Secret 11

1675 Words
“Kamu coba lihat ke dalam!” pinta Devandra. Arumi mengerutkan dahinya tak mengerti apa maksud Devandra. Kemudian Arumi membalikan tubuhnya dan kedua matanya terbelalak dengan mulut yang sedikit terbuka setelah melihat isi kamarnya saat ini. “Loh kok, kamarku …” Devandra terkekeh melihat reaksi Arumi. Bagaimana selanjutnya malam yang akan mereka habiskan berdua?   ***   “Kamarku…” “Sekarang kamar kamu jadi kamarku juga Rumi!” seru Devandra dengan senyum yang sangat lebar di wajahny. “Kok gitu? Kamu kan udah punya kamar sendiri kenapa kamu malah numpang di kamarku sih?!” “Kalau kamu mau protes, silahkan protes langsung sama Mama.” Devandra ambil aman menjawab seperti itu. Dia tahu jika Arumi tak akan marah padanya jika dia menyebutkan nama mamanya. Seperti yang diduga, Arumi tak marah pada Devandra. Namun Arumi langsung melangkah meninggalkan Devandra mencari keberadaan Ibu Shanum. “Loh, Rumi! Mau kemana?” teriak Devandra. “Nyari Mama! Kan katanya protes langsung sama Mama!” jawab Arumi sambil berlalu. Devandra mengejar Arumi dan membuntutinya dari belakang. Devandra sangat yakin jika Ibu Shanum akan berpihak padanya, karena ini semua juga atas perintahnya. Namun Devandra tak bisa menutupi kekhawatirannya jika nantinya Ibu Shanum berubah pikiran karena Arumi, menantu kesayangannya, melayangkan protes padanya. Arumi menemukan Ibu Shanum di lantai satu rumah mereka. Ibu Shanum sudah menenteng tas hendak pergi keluar. “Mama!” Arumi memanggil dengan suara kencang agar Ibu Shanum menghentikan langkahnya. Ibu Shanum menolehkan kepalanya ke belakang, “Iya, Rumi? Ada apa?” “Ma, kok barang-barang Devandra ada di kamar Rumi sih? Arumi minta barang-barang Devandra dipindahin lagi ke kamarnya sekarang ya, Ma!” protes sudah dilayangkan pada Ibu Shanum. Ibu Shanum membalikan tubuhnya, bersikap aneh seperti memikirkan sesuatu. “Hmm… I-itu… Gak bisa Arumi!” “Kok gak bisa Ma?” “Karena Mama mau renovasi kamar Devandra. Jadi untuk beberapa waktu kalian harus tidur berdua ya! Gak masalah kan? Kalian kan sudah suami istri!” terdengar penekanan pada kata ‘suami istri’ yang diucapkan Ibu Shanum tadi. Devandra mengepalkan tangan dan menariknya ke belakang menunjukan kesenangannya. Arumi langsung membalikan tubuhnya dan membuat Devandra seketika berhenti dan bersikap seolah tak mendengar apapun. “Kalau memang kamar Devandra di renovasi kan dia bisa tidur di kamar tamu dulu Ma! Kamar tamu di rumah ini kan lebih dari satu, dan ukurannya juga cukup besar hampir kan Ma!” Arumi melanjutkan protesnya. “Kalau itu tidak bisa! Lagipula kalian berdua kan bisa tidur bareng, Rumi! Ingat ya, kalian sudah su-a-mi is-tri.” Kali ini Ibu Shanum mengeja perlahan kata suami istri dan tetap memberikan penekanan pada kata tersebut. “Tapi kan Arumi masih kuliah, Ma! Nanti kalau Devandra macam-macam sama Arumi gimana?” “Emangnya aku gak boleh macam-macam?” sahut Devandra dari belakang. “Eh, kamu mau macam-macam Dev?” Ibu Shanum menambahkan. “Tuh kan, Ma! Devandra sudah niat macam-macam sama Arumi! Pokoknya Arumi gak mau tidur satu kamar sama Devandra!” Untuk mendukung protesnya, Arumi mulai bersikap merajuk pada Ibu Shanum dengan bibir yang mengerucut. Arumi berharap dengan begitu Ibu Shanum akan merasa kasihan padanya dan akan menuruti permintaannya itu. Namun sangat disayangkan, ide ini sebenarnya adalah idenya Ibu Shanum agar Devandra dan Arumi menjadi semakin dekat. Ibu Shanum balas merajuk pada Arumi dan memasang wajah sedih. “Mama kan cuma mau dua anak Mama ini jadi lebih dekat dengan tidur di satu kamar. Kalau kamu menolak permintaan Mama, rasanya Mama jadi ingin menangis. Baru pertama kali Arumi yang Mama sayang ini menolak permintaan Mama.” katanya dengan nada merajuk. “Tuh kan Mama jadi sedih gitu! Memangnya kenapa sih kalau kita tidur di satu kamar? Demi Mama loh, Rumi..” hasut Devandra. Arumi menjadi bimbang karena tak bisa melihat ada kesedihan di raut wajah Ibu Shanum. Ibu Shanum adalah pengganti mamanya yang sudah tiada. Dia tak bisa membiarkan kesedihan datang menhampiri Ibu Shanum, apalagi kesedihan itu karena tindakannya. Arumi menghela nafas lalu berkata, “Ya sudah kalau begitu! Tetapi hanya sampai kamar Devandra selesai di renovasi ya, Ma!” Raut sedih yang dibuat Ibu Shanum langsung hilang seketika dan berganti dengan kesenangan. Ibu Shanum memeluk Arumi dan juga mengecup pipinya kanan dan kiri. Kemudian dengan senyum yang terkembang di wajahnya Ibu Shanum pergi meninggalkan Arumi dan Devandra. Di belakang Arumi Devandra benar-benar bersorak kegirangan tanpa mengeluarkan suara sambil melompat-lompat. Pada akhirnya dia bisa tidur bersama dengan Arumi. Arumi membalikan tubuhnya kembali dan melihat Devandra yang melompat-lompat. “Kamu ngapain?” tanya Arumi, dan seketika Devandra menjadi salah tingkah karena ketahuan sedang melompat kegirangan. Devandra tidak berhenti dan terus melompat, “Ini aku lagi senam kebugaran biar tetap fit!” jawabnya asal. “Bilang saja kamu senang karena Mama gak mau mindahin barang-barang kamu balik!” sentak Arumi. “Yaa sekalian, senam kebugaran sekalian senang dengan keputusan Mama. Memangnya gak boleh?” jawab Devandra sambil tetap mempertahankan lompatannya. Arumi menghentakan kaki kanannya ke lantai kemudian pergi meninggalkan Devandra. Merasa Arumi sudah cukup jauh darinya Devandra pun meneriakan rasa senangnya yang sedari tadi tertahan. “YESS!! YESS!! Akhirnya…” “AKHIRNYA APA DEV?!” teriak Arumi membatalkan kembali euforia Devandra. “Akhirnya… Akhirnya otot perut aku kebentuk lagi!! Kamu mau lihat gak Rumi??” jawaban asal lainnya dari Devandra. “OGAH!!” teriak Arumi. Devandra tertawa dengan suara kecil. Dia tak mau sampai Arumi kembali memergokinya sampai dia harus salah tingkah lagi. Biar dia tunjukan nanti malam pada Arumi otot perut yang dimaksudnya tadi. Malam pun tiba. Arumi dan Devandra benar-benar tidur bersama dalam satu kamar. Akan tetapi ada dua buah bantal guling yang disusun memanjang dijadikan sebagai pembatas antara Arumi dan Devandra. Mereka berdua juga tidur dengan punggung yang saling berhadapan. Sesekali Devandra mencoba menolehkan kepalanya mencuri pandang pada Arumi. Namun yang terlihat hanyalah rambut panjang Arumi yang tergerai. Samar-samar terendus oleh Devandra harum sampo yang dipakai Arumi. Harumnya membuat Devandra tak bisa memejamkan mata. Rasanya Devandra ingin menempelkan hidungnya di kepala Arumi dan menciumnya secara langsung. “Rumi..” iseng Devandra mencoba memanggil Arumi memastikan dia sudah tidur atau belum. “Hmm..” ternyata yang dipanggil belum tertidur dan menjawab Devandra. “Kamu belum tidur?” “Sebentar lagi.” “Kita ngobrol dulu yuk!” ajak Devandra berharap Arumi akan menyetujuinya. “Gak. Udah ngantuk. Kamu ngobrol aja sama guling!” sinis Arumi. Devandra memberanikan diri membalikan tubuhnya menghadap punggung Arumi. Ditatapnya rambut panjang Arumi yang tergerai. Devandra bisa mencium harus sampo Aromi lebih dekat. Harumnya benar-benar lembut dan membuat Devandra ingin semakin mendekatinya. Devandra menunggu beberapa waktu sampai Arumi benar-benar tertidur. Sekitar setengah jam Devandra terjaga akhirnya Arumi pulas tertidur. “Rumi..” panggil Devandra pelan. Tak ada jawaban dari Arumi. Itu artinya Arumi sudah sangat sibuk di dalam mimpinya. Devandra menyingkirkan dua buah bantal guling dengan sangat perlahan agar tidak membuat Arumi terbangun dari mimpinya. Kemudian Devandra menggeser tubuhnya semakin dekat dan semakin menempel pada Arumi. “Rumi..” kembali Devandra memanggil Arumi untuk memastikan apakah Arumi terbangun atau tidak. Devandra memajukan wajahnya melihat wajah Arumi. Kedua mata Arumi terpejam dan wajah tidurnya benar-benar membuat Devandra tak bisa menahan diri untuk semakin jatuh cinta padanya. Dari belakang Devandra melingkarkan salah satu tangannya di pinggang Arumi. Tangan yang satu lagi dijadikan Devandra sebagai bantalan kepala Arumi. Aroma sampo yang sudah membuatnya penasaran kini bisa dengan luluasa dia endus. Devandra mendaratkan sebuah kecupan manis di kepala bagian belakang Arumi. Barulah setelahnya Devandra memejamkan kedua matanya. Sampai pagi menjelang mereka berdua tertidur pulas dengan posisi Devandra memeluk Arumi dari belakang. Arumi pun merasa nyaman dengan kehangatan pelukan Devandra yang menyelimutinya sepanjang malam. “Uuurrmmm..” Arumi meenggeliat mengangkat kedua tangannya ke atas kepala. Kedua matanya terbuka. Kemudian dia menolehkan kepalanya ke sebelah kiri. “KYYAAA!!!” Arumi berteriak sambil menendang-nendang tubuh Devandra agar segera menjauh darinya. Dia sangat terkejut melihat wajah Devandra yang berjarak sangat dekat dengannya. “Aduuhhh!! Rumi!! Kok aku ditendang gini sih!!” kata Devandra yang langsung terbangun akibat tendangan Arumi di tubuhnya. “Kamu ngapain sih??” “Ngapain? Emang kamu gak bisa lihat apa kalau aku lagi tidur!” “Tapi kenapa bisa peluk-peluk aku gitu?? Gulingnya? Gulingnya kamu kemanain??” Devandra mulai tersenyum usil. Dia melirikan matanya ke arah guling yang tergeletak di lantai. Lalu Devandra mulai menggoda Arumi. “Semalam itu, makasih ya Rumi..” Devandra mengusap bibir bawahnya dengan jari telunjuknya. Lalu Devandra tersenyum malu-malu seolah terjadi sesuatu di antara mereka. “Semalam? Semalam memangnya ada apa dengan kita?” “Masa kamu lupa sih Rumi sayang? Atau kamu hanya malu saja mengingat apa yang kita lakuin semalam?” Kemudian Devandra bersikap malu dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Arumi mencoba mengingat kembali apa yang dia lakukan semalam. Dia sangat mengingat jika dia meletakan guling-guling di tengah ranjang mereka sebagai pembatas. Lalu dia memunggungi Devandra lalu tidur. Tak ada hal aneh yang dia lakukan dengan Devandra. “Jangan-jangan semalam kamu mengigau ya melakukan itu denganku?” Devandra melanjutkan sandiwaranya. “Hah? Mengigau? Memangnya semalam aku mengigau apa?” Arumi penasaran. “Itu loohh…” “Itu? Itu apa?” “Sini biar aku ingatkan kamu apa yang sudah kita lakuin saat kamu mengigau!” Devandra meminta Arumi untuk sedikit mendekat. Arumi pun menggeser tubuhnya lebih dekat dengan Devandra. Sambil tersenyum Devandra mengangkat perlahan kaos oblong yang dia gunakan untuk tidur sampai perutnya terekspos. “Eh, tunggu dulu! Kamu mau ngapain?” Arumi menahan kaos Devandra. “Katanya kamu mau tahu kita ngelakuin apa semalam!” “Terus kenapa kamu buka baju begitu?” Devandra menyingkirkan tangan Arumi lalu membuka kaos oblongnya dengan cepat. Arumi menutup matanya dengan kedua tangan. Devandra langsung menarik salah satu tangan Arumi dan diletakan di perut Devandra yang atletis. “Semalam kamu meraba otot-otot perutku ini, lalu kamu menarikku seperti ini!” Devandra memperagakannya dengan menarik tubuh Arumi ke dalam pelukannya. Kedua mata Arumi langsung terbuka lebar karena Devandra tiba-tiba menarik tubuhnya. Tubuh Arumi menegang dan menjadi kaku. “Setelah itu, kamu mulai begini..” Devandra mendekatkan wajahnya ke leher Arumi. Dengan cepat Devandra mendaratkan ciuman panas ke leher Arumi hingga meninggalkan tanda di lehernya itu. “DEVANDRA!!”  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD