Pagi ini Arumi tampak sangat terburu-buru hingga berlari menuruni tangga menuju ruang makan. Dia sudah berpakaian rapih dengan tas ransel kecil hitam di punggungnya. Tak lupa dua buah buku yang cukup tebal dia pegang di tangan kirinya karena kedua buku tersebut sepertinya tak akan muat di tas ransel milik Arumi yang kecil.
“Pagi semuanya!” seru Arumi menyapa Pak Emran, Ibu Shanum, dan juga Devandra yang sudah duduk di meja makan.
Arumi mencium pipi Ibu Shanum terlebih dahulu sebelum menarik kursi di sebelah Devandra. Ibu Shanum menyunggingkan senyumnya setelah menerima kecupan manis dari menantu tercintanya.
“Pagi juga Rumi! Kamu kok lari-larian gitu?” tanya Ibu Shanum.
“Arumi udah telat Ma! Arumi berangkat duluan deh ya Ma, Pa! Setengah jam lagi kelas Arumi bakal dimulai!” kata Arumi seraya menyambar sandwich isi telur dan sayuran yang ada di atas piring.
Arumi pun bangkit dari kursi lalu mengulurkan tangan kanannya pada Ibu Shanum. Dia ingin berpamitan dengan sang mama mertua sebelum berangkat kuliah. Ibu Shanum menyambut uluran tangan Arumi dan Arumi dengan cepat mencium punggung tangan Ibu Arumi. Setelah itu Arumi bergeser dan mengulurkan tangannya kembali. Kali ini dia ingin berpamitan dengan Pak Emran, papa mertuanya. Pak Emran pun menyambut uluran tangan Arumi. Namun setelah Arumi mencium punggung tangan Pak Emran, tangannya tak dilepaskan begitu saja.
“Kamu gak diantar sama Devandra?” suara berat Pak Emran disertai dengan tatapan menyeramkannya membuat Devandra yang sedang mengunyah sarapannya mendadak menjadi diam membeku.
“Hari ini Arumi berangkat sendiri aja ya, Pa! Devandra kan juga ada jadwal syuting, jadi Arumi gak mau kalau sampai Devandra telat ke tempat syuting.” Jawab Arumi dengan senyum manis di wajahnya.
Padahal di dalam hatinya, Arumi tidak ingin terus-terusan diantar oleh suami rahasianya itu. Belum lagi Arumi akan kerepotan jika ada yang melihat dirinya turun dari mobil mewah Devandra. Apalagi jika ada yang sampai melihat mereka berdua, bisa-bisa langsung viral di media sosial.
Pak Emran terdiam sejenak kemudian menganggukan kepalanya. “Baiklah, untuk hari ini Papa izinkan Devandra tidak mengantar kamu, Rumi.” Ujar Pak Emran. “Tetapi, sebelum berangkat kamu juga harus berpamitan dengan suamimu dahulu.” tambahnya.
“Hah??” kedua alis Arumi langsung naik dan kedua matanya juga terbuka lebar setelah mendengar lanjutan kalimat Pak Emran tadi.
“Cium tangan suami kamu dulu sebelum berangkat kuliah!” titah Pak Emran memperjelas maksudnya.
Sebagai wanita yang baik Arumi pun menuruti perintah Pak Emran. Dia mengulurkan tangannya pada Devandra. Devandra dempat berdehem sekali lalu menyambut uluran tangan Arumi. Dengan lembut Arumi mengecup punggung tangan Devandra, tanda hormatnya sebagai seorang istri. Ini kali kedua Arumi melakukan hal tersebut, yang pertama adalah saat mereka berdua baru dinyatakan sah sebagai suami istri. Saat itu Arumi mencium punggung tangan Devandra yang baru saja resmi menjadi suaminya dengan malu-malu.
“Sudah ya, Ma, Pa! Arumi berangkat ya!” Arumi pun melangkah pergi.
“Eh, iya! Rumi!” panggil Ibu Shanum. Arumi pun menghentikan langkahnya dan membalikan tubuhnya. “Nanti sore Mama ada kunjungan ke restoran, mau ketemu manager yang baru. Kamu temani Mama ya nanti!”
“Hmm iya deh Ma! Arumi jalan lagi ya!” Arumi membalikan tubuhnya kembali dan melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti.
Setelah Arumi sudah tak terlihat lagi, kini giliran Devandra yang bangkit dari kursinya untuk pergi.
“Ma, Pa! Devandra berangkat ya!” seru Devandra.
“Dev, tunggu!” Ibu Shanum menahan Devandra.
“Ada apa Ma?”
“Kamu selesai syuting jam berapa?” tanya sang mama seraya menyeka mulutnya dengan tissue.
“Siang juga sudah selesai kok, Ma. Kenapa Ma?”
“Kalau begitu kamu bisa temani Mama nanti sore untuk kunjungan ke restoran. Oke Dev?” pinta Ibu Shanum layaknya sebuah perintah yang tak bisa ditolak oleh Devandra.
Tentu tak bisa ditolak, Ibu Shanum mengatakannya sambil memberikan tatapan maut pada Devandra. Tatapan tajam seolah ingin melahap Devandra hidup-hidup.
Ibu Shanum sebenarnya tidak terlalu suka putranya itu menjadi selebriti seperti sekarang. Ibu Shanum merasa kerja keras dirinya dan juga suaminya seolah menjadi sia-sia. Karena Ibu Shanum dan Pak Emran kini sudah memiliki puluhan resor dan juga restoran yang nantinya sudah pasti akan mereka wariskan pada sang putra.
Akan tetapi di usianya yang masih muda ini Devandra menginginkan kebebasan untuk menentukan jalan hidupnya. Setidaknya sebelum mewarisi semua usaha milik orang tuanya dia ingin melakukan apa yang sangat dia cita-citakan sedari kecil. Menjadi seorang selebriti terkenal. Dia ingin merasakan bagaimana kehidupan menjadi seorang bintang, mempunyai banyak penggemar, disibukan dengan berbagai kegiatan seperti syuting iklan, syuting film, pemotretan, dan hal lainnya selayaknya seorang bintang.
***
“Arumi!” panggil Sasha.
Arumi menolehkan kepalanya ke sumber suara, dan dia melihat Sasha sedang berlari mendekat ke arahnya.
“Kamu kenapa lari-larian gitu?” tanya Arumi heran saat Sasha sudah berada di sampingnya.
“Untung kamu gak telat, Rum!” kata Sasha sambil mengatur nafasnya.
Arumi mengerutkan dahinya. “Memangnya kenapa?” tanya Arumi semakin heran.
“Hari ini pemilik restoran akan datang untuk kunjungan, Rumi. Kalau kamu telat yang ada kamu bisa dipecat saat ini juga! Emang kamu mau dipecat?” kata Sasha dengan nada suara sangat mengkhawatirkan Arumi.
Arumi tersenyum pada Sasha sampai kedua matanya menyipit. Dia ingin menahan diri untuk mengatakan jika dia sepertinya tak akan dipecat dari pekerjaannya ini. Ya, tentu saja karena pemilik restoran ini adalah mertuanya sendiri.
Tetapi Arumi tidak mungkin mengatakan itu semua. Selain perjanjian antara dirinya dan Devandra, Arumi juga hanya ingin menjalani kehidupannya sebagai gadis biasa. Arumi tidak ingin dipandang sebagai gadis yang beruntung karena memiliki mertua sekaya Ibu Shanum dan Pak Emran.
“Rumi? Kamu kenapa senyum-senyum begitu?” Sasha mendekatkan wajahnya menatap Arumi heran.
“Enggak apa-apa kok! Ya sudah yuk, daripada kita dipecat berdua gara-gara kebanyakan ngobrol mending sekarang kita lanjut kerja!”
Arumi dan Sasha pun melanjutkan pekerjaan mereka. Dari kejauhan terlihat seorang pelanggan mengangkat tangannya, melambai pada Arumi. Dengan sigap Arumi pun menghampiri meja pelanggan tersebut sambil membawa buku menu.
Tiba-tiba terdengar kehebohan dari arah pintu masuk. Beberapa pelanggan wanita menyerukan nama seseorang yang cukup terkenal saat ini.
“Daavvee!!”
“Hai Davvee!!”
“Dave, aku fans kamu!!”
“Kyaa, ada Dave!!”
Karena kehebohan tersebut, beberapa staff beserta security restoran sampai turun tangan memberikan pengawalan pada lelaki yang mereka panggil Dave tersebut. Ya, itu adalah Devandra. Masyarakat umum mengenalnya dengan nama Dave.
Devandra benar-benar menuruti kemauan mamanya untuk menemaninya berkunjung ke restoran. Di depan Devandra kini tampak Ibu Shanum berbincang dengan Rangga selaku manager baru di restoran tersebut.
Mata Devandra memperhatikan Rangga dari ujung rambut hingga ujung kaki. Di dalam hatinya Devandra cukup salut pada Rangga, karena di usia yang masih terbilang muda seperti itu dia sudah bisa menjabat sebagai manager di sebuah restoran yang cukup besar.
Setelah merasa cukup memperhatikan Rangga, Devandra melemparkan pandangannya berkeliling hingga ke sudut restoran. Pandangannya terhenti saat melihat siluet seorang wanita yang sangat dikenalnya. Wanita tersebut sedang menuliskan pesanan pelanggan sambil tersenyum sangat ramah. Tanpa sadar Devandra pun ikut tersenyum melihat senyumannya.
“Ghan!” Devandra berbisik memanggil asistennya.
“Ya, Bos Dave!” jawab Ghani sigap.
“Tahu Arumi pulang jam berapa?” tanya Devandra dengan tatapan matanya yang masih memperhatikan Arumi.
“Gak tahu Bos!” jawab Ghani singkat.
Sontak Devandra langsung mengubah arah pandang matanya pada Ghani. Menatapnya sinis karena jawaban singkat yang diberikan oleh Ghani tadi. Ghani langsung menunduk takut karena tatapan sinis Devandra.
“Pak Rangga, bagaimana kinerja staff di sini? Apa ada keluhan?” terdengar Ibu Shanum bertanya pada Rangga tentang kinerja staff di restoran miliknya.
“Tidak Bu. Saya justru banyak terbantu oleh kinerja para staff disini.” Jawab Rangga dengan bangga. “Ah, dan di sini juga ada salah seorang staff yang sangat rajin. Itu dia disana!” Rangga menunjuk ke arah Arumi yang baru selesai menulis pesanan pelanggan.
Mata Ibu Shanum sedikit menyipit, dahinya juga sedikit berkerut. “Maksud kamu gadis yang itu?” tanya Ibu Shanum ingin mempertegas pernyataan Rangga.
“Iya, Bu.” Rangga menjawab dengan senyum bangga di wajahnya.
“Kamu sepertinya sangat menyukai dia?”
Rangga pun mengangguk dengan mantap menjawab pertanyaan tersebut.
Yang dimaksud oleh kata ‘menyukai’ disini adalah suka dengan kinerjanya. Namun Devandra yang mendengarnya di belakang langsung menyalah artikan maksud Ibu Shanum tadi. Devandra langsung menatap Rangga dengan penuh rasa tak suka. Hilang sudah rasa salutnya tadi terhadap Rangga hanya karena anggukan mantap darinya.
“Dia itu rajin Bu, dia bekerja paruh waktu disini sepulangnya kuliah. Dia juga tidak pernah mengeluh, padahal saya yakin dia sudah sangat lelah dengan pelajaran kuliahnya. Dia penuh dengan semangat. Saya jadi ikut bersemangat kalau sudah melihatnya.” Rangga mengatakan itu semua dengan penuh kebanggaan dan juga senyuman lembut di wajahnya.
Ibu Shanum ikut tersenyum mendengar semua itu dari Rangga. Seperti sebelumnya, Arumi masih menjadi pilihannya, dan kini juga menjadi kebanggaannya. Sedangkan Devandra merengut kesal di belakang karena ada lelaki lain yang sangat membanggakan istrinya. Devandra tentu sangat tidak menyukai hal tersebut.
Kemudian Devandra mengendap-endap pergi meninggalkan sang mama. Kebetulan kerumunan para penggemar sudah diatasi oleh staff dan security, jadi Devandra kini lebih leluasa untuk mencari keberadaan Arumi.
Devandra melihat Arumi yang sedang menunggu minuman pesanan pelanggan di jendela bar. Dengan cepat Devandra menarik tangan Arumi dan membawa Arumi pergi ke tempat yang lebih sepi. Arumi yang terkejut hanya bisa melongo melihat siapa yang menarik tangannya. Dia tidak menyangka jika Devandra berani melakukan hal tersebut. Apa dia tidak takut dilihat oleh orang lain?
“Aduh! Duh!” Arumi merintih kesakitan setelah merasa genggaman tangan Devandra semakin kencang.
Devandra mendobrak pintu ruang loker dan melempar Arumi hingga terduduk di kursi yang ada di sana. Tidak ada orang di dalam ruangan tersebut. Mereka semua sedang sibuk bekerja.
“Kamu apa-apaan sih! Sakit tahu!” teriak Arumi.
“Kamu ada hubungan apa sama si manager baru itu?” tanya Devandra penuh emosi.
“Hahh!!??” Arumi bingung dengan pertanyaan Devandra.
“Jawab aku! Bukannya malah hah!”
Arumi pun bangkit dan berdiri tegap di hadapan Devandra. “Kamu cemburu?” tanya Arumi sambil tersenyum miring.
Sontak wajah Devandra memerah karena tersipu. Tebakan Arumi tepat mengenai sasaran. Namun Devandra masih enggan mengakuinya.
“Enak saja! Siapa juga yang cemburu!” Devandra memalingkan wajahnya yang merona kemerahan.
Arumi mendekatkan wajahnya menatap Devandra lebih dekat. “Yakin kamu gak cemburu?”
“Iya, yakin!”
“Kalau begitu gak masalah kan kalau aku ada apa-apa sama Pak Rangga?” Arumi tersenyum lebar menggoda Devandra.
Devandra menolehkan kepalanya cepat pada Arumi dengan dahi yang berkerut. “Jadi benar kamu sama si manager itu ada apa-apa?”
“Hahahaha!” Arumi tertawa lalu melangkah menjauhi Devandra. “Yaa terserah kamu aja sih maunya gimana!” lanjutnya.
“Kamu mau kemana? Arumi! Hey, Rumi!” Devandra meneriaki Arumi yang begitu saja keluar dari ruangan meninggalkannya sendiri.
Akhirnya Devandra pun hanya bisa berdecak kesal. Dia masih belum bisa memastikan apakah Arumi dan Rangga ada hubungan atau tidak. Padahal sebenarnya tidak ada hubungan apa-apa diantara mereka berdua. Devandra sudah tenggelam dalam rasa cemburunya.