“Perjanjian tetap perjanjian. Aku akan ungkapin semuanya setelah Arumi lulus. Untuk sekarang biarin Arumi dengan dunianya. Jangan sampai dia kesusahan karena aku. Apalgi awak media akan senang kalau ada bahan gosip yang bisa menjatuhkan karirku.” Jawab Devandra dengan suara berat.
“Sial!!” gumam Devandra kesal.
“Jadi gimana bos?” tanya Ghani.
“Ya sudah kita pulang saja! Nanti malam saja kita jemput Arumi pulang!”
Keberuntungan belum menjadi milik Devandra siang ini. Dia pun pulang dengan perasaan kesal. Devandra kini bertekad dalam hatinya jika nanti malam dia harus menjemput Arumi. Walau akan dimaki nantinya oleh Arumi, dia tidak peduli.
***
“Sha!” Arumi menepuk pelan punggung Sasha yang sedang sangat serius dengan selembar kertas yang ada di tangannya.
Sasha pun menolehkan kepalanya, “Loh, kamu kok sudah sampai disini Rum?” tanya Sasha heran.
“Iya, tadi kebetulan banget jadwal kuliah siang dibatalin, jadi aku bisa datang lebih awal buat bantu-bantu di resto.” Jawab Arumi seraya meletakan tas selempang yang dibawanya ke dalam loker.
“Syukur deh Rum kamu bisa ikutan sibuk disini!” Sasha menghela nafas lega.
“Kok kamu kayaknya pusing banget baca kertas itu, Sha? Itu apa sih memangnya?”
Arumi pun berjalan mendekati Sasha dan mengambil kertas yang sedari tadi digenggam Sasha. Dilihat lalu dibacanya dengan seksama kertas tersebut. Ternyata itu adalah lembaran kertas yang berisi segala sesuatu yang dibutuhkan sekaligus rundown untuk acara pertunangan nanti.
“Ya sudah Sha ini biar aku saja yang siapin! Kan memang aku yang seharusnya bertugas mengurus acara pertunangan klien nanti.” ujar Arumi.
“Serius gak apa-apa Rum?” Sasha mendekatkan wajahnya dengan kedua alis yang terangkat.
Arumi mengangguk, “Iya gak apa-apa, Sha! Makasih ya sudah mau gantiin aku.” Katanya dengan menyunggingkan senyum.
“Oke deh Rum, aku keluar duluan ya.” Sasha menepuk lengan Arumi lalu melangkah ke luar.
Rumi langsung mengganti pakaian dan bersiap untuk bekerja. Setelah merasa dirinya sudah cukup rapih Arumi pun langsung menuju ke venue yang berada di teras samping restoran, tempat yang akan digunakan untuk pertunangan. Teras yang ukurannya cukup luas, cukup untuk menampung sekitar 100 tamu undangan, sudah dihias sedemikian rupa sehingga terlihat sangat indah dengan nuansa romantis.
Arumi berjalan melewati meja-meja yang dilapisi kain satin berwarna putih dengan vas bunga yang diletakkan di tengahnya. Kursinya pun berwarna putih dengan hiasan lilitan daun dan bunga. Arumi pun berdecak kagum atas keindahan di venue tersebut. Kedua matanya berbinar melihat banyaknya bunga yang menghiasi tempat tersebut.
“Arumi?” Rangga memanggilnya.
“Eh, iya Pak!” jawab Arumi setelah membalikan tubuhnya.
“Kamu kok ada di sini?” tanya Rangga bingung.
“Jadwal kuliah siang saya batal Pak, jadi saya bisa datang lebih awal.”
Rangga mengangguk, “Oh, begitu! Bagus kalau begitu, kamu bisa ikut saya sebentar?”
“Kemana Pak?”
“Ikut saya mengambil kue di toko kue pilihan klien. Toko kuenya sedang sangat ramai jadi tak ada yang bisa mengantar kesini.” Ajak Rangga.
“Hmm, oke Pak.” Arumi menyetujui.
Rangga berjalan menuju parkiran motor di depan retoran diikuti oleh Arumi. Sebuah motor sport berwarna hitam terparkir di bawah pohon rindang. Rangga menghampiri motor sport tersebut lalu memasukan kunci ke lubangnya.
“Kita naik motor saja biar cepat ya, Rum!” seru Rangga.
“Naik motor ini Pak?”
Ranggu melirik motornya lalu menatap Arumi dengan heran, “Memangnya kenapa?” Rangga bertanya dengan kepala sedikit dimiringkan.
“Kan susah bawa kuenya nanti Pak!” seru Arumi.
“Makanya saya ajak kamu!” jawab Rangga sambil tersenyum lebar sampai kedua matanya menyipit.
Arumi tersenyum meringis sambil menggaruk kepalanya. Mau bagaimana lagi, dia tidak bisa menolak permintaan Rangga sebagai managernya.
Rangga membonceng Arumi dengan perasaan senang. Dilajukan motornya dengan sedikit kencang sehingga Arumi memegang pinggang Rangga dengan sangat erat. Motor yang dikendarai Rangga melintas menerobos jalanan Jakarta yang sedikit tersendat. Mereka yang menggunakan kendaraan roda empat sudah pasti berjalan seperti siput.
Saat lampu lalu lintas berwarna merah, Rangga menghentikan motornya tepat di belakang garis putih yang membentang di atas aspal. Tepat di belakang motor Rangga, mobil mewah tipe MPV premium berwarna hitam. Mobil tersebut adalah mobil yang selalu mengantarkan Devandra kemana pun.
Mata Ghani menyipit melihat siluet wanita yang sedang dibonceng di sebuah motor sport bersama seorang lelaki. Padahal Ghani duduk di kursi tengah, tetapi matanya sangat jeli melihat ke depan.
“Bos Dave, itu kayak Nona Arumi deh!” kata Ghani seraya menunjuk ke arah depan.
Devandra yang tadinya sedang bermain game online di smartphone miliknya langsung mengarahkan pandangannya ke kaca depan mobilnya. “Mana sih?” tanya Devandra.
“Itu loh Bos yang pakai seragam restoran! Itu kan seragam restoran milik papanya Bos Dave ‘kan?” jawab Ghani lebih mendetail.
Mata Devandra langsung tertuju pada seragam restoran yang dipakai oleh seorang perempuan yang diboncengi oleh seorang pemuda. Setelah benar-benar mengenali siapa perempuan tersebut Devandra langsung memasang raut wajah tidak suka dan mengerutkan dahinya.
“Ghan, turun!” Devandra meminta asisten pribadinya tersebut untuk turun dari mobil.
“Memangnya mau ngapain Bos?” tanya Ghani kebingungan.
“Samperin Arumi, suruh turun dari motor itu!” titah Devandra dengan suara lantang.
“Tapi Bos …”
“Gak ada tapi-tapi, cepetan!” suara Devandra semakin lantang dan membuat nyali Ghani menciut seketika.
Namun lagi-lagi keberuntungan tidak berpihak pada Devandra. Baru saja hendak membuka pintu, lampu lalu lintas berubah menjadi hijau. Motor yang dikendarai Rangga pun langsung meluncur secepat kilat dan menghilang dari pandangan Devandra dan Ghani.
Devandra kembali berdecak kesal. Dia pun tidak bisa mengikuti kemana motor Rangga pergi. Jalanan yang padat merayap ini membuat mobil Devandra tidak bisa menyalip.
Rangga dan Arumi tiba di sebuah toko kue yang cukup ternama di Jakarta. Kedua bola mata Arumi berbinar melihat kue-kue yang berderet di dalam toko kue tersebut. “Waaahhh…” Arumi berdecak kagum. Mulutnya sampai sedikit terbuka dan matanya semakin berbinar saat melihat sebuah kue pernikahan 3 tingkat.
“Pak, kita gak bawa kue yang itu kan?” Arumi menunjuk kue pernikahan yang membuatnya menganga.
“Kita bawa yang itu Rumi!”
“Serius?? Saya gak bisa bawa yang segede gitu Pak!” Arumi menggelengkan kepalanya cepat.
Rangga pun terbahak dengan reaksi Arumi. “Kita bukan bawa yang itu kok, lagian saya juga pasti menolak dimintai tolong kalau harus bawa kue 3 tingkat begitu.”
“Syukurlah kalau begitu.” Arumi menghela nafas lega.
Seorang petugas toko kue tersebut menghampiri Rangga dan memberikan sebuah kotak berukuran cukup besar padanya. Setelah itu Rangga pun berjalan menghampiri Arumi dan mengajak Arumi untuk segera kembali ke restoran.
Arumi mengulurkan tangan kanannya, “Sini Pak saya bawain!” seru Arumi.
Rangga menyambut tangan Arumi lalu menggenggamnya, bukan memberikan kotak yang berisi kue padanya. Kemudian Rangga menarik tangan Arumi, ingin menuntunnya keluar dari toko kue menuju ke tempat dimana dia memarkirkan motornya. Namun baru dua langkah tiba-tiba Arumi menarik kembali tangannya.
“Pak Rangga?”
“Kenapa Arumi?” tanya Rangga dengan senyum simpulnya.
“Saya minta kuenya, biar saya bawain.” Ucap Arumi. Matanya diarahkan pada kotak yang dipegang oleh Rangga di satu tangannya.
“Gak usah Arumi, nanti saja pas kamu di motor ya. Lumayan berat soalnya.” Jawab Rangga.
“Terus kenapa malah Pak Rangga gandeng tangan saya?” Arumi lanjut bertanya.
“Biar kamu gak hilang!” Rangga berdalih dengan terkekeh.
Arumi mengerutkan dahinya kebingungan dengan maksud ucapan Rangga. Rangga malah tertawa melihat Arumi yang kebingungan seperti itu.
“Ya sudah yuk, nanti kita malah telat.” Seru Rangga sambil melangkahkan kakinya.
Arumi hanya bisa mengikuti manager restorannya itu dari belakang. Takut-takut jika nanti Rangga menggandeng tangannya lagi.
Dengan kecepatan secepat kilat, motor yang dikendarai Rangga menerobos kembali jalanan Jakarta yang macet. Rangga berkejaran dengan waktu karena sudah sebentar lagi acara pertunangan di restoran akan dimulai.
Sesampainya di restoran Rangga dan Arumi langsung meletakan kue yang diambilnya barusan ke meja yang sudah disiapkan. Para tamu pun mulai berdatangan. Arumi dan beberapa staff restoran yang terlibat juga mulai sangat disibukan.
Acara berjalan dengan sangat lancar dan hikmat. Bahkan Arumi sempat menghentikan segala kegiatannya hanya untuk menyaksikan sang pria yang memasangkan cincin pertunangan pada wanitanya. Arumi ikut merasakan kebahagiaan yang ada disana.
Setelah acara pertunangan selesai, dan para tamu undangan sudah semuanya pulang, Arumi dan yang lainnya kembali disibukan untuk merapihkan venue. Kegiatan Arumi di restoran hari ini sangatlah menghabiskan tenaganya. Arumi tetap bekerja sampai waktu kerjanya habis, yaitu pada malam hari saat tutup restoran.
Di ruang loker, Arumi sudah mengganti seragamnya dan sudah bersiap untuk pulang. Arumi menolehkan kepalanya ke kiri dan kanan mencari keberadaan temannya, Sasha. Arumi melangkah keluar dari ruang loker dan mencari Sasha di sudut-sudut restoran. Arumi menghela nafas lesu saat ada yang memberitahunya jika Sasha sudah pulang dari 2 jam yang lalu. Itu artinya tak ada yang bisa ditumpangi oleh Arumi sampai rumahnya.
Rangga melihat Arumi yang melangkahkan kakinya dengan lesu. Kemudian dia menghampiri Arumi dan menghalangi jalannya.
“Kamu capek banget ya, Rum?” suara Rangga mengejutkan Arumi.
“Eh, Pak Rangga! Enggak kok Pak, cuma nyari si Sasha ternyata dia sudah pulang.” Jawab Arumi dengan lesu.
“Mau saya antar pulang?”
Arumi sempat menatap Rangga dengan raut wajah senang, namun tiba-tiba raut wajahnya berubah lesu kembali setelah mengingat saat Rangga menggandeng tangannya. Arumi tidak ingin ada kesalahpahaman nantinya.
“Ehmm, gak usah deh Pak. Saya naik ojek online saja.” Tolak Arumi.
“Enggak apa-apa, saya bisa antar kamu dulu. Rumah kamu dimana?” Rangga sedikit memaksa Arumi.
Ponsel Arumi tiba-tiba berdering, Arumi pun dengan sigap mengangkat telepon yang masuk diwaktu yang bisa dibilang tepat.
“Halo?”
“Aku di depan resto, cepetan keluar!” suara Devandra terdengar dari seberang telepon.
“Hah? Ngapain?” tanya Arumi sedikit terkejut.
“Ya jemput kamu, bisa dimarahi sama Papa kalau aku gak jemput kamu.” Padahal Devandra menjemput Arumi atas kemauannya sendiri.
“Oh, ya sudah kalau gitu. Tungguin ya!”
“Gak pake lama!” tut tut tut tut. Devandra mengakhiri panggilan dengan seenaknya saja. Membuat Arumi menjadi kesal kepadanya.
“Siapa yang telepon?” Rangga penasaran.
“Pak, antar saya pulang lain kali saja ya! Karena saya sudah ada yang jemput. Makasih ya, Pak! Permisi..” Arumi sedikit membungkukan badannya lalu pergi meninggalkan Rangga.
Kali ini keberuntungan ada di tangan Devandra. Dia berhasil menjemput Arumi tanpa ada hambatan lainnya. Tidak seperti tadi siang saat ingin menjemputnya di kampus. Devandra juga sebenarnya ingin menginterogasi Arumi karena melihat Arumi yang diboncengi oleh lelaki lain.