Secret 12

1696 Words
“Semalam kamu meraba otot-otot perutku ini, lalu kamu menarikku seperti ini!” Devandra memperagakannya dengan menarik tubuh Arumi ke dalam pelukannya. Kedua mata Arumi langsung terbuka lebar karena Devandra tiba-tiba menarik tubuhnya. Tubuh Arumi menegang dan menjadi kaku. “Setelah itu, kamu mulai begini..” Devandra mendekatkan wajahnya ke leher Arumi. Dengan cepat Devandra mendaratkan ciuman panas ke leher Arumi hingga meninggalkan tanda di lehernya itu. “DEVANDRA!!”   ***   Arumi mendorong tubuh Devandra dan menendangnya sampai dia terjatuh dari tempat tidur. “Aduh Arumi!! Sakit tahu ditendang sampai jatuh gini!!” seru Devandra. “Ya salah sendiri!! Ngapain kamu cium-cium leher aku segala!!” balas Arumi. “Kamu kan nanya semalam kita ngapain? Ya aku jawab, aku praktekin semalam kita ngapain! Kok aku malah ditendang sih!” Arumi bangkit dan berjalan mendekat pada Devandra yang masih terduduk di lantai. Dilipat kedua tangan Arumi di bawah d**a. Dilemparkan pandangan penuh curiga pada Devandra. “Kamu mau bohongi aku? Sekalian cari kesempatan dalam kesempitan? Ayo ngaku!” Devandra langsung membisu. Dia merapatkan bibirnya hingga membentuk sebuah garis. Pandangan matanya dialihkan ke sembarang arah, asalkan tidak bertatapan dengan Arumi. “Benar kan kamu membohongi aku?” desis Arumi. “Tapi sah-sah saja kan aku melakukan apapun sama kamu, kita kan sudah menikah!” “Oke kalau begitu! Aku akan melakukan semua yang kamu mau asalkan…” “Asalkan apa?” Devandra penasaran. “Asalkan kamu publikasikan hubungan pernikahan kita saat ini juga ke media dan juga seluruh penggemarmu! Gimana?” pinta Arumi dengan nada yang menyudutkan Devandra. “Kalau itu… A—aku…” “Kenapa? Gak bisa?” “Kan kita sudah tanda tangani perjanjian kalau tetap harus menutupi pernikahan kita agar karir yang sedang kubangun tidak runtuh.” Jawab Devandra. “Kalau begitu ikuti semua yang tertulis dalam perjanjian! Termasuk tidak melakukan hubungan suami istri sampai aku lulus kuliah!” tegas Arumi. Devandra kalah kali ini. Dia tidak bisa berkata apa-apa lagi setelah Arumi mengingatkan butir perjanjian yang mereka setujui berdua. Arumi pun melangkah menuju kamar mandi meninggalkan Devandra yang tampak kesal karena Arumi mengingatkannya tentang perjanjian mereka. Saat di ruang makan, Ibu Shanum memperhatikan sikap Devandra dan Arumi yang sama sekali tak bicara. Ibu Shanum menerka-nerka apa yang sudah terjadi di antara mereka. Apakah Devandra dan Arumi tidur di ranjang yang sama, atau malah Devandra harus tidur di lantai? Atau Devandra tidak mau mengalah dan membiarkan Arumi yang tidur di lantai. Namun arah pandangan Ibu Shanum langsung terhenti di leher Arumi. Ada sebuah tanda kecil kemerahan di leher Arumi. Ibu Shanum langsung tersenyum senang. Dia mengira jika hanya dalam satu malam saja Devandra berhasil mendapatkan Arumi ke dalam pelukannya. Sudah cukup Ibu Shanum bahagia melihat tanda kepemilikan di leher Arumi. Dia tidak akan membahsa apapun. Karena Ibu Shanum juga mengira kalau Devandra dan Arumi saling tidak bicara karena malu di hadapan Ibu Shanum dan Pak Emran. “Argh, sial!!” Devandra berdecak kesal di dalam mobil. Kini dia dan Ghani sedang dalam perjalanan menuju ke lokasi untuk pemotretan. “Bos Dave kenapa sih? Masih pagi udah marah-marah aja!” tanya Ghani. “Diam deh! Gak usah banyak tanya!” Devandra malah memarahi Ghani atas pertanyaannya. “Ya gak usah marah-marah ke saya sih Bos. Saya kan cuma nanya aja.” gerutu Ghani dengan suara pelan. “Ngomong apa lo tadi?” “Eh, enggak Bos! Gak ngomong apa-apa!” “Awas lo ya kalau ngomong macem-macem lagi!” “Iya, iya Bos!” Arumi tiba di restoran setelah beberapa hari absen. Kebetulan tadi pagi Adelia memberitahunya jika hari ini dosen yang akan mengajar sedang berhalangan hadir. Jadi kelas hari ini ditiadakan dan akan diganti di lain hari. Oleh karena itu Arumi memilih langsung ke restoran untuk kembali bekerja. “Selamat pagi!!” seru Arumi saat memasuki ruang loker. Sasha yang baru saja selesai mengenakan seragamnya langsung melompat ke arah Arumi menyambutnya dengan senang. “Arumiii… Akhirnya kamu sudah mulai kerja lagi…” “Hahaha! Kamu kangen ya sama aku?” “Bukan kangen sama orangnya sih, tapi kangen sama bantuannya di retoran! Hahaha!” “Ih, kamu mah begitu Sha! Kirain kamu kangen sama aku gitu!” “Iya, iya Arumi! Aku kangen sama kamu! Aku mau jengukin kamu sebenarnya tapi aku kan gak tahu rumah kamu tuh dimana. Selama ini aku kalau antar kamu pulang cuma sampai di depan komplek aja, gak pernah sampai masuk ke dalamnya!” Benar juga, selama ini Sasha belum tahu pas-nya rumah Arumi ada di sebelah mana. Namun Arumi langsung memasang senyum lebar di wajahnya sampai kedua matanya menyipit. Dalam hatinya dia merasa bersyukur Sasha tidak mencari tahu tempatnya tinggal. Karena nanti Arumi bisa dicecar berbagai pertanyaan jika Sasha mengetahui Arumi tinggal di rumah yang mewah. Rumah seorang selebriti muda yang sedang naik daun. “Iiihh kamu kok malah senyum-senyum gitu sih!” Sasha mencubit kedua pipi Arumi. “Sudah sana cepat ganti baju, bantu aku di restoran!” tambahnya. “Iya, iyaa..” jawab Arumi. “Eh, tunggu dulu sebentar!” Sasha melihat ada sesuatu di leher Arumi. Sesuatu yang berukuran sekitar satu sampai dua sentimeter dan berwarna merah sedikit keunguan. “Leher kamu kenapa?” tanya Sasha. “Hah? Leher aku? Memang leher aku kenapa?” “Sini coba lihat di kaca!” Sasha menarik Arumi mendekat ke lemari ganti yang tertempel cermin di depan pintunya. “Tuh lihat!” titah Sasha. Arumi langsung menatap dirinya dari pantulan cermin. Melihat lehernya yang ditanyakan oleh Sasha. “Loh, ini apa??” tanya Arumi bingung melihat ada tanda di lehernya. Sasha menyipitkan kedua matanya, menatap Arumi lewat cermin dengan tatapan yang aneh sambil tersenyum. “Kamu kenapa ngelihatin aku kayak gitu?” tanya Arumi. “Serangga mana yang berani cium kamu, Rumi?” “Hah? Maksud kamu?” “Itu tanda di leher kamu, itu kan kiss mark! Serangga mana yang sudah berani ninggalin kiss mark di leher kamu itu?” Sasha terkekeh. “Kiss mark??” Arumi langsung teringat saat Devandra mendaratkan ciuman di lehernya. Ternyata Devandra sampai meninggalkan tanda seperti ini sehingga orang lain bisa dengan mudah melihatnya. Pipi Arumi langsung merona karena hal tersebut. “Hayo ngaku.. Kamu sudah punya pacar?” Sasha memajukan wajahnya pada Arumi yang berbalik dan berhadapan dengannya. “Apaan sih, Sha! Siapa juga yang punya pacar!” jawab Arumi sambil menutupi tanda di lehernya itu dengan tangannya. Lagipula Arumi memang tidak mempunyai pacar, dia punyanya suami. “Kamu masih saja main rahasia sama aku sih Rumi! Ya sudah sana ganti baju kamu, aku duluan ya ke depan! Mau bantu beres-beres meja.” Sasha pun meninggalkan Arumi sendiri di ruang loker. Arumi kembali melihat dirinya di cermin. “Gara-gara si Devandra nih! Awas saja nanti di rumah, aku bikin dia tidur di kamar mandi!” gerutu Arumi kesal. Sesaat kemudian pintu loker kembali terbuka dan Rangga masuk ke dalamnya. Arumi terkejut dengan kehadiran Rangga yang sangat tiba-tiba disaat dirinya sedang menggerutu. “Eh, kamu sudah masuk lagi? Memangnya kamu sudah sehat Arumi?” tanya Rangga sambil melangkahkan kakinya mendekati Arumi. “Sudah, Pak! Kebetulan juga hari ini saya gak kuliah jadi bisa dari pagi bantu di restoran.” “Bagus kalau begitu, kita gak kekurangan tenaga lagi. Hehehe” jawabnya sambil tertawa. Tiba-tiba raut wajah Rangga berubah saat dia melihat tanda kepemilikan di leher Arumi. Rangga sedikit menyipitkan kedua matanya memastikan apa yang dilihatnya itu benar. Dengan cepat Arumi menutupi tanda di lehernya dengan tangan lalu menundukan pandangannya. “Jadi kamu sudah punya pacar?” pertanyaan yang sama terlontar dari mulut Rangga. “A—anu.. itu…” Rangga menunggu jawaban Arumi sambil terus menatapnya dalam. Hati Rangga sudah siap untuk hancur dan sakit jika Arumi mengaku kalau sudah memiliki kekasih. “Anu, Pak… ini… serangga.” jawab Arumi terbata. “Serangga?” “I—iya…” “Kamu yakin?” Rangga memastikan. “Yakin, Pak!” “Kalau begitu, jadilah pacarku kalau memang kamu masih sendiri. Aku sudah jatuh cinta sama kamu sejak pandangan pertama, Arumi.” “Hah? Apa??” Rangga menyatakan perasaannya dan mengajak Arumi berpacaran. Arumi tidak bisa menutupi keterkejutannya. Namun Rangga tetap menatapnya dengan serius dan menunggu jawaban yang akan diberikan oleh Arumi. “Bagaimana? Kamu bisa menerimaku jadi pacar kamu?” tanya Rangga. “Kalau itu gak mungkin! Aku…” “Aku apa?” “Maksudku, kita kan baru kenal dan gak mungkin kita bisa pacaran! Kamu juga bukannya sedang dekat dengan Adelia?” Arumi ingat jika Adelia pernah mengatakan kalau dirinya dan Rangga sering berbalas pesan. “Aku hanya menanyakan tentang kamu lewat Adelia. Dari Adelia juga sebenarnya aku tahu kamu belum mempunyai pacar. Tetapi tanda di leher kamu ini membuatku jadi salah paham.” ungkap Rangga. Ternyata Adelia masih menjaga rahasia pernikahan Arumi dan tidak mengatakan apapun tentang Devandra. Namun jadinya Rangga semakin berharap pada Arumi. “Maaf, aku gak bisa jadi pacar kamu.” Arumi memberikan jawabannya. “Kenapa? Kamu kan belum punya pacar!” Arumi balik menatap Rangga dengan tatapan serius. “Aku mau menyelesaikan kuliahku dahulu baru setelahnya aku akan memikirkan tentang hubungan asmara. Aku mau menyelesaikan kuliah dan menjadi orang sukses dengan kerja kerasku. Agar aku bisa melanjutkan cita-cita almarhum kedua orang tuaku.” Rangga tertegun dengan apa yang disampaikan oleh Arumi. Dari situ Rangga baru mengetahui jika Arumi adalah yatim piyatu. Namun terselip suatu kebanggaan di hati Rangga dengan ambisi Arumi tadi. Rangga menyunggingkan senyumnya pada Arumi. Lalu dia menepuk bahu Arumi dan berkata, “Aku akan mendampingi kamu sampai kamu bisa mewujudkan cita-cita almarhum kedua orang tua kamu.” Arumi tidak terlalu mengerti apa maksud dari ucapan Rangga. Namun hatinya terenyuh mengetahui ada orang lain yang memberikan dukungan padanya mewujudkan cita-cita alhamrhum kedua orang tuanya. Senyum Arumi langsung terbit menghiasi wajah cantiknya. Wajah Arumi yang terlihat semakin cantik saat tersenyum langsung membuat Rangga terpesona. Seperti ada panah-panah cinta yang bersarang di hati Rangga. Degub jantung Rangga semakin cepat. Rangga pun melepaskan tangannya dari bahu Arumi dan melangkah keluar ruang loker. Dia tidak mau sampai kelepasan memeluk Arumi. “Fyuuhh!! Nyaris saja aku kelepasan!” seru Rangga setelah keluar dari ruang loker. Apakah Rangga akan bisa mendapatkan hati Arumi? Lalu bagaimana dengan pernikahan Devandra dan Arumi selanjutnya?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD