mengobati Reynold

1803 Words
Hanen yang sangat kesal enggan keluar dari kamarnya,dia memilih mengurung dirinya "dasar psikopat gila,kemarin mengamuk seperti orang kesetanan, sekarang dia minta maaf dengan tidak tau malunya,dan kenapa tangan nya harus terluka,kan aku harus mengobati nya kalau tidak aku berdosa kepada sumpah ku" Hanen terus menggerutu saat Reynold terluka,jiwa kedokteran nya tidak bisa di tutupi oleh kebencian nya bagaimana pun Reynold harus di obati nya Reynold dikamarnya sedang duduk di sofa,dia membayangkan Hanen kecil dulu yang sangat ramah,sangat manja,dan selalu berlindung dibelakang badannya saat ada orang mengganggu nya "Hanen,aku sangat merindukan masa masa kecil kita dulu" Reynold memijit keningnya lembut "Rey,boleh aku masuk" suara lembut Hanen membuyarkan lamunan Reynold, Hanen datang membawa kotak P3K ditangan nya untuk mengobati tangan Reynold yang terluka. Reynold tersenyum senang karena Hanen datang menemui nya,dia pun menekan remote dan pintu nya terbuka "silahkan masuk Hanen,kau mau apa,apa ada yang kamu mau tidak ada di sini, katakan saja kau mau apa" Hanen masuk kedalam kamar Reynold dan duduk disamping Reynold tanpa berbicara apa pun,dia membuka kotak P3K yang dibawanya tadi "apa ini,kemana obatnya Rey" Reynold ingin tertawa tapi dia menahannya sambil melihat kearah lain "Hanen,kau ingin membunuhku,kenapa kau bawa pistol kesini,apa begini cara mu untuk membalaskan dendam mu" "tiii...tiiii...dakkk Rey,aku hanya ingin mengobati mu karena tangan mu ini terluka,aku tidak berniat melukaimu,jangan pukul aku Rey,aku tidak tau jika isi kotak ini ternyata pistol" Hanen menunduk takut dipukul oleh Reynold dan dia pun berdiri menjauh dari Reynold Reynold merasa bersalah,dia melihat wajah Hanen bekas tamparan tangannya dan luka yang didapat Hanen pada wajahnya karena ulahnya "tidak Hanen,aku tidak akan memukul mu lagi,percaya padaku Hanen, duduklah dengan tenang di sini, pistol itu untuk berjaga-jaga jika ada yang menyerang rumah ku" Hanen sedikit tenang dan Reynold menunjukan ruangan obat di ruangan didalam kamarnya agar Hanen tidak pergi dari kamarnya "sini Hanen,kamu bisa lihat banyak obat-obatan yang sangat lengkap disini, ini khusus ruang pengobatan di kamar ku" Hanen ragu mengikuti Reynold,dia takut akan dipukuli lagi jika salah"ambilkan saja obat merah,perban,alkohol,gunting Rey,aku disini saja". Reynold pun mengikuti perkataan Hanen dan membawa obat-obatan yang salah "ini yang kau butuhkan Hanen" Hanen menatap bingung Reynold dan membuat Reynold salah tingkah "aku tidak tau tentang obat obatan,jadi aku pikir ini yang kau minta" jawaban Reynold berbohong karena dia ingin menggoda Hanen yang sangat cantik dan dia ingin mencairkan suasana yang sangat tegang diantara mereka berdua "Minggir Rey,aku yang akan mengambilnya dan duduk di sofa saja,ku kira kau sedikit pintar jika mengenai alat alat tajam juga seperti gunting, karena kau tidak mungkin tidak tau kan bagaimana bentuk gunting" Hanen berlalu meninggalkan Reynold dan mengambil semua yang diambil Reynold tadi. "aahhhhh,betapa bodohnya aku Dr Hanen sampai aku tidak tau yang mana nama nya gunting" Reynold tertawa mendengar cibiran Hanen Hanen masuk kedalam ruangan khusus obat yang ada dikamar Reynold,dia terkejut melihat obat obatan yang sangat lengkap seperti di rumah sakit tempatnya bekerja "waaahhhh ini sangat hebat,aku hanya melihat semua ini di rumah sakit ku, darimana si b******k itu mendapatkan ini semua,apa dia seorang mafia penyelundup obat-obatan?" Reynold masuk ke dalam ruangan obat dan berdiri dibelakang Hanen,dia tersenyum melihat mulut Hanen yang menganga mengagumi ruang obat nya "kamu suka Hanen,aku kan dulu sudah janji akan membuatkan ini untuk mu suatu hari nanti,dan kau bilang jika aku membuatkan ini,kau akan menjadi istri ku" Hanen terdiam di tempatnya dan dia pun tidak mau mengingat kenangan kecilnya dengan Reynold "apa yang kau bicarakan,aku tidak pernah terlibat apapun dengan mu,ini pertama dan yang terakhir" "apa kau yakin Hanen Anggara,dulu kau selalu mengatakan nama itu jika aku menikahi mu, apakah masa kecil mu semuanya hilang dari ingatan mu" Reynold rasanya ingin memeluk Hanen dari belakang, tapi dia takut Hanen marah dan pergi meninggalkan nya. Hanen malu dan wajahnya memerah, dia bergegas mengambil peralatan medis untuk mengobati Reynold "ayo kita keluar semuanya sudah ku bawa,aku akan mengobati mu di kamar mu saja" Reynold menutup pintu dan itu membuat Hanen terkejut dan takut "disini saja ibu dokter,ini ruangan khusus pengobatan" Reynold berjalan ke tempat tidur di ruangan itu dan berbaring. Hanen berjalan ketempat tidur dimana Reynold sudah berbaring, Hanen pun mulai mengobati tangan Reynold "Rey ini agak sakit sebentar saja,ada pecahan kaca dalam tangan mu,aku harus mengeluarkan nya,oh iya aku lupa kau kan orang jahat mungkin ini tidak akan terasa di kulit mu yang tebal ini Reynold hanya mengangguk dan terus menatap Hanen,"Hanen itu tidak ada apa-apanya bagiku, sekalipun kau menjahitnya tanpa di bius" ucap Reynold dalam hatinya saat Hanen menarik pecahan kaca dari tangan Reynold, Reynold sengaja meringis kesakitan ingin tau reaksi dari Hanen "adduuuhhhh itu sangat perih,aku kira ini tidak akan sesakit ini" Hanen dengan refleks nya meniup tangan Reynold sambil memberikan obat merah "maafkan aku Rey,ini memang perih tahan sebentar ya,kau seperti anak kecil saja,dulu aku punya pasien berumur 5 tahun dia suka memanjat pagar dan lengan nya robek kena pagar,dia sama sekali tidak menangis,kau tau kenapa karena katanya lebih menakutkan kemarahan ibunya daripada suntik dan jarum untuk menjahit luka robeknya" Reynold tertawa mendengar cerita Hanen "ini sangat perih Dokter, apakah pasien tidak boleh mengeluh jika kesakitan" Hanen tidak menjawab lagi,dia meneruskan pekerjaannya monolog Reynold on Hanen maafkan aku sayang,aku melukai wanita yang sangat baik seperti mu, akankah aku bisa meluluhkan hati mu Hanen. monolog off "sudah selesai Rey,kamu sepertinya kau akan kesusahan dulu untuk beberapa hari sampai perban ini ku buka" Hanen membereskan peralatan medis yang dipakai nya tadi dan akan meletakan kembali ke tempatnya. Reynold menarik tangan Hanen,sampai Hanen terjatuh ke badannya dan siku nya mengenai perut Reynold "awwwwwwww Hanen tolong aku,itu sakit sekali" wajah Reynold sangat pucat menahan sakitnya Hanen terkejut dan langsung berdiri dia melihat ada darah di baju Reynold dan dia langsung menaikan baju Reynold "astaga Rey, kenapa kamu tidak mengobati luka tembak ini,kau bisa mati jika ini infeksi, kapan kamu dapat luka tembak ini" Reynold benar-benar kesakitan sampai dia keringat dingin, Hanen menyuntikkan penghilang nyeri pada Reynold,agak lama Reynold baru berhenti meringis kesakitan "Hanen ini sangat sakit" kata kata Reynold membuat Hanen iba,dia pun mengambil lagi alat medisnya dan membius perut Reynold terlebih dahulu. "aku akan mengobati mu Rey percaya padaku" tanpa sadar Hanen mengelus rambut lebat Reynold. Reynold mulai tenang dang merasakan tangan lembut Hanen di rambutnya "Hanen maafkan aku melukai mu,tak bisakah kau memaafkan ku Hanen,aku salah telah menyakiti mu,aku..." kata kata Reynold tercekat di lehernya "diam lah" Hanen tidak mau mendengar kata-kata maaf Reynold lagi "tapi aku berharap bisa menjadi pria mu suatu hari nanti" Reynold akhirnya mengalah dan diam Hanen tidak menggubris kata kata Reynold,dia mulai fokus untuk menjahit bekas peluru yang ada diperut Reynold hingga hampir 1 jam dia menangani Reynold dan selesai. Reynold berusaha untuk mengembalikan Hanen yang dulu dikenal nya "Hanen aku menembak papa mu dihadapan mu,aku menampar dan melukai mu,kenapa kau mau mengobati ku Hanen,bukan kah kau bisa saja menyuntik kan ku obat yang aneh-aneh supaya aku mati" Hanen masih sibuk merapikan peralatan nya lagi "aku seorang dokter,dan aku sudah bersumpah pada diriku akan menolong siapa saja yang terluka,termasuk kau sekalipun aku sangat membenci mu" Reynold mencoba duduk dan bersandar di tempat tidurnya "tapi kau harus memilah-milah Hanen siapa yang akan kau tolong dan aku ini licik seperti ular yang bisa mematuk mu kapan saja" "itu hak mu Reynold dan ini sudah kewajiban ku,walaupun orang yang ku tolong ini adalah seseorang yang ingin ku lenyap kan dengan kedua tangan ku ini,tapi sialnya dia sedang dalam keadaan terluka jadi aku tidak bisa menyerang nya,dan jika suatu saat dia bertemu lagi dengan ku dalam keadaan terluka aku akan tetap menolong nya karena aku memegang sumpah ku pada profesi yang ku dapatkan penuh dengan air mata dan tantangan" Hanen menatap tajam mata Reynold yang memandang wajah nya "tapi jangan lakukan itu kepada ku Hanen, karena aku manusia yang tidak punya perasaan" Reynold mengambil pisau dari tempat peralatan medis yang dibawa Hanen tadi dan menyayat telapak tangan nya hingga terluka, "aw"Hanen meringis merasa tangannya yang terluka. "tolong lakukan kewajiban mu ibu dokter,pasien mu terluka, bukankah ini harus di obati" Reynold sengaja melakukannya untuk membuat Hanen tidak pergi dari kamarnya. Hanen mengambil peralatan medis dan merapikannya kembali tanpa memperdulikan Reynold,dia pun hendak keluar meninggalkan ruang obat. "Hanen jangan pernah berpakaian seperti tadi lagi didalam rumah ini,laki laki sangat tergoda melihatnya apa lagi aku,aku takut kau akan mengandung anak kita jika berpakaian seperti tadi lagi" Reynold terus menggoda Hanen yang sudah malu "apa kau mengalami gangguan di kepala mu Rey dan jangan banyak berharap apa apa dari ku" Hanen keluar dari kamar Reynold dengan wajah marah nya. "hahahhahahahahahahahahahahha" Reynold tertawa melihat wajah Hanen yang sangat marah "Hanen kenapa jika kau marah menambah kecantikan pada wajah mu,aku harus bisa menjadikan mu istri dan ibu dari anak-anak kita kelak" Hanen merasa lapar dan dia menuju dapur dimana Jesi sedang mengawasi para asssistant Reynold "permisi nyonya,apa saya boleh mengambil makanan,saya merasa lapar" Jesi tersenyum melihat kesopanan Hanen,berbeda dengan wanita-wanita Reynold yang tidak pernah menganggap ART dirumah Reynold seperti manusia. "tentu saja boleh nona,saya akan melayani anda dan duduklah di meja makan, saya akan segera datang dan membawa makanan untuk anda" Jesi hendak mengambil makanan untuk Hanen Hanen tidak enak hati dipanggil dengan nona karena umur Jesi sudah setara papa nya "Nyonya nama saya Hanen, jangan panggil nona karena anda seumuran dengan papa saya" Hanen berkata lembut dan tersenyum pada Jesi dan semua orang yang ada di dapur. "baiklah Hanen jika itu mau mu saya akan memanggil nama mu saja" Jesi membalas perkataan Hanen, sedang-kan Hanen sudah berjalan untuk mengambil makanan dan duduk di kursi dapur Reynold. "Hanen makan di meja makan jangan disini, kamu tidak pantas makan bersama para ART" Jesi membujuk Hanen supaya berpindah keruang makan dan tidak bergabung dengan para ART "Nyonya,saya tidak suka makan sendirian,saya disini saja ya, saya tidak akan menggangu disini,kalian kerjakan saja pekerja kalian, dan juga kita sama sama manusia biasa jadi jangan bedakan saya dengan kalian" Hanen memohon dan Jesi merasa kasihan melihat gadis cantik di hadapan nya dengan banyak luka memar "Baiklah Hanen,kamu boleh makan di sini jangan bersedih lagi" Jesi pun mengizinkan Hanen makan di dapur dan di angguki oleh Hanen. semua ART fokus mengerjakan semua pekerjaan mereka,tidak ada yang memperdulikan Hanen berada di dapur bersama mereka "dooor door door" suara pistol menghantam kaca dapur dimana Hanen dan Asssistant Reynold sedang berada di situ
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD