Secret 2

1644 Words
“Kamu mau apalagi sih!?” dengan kesal Arumi bertanya. “Aku mau apalagi?” Devandra mengangkat alis kirinya. “Aku mau kamu Rumi!” lanjut Devandra sambil menarik tengkuk Arumi agar bisa menciumnya kembali. “Dalam mimpimu!” sahut Arumi yang kemudian mencubit perut sixpack Devandra hingga dia mengaduh kesakitan. “Rasain tuh!!” Arumi sedikit berlari agar dia cepat sampai ke kamarnya. “Awas kamu ya Arumi!!” seru Devandra sambil memegangi perutnya yang sakit karena cubitan Arumi.   ***   Keesokan paginya, Arumi dan juga Devandra menikmati sarapan mereka di meja makan bersama dengan kedua orang tua Devandra. Meja berbentuk persegi panjang dan terbuat dari kayu, dengan kursi yang empuk menambah kemewahan di dalam rumah tersebut. “Hari ini kamu pulang jam berapa Rumi?” tanya Ibu Shanum, ibunya Devandra sekaligus ibu mertua Arumi. “Arumi ada kuliah sampai siang, terus lanjut kerja di restoran.” Jawab Arumi seraya mengunyah potongan sosis di dalam mulutnya. “Kamu mau sampai kerja di restoran? Apa uang bulanan yang Papa dan Mama beri untuk kamu masih kurang?” tanya Pak Emran, ayah mertua Arumi. “Bukan gitu Pa, Arumi kan mau membiayai kuliah Arumi pakai uang Arumi sendiri.” Jawab Arumi sambil mengerlingkan matanya pada Devandra yang duduk berhadapan dengannya. Merasa dirinya ditatap dengan tatapan yang tajam dari wanita yang ada di hadapannya, Devandra malah mengedipkan mata kirinya menggoda Arumi. Arumi langsung mengerutkan dahi dan memasang wajah tak suka pada Devandra. “Ya sudah kalau itu sudah kemauannya Arumi kita gak bisa maksa, Pa.” ucap Ibu Shanum sambil menolehkan kepalanya pada sang suami yang juga duduk berhadapan dengannya. “Tapi Ma, Arumi kerja di restoran itu jadi pelayan, kalau memang dia mau kerja di restoran kan Papa bisa kasih jabatan yang lebih baik. Restoran itu juga masih milik kita.” “Jangan Pa!” seru Arumi. “Arumi mau mulai semuanya dari bawah! Dari nol! Jadi kalau nanti Arumi bisa naik jabatan yaa kan itu karena usaha Arumi sendiri.” Tambahnya. “Tapi kan…” “Sudahlah Pa! Kita ikuti saja dulu kemauan anaknya, jangan dipaksa ya Pa!” Ibu Shanum menyela Pak Emran dan berusaha menenangkan suasana. “Oke kalau begitu, tetapi hari ini Papa mau Devandra yang mengantar Arumi baik ke kampus atau ke restoran!” titah Pak Emran. “Tapi Pa..” dengan serempak Arumi dan Devandra mencoba menolak permintaan Pak Emran. “Tidak ada tapi-tapian! Ingat Dev, kalau sampai ketahuan kamu tidak mengantar Arumi maka Papa akan segera pensiunkan kamu dari agensi kamu!” Sepertinya perintah Pak Emran kali ini sangat mutlak dan tak bisa diganggu gugat lagi. Arumi dan Devandra hanya bisa menghela nafas lesu dan menuruti perintah Pak Emran. Devandra adalah seorang selebriti muda yang sedang naik daun. Dia menikahi Arumi karena permintaan kedua orang tuanya saat Arumi masih berusia 18 tahun. Jika sampai media tahu kalau Devandra sudah mempunyai istri, bisa-bisa karir yang dibangunnya akan hancur begitu saja. Sedangkan Arumi, dia merasa tertolong oleh kedua orang tua Devandra. Mereka berdua adalah sahabat baik Papa dan Mama Arumi. Setelah kedua orang tua Arumi meninggal karena sebuah kecelakaan, Ibu Shanum dan Pak Emran mengajak Arumi untuk tinggal di rumah mereka. Semakin hari Ibu Shanum menjadi sangat menyayangi Arumi dan memintanya menikah dengan putranya. Arumi hanya bisa mengabulkan permintaannya sebagai tanda balas budi darinya. Namun sebenarnya hubungan antara Arumi dan Devandra tidaklah berjalan terlalu baik. Mereka berdua sampai membuat sebuah perjanjian pra-nikah. Tidak ada yang boleh mengetahui jika mereka sudah menikah. Tidak boleh melakukan hubungan selayaknya suami dan istri. Perjanjian tersebut berlaku sampai Arumi lulus kuliah. Setelah itu mereka akan memikirkan kembali apakah akan melanjutkan pernikahan mereka atau tidak. Seorang lelaki menghampiri Devandra lalu berbisik di telinganya. “Permisi.. Bos Dave, kita sudah harus ke lokasi syuting!” Dave adalah nama panggung Devandra. Lelaki tersebut adalah asisten devandra yang mengurusi semua jadwal Devandra. “Okay!” Devandra meletakan pisau dan garpunya di meja. “Ma, Pa, Devandra harus berangkat sekarang.” Devandra pun bangkit dari kursinya. “Ehem!” Belum juga dia melangkahkan kaki, Pak Emran sudah berdehem menghentikannya. “Kenapa Pa?” tanya Devandra. “Jangan lupa, antar Arumi dulu ke kampus!” seru Pak Emran. “Ck! Ya sudah ayo cepat! Bisa telat kalau kamu lelet gitu!” Devandra berdecak kesal namun tetap harus menuruti sang ayah. Arumi pun berdiri dari kursi lalu mencium punggung tangan Ibu Shanun dan Pak Emran sebelum dia pergi. Hal sederhana seperti inilah yang membuat Ibu Shanum menjadi sangat menyukai Arumi. Sikap sopan dan santunnya. Arumi dan Devandra menaiki sebuah mobil tipe MPV premium dengan pintu yang digeser, lengkap dengan interior yang mewah di dalamnya. Devandra duduk di kursi tengah bersama dengan Ghani, asisten pribadinya. Sedangkan Arumi lebih memilih duduk di kursi depan, di sebelah supir. “Nanti siang gak usah jemput di kampus, aku bisa jalan sendiri ke tempat kerja.” Kata Arumi di kursi depan. “Siapa juga yang mau jemput kamu? Jadwalku hari ini sibuk banget. Gak bakal sempat jemput kamu.” Sahut Devandra. “Kita cuma syuting sampai jam 11 aja kok. Masih sempat bos Dave! Aduh!!” Ghani mengaduh karena kakinya diinjak oleh Devandra. Arumi melirik ke belakang melalui kaca spion yang ada di atas kepalanya. Terlihat Devandra sedang memasang raut wajah memarahi Ghani. Ghani hanya mengangguk-anggukan kepalanya dengan raut wajah bersalah. Kemudian Arumi tertawa kecil melihat kelakuan dua lelaki yang duduk di kursi belakang. “Ada apa nona Arumi?” tanya sang supir. “Gak ada apa-apa Pak!” jawab Arumi yang kemudian menutup mulutnya dengan tangan kanannya. Sesampainya di kampus, Arumi langsung disamput oleh kedua sahabatnya sejak kecil. Si kembar Adelia dan Adelio. “Rumiiiii..!!” Panggil Adelia seraya berjalan menghampiri Arumi. Adelia langsung melompat dan memeluk sahabatnya itu setelah jarak mereka kurang dari satu meter lagi. Arumi sampai sedikit terdorong ke belakang karena hal tersebut. “Ya ampun Lia! Aku hampir aja jatuh gara-gara kamu peluk gitu!” seru Arumi. “Andai aku juga bisa peluk kamu kayak si Lia.” Sahut Adelio. “Eiittss! Gak boleh! Kamu kan cowok Lio, jadi jangan coba peluk-peluk Arumi!” jawab Adelia sambil menyilangkan kedua tangannya di depan wajahnya. Kemudian mereka bertiga tertawa serempak. Adelia lalu menggandeng tangan Arumi dan mengajaknya berjalan menuju kelas. Adelio membuntuti di belakang Arumi dan Adelia. Pemuda itu kemudian menyunggingkan senyum tipis saat memperhatikan sosok Arumi yang ceria dari belakang. Adelia dan Adelio sudah berteman dengan Arumi sejak mereka masih berusia 5 tahun. Orang tua si kembar dan orang tua Arumi adalah teman semasa kuliah sekaligus rekan bisnis. Hampir mirip dengan orang tua Devandra. Bedanya, orang tua Devandra mengenal orang tua Arumi karena mereka adalah tetangga di kampung halamannya, dan mereka menjadi dekat setelah orang tua Arumi mengajarkan bisnis pada orang tua Devandra di Jakarta. Alhasil kini orang tua Devandra menjadi salah satu pebisnis yang sangat sukses sehingga mempunyai banyak restoran dan resor yang mereka kelola, tak hanya di Jakarta namun juga di berbagai daerah.   ***   “Bos Dave, syuting sudah selesai. Kita mau langsung pulang atau mau jemput nona Arumi dulu?” tanya Ghani pada Devandra yang sedang mengganti pakaiannya di ruang ganti. “Jam berapa sekarang?” tanya Devandra. “Jam 11 lewat 20 bos!” jawab Ghani setelah melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. “Ya sudah kita jemput saja! Pura-pura saja kita gak sengaja lewat sana. Sekalian kita beliin dia hotdog di minimarket yang biasa dia datangi.” “Yang mana bos?” “Itu loh yang searah sama kampusnya Arumi! Dia kan suka banget sama saus keju disana.” “Bos, mau nanya boleh?” raut wajah Ghani berubah ragu-ragu. “Nanya apa?” “Bos, kok suka banget jual mahal sama non Arumi? Kalo cinta mah bilang aja bos! Pakai acara tadi pagi bilang kalo jadwalnya sibuk, tetapi sekarang malah mau bawain makan buat non Arumi.” Devandra langsung membalikan badan dan mengerlingkan matanya tajam pada Ghani. Nyali Ghani langsung menciut begitu saja. Dia menundukan kepalanya tidak berani menatap wajah Devandra. “Perjanjian tetap perjanjian. Aku akan ungkapin semuanya setelah Arumi lulus. Untuk sekarang biarin Arumi dengan dunianya. Jangan sampai dia kesusahan karena aku. Apalgi awak media akan senang kalau ada bahan gosip yang bisa menjatuhkan karirku.” Jawab Devandra dengan suara berat. Sebenarnya Devandra bukan tidak mencintai Arumi. Memang awalnya Devandra sangat menolak dijodohkan dengan Arumi karena usia mereka yang masih muda, juga karena karir Devandra yang baru mulai bersinar kala itu. Tapi setelah 2 tahun menjalani kehidupan bersama Arumi, Devandra mulai memandang Arumi dengan penuh perasaan. Oleh karena itu Devandra sangat suka menggoda Arumi. Menciumnya tiba-tiba, memeluknya, bertengkar kecil dengannya. Itu sebenarnya cara Devandra menyalurkan perasaan tersembunyinya. Devandra ingin semakin lama Arumi menyadari jika hanya ada Devandra dalam kehidupannya, dan akan merasa kesepian jika Devandra sedang tidak ada di sekitarnya. Diantar oleh supir pribadinya, Devandra dan juga Ghani langsung meluncur ke kampus Arumi. Mereka juga menyempatkan berhenti di sebuah mini market untuk membeli hotdog kesukaan Arumi. Dengan ekstra keju tentunya agar Arumi semakin senang. Mobil Devandra berhenti sedikit jauh dari gerbang kampus. Dia tidak mau menarik perhatian pada mahasiswa disana karena mobil mewahnya itu. Bahkan Devandra menutup tirai jendela di dalam mobilnya dan disisakan sedikit terbuka agar Devandra bisa mengintip ke luar jendela. “Ghan, coba kamu hubungi Arumi! Tanya dia selesai jam berapa.” Titah Devandra. “Siap bos!” jawab Ghani. Ghani pun mencoba menghubungi Arumi namun tidak diangkat-angkat. Kemudian masuklah sebuah pesan singkat dari Arumi yang mengatakan jika dirinya sedang dalam perjalanan menuju ke restoran menggunakan ojek online. Kelas siangnya dibatalkan, jadi Arumi bisa datang ke restoran lebih awal. “Sial!!” gumam Devandra kesal. “Jadi gimana bos?” tanya Ghani. “Ya sudah kita pulang saja! Nanti malam saja kita jemput Arumi pulang!” Keberuntungan belum menjadi milik Devandra siang ini. Dia pun pulang dengan perasaan kesal. Devandra kini bertekad dalam hatinya jika nanti malam dia harus menjemput Arumi. Walau akan dimaki nantinya oleh Arumi, dia tidak peduli. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD