Chapter 3
Sebuah rahasia besar masihi tersimpan rapat bahkan saat Galen sudah sedewasa itu. Namun, rupanya segalanya akan terkuak tak lama lagi. Mahdi, Ayah Galen adalah sang pemilik kartu as yang selama ini hanya bungkam.
“Belum waktunya.” Lirih Mahdi seraya menutulkan bagian rokok yang sudah terbakar menjadi abu ke asbak di atas meja. Abu rokok berjatuhan tepat di cekungan benda bernama asbak itu.
“Belum waktunya apaan, Ayah?” Galen duduk di sebelah ayahnya dan menyeruput kopi milik sang Ayah.
“Lho, kapan dateng kamu?” tanya Mahdi terkejut tiba-tiba putera kesayangannya itu muncul dengan tiba-tiba.
“Baru juga dateng ini, kenapa sih Yah? Kayaknya kaget amat anaknya dateng!” Galen melepas sepatu dan kaus kakinya. kemudian bersandar pada kursi kayu di teras rumah sederhana mereka.
“Si Bejo mana?” tanya Ayahnya.
Galen menghela nafas.
“Kenapa enggak jawab? Di tinggal lagi pasti!” selidik sang Ayah.
“Ya terus Galen kudu gimana, Yah?”
“Beneran di tinggal?” Ayahnya berdiri dan berkacak pinggang.
“Ya ampun Ayah! Selow dong!”
“Ayah kan udah bilang si Bejo itu penting buat Ayah!”
“Au ah! Galen mau mandi dulu!” Galen ngeloyor masuk ke dalam.
Ayahnya mengejarnya dengan rentetan tanya.
“Di tinggal dimana si Bejo?”
“Aduh, Ayah! Galen tuh cape banget! Dia kaya gitu terus, yaudah Galen tinggal di tempat Bang Mamat.”
“Ditinggal tempat si Mamat lagi?” ya ampun Kesian bener si Bejo.”
“Udah sana Ayah aja yang urus! Bejo udah cape banget!”
“Kamu enggak bisa gitu, Bejo itu banyak jasanya, Galen!”
“Tapi dia udah tua bener, Ayah!” jawab Galen tak mau kalah.
“Ya terus kamu naik apa ke sekolah nanti kalau enggak bawa si Bejo?”
“Naik apa kek, beliin motor bekas yang belum terlalu tua kek.”
“Bejo itu bakalan bawa berkah buat kamu, Galen!”
“Berkah gimana sih, Yah! Galen saban hari kudu dorong-dorong. Ada aja penyakitnye, ya ban kempes, ya oli bocor, ya mesin ngadat. Ya semuanyalah. Galen telat mulu, cepetan jalan kaki kali dibanding bawa si Bejo.”
“Pokoknya ni hari juga, kamu mesti bawa balik si Bejo!”
“Iya Ayah iya! Udah Galen mau makan dulu!”
“Yah, Ayah belon masak!”
“Ya terus Galen makan apa?”
“Beli we lah di warung si teteh Sarini.” Jawab sang Ayah.
Galen geleng kepala.
“Ayah itu sebenarnya orang mana sih? Pusing deh Galen kaya enggak punya jati diri!”
“Kamu jangan ikut Ayah! Kamu jadi diri kamu sendiri aja!”
“Lah, ya mana bisa gitu! Mau enggak mau Galen pasti ikut ayah karena darah kita sama! Kita sedarah, Ayah!”
Ayahnya terdiam.
“Kok diem, Yah?” tanya Galen yang sedang siap tempur, berdebat sampai akar dengan sang Ayah. Seperti biasanya.
“Yah! Kok bengong!” Galen menoel pipi sang Ayah.
Ayahnya tersadar seolah baru saja melamunkan hal lain.
“Eh, enggak apa-apa. Sana ke warung si teteh. Beliin Ayah bakwan ya pake sambel!”
“Ayah enggak makan?”
“Enggak, Ayah mau ada urusan. Nanti makan di luar aja!”
“Ceileh, gayanya makan di luar!” goda Galen.
“Udah sana! Keburu tutup warung si tetehnya.”
***
Ayah Galen benar-benar pergi menemui seseorang usai menunaikan salat magrib tiga rakaat. Dia berpakaian sangat rapi bahkan memakai wewangian. Sepatu hitam mengkilap yang jarang dia pakaipun kini terlihat melekat di kedu kakinya.
Galen yang sedang bersantai di sofa ruang tamu, tercengang dan duduk sambil mengamati Ayahnya dari ujung kepala sampai ke pinggang. Dan melanjutkan dari kaki sampai kepinggang. Galen punya banyak waktu untuk melakukan hal itu. Dia mengusap dagunya dan menatap Ayanya dengan tatapan curiga.
“Rambut kelimis.” Ujar Galen sambil mengamati wajah Ayahnya.
“Jenggot di cukur.” Galen meraih kaca pembesar dari atas meja dan melihat pori-pori dagu Ayahnya dengan benda itu.
Ayahnya nampak berdiri sambil membusungkan d**a.
“Hem, mencurigakan!” seru Galen bak detektif yang sedang olah tempat kejadian perkara.
“Tumben-tumbenan, wangi banget! Aromanya sih ini parfum Galen, hadiah dari Ailee.”
“Hehehe.” Ayahnya nyengir kambing, nyengir kuda maksudnya.
“Nah, pake jam tangan segala. Wah enggak beres nih!”
“Apa sih Galen, anak Ayah yang paling kece!”
“Ayah ini sebenarnya mau kemana? Mau ketemu gacoan ya? Ah, Galen ogah punya Ibu tiri!” Galen menatap fokus mata Ayahnya.
“Hahahaha.. sudah, Ayah pergi ya! Keburu malem!”
“Mencurigakan!” ulang Galen.
Ayahnya hanya tertawa dan keluar setelah meraih dompet dan kunci mobil dari atas meja. Mobil yang dia bawa ke rumah adalah mobil Papinya Fintan. Dia selalu membawanya pulang ke rumah karena Papi Fintan memintanya melakukan itu, agar tak perlu lelah mengendarai motor menuju rumah keluarga Gamasyah itu.
Ayah Galen menerobos hiruk pikuk jalanan ibukota yang masih tetap sibuk bahkan saat matahari terlelap di buaiannya. Pria tua bernama Mahdi itu berkali-kali mengecek jam tangannya. Dia khawatir orang yang dia temui itu menunggu terlalu lama karena ternyata ada sebuah acara “Gowess malam” yang tengah diselenggarakan sebuah komunitas sepeda di kota ini. Hal itu membuat laju kendaraan tersendat karena mereka memakai lajur jalan para pengemudi motor dan mobil.
“Harusnya aku berangkat lebih awal!” decaknya sebal.
Iring-iringan pesepeda itu cukup panjang, beberapa pengguna mobil yang sepertinya ingin cepat sampai dirumah membunyikan klakson dengan tak sabar. Mahdi hanya menghela nafas berkali-kali.
“Mereka tidak salah, hanya timing saja yang tidak mendukung. Kalau begini aku benar-benar akan terlambat.” keluhnya.
Setelah melewati ribuan rintangan, mendaki sungai menyebrangi bukit. Mahdi sampai di sebuah pelataran kafe dengan lampu warna-warni yang seolah menyambut kehadiran Pria paruh baya itu.
Dia sampai ke tempat yang dijanjikan, meski terlambat tiga puluh menit. Seorang wanita berparas cantik dan anggun sudah menunggunya. Wanita itu nampak cantik meski siapapun dapat menebak bahwa usianya sudah tidak muda lagi, dia nampak sangat fresh dengan gaun dengan lengan tertutup berwarna cream cheese. Rambutnya di ikat ke belakang dengan sebuah jepit bermerk. Nampak simple namun berkelas.
Seulas senyum dia lemparkan tatkala menangkap sosok Mahdi datang dengan tergesa-gesa. Wanita itu beranjak berdiri dan menyambut Mahdi dengan tangan terulur ke belakang, maksudnya terulur ke depan.
“Maaf, pasti sudah menunggu terlalu lama!” Ayah Galen nampak kikuk dan merasa tak enak.
Wanita cantik tadi menggelengkan kepala dan menghadiahi Mahdi senyum ramah yang hangat. Dia mempersilahkan Mahdi untuk duduk di kursi yang bersebrangan dengannya, terhalang oleh sebuah meja. Sebuah kafe cukup elite di bilangan Jakarta Selatan mempertemukan kembali keduanya.
Wanita itu nampak bicara banyak hal, Mahdi mengangguk-angguk tanda mengerti. Namun, wajahnya tiba-tiba berubah sedih, ada perasaan kecut saat itu, meski segala yang wanita itu katakan adalah hal yang sudah dia bayangkan sebelumnya.
To be continue