlebb!!” “Aaarghhh!!” Seketika terdengar teriakan melengking dari sang pemilik tangan itu. Galen tergelak, dia menjatuhkan kain pel dan berlarian di aula yang kosong itu. Bangku-bangku berderet rapi dalam posisi terlipat di sisi dinding aula besar itu. “Galen, jorok!!!” rengek Ailee yang merasa sangat jijik. Galen menjulurkan lidahnya dan tertawa terpingkal-pingkal melihat ekspresi kaget Ailee yang sungguh imut. “Hahaha, lucunya ya ampun!” Galen merasa baru saja makan vitamin yang membuat semangat hidupnya terupgrade. “Awas kamu ya, Galen!” Ailee mengejar Galen, mereka berkejaran bak bocah. “Awas ya kamu Galen! Sini kamu!” Ailee mengejar Galen. Galen berusaha berlari lebih lambat, Ailee berhasil meraihi tubuh Galen. Menariknya hingga mereka berdua terjatuh saling tindih. Gadis itu meringis kesakitan kemudian tertawa lepas karena Galen menggelitiki pinggangnya. “Galen.. Hahahaha! Stop Galen! Geli!” tawa Ailee pecah karena sensasi gelitikan Galen. “Siapa suruh kamu mau usilin aku, Hah!” Tiba-tiba saja pintu aula tertutup sesosok tinggi yang berdiri dengan garang dan angkuh di sana. Fintan, dia berdiri bersama tiga orang di belakangnya. Galen berhenti tertawa. ‘Dia selalu datang di saat yang tepat! Benar, dia harus datang saat cintaku pada Ailee belum tumbuh besar. Good job Fintan!’ pikir Galen getir. Ailee berdiri dan membersihkan debu dari pakaiannya. Sementara Galen meraih gagang kain pel dan mulai mencelupkannya ke dalam ember. Fintan berjalan mendekati Ailee, dengan sengaja dia menabrak bahu Galen yang sudah menyibukan diri dengan hukuman dari sang Dosen. “Bagus banget pemandangan ini, orang miskin memang boleh masuk ke kampus ini, tapi hanya untuk bersih-bersih.” Cibir Fintan seraya memasukan saku celana ke dalam tangannya. Maksudnya memasukan tangan ke dalam saku celananya. Galen menghentikan tangannya yang menarik kain pel ke kiri dan kanan. Menghela nafas, dia tahu Fintan bukan tandingannya. Dia hanya harus mengalah jika ingin tetap hidup damai di kampus ini. “Elo jadi banyak kemajuan ya! Enggak sia-sia bokap gue kasih gaji ke bokap elo!” Fintan kemudian berlalu pergi, meraih lengan Ailee dan meninggalkan Galen. Tiga orang ajudan Fintan tertawa cekikikan tanpa sebab, salah satu dari mereka menendang ember berisi air hingga tumpah. “Duh, sorry-sorry! Mata kaki gue lagi gabut, enggak liat ada ember di situ.” “Parah lo! Bisa ya gabut bermanfaat banget kaya gitu. Lumayan Galen, olahraga pagi-pagi sambil main becek-becekan di aula.” Sahut yang lain. Satu yang tersisa hanya terkekeh dan mereka bertiga saling merangkul untuk kemudian pergi dari hadapan Galen. Dengan sabar, Galen membenarkan letak embernya. Dan mengeringkan air yang sudah terlanjur menggenang di lantai keramik itu. Fintan menoleh dan tertawa senang melihat kelakuan anak buahnya yang absurd dan mewarisi bakat iblis sepertinya. Ailee ikut menoleh, matanya menatap Galen dengan tatapan iba. Sebesar apapun rasa yang dia miliki untuk Galen, dia tetap tahu batasan. Dia tahu dan sadar bahwa Galen tak sepadan dengannya yang seorang anak pengusaha kaya raya. Galen hanya anak supir, memaksakan cinta sesaat hanya akan menimbulkan masalah untuknya. Ailee hanya bisa menunjukan wajah itu, setiap kali dirinya merasa gelisah tentang perasaan yang dia miliki untuk Galen. “Kamu boleh bermain dengan mainan kamu saat kamu jenuh dan bosan. Aku enggak akan marah, sayang.” Fintan menyentuh wajah Ailee. Gadis itu hanya terdiam, menunduk. “Aku tahu kamu gadis pintar, karena aku kamu pilih aku, Fintan Gamasyah. Satu-satunya pewaris harta kekayaan Papi. Yang akan sanggup membelikanmu apapun, bahkan harga diri Galen!” Ailee tercengang demi mendengar kalimat terakhir kekasihnya itu. “Har-harga diri, Ga-len?” lirih Ailee. “Ya, harga diri Galen!” tekan Fintan. Ailee lagi-lagi terdiam, di hadapan Fintan dia seperti boneka yang tak bisa mengekspresikan apapun. Dia mencoba meyakinkan dirinya, bahwa itu tak masalah. Asal setelah menikah kelak, dia tetap bisa hidup mewah tanpa merasa kesusahan. Dan, dia tak akan mendapatkan segala yang Fintan tawarkan jika dia mencoba meraba perasaannya yang sudah tertulis nama Galen di sana. “Ailee, aku cemburu liat kamu sama dia. Tapi, aku berusaha mengalah dan anggap dia hanya mainan kamu.” Ailee tidak bisa merespon kalimat itu. Dia tak punya apa-apa untuk dikatakan pada laki-laki muda di depannya itu. Setiap kali moment itu berlangsung, detik itu juga Ailee selalu berusaha mengingatkan dirinya bahwa suatu saat dia akan mendapatkan cara untuk bisa mencintai Fintan. Ya, dia akan mulai menerima Fintan untuk tinggal di dalam hatinya sesaat setelah Galen lenyap dari sana.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD