Setelah kejadian itu, Andre the geng tak berani lagi membuli Azkia, mereka takut dengan kejadian yang melibatkan tetua desa dan pak RT yang menyebabkan kedua orang tua mereka di kenakan denda, kejadian tersebut benar-benar membuat keempat anak nakal tersebut takut dan jera.
Azkia yang merasa tenang hidupnya dari biasanya pun kini terlihat lebih ceria, tak hanya itu Azkia yang biasanya selalu murung saat pulang sekolah pun kini tak pernah lagi seperti itu, ia selalu terlihat ceria dan bahagia meskipun dengan baju seragam sekolahnya yang terlihat lusuh.
Di suatu sore suami dari Agustina pun pulang ke rumah, bukan berniat untuk menyambangi anak dan istrinya melainkan hanya untuk mengkonfirmasi tentang kasus yang dialami oleh Azkia, lebih tepatnya tentang uang denda yang diterima oleh anak tersebut.
"Tumben pulang...?" tanya Agustina ketus melihat laki-laki yang berstatus suaminya itu menginjakkan kaki di rumah mereka.
Laki-laki tersebut bernama Saimuri Wicaksono, dan lebih dikenal dengan sebutan Bang Muri. laki-laki berusia 27 tahun sama seperti usia Agustina.
Laki-laki tersebut hanya tersenyum menjawab pertanyaan dari istrinya, tanpa basa-basi dia pun menanyakan tentang hal yang dialami oleh Azkia dan juga tentang uang benda yang diserahkan oleh pak RT saat itu.
Muri sendiri tahu dari orang tuanya yang tinggalnya tak jauh dari rumah yang ditinggali oleh Agustina.
"Benarkah Azkia mendapatkan uang kompensasi dari pembullyan yang dialaminya...? lalu ke mana uang itu...? sini biar aku simpan supaya aman...!" kata Muri dengan tak tahu malu.
Agustina tertawa hambar mendengar perkataan yang keluar dari laki-laki yang bergelar suami tersebut, selama menjadi suaminya bahkan setelah Putri mereka lahir tak satu kali pun laki-laki tersebut peduli dengan dirinya maupun azkia, namun saat azkia mendapatkan uang kompensasi yang tak seberapa, dengan tak tahu malunya laki-laki tersebut menanyakannya.
"Memangnya kenapa...? kenapa aku harus memberikan uang tersebut kepada mu?" pertanyaan yang dilontarkan oleh Muri dijawab Agustina dengan pertanyaan yang lain.
"Biar aman saja..!"jawab laki-laki itu masih dengan perkataan yang datar.
"Uang itu lebih aman di tanganku... tak perlu repot-repot menawarkan diri untuk menyimpannya, aku sendiri sanggup...!"jawab Agustina ketus.
"Jangan keras kepala, selama ini kamu tidak pernah memegang uang, takutnya kamu menjadi kalap dan menghabiskan uang tersebut...!"kata Muri lagi.
"Kalaupun uang itu habis, apa pedulimu...?" kata Agustina dengan tatapan tajamnya.
"Aku tidak pernah pegang uang selama ini itu juga karena kamu yang tak becus jadi suami...! suami macam apa yang hanya menjatah istri beserta anaknya yang masih kecil hanya dengan mie instan dan telur saja...? bahkan dia tidak memikirkan sama sekali gizi yang harus dipenuhi oleh putrinya yang masih kecil...!" mendengar jawaban yang demikian membuat MURI meradang.
Meskipun memang benar kenyataannya adalah demikian, tapi ia merasa tidak bersalah dengan apa yang dilakukannya tersebut. Baginya itu sudah lebih dari cukup walaupun ia pun menyadari bahwa itu sangatlah tidak adil.
"Jangan keterlaluan kamu Tina, sudah aku untung aku mau menghidupimu bersama anakmu, tidak seperti orang tuamu yang membuangmu begitu saja, padahal mereka hidup dengan berkelimpahan harta...!" Muri berkata dengan berapi-api karena mengingat mertuanya dan juga keluarga dari istrinya malah bersikap tak seperti apa yang diharapkan dulu.
Dulu dia sangat berharap jika beristrikan Agustina, maka kehidupannya akan berubah menjadi jauh lebih baik, dia berpikir jika beristrikan aku istrinya maka dia bisa ikut menikmati kekayaan yang dimiliki oleh keluarga Agustina.
Namun kenyataan tak sesuai harapannya, setelah Agustina berhasil dia hamili meskipun itu dengan cara pemerkosaan, Namun ternyata keluarganya malah tak bisa menerimanya dan malah membuang Agustina begitu saja.
"Keluargaku seperti itu juga gara-gara kau, gara-gara kelakuan bejatmu sehingga aku mengandung anakmu...! anak yang sama sekali tak mendapatkan kasih sayangmu sebagai seorang ayah...!" jawab Agustina tak kalah lantang.
"Aku sengaja membuatmu hamil, Karena aku berharap bisa masuk ke dalam keluargamu yang sangat kaya raya itu, tapi apa...? apa coba yang aku dapat...? mereka malah membuangmu dan membuatku menanggung hidupmu... juga anak sialan itu...!" kata Saimuri dengan sangat lantangnya, dan itu begitu menusuk relung hati seorang Agustina.
"Aku tidak pernah menyesali kehamilanku, aku tak pernah menyesali hadirnya putriku dalam hidupku, meskipun aku tahu kehadirannya tak sesuai dengan impianku selama ini...!" Agustina berkata dengan bibirnya yang sedikit bergetar karena menahan gejala dalam dadanya.
"Aku yang menyesal karena telah membuatnya hadir di rahim yang nyatanya tidak bisa bermanfaat apapun dalam hidupku...!" kata laki-laki itu lagi.
"Lantas kenapa kamu tidak menjatuhkan talakmu itu...? apalagi yang kamu tunggu...? kamu pun tidak akan mendapatkan sepeserpun harta dari keluargaku, kami beban bukan...? maka jatuhkanlah talakmu itu...!" teriak Agustina dengan sangat lantang.
"Enak saja...! kamu akan selamanya terikat dengan gan pernikahan kita, selamanya Aku tidak akan pernah melepaskanmu...!"jawab MURI.
Selama pernikahan mereka, tak satu kali pun Muri menyentuh Agustina, entah karena apa namun Muri pun tak mau melepaskan wanita tersebut. hal yang tak diketahui oleh Agustina adalah, Muri sendiri memiliki istri lain selain dirinya, dan pernikahan yang dijalani oleh Muri bersama wanita lain itu pun terdaftar di catatan negara. dengan kata lain pernikahan mereka bukan cuma pernikahan siri.
Bahkan dari pernikahannya bersama wanita tersebut sudah menghasilkan dua anak kembar yang bernama Lisna dan Risda, kedua anak kembar tersebut berusia 9 tahun, Dan Ya Muri menikahi Agustina saat dia sudah bergelar suami dari wanita lain yang bernama Wiji trianingtyas.
Tujuannya menikahi Agustina adalah hanya demi hartanya saja dan tentu saja untuk kesejahteraan dan masa depan istri bersama anaknya. Muri sendiri tak menduga jika keluarga Agustina mampu dan tega mengusir Agustina saat memutuskan menikah dengannya.
Dulu Muri masih sempat berharap jika mertuanya tersebut akan berubah pikiran saat cucu mereka lahir, namun kenyataannya, saat cucunya lahir pun mereka masih tak mau menerima Agustina ke rumahnya. dan itu cukup membuat Muri kecewa.
Dulu saat masa kehamilan Agustina, mereka masih tinggal bersama orang tua Muri, meskipun perlakuan mereka di sana pun sangat tak layak terhadap Agustina. Semua pekerjaan rumah dilimpahkan kepada Agustina, bahkan Agustina hanya di jatah makan saja tanpa dibekali uang sama sekali.
Makan yang diterima oleh Agustina pun sangat tidak layak, Agustina akan mendapatkan giliran makan jika semua anggota keluarga sudah makan, itu artinya Agustina hanya mendapatkan makanan sisa, bahkan tak jarang Agustina hanya makan dengan menggunakan sisa-sisa kuah sayur ataupun lauk yang ia masak sendiri untuk keluarga tersebut. lebih parahnya lagi kadang dia hanya makan dengan menggunakan minyak jelantah dan juga garam.
"Sudah tidak usah melebar ke mana-mana pembahasan kita, cepat serahkan uang itu dan aku akan segera pergi dari sini...!" kata Muri masih kekeh ingin mengambil uang yang tak seberapa itu.
"Uangnya masih sama Bu RT, dan rencananya untuk membelikan baju anakmu yang sudah tak layak pakai itu...!" jawab Agustina.
"Buang-buang uang saja..! nanti aku berikan Baju bekas saja dari Ibu dan adikku, mereka pasti punya...!" kata Muri dengan entengnya.
"Maksudmu baju bekas yang lebih pantas dikatakan Lap? yang mana warnanya pun sudah luntur dan sudah banyak jahitan di mana-mana...? kamu anggap anakku pengemis...? sinting...!" ketus Agustina.
"Pergilah...! Kamu tidak akan mendapatkan yang kamu inginkan, karena uang itu milik Azkia, dan akan Aku pastikan uang itu seutuhnya untuk kebutuhan Azkia...!" Agustina mengusir suaminya tersebut untuk segera pergi.
Merasa geram karena keinginannya tak dituruti Muri pun mencengkeram dengan kuat rahang milik Agustina, dia berniat untuk mengintimidasi wanita tersebut.
"Dasar wanita tak tahu terima kasih, tak tahu di untung, cepat ambilkan uang tersebut, atau kamu akan menyesal...!"Muri mengancam wanita tersebut.
"Abah...! jangan sakiti Ambu...!" teriak Azkia yang baru saja pulang dari sekolah.
Azkia pulang cepat dari biasanya karena gurunya mengadakan rapat. dan tentu saja hal itu meleset dari perkiraan MURI.
Meskipun mendengar teriakan dari putrinya namun sama sekali tak mengundurkan tangannya yang tengah mencengkeram wajah istrinya. dan saat Azkia hendak menolong ibunya justru gadis kecil tersebut malah mendapatkan dorongan tak sengaja dari sang ayah.
Azkia tersungkur di tanah, bahkan kepalanya membentur pojokan meja dan membuat Azkia seketika tak sadarkan diri karena darah yang mengucur dari keningnya tersebut.
Muri yang Shok pun mengendurkan cengkramannya dan langsung di hentakkan oleh Agustina.
Agustina segera berteriak meminta tolong, ia berharap dengan teriakannya para warga akan datang untuk menolong.
Nasib baik sedang berpihak kepada Agustina karena saat Agustina berteriak saat itu pula pak RT dan bu RT sedang melintasi rumahnya.