Secret 10

1640 Words
Ibu Shanum pun menganggukan kepalanya lesu menyetujui permintaan putra satu-satunya itu. Ibu Shanum tahu jika baik Devandra dan Arumi punya cita-cita dan impian yang sedang mereka kejar. Ibu Shanum akan mencoba untuk memaklumi keputusan mereka berdua dan berusaha mendukungnya. Namun Ibu Shanum juga takut akan kehilangan Arumi nantinya jika pernikahan mereka masih terus dirahasiakan. Devandra adalah selebriti yang sedang naik daun. Sudah pasti banyak gadis dari kalangan selebriti juga yang mungkin akan mengejarnya. Begitu juga dengan Arumi, dia cantik dan mudah akrab dengan orang lain. Ibu Shanum tidak mau ada lelaki lain yang mencoba mendekati Arumi. Sepertinya sebagai seorang ibu, firasat Ibu Shanum benar-benar tepat.   ***   Hari ini sesuai permintaan sang Mama maka Devandra sengaja mengosongkan jadwalnya untuk merapihkan kamar tidur Arumi yang akan mereka tempati. Ghani sampai kewalahan karena harus mengubah beberapa jadwal ke hari yang lain. “Dev, tempat tidur Arumi akan mama ganti dengan yang ukurannya lebih besar ya! Biar kamu dan Arumi bisa nyaman tidur berdua! Yaa kalau mau guling-gulingan kan juga gak khawatir jatuh! Hihihi..” kata Ibu Shanum menggoda putranya sambil terkekeh. “Memangnya tempat tidur Arumi masih kurang besar Ma?” “Yaa kalau untuk sendiri sih udah cukup besar, tetapi kalau tidurnya berdua kan harus yang lebih besar lagi! King size gitu loh, Dev!” “Yaa terserah Mama aja sih, kalau yang king size kayaknya emang lebih pas deh buat Devandra dan Arumi. Jadi lebih gampang buat kasih pembatas di tengah, terus baik Devandra dan Arumi gak akan merasa kesempitan!” balas Devandra menggoda Ibu Shanum. Ibu Shanum tentu langsung mengerlingkan matanya pada Devandra lalu menyipitkan matanya. “Apa-apaan itu? Gak boleh gitu, Dev! Ya sudah Mama gak jadi pesan yang king size, biar pakai tempat tidur yang sudah ada saja jadi kalian bisa lebih mesra!” Devandra tersenyum tipis karena merasa menang dari sang mama. Lagipula setidaknya Devandra bisa lebih mendekatkan dirinya pada Arumi. Urusan perjanjian akan dia pikirkan nanti. Yang penting Devandra bisa menatap wajah tidur Arumi dari jarak yang sangat dekat. “Separuh baju Devandra tolong disusun di lemari yang disebelah sana ya! Sisanya tolong dirapihkan di lemari yang ada di kamar tamu!” titah Ibu Shamum pada salah seorang asisten rumah tangga yang membawa tumpukan baju Devandra dari kamar sebelumnya. “Buku-buku Devandra boleh disusun di rak sebelah situ bersebelahan dengan buku-buku milik Arumi!” titahnya lagi pada asisten rumah tangga yang lainnya. “Sepatu Devandra, hmm boleh kamu letakkan disebelah sana berjajar dengan sepatu Arumi!” Ibu Shanum menunjuk ke sebuah lemari kaca besar yang hanya berisi beberapa pasang sepatu milik Arumi di dalamnya. Dalam sekejap Ibu Shanum dan Devandra mengubah kamar Arumi menjadi kamar untuk sepasang suami istri. Ibu Shanum mengangguk-angukan kepalanya sambil tersenyum puas melihat hasil kerjanya. “Ma, yakin nanti Arumi gak akan marah?” tanya Devandra. “Kalau Arumi marah, boleh langsung minta dia untuk ketemu sama Mama!” jawab Ibu Shanum tegas. “Tapi kalau nanti Devandra disuruh tidur di lantai gimana, Ma?” “Kalau itu sih derita kamu, Dev! Kamu yang harus bisa curi kesempatan dan merayu Arumi agar bisa mengijinkan kamu tidur satu ranjang sama dia!” yang awalnya Devandra berpikir jika mamanya akan ada di pihaknya malah memojokannya dan menyuruhnya untuk mencuri kesempatan sendiri. “Kalau itu sih gak usah Mama kasih tahu juga Devandra udah tahu! Tapi masa Mama tega ngebiarin anak Mama ini tidur di lantai sih Ma!” Devandra masih berusaha agar Ibu Shanum memihak padanya dan membujuk Arumi. “Kamu itu lelaki, Dev! Tidur di lantai untuk hari pertama dan kedua itu gak akan jadi masalah buat kamu kan? Tapi hari selanjutnya kamu harus coba bujuk Arumi biar dia ngijinin kamu tidur satu ranjang!” Ibu Shanum terkekeh menjawab Devandra. Devandra menjadi kesal karena Ibu Shanum seolah tak mengerti apa maksud dari perkataannya. Kalau Devandra yang membujuk Arumi, sepertinya akan sangat mustahil mendapatkan izin dari istrinya itu untuk tidur satu ranjang. Tetapi kalau sang mama yang membujuk maka masih ada kemungkinan 50 persen Arumi akan memikirkannya. “Kamu gak jemput Arumi, Dev?” “Jemput Arumi? Memang ini jam berapa?” Devandra memutar kepalanya mencari letak jam yang menempel di dinding kamar Arumi. “Sebentar lagi Arumi pulang, sebaiknya kamu jemput dia dan ajak dia ke kamar ini! Kalian harus penjajakan kembali sebagai suami istri. Pokoknya malam ini Mama maunya kalian tidur di satu kamar, kalau bisa satu ranjang juga!” pinta Ibu Shanum pada Devandra. Devandra kemudian memanggil supir pribadinya untuk mengantarkannya ke kampus Arumi. Tak lupa dia juga mengajak Ghani untuk ikut serta bersamanya. Ghani yang akan menghampiri Arumi nantinya. Karena tak mungkin Devandra yang turun dari mobil mengingat hampir semua orang mengenali wajahnya sebagai selebriti yang sedang naik daun. Tak butuh waktu lama kini Devandra sudah sampai di depan kampus Arumi. Dia menghentikan mobilnya sekitar 10 meter dari gerbang kampus. “Ghan, udah ditelepon Arumi? Dia udah keluar belum?” tanya Devandra pada Ghani yang sedang menghubungi Arumi. “Ini lagi ditelepon Bos! Tapi Non Arumi gak angkat-angkat telepon saya nih! Apa dia masih ada kelas ya?” “Teleponin terus! Jangan sampai kita keduluan sama teman-temannya! Gue gak mau kalau sampai si Adelio itu yang nanti nganterin Arumi pulang!” titah Devandra. “Iya, Bos Dave!” Tuutt.. Tuutt.. “Halo!” Setelah beberapa kali menghubungi Arumi, akhirnya Arumi menerima panggilan telepon dari Ghani. “Halo, Non Arumi! Kita udah jemput nih di depan gerbang!” kata Ghani bersemangat. “Hah? Kan aku gak minta jemput! Aku baru aja mau diantar Adelio ke restoran!” Samar-samar Devandra mendengar nama Adelio dari speaker ponsel Ghani. Devandra pun langsung merebut ponsel Ghani untuk berbicara dengan Arumi. “Rumi, disuruh Mama pulang sekarang! Kamu gak boleh kecapekan dulu!” Devandra membawa nama mamanya agar Arumi langsung menurut dan ikut pulan bersamanya. “Ya sudah kalau gitu aku diantar Adelio pulang aja!” “Ehh! Kok diantar Adelio sih! Kan aku udah jemput kamu ini!” “Gak mau, nanti satu kampus jadi heboh kalau tahu seorang Dave jemput aku! Bisa jadi bahan gosip 7 hari 7 malam nanti!” Kemudian Arumi langsung mengakhiri panggilan teleponnya secara sepihak. Devandra menjadi kesal dan ingin membanting ponsel Ghani. Namun dengan cepat langsung dicegah oleh yang empunya ponsel. “Bos! Jangan main banting lagi ya! Hehehe.” Serunya sambil terkekeh. “Ck, argh!” Devandra berdecak kesal. Devandra pun langsung meminta supirnya untuk mengantarkannya kembali ke rumah. Dia akan menemui Arumi disana dan memaksanya untuk tidak lagi dekat dengan Adelio. Walaupun Adelio adalah sahabat Arumi, namun saat ini dia adalah ancaman terbesar bagi Devandra. Karena Adelio sudah membunyikan gendering perang dan meminta Devandra untuk melepaskan Arumi. Ternyata mobil yang ditumpangi Devandra dan juga motor yang dikendarai Adelio tiba dalam waktu bersamaan. Dengan cepat Devandra membuka pintu mobilnya dan melangkahkan kakinya keluar. Devandra langsung menghampiri Arumi dan menarik lengan Arumi dengan kasar agar dia segera turun dari motor Adelio. “Aduh, Dev! Sakit!” Arumi merintih kesakitan karena cengkeraman Devandra di lengan kiri Arumi. Adelio langsung menarik pergelangan tangan Devandra agar dia melepaskan tangannya dari lengan Arumi. “Lepasin Rumi! Lo gak denger dia kesakitan?!” bentak Adelio. Devandra dan Adelio kini saling bertatapan dengan tajam. Terlihat seperti ada sengatan listrik dari tatapan keduanya. Suasana pun menjadi sedikit mencekam. “Eh, udah sih ngapain pada main melotot gitu! Adelio, makasih ya karena udah anterin aku pulang!” Arumi mengucapkan terima kasih sambil melempar senyum pada Adelio. Devandra tak menyukai hal tersebut. Dia tidak mau istrinya tersenyum pada lelaki lain walaupun sahabatnya sendiri. Devandra langsung menarik Arumi mundur hingga berdiri di belakangnya. “Thanks udah antar istri gue pulang! Lo boleh pergi sekarang!” usir Devandra. Adelio mengerutkan dahinya, “Apa tadi? Istri lo?” tanyanya dengan nada tak percaya. “Lio, Devandra, udah ya! Gak usah bikin masalah yang sebenarnya gak ada jadi heboh!” Arumi berusaha melerai Devandra dan Adelio. “Lo kan sahabatnya Arumi, udah tahu juga kan kalau Arumi udah bersuami, jadi sebaiknya mulai sekarang lo jaga jarak sama dia!” pinta Devandra. “Dev! Udah!” bentak Arumi. “Gue tahu kok kalau Arumi udah bersuami, tapi sayangnya kalian lebih memilih merahasiakan pernikahan kalian karena takut karir lo jatuh kalau ketahuan sudah punya istri di usia muda!” Adelio membalas ucapan Devandra. “Lio! Cukup! Gak usah ikut-ikutan Devandra!” kali ini Arumi membentak Adelio. Arumi menatap Adelio dan Devandra secara bergantian dengan penuh rasa heran. Mengapa kedua lelaki di hadapannya ini sekarang malah membahas tentang pernikahannya. Baik Devandra mau pun Adelio kini membungkam mulut mereka masing-masing. Mereka tidak mau dibentak kembali oleh Arumi. “Lio, sekarang lebih baik kamu pulang aja ya. Makasih udah antar aku pulang.” Kata Arumi. “Okay, aku pulang ya Rumi. Kamu harus banyak istirahat.” Seperti disengaja Adelio menepuk pelan pucuk kepala Arumi sehingga membuat mata Devandra melotot dan menatap Adelio dengan murka. Kemudian Arumi melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah setelah motor milik Adelio sudah tak terlihat lagi. Devandra mengikuti di belakangnya. Arumi berjalan menaiki tangga menuju ke kamarnya, Devandra masih membuntutinya tanpa mengatakan apapun. Kemudian langkah Arumi terhenti sebelum dia membuka pintu kamarnya. Arumi berbalik dan melihat Devandra berdiri tegak di belakangnya. “Kamu mau ngapain lagi? Aku mau masuk ke kamar, mau istirahat.” “Aku juga mau masuk kamar!” seru Devandra. “Ya sana kamu ke kamar kamu! Kenapa masih ngikutin aku?” Arumi mengusir Devandra untuk kembali ke kamarnya. Devandra tersenyum tanpa mengatakan apapun tentang semua barang-barang miliknya yang sudah dipindahkan ke kamar Arumi. Devandra maju mendekati Arumi, lalu tangan Devandra membuka pintu kamar Arumi. “Kamu coba lihat ke dalam!” pinta Devandra. Arumi mengerutkan dahinya tak mengerti apa maksud Devandra. Kemudian Arumi membalikan tubuhnya dan kedua matanya terbelalak dengan mulut yang sedikit terbuka setelah melihat isi kamarnya saat ini. “Loh kok, kamarku …” Devandra terkekeh melihat reaksi Arumi. Bagaimana selanjutnya malam yang akan mereka habiskan berdua?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD