Secret 5

1772 Words
“Ah, dan di sini juga ada salah seorang staff yang sangat rajin. Itu dia disana!” Rangga menunjuk ke arah Arumi yang baru selesai menulis pesanan pelanggan. “Kamu sepertinya sangat menyukai dia?” Rangga pun mengangguk dengan mantap menjawab pertanyaan tersebut. “Kamu ada hubungan apa sama si manager baru itu?” tanya Devandra penuh emosi. “Hahahaha!” Arumi tertawa lalu melangkah menjauhi Devandra. “Yaa terserah kamu aja sih maunya gimana!” lanjutnya. Akhirnya Devandra pun hanya bisa berdecak kesal. Dia masih belum bisa memastikan apakah Arumi dan Rangga ada hubungan atau tidak. Padahal sebenarnya tidak ada hubungan apa-apa diantara mereka berdua. Devandra sudah tenggelam dalam rasa cemburunya.   ***   “Ghani, pokoknya lu harus cari tahu tentang si manager itu!” Devandra berbisik pada asisten pribadinya. “Siap Bos!” jawab Ghani juga dengan berbisik. “Kalian berdua kenapa bisik-bisik?” Ibu Shanum menegur sang putra dan asisten pribadinya itu. “Eh, enggak kok Ma!” elak Devandra. “Kalau kamu mau tahu tentang manager baru tadi, kamu bisa minta info langsung dari Mama.” Ibu Shanum langsung menunjukan selembar kertas berisikan data lengkap Rangga. Devandra hendak mengambil kertas yang ditunjukan oleh sang Mama namun dengan cepat kertas tersebut langsung diselipkan ke dalam sebuah map berisi dokumen lainnya. “Sepertinya ini mulai menarik ya, Dev.” Ibu Shanum menyunggingkan senyum misterius pada Devandra. “Menarik? Maksud Mama?” dahi Devandra berkerut menanggapi pernyataan sang mama. “Ya menarik dong, Dev! Itu tandanya bakal ada persaingan antara kamu dan Rangga untuk merebut perhatian Arumi.” Kata Ibu Shanum sambil terkekeh. Ibu Shanum terlihat sangat senang karena ternyata hati putranya masih untuk Arumi. Devandra sempat memungkiri hal tersebut di hadapan Ibu Shanum dan suaminya. Dia pernah berkata jika menikahi Arumi hanya untuk menunjukan tanda baktinya sebagai seorang anak pada kedua orang tuanya. Namun melihat Devandra yang mulai panas karena percikan api cemburu membuat Ibu Shanum bisa menghela nafas lega. Devandra jadi terdiam seribu bahasa setelah mamanya terkekeh menggoda dirinya. Dia tak bisa membohongi perasaannya, dia memang cemburu, tetapi dia tak mau mengakuinya. Kini suasana di dalam mobil sedan panjang dengan kursi yang saling berhadapan itu menjadi hening. Ibu Shanum sibuk mengurusi pekerjaannya menggunakan tablet yang dibawanya. Sedangkan Devandra lebih memilih memainkan ponsel pintarnya, membuka akun media sosialnya, atau berkirim pesan dengan rekan se-profesinya. Dan Ghani, dia sibuk mengurusi jadwal Devandra dan membaca email yang masuk untuk menawarkan pekerjaan pada Devandra. Hari berlalu dengan cepat seperti biasanya. Kebetulan hari ini Arumi pulang lebih awal. Tidak harus menunggu sampai tutup restoran. Jam 7 teng Arumi sudah menempelkan ibu jarinya ke mesin absen. “Rumi, kamu pulang jam segini?” tanya Sasha sambil memeluk nampan kosong di tangannya. “Iya dong! Masa aku harus sampai closing terus sih! Sekali-kali kan boleh pulang lebih awal, hehehe!” Arumi terkekeh. “Yaahh aku closing gak bareng kamu dong, Rumi!” keluh Sasha kecewa. “Kan ada yang lain, masa sama aku terus sih Sha!” Arumi mengembangkan senyumnya sangat lebar pada Sasha. “Kamu temani aku aja deh sampai closing! Tadi ada kunjungan dari Ibu Shanum, closing nanti pasti bakal ada briefing panjang lebar deh!” “Makanya aku mau kabur duluan! Hahaha!” Arumi tertawa menggoda temannya itu. “Eh, tapi aku gak nyangka loh kalau si Dave itu anaknya Ibu Shanum! Udah ganteng, ternyata keluarganya tajir melintir! Andai aku bisa dekat sama si Dave itu, Rumi!” raut wajah Sasha mendadak sangat bahagia setelah membayangkan jika dirinya bisa dekat dengan Dave, selebriti muda yang sedang naik daun dan digandrungi para remaja. Arumi berdehem menutupi keterkejutannya. Dia tidak ingin melanjutkan pembicaraan ini. Arumi takut akan salah bicara dan membongkar status pernikahannya dengan Devandra alias Dave si selebriti. “Arumi! Kamu sudah mau pulang?” tiba-tiba Rangga muncul dari arah pintu berjalan menghampiri Arumi. “Iya, Pak! Ada apa Pak?” sahut Arumi dengan semangat. Setidaknya kehadiran Rangga menyelamatkannya dari perbincangan tentang Devandra. “Mau bareng? Saya juga sudah mau pulang.” Rangga menawari tumpangan pada Arumi. Sasha melirikan matanya pada Arumi dan Rangga secara bergantian. Senyum di wajah Sasha pun terbit setelah dia mencium aroma pendekatan dari Rangga dan Arumi. “Tapi saya gak langsung pulang, saya ada janji sama teman-teman saya di kedai pinggir jalan dekat sini.” “Hmm kalau begitu saya antar gak apa-apa kok! Dekat sini kan?” Rangga tetap bersikeras ingin mengantarkan Arumi. “Gak usah Pak gak apa-apa kok!” Arumi pun bersikeras menolak penawaran Rangga. Sasha makin tersenyum lebar melihat Rangga dan Arumi. Kemudian Sasha berdehem meminta perhatian keduanya, “Ehem! Pak Rangga antar Arumi saja Pak, Rumi juga kan lumayan ada tumpangan gratis.” Seru Sasha. “Iya, benar itu! Anggap saja tumpangan gratis.” Sahut Rangga senang karena sepertinya Sasha memihak padanya. “Ya sudah kalau begitu Pak.” dengan nada terpaksa Arumi menyetujuinya. “Nah gitu dong Rumi! Sudah ya aku lanjut kerja dulu! Pak Rangga tolong antar Arumi sampai tujuan ya, Pak! Jangan sampai ada lecet loh Pak!” Sasha melambaikan tangannya kemudian berlalu meninggalkan Rangga dan Arumi. Untuk kedua kalinya Arumi harus diboncengi Rangga dengan motor sport miliknya. Motor tersebut dilajukan tidak terlalu cepat agar Rangga memiliki waktu sedikit lebih lama bersama Arumi. Hanya ini kesempatan Rangga berdua dengan Arumi. Setelah Arumi sampai di tujuan maka Rangga harus berpisah dengannya, dan baru akan bertemu lagi keesokan harinya di restoran. “Pak, nanti berhenti di kedai pinggir jalan sana ya!” seru Arumi. Padahal motor Rangga tidak dilajukan dengan cepat, tetapi Rangga masih kurang jelas mendengar suara Arumi karena helm full face yang digunakannya, juga karena angin malam itu sedikit kencang. “Kamu bilang apa tadi?” “Berhenti di depan sana, Pak! Itu ada tenda kan? Nah di kedai tenda itu aja Pak turunin saya!” Arumi menunjuk ke tempat yang dimaksud. “Oh, disana? Oke!” jawab Rangga lantang. Rangga menghentikan motornya tepat di depan kedai pinggir jalan dengan tenda berwarna putih yang dihiasi lampu kerlap-kerlip. Arumi menuruni motor Rangga lalu berdiri di sampingnya hendak mengucapkan terima kasih. “Pak, makasih ya sudah antar saya!” Rangga melepaskan helm yang digunakannya, “Iya! Mana teman kamu?” diedarkan pandangannya masuk ke dalam kedai berlagak mencari keberadaan teman-teman Arumi. Arumi memutar kepalanya ikut mencari keberadaan dua orang teman dekatnya, Adelia dan Adelio. “Nah, itu dia mereka!” Arumi menunjuk ke sepasang remaja kembar yang sedang sibuk dengan gadget mereka. “Yang mana sih? Yang cewek cowok itu?” “Iya, Pak!” Rangga menyipitkan matanya setelah menyadari ada kemiripan di wajah kedua teman Arumi. “Mereka mirip banget kayak anak kembar!” celetuk Rangga. “Emang kembar, Pak! Hehehe.” Jawab Arumi terkekeh. “Serius? Wah, jarang-jarang saya ngeliat ada kembar cewek cowok gitu!” ucap Rangga takjub. “Hahaha! Banyak kok, Pak!” “Ya sudah kalau begitu, saya pulang ya!” Rangga memakai helmnya kembali dan bersiap untuk pergi. Namun tiba-tiba terlontar sebuah ajakan dari Arumi untuk ikut bergabung dengan teman-temannya. “Pak Rangga gak mau ikutan makan bareng kita?” ajak Arumi. “Memangnya boleh?” tanya Rangga dengan penuh harap. “Boleh Pak! Kan ini tempat umum, jadi siapa aja bebas makan di sini!” “Maksud saya, memangnya gak apa-apa ikutan gabung sama kamu dan teman-teman kamu?” Arumi melirik sebentar ke arah si kembar, “Boleh kok Pak! Nanti saya kenalin sama mereka.” Rangga menghela nafas senang. Setidaknya waktu untuk bersama dengan Arumi akan lebih lama. Dia juga akan mempunyai kesempatan untuk lebih mengenal Arumi. Setelah memarkiran motornya, Rangga dan Arumi berjalan memasuki kedai menghampiri Adelia dan Adelio. Adelio lebih dulu menyadari kehadiran Arumi yang melangkah menghampiri mereka. Dahi Adelio berkerut dengan mata sedikit menyipit melihat Arumi datang bersama dengan seorang pemuda. “Kamu lihat apa sih Lio?” tanya Adelia melihat raut wajah kakak kembarnya. “Itu Rumi sama siapa?” Adelia pun memutar kepalanya. Raut wajahnya langsung terkejut melihat Arumi datang bersama seorang pemuda. Pemuda yang sama sekali belum dikenal oleh Adelia maupun Adelio. “Lia! Lio!” Arumi melambaikan tangannya saat Adelia menoleh ke arahnya. Beberapa langkah lagi Arumi pun sampai ke meja yang sudah ditempati oleh Adelio dan Adelia. Raut wajah terkejut sekaligus penasaran tampak jelas dari wajah si kembar. Arumi terkekeh menanggapi kedua sahabatnya itu. “Kenalan dulu kalau penasaran! Ini Pak Rangga, manager di restoran aku!” Arumi membuka sesi perkenalan antara Rangga dengan si kembar. Adelia mengulurkan tangannya terlebih dahulu, “Hai, Pak! Saya Adelia, temannya Arumi. Nah ini kakak kembar saya, Adelio.” Rangga pun dengan ramah menyambut uluran tangan Adelia. “Saya Rangga, senang berkenalan dengan kalian.” Adelio menatap Rangga sinis dari ujung kepala hingga ujung kaki. Rangga mengulurkan tangannya pada Adelio namun diacuhkannya begitu saja. Adelio lebih memilih memainkan gadgetnya dibanding menjabat tangan Rangga. “Lio! Gak boleh judes gitu! Kenalan dulu sama managernya Arumi!” kata Adelia. “Sudah gak apa-apa! Kamu main game apa itu Lio? Mau mabar?” Rangga mengajak Adelio untuk main bersama. “Hahaha mabar-nya nanti saja ya! Udah lapar nih! Duduk dulu, Pak!” Arumi menarik kursi di sebelah Adelia. Rangga duduk di sebelah Adelio. Mereka semua sudah memesan makanan untuk makan malam. Suasana kedai saat itu cukup ramai sehingga Arumi dan yang lainnya harus rela menunggu agak lama untuk makanan yang mereka pesan. Arumi dan Adelia berbincang seru membicarakan idol kesayangan mereka yang baru saja mengeluarkan lagu baru. Sedang Adelio masih fokus bermain game online. Rangga pun melirik ke layar gadget Adelio, penasaran game apa yang sedang dimainkan olehnya. “Oh, kamu main game itu juga? Wah peringkat kamu sudah tinggi ya!” seru Rangga takjub melihat peringkat tinggi Adelio di game yang sedang dimainkannya. “Memang Bapak main ini juga?” tanya Adelio. “Jangan panggil bapak dong! Kesannya saya sudah tua banget. Panggil Rangga saja! Kamu juga ya Arumi, kalau sudah di luar pekerjaan kamu panggil Rangga saja. Saya kan juga masih muda!” pinta Rangga sambil menjeda perbincangan Arumi dan Adelia. “Kalau gitu, ngomongnya gak usah formal gak apa-apa kan?” tanya Adelio. “Gak apa-apa dong! Saya malah senang, jadinya kan kita kayak teman aja!” jawab Rangga dengan raut wajah senang. “Eh, iya saya juga main game itu tapi peringkat saya masih di bawah kamu!” lanjut Rangga. “Gak usah saya-kamu, lo-gue aja! Kan gak usah formal ngomongnya!” ujar Adelio. “Hahaha, Oke deh! Mabar yuk!” ajak Rangga. “Oke! Siapa takut! Gue invite ya!” seru Adelio. Akhirnya, berkat game online yang sama-sama mereka mainkan, Adelio dan Rangga pun menjadi akrab satu sama lain. Arumi dan Adelia hanya tersenyum dan tertawa kecil melihat kelakuan kedua pemuda yang kini menjadi heboh karena game yang mereka mainkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD