Arumi berlarian menuruni anak tangga sebuah jembatan penyebrangan. Cuaca siang ini sangat panas dan menyengat, membuat baju yang dikenakan Arumi basah bagian punggung dan ketiaknya karena keringat yang mengalir deras. Belum ditambah keringat yang membasahi keningnya. Arumi harus berulang kali menyeka keringat di keningnya.
Setelah anak tangga terakhir, Arumi tetap lanjut berlari menuju ke sebuah restoran yang berada tak jauh dari jembatan penyebrangan tadi. Dia sudah hampir telat bekerja. Dia tak ingin gajinya harus dipotong hanya karena telat beberapa menit saja.
Arumi masuk ke restoran melalui pintu belakang. Dia mendobrak masuk lalu menempelkan ibu jari tangan kanannya ke sebuah mesin fingerprint. “Yakk tepat waktu!!” seru Arumi setelah berhasil menekan ibu jarinya di mesin absen tadi.
“Kurang satu menit saja kamu sudah telat!” seru Sasha, rekan kerja Arumi, sambil terkekeh.
“Jangan sampai telat dong! Bisa-bisa gak bayar semesteran nanti, hahaha!” jawab Arumi diiringi tawanya.
Mereka berdua kemudian menuju ke ruang loker, tempat para koki, pelayan hingga supervisor beristirahat atau mengganti pakaian mereka.
“Ya sudah cepat ganti baju gih! Sebentar lagi katanya manager baru bakal datang.”
“Manager baru jadi datang hari ini? Duh, semoga managernya sama baiknya kayak yang sebelumnya ya, Sha!”
“Mudah-mudahan aja! Gih sana cepat ganti baju! Aku ke depan duluan ya , lagi ramai di luar.” Ujar Sasha.
Sasha pun meninggalkan Arumi sendirian di ruang loker. Dengan cepat Arumi mengganti pakaiannya dengan seragam restoran. Kemeja lengan panjang berwarna cokelat muda sebagai atasannya, dan rok pendek selutut berwarna hitam sebagai bawahannya. Tak lupa sepatu pantofel hitam dengan hak setinggi 5 centimeter. Rambut panjang Arumi pun harus dikonde cepol dilengkapi jepitan hairnet berpita hitam. Wajah polos Arumi pun harus dipoles sedikit make up agar terlihat lebih segar dan mempesona. Kini Arumi sudah siap untuk bekerja.
Arumi sendiri bekerja paruh waktu di restoran tersebut sebagai seorang pelayan. Sudah hampir satu setengah tahun Arumi bekerja paruh waktu disana untuk membiayai kuliahnya.
“Arumi! Sudah rapih?” Sasha kembali menghampiri Arumi di ruang loker.
“Udah Sha!” Arumi melangkahkan kaki menghampiri Sasha.
“Ayo ke depan, udah ramai banget di depan.” Ajak Sasha.
“Ya udah yuk!”
Seperti apa yang dikatakan oleh Sasha, restoran tampak ramai dengan pengunjung. Arumi dan Sasha pun langsung menjalankan tugas mereka. Mereka bertugas untuk menyambut pengunjung yang datang lalu mengantarkannya ke meja yang tersedia. Kemudian menjelaskan menu yang ada di buku dan mencatat pesanannya. Setelah menu yang dipesan sudah tersedia maka menu tersebut harus diantarkan ke meja yang memesan. Kurang lebih seperti itulah tugas Arumi dan Sasha.
Saat Arumi sedang mencatat menu dari salah seorang pengunjung restoran, sepasang mata memperhatikan Arumi dengan intens. Sepasang mata milik lelaki muda yang terpesona dengan senyum di wajah Arumi.
“Baik bu silahkan ditunggu pesannya sekitar 15 menit. Silahkan mengambil salad yang tersedia di meja sebelah sana yaa bu.” Dengan sangat ramah Arumi melayani pengunjung restoran itu.
Setelah itu Arumi mendekati sebuah komputer yang berada dekat dengan pintu masuk ke dapur restoran. Dia hendak meng-input pesanan yang baru saja dicatatnya. Lelaki muda yang memperhatikan Arumi sedari tadi perlahan mendekati Arumi.
“Perlu bantuan?” suara lelaki tersebut terdengar di belakang Arumi.
“Enggak kok!” jawab Arumi sembari membalikan badan. “Eh, maaf kamu siapa?” Arumi merasa kebingungan dengan sosok lelaki muda yang tidak dikenalnya.
Lelaki tersebut mengarahkan jari telunjuknya ke nametag yang sematkan di bagian dadanya. “Saya Rangga, manager baru di hotel ini.”
“Eehh?? Manager baru??” raut wajah Arumi tampak sangat terkejut. “Maaf Pak saya gak tahu..” Arumi membungkukan tubuhnya di hadapan Rangga.
“Tidak apa-apa, tak perlu sampai seperti itu, saya juga baru saja datang dan ingin melihat-lihat situasi di restoran ini.” ujar Rangga.
Arumi menegakan kembali badannya dan mengulurkan tangannya. “Saya Arumi Pak, pekerja part time disini.” Katanya memperkenalkan diri.
Rangga menyambut uluran tangan Arumi dan kembali memperkenalkan dirinya. “Saya Rangga, senang bisa berkenalan dengan kamu.”
“Hah?” Arumi sedikit kebingungan dengan kata-kata Rangga barusan. Rangga senang berkenalan dengannya?
“Kenapa? Kok kayak kaget gitu?” tanya Rangga. “Saya senang berkenalan dengan kamu, juga dengan staff yang lainnya pasti! Saya mau lihat-lihat bagian dapur, kamu silahkan lanjut bekerja!” lanjutnya.
Arumi hampir saja salah paham. Tentu saja seorang manager baru pasti akan senang berkenalan dengan semua staffnya.
Rangga melangkah masuk ke dalam dapur. Dia mencari tempat yang sedikit lebih sepi kemudian menyandarkan punggungnya ke dinding. “Hampir aja salah ngomong! Kan bisa malu kalau ketahuan gue senang karena bisa kenal sama dia!” katanya berbisik.
Ternyata Rangga memang jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Arumi. Sosok Arumi yang sangat ramah dalam melayani pengunjung, juga dengan senyumnya yang mempesona membuat Rangga tak bisa mengalihkan pandangannya dari gadis tersebut. Rangga pun merasa beruntung bisa ditempatkan di restoran ini. Karena dengan begitu dia bisa menjadi lebih dekat lagi dengan Arumi.
Hari berlalu dengan cepat, langit pun sudah berubah gelap, sudah waktunya restoran untuk tutup. Arumi, Sasha dan juga para pelayan yang lain saling bergotong royong untuk membersihkan restoran sebelum mereka tinggal pulang. Para pelayan hanya akan membersihkan bagian depan saja, tempat mereka melayani para pengunjung yang datang. Sedangkan bagian dapur sudah tanggung jawab para koki.
“Rumi, pulang bareng yuk!” ajak Sasha.
“Boleh deh! Lumayan tumpangan gratis, hehehe” jawab Arumi.
“Kalian berdua, tunggu!” suara Rangga menghentikan langkah Arumi dan Sasha yang hendak keluar dari restoran.
“Arumi, besok bisa masuk lebih awal? Karena besok ada yang membooking restoran kita untuk acara pertunangan. Bisa kan?” Rangga memberikan selembar kertas pada Arumi. Kertas tersebut berisi nama-nama staff yang akan terlibat untuk acara besok.
“Tapi Pak, aku besok …” raut wajah Arumi langsung bingung. Dia masih ada jadwal kuliah hingga siang hari besok.
“Arumi saya yang gantikan saja ya Pak!” seru Sasha.
“Loh memangnya kenapa? Kamu gak bisa Arumi?” tanya Rangga dengan anda sedikit kecewa.
“Yaa gitu deh Pak! Besok saya masih ada jadwal kuliah sampai siang, jadi saya takut gak bisa hadir tepat waktu.” Ucap Arumi sangat menyesal.
“Loh kamu kuliah?”
Rangga tampak terkejut. Dia sama sekali tidak mengetahui jika Arumi bekerja sambil kuliah. Awalnya dia mengira Arumi bekerja part time karena dia adalah staff baru. Kebanyakan staff baru yang bekerja di restoran akan diberikan jadwal paruh waktu sebelum menjadi pekerja kontrak atau pekerja tetap.
“Iya, Pak! Maaf ya Pak besok biar Sasha aja yang gantiin saya. Kami pamit pulang ya Pak..” Arumi mengembalikan kertas yang tadi diberikan oleh Rangga. Kemudian Arumi dan Sasha bergegas pulang.
“Kamu hebat ya, Arumi. Saya semakin jatuh hati sama kamu.” Rangga pun menyunggingkan senyum di wajahnya seakan dia benar-benar sudah menemukan wanita yang tepat untuk dirinya.
Tak butuh waktu lama Arumi pun sampai di rumahnya. Sasha hanya mengantarkannya sampai di pertigaan jalan saja. Arumi tidak ingin sampai Sasha mengetahui tempat tinggalnya. Bisa-bisa menjadi bahan gosip yang hangat nantinya.
Arumi melangkahkan kakinya dengan mantap memasuki sebuah rumah mewah 3 lantai. Rumah mewah tersebut bergaya klasik – vintage – modern dengan dinding yang didominasi warna putih, lantai dari kayu, dan jendela kaca besar di setiap sisi rumah.
“Selamat datang nona Arumi.” Sapa seorang wanita dengan pakaian pelayan. “Biar saya bawakan barang bawaannya.” Lanjut pelayan tersebut.
“Gak usah, gak apa-apa. Saya bisa bawa sendiri kok!” lagipula memang Arumi hanya membawa sebuah ransel serut berbahan kanvas.
“Baik nona, mau saya sediakan makan malam?”
“Enggak juga, saya mau langsung istirahat.”
“Baik, kalau begitu saya permisi.” Pelayan tersebut membungkukan badannya terlebih dahulu sebelum pergi meninggalkan Arumi.
Arumi melangkahkan kembali kakinya menaiki sebuah tangga melingkar menuju ke lantai 2. Kamar Arumi ada di lantai 2.
“Darimana aja kamu baru pulang jam segini!?” seorang lelaki muda sudah berdiri menunggu Arumi di akhir anak tangga.
Arumi sangat malas meladeni Devandra, lelaki yang sudah menunggunya itu. Arumi pun mengabaikan Devandra, melewatinya seolah tidak melihat keberadaannya disana.
“Arumi! Kamu gak lihat aku disini?” Devandra mengikuti Arumi dari belakang.
“Arumi?? Kamu cuekin aku??” nada bicara Devandra menjadi kesal.
Devandra menarik lengan Arumi agar dia berbalik kemudian menarik tubuh Arumi ke dalam pelukannya. Dengan sigap Devandra mendaratkan sebuat ciuman ke bibir manis Arumi. Sontak Arumi pun terkejut lalu mendorong tubuh Devandra agar menjauh darinya.
“Sialan kamu Dev!!” kesal Arumi dibuat Devandra.
“Kenapa sayang? Kita kan sudah suami istri, jadi sah-sah saja kan aku mencium kamu?” goda Devandra.
“Enak saja! Status kita memang suami istri, tetapi ingat juga perjanjian yang sudah kita setujui berdua!” Arumi kembali membalikan tubuhnya dan melangkah menjauhi Devandra.
“Arumi tunggu aku!” seru Devandra yang berjalan mendahului Arumi.
Langkah Arumi kembali terhenti karena Devandra yang bertubuh tinggi dengan postur badan yang kurus namun atletis itu sudah berada di depannya.
“Kamu mau apalagi sih!?” dengan kesal Arumi bertanya.
“Aku mau apalagi?” Devandra mengangkat alis kirinya. “Aku mau kamu Rumi!” lanjut Devandra sambil menarik tengkuk Arumi agar bisa menciumnya kembali.
“Dalam mimpimu!” sahut Arumi yang kemudian mencubit perut sixpack Devandra hingga dia mengaduh kesakitan.
“Rasain tuh!!” Arumi sedikit berlari agar dia cepat sampai ke kamarnya.
“Awas kamu ya Arumi!!” seru Devandra sambil memegangi perutnya yang sakit karena cubitan Arumi.