Prolog

208 Words
Langit tampak mendung dengan awan abu-abu yang menyelimuti. Sepertinya tak akan lama lagi akan turun hujan. Orang-orang bergerombol mengelilingi dua buah makam yang masih basah dan baru saja ditaburi bunga. Tampak seorang gadis menangis tersedu-sedu di hadapan kedua makam tersebut. Beberapa orang berusaha menenangkan gadis tersebut. Gadis itu menangisi kepergian kedua orang tuanya. "Sudah Arumi, jangan ditangisi lagi. Lebih baik kita doakan saja mama dan papa mu." ucap salah seorang gadis sambil membelai lembut kepala Arumi. "Iya Arumi, sebaiknya kita pulang sekarang!" tambah seorang pemuda yang sangat mirip dengan gadis yang membelai rambut Arumi barusan. Arumi tampak tidak menghiraukan kedua sahabatnya itu. Dia tetap memeluk batu nisan kedua orang tuanya bergantian sambil tetap menangis tersedu. Seorang wanita berusaha menerobos kerumunan orang yang mengelilingi Arumi. Wanita tersebut langsung memeluk Arumi dari belakang dan ikut berusaha menenangkan Arumi. "Arumi sayang, sudah ya jangan nangis lagi!" pinta wanita itu. "Tapi mama sama papa udah pergi Tan.. Arumi sendirian.. Arumi gak punya siapa-siapa lagi.." jawab Arumi dengan tersedu. "Kamu masih punya Tante! Kamu ikut pulang ke rumah Tante ya Arumi!" bujuk wanita tersebut. Arumi yang masih tenggelam dalam kesedihannya hanya bisa mengangguk menyetujui perkataan wanita tersebut. Kemudian Arumi pun bangkit dan beranjak pergi, melangkahkan kakinya dengan berat meninggalkan makam kedua orang tuanya.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD